Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Dua Lelaki


__ADS_3

Evan menghembuskan asap rokok yang ia hisap ke udara. Udara malam yang cukup dingin cukup teralihkan dengan hembusan rokok yang kini sedang ada ditangannya. Sudah setengah jam lamanya Evan bersender di depan kap mobilnya menanti seseorang yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya.


Tak lama berselang, nampak sebuah mobil sport hitam berjalan mendekat dan terparkir tepat di depan dirinya berdiri.


Evan masih santai tak bergeming dengan alunan rokok ditangannya. Bahkan Evan sengaja memainkan hembusan asap rokok yang ia timbulkan ke langit-langit.


Alvin keluar mobil dengan menunjukkan tatapan geramnya ke arah Evan. Tatapan permusuhan yang tajam tak terbantahkan. Alvin tak habis pikir dengan apa yang sedang Evan lakukan di depan rumahnya. Evan seakan benar-benar sedang menantang dirinya untuk bertikai dengan terang-terangan.


Alvin berdiri tepat di hadapan Evan. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana dengan wajah ketus mendongak ke atas menatap sengit laki-laki yang sudah ia anggap sebagai musuh.


"Ngapain loe kesini? Mau ketemu Nanda?" Evan terkekeh mendengar ucapan Alvin yang terdengar lucu baginya. Tanpa menghentikan kekehannya, diinjaknya puntung rokok milikinya yang masih panjang.


"Kau sepertinya sudah bisa menebak maksud tujuanku datang ke sini ya"


"Ga perlu basa-basi. Ada perlu apa loe mau ketemu Nanda?"


"Kelihatannya kamu baik-baik saja ya. Syukurlah"


"Maksud loe apa?"


"Aku tau dimana Nanda sekarang" mata elang Alvin menatap tajam penuh harap kepada Evan.


"Bajingan...!!! Ternyata elo yang udah bawa kabur istri gue??? Loe umpetin dimana dia??" tanpa sadar Alvin menarik kasar kerah kemeja Evan. Amarah nya membuat dirinya tak sadar telah membocorkan rahasia besarnya yang selama ini ia tutup rapat-rapat.


"Apaa?? Istri??" Evan tak kalah terkejutnya dengan Alvin. Evan menyakinkan dirinya bahwa apa yang barusan ia dengar adalah tidak benar.


"Ma-Maksud gue, calon istri gue..." ucap Alvin kikuk menutupi kesalahannya.


"Calon istri? Aku ga salah denger kan?" Evan memicingkan mata menelisik kebenaran dari ucapan Alvin


"Bukan urusan loe!! Katakan dimana Nanda!!" gertak Alvin yang tak membuat Evan bergeming sedikitpun.


"Kamu memang ga berubah Alvin. Masih saja serakah dengan nafsumu"


"Apa maksud loe berucap begitu. Jangan asal bicara!!"


"Kamu sudah punya Celine, wanita yang kau pacari selama bertahun-tahun. Tapi kamu juga menyimpan wanita lain yang kamu akui sebagai calon istrimu. Dimana hati nuranimu sebagai laki-laki sejati?"


"Heh, laki-laki sejati. Maksudnya seperti loe?" jawab Alvin mencela.


"Setidaknya aku tidak pernah mempermainkan perempuan" jawab Evan sambil menyeringai.


"Loe sendiri lupa? Apa yang sudah loe lakuin selama ini? Loe juga ga beda brengseknya seperti gue. Yaaahh, Setidaknya gue ga pernah merebut milik orang lain, bukan begitu?" Evan lagi-lagi hanya terkekeh dengan ocehan sindiran yang Alvin lontarkan untuknya.


"Seandainya dulu kau mau mendengarkan penjelasanku, mungkin kesalah pahaman ini tidak akan pernah terjadi"

__ADS_1


"Penjelasan kalau loe ga sengaja udah nidurin cewek gue? Begitu maksud loe?" ejek Alvin mulai emosi.


"Aku ga pernah nidurin perempuan manapun, termasuk cewek yang kamu maksud"


"Heh, Loe pikir gue percaya?"


"Apa yang kamu lihat belum tentu seperti itu kejadiannya. Yang kau lihat hanya sepenggalan dari kejadian yang terpotong di awal dan kamu hanya melihatnya di akhir"


"Gue lebih percaya dengan apa yang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri ketimbang dengan semua ocehanan palsu loe. Ngerti!!!"


"Yah, baiklah... Terserah kau saja. Yang jelas, aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya. Oia, aku kesini bukan untuk mengulas masa lalu kita. Aku hanya ingin memberitahumu kalau Nanda saat ini sedang ada di rumah temannya" Alvin kembali menatap tajam mata Evan yang tenang. Hati Alvin bertanya tentang apa maksud Evan memberitahu dirinya tentang keberadaan Nanda. Bukankah Evan menyukai Nanda?


"Katakan dimana?" desak Alvin penuh harap.


"Nanti aku kirimkan alamatnya ke nomor ponselmu" Alvin terlihat terkejut dengan ucapannya ketika menyinggung nomor ponsel.


"Bukan masalah sulit untuk mendapatkan nomor ponselmu. Yang jelas, bukan Nanda yang memberikan nomor mu kepadaku"


"Tentang hubunganmu dengan Nanda, apakah ucapanmu yang tadi benar?"


"Benar" jawab Alvin penuh percaya diri.


"Lalu bagaimana dengan Celine?" Alvin mendengus kasar mendengar pertanyaan menohok dari Evan.


"Cepat kirimkan alamatnya aku tidak ada waktu untuk meladenimu" Alvin melangkahkan kakinya ingin meninggalkan Evan yang masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.


"Memberikan apapun?" ucap Alvin mengulangi perkataan Evan.


"Iya, apapun yang kau minta aku akan berusaha mengabulkannya"


"Termasuk nyawamu?" Evan hanya terdiam. Kali ini gantian Alvin yang terkekeh mencela melihat kebodohan Evan yang sudah dengan terang-terangan menjatuhkan harga dirinya hanya demi seorang perempuan.


Evan hanya mematung terdiam di posisinya ketika tubuh Alvin sudah menghilang meninggalkan dirinya seorang diri. Evan hanya bisa mendengus kasar menahan emosi atas perlakuan Alvin terhadap dirinya.


***


Selesai mandi, Alvin mengambil ponsel miliknya untuk mengecek apakah Evan benar-benar menepati perkataannya untuk memberikan alamat Nanda saat ini, tempat istri statusnya saat ini bersembunyi darinya. Dan ternyata memang benar. Evan menepati janjinya. Sebuah pesan singkat dari nomor ponsel Evan telah masuk ke ponsel Alvin. Tanpa membuang waktu Alvin segera meraih jaket dan kunci mobilnya untuk menuju ke alamat yang di maksud.


Mobil Alvin melaju cepat. Tak sabar rasanya untuk bisa menemukan wanita yang kini telah menyandang predikat istrinya walaupun statusnya hanya sementara.


***


Tok.. Tok...


Vira mengetuk pintu kamar Nanda. Vira yakin kalau Nanda malam ini belum makan. Sejak bertemu dengan Evan, Nanda langsung mengurung diri di kamar. Entah ada hal apa antara sahabat dengan boss nya yang membuat Nanda terlihat syok dan panik.

__ADS_1


"Ndaaa... Gue masuk ya..." tidak ada jawaban dari dalam kamar. Vira memberanikan diri untuk tetap masuk ke kamar melihat kondisi sahabatnya yang terlihat strees dan tertekan.


Vira mendapati Nanda yang sedang meringkuk memeluk guling dengan mata yang terpejam. Namun terpejamnya mata Nanda tak lantas membuat dirinya terlihat sebagai orang yang sedang tertidur pulas. Vira tau kalau saat ini Nanda hanya sedang berpura-pura tidur.


"Nda... Makan yuk. Gue tau loe ga tidur. Gue udah laper niihh... Bangun yuk" rengek Vira manja. Namun Nanda masih tak bergeming. Nanda masih terdiam acuh dalam posisinya.


"Nandaaaa.... Ayo banguuuunnn... Makanan loe keburu dingin" perlahan Nanda membuka matanya dan menatap Vira dengan tatapan sendu.


"Gue udah kenyang Vir. Loe aja yang makan ya..."


"Bohong. Gue ga percaya"


"Beneran. Sebelum loe pulang, gue udah makan sedikit tadi"


"Kalau loe tetep ga mau makan, gue bakal telpon pak Evan untuk datang ke sini buat nyuruh loe makan" ancam Vira. Dan ancaman Vira berhasil membuat Nanda beranjak bangun dan melempar wajah kesalnya ke dirinya. Vira tersenyum lebar senang karna usahanya berhasil.


"Ya udah ayok makan. Menyebalkan"


"Nah gitu dong..."


Dengan langkah malas, Nanda menyeret kedua kakinya menuju meja makan untuk menikmati makan malam bersama Vira sabahatnya.


"Nda..."


"Heeemmm..."


"Sorry ya kalau gue kepo. Sebenarnya antara loe sama pak Evan, ada hubungan apa sih? Kok loe liat pak Evan segitunya banget? Dia cowok loe ya??" ucap Vira menelisik.


"Secret" jawab Nanda cepat.


"Nandaaaa.... Please dong. Gue kepo niiihh... Kasih tau Napa" Vira memanyunkan bibirnya mersaa kesal atas jawaban menggantung yang di lontarkan sahabatnya. Jawaban yang membuat dirinya semakin penasaran.


"Suatu hari nanti gue akan ceritain semuanya ke elo. Tapi ga sekarang ya, pleaseee..."


Vira hanya bisa menghela nafas panjang. Dan lalu dilanjutkan dengusan sebagai ungkapan rasa kekecewaannya.


"Baiklah..."


Nanda tersenyum getir. Senyum rasa bersalah karna telah menyembunyikan permasalahannya sendiri yang membuat orang terdekatnya ikut khawatir.


"Ya udah kita makan yuk" Nanda mengangguk yakin.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2