
Nanda terperanjat kaget ketika matanya terbuka karna silau cahaya matahari yang terasa menusuk kelopak matanya.
"Ya Tuhan, ternyata sudah pagi..." ucap Nanda lirih. Bola matanya menyusuri ruangan kamar yang tirainya sudah terbuka dan terkait pada pengait berwarna keemasan. Mata Nanda terhenti pada sebuah sosok yang berdiri di depan cermin dengan dandanan rapih dan rambut yang sudah tertata. Sangat elegant.
"Sudah bangun? Enak tidurnya?" ucap Alvin disela sela kegiatan merapihkan kemejanya. Ucapan Alvin disertai dengan raut wajah mencela dan senyuman sinis yang terlihat meremehkan.
Nanda langsung beranjak bangun dan berdiri di samping ranjang besar Alvin. Nanda sungguh merasa malu dan tak enak hati karna sudah lancang tidur di atas ranjang Alvin tanpa permisi.
"M-mas Alvin ma-maafkan aku... Aku ga sengaja untuk tidur di atas ranjang kamu. Sungguh..."
"Benarkah?"
"Aku berani bersumpah apa saja. Aku benar benar tidak ada niatan sama sekali untuk tidur disana. Sekali lagi aku minta maaf. Tolong maafkan aku..."
"Minta maaf? Kamu pikir dengan kamu mengatakan kata maaf, lalu semua berakhir begitu saja? Enak sekali ya... Tidak semudah itu kamu bisa lolos dari hukumanku!! Selama ini belum pernah ada satupun orang yang berani tidur di atas ranjangku. Dan malam ini kamu dengan lancangnya sudah berani tidur di ranjangku tanpa mendapatkan ijin terlebih dahulu dariku. Lalu, menurutmu hukuman apa yang pantas aku berikan untukmu, hmm?"
"Iya maaf. Aku sadar aku salah. Aku akan menerima hukuman apapun yang akan kamu berikan untukku..."
"Hmm, bagus!! Aku mau kamu cuci bersih sprei dan bed cover ranjangku sampai bersih. Dan ingat!! Kamu harus mencucinya dengan kedua tanganmu. Mengerti?" Nanda membulatkan matanya terperangah dengan ucapan perintah yang keluar dari mulut Alvin. Bola matanya langsung menatap kembali ke arah ranjang Alvin yang besar. Nanda terlihat syok dengan hukuman untuk mencuci sprei dan bed cover ranjang sebesar itu dan harus ia cuci menggunakan tangan dan bukan mesin? Apakah ia sanggup? Bed cover milik Alvin pasti akan terasa sangat berat dan sulit jika harus ia sendirian yang melakukannya.
"Mencuci dengan tangan? Bagaimana kalau aku bawa ke tempat laundry terbaik di kota ini? Aku bersedia untuk membayarnya..."
"Tidak !! Aku mau kamu yang membersihkannya sendiri. Tidak ada yang boleh membantumu. Dan jika ada ART ku yang berani membantumu, maka aku tidak akan segan segan untuk memecat orang itu saat itu juga" ucap Alvin dengan santai dan langsung mengenakan jas nya untuk segera pergi meninggalkan kamar.
Alvin kembali menghentikan langkahnya dan membalikkan badan untuk memberikan peringatan kepada Nanda.
"Cepat lakukan! Dan ingat, jangan sekali kali berani melanggar perintahku. Di setiap sudut rumah ini, kamu diawasi kamera CCTV. Dan aku bisa melihatmu setiap saat. Jadi kamu tidak bisa berbuat macam macam disini" Setelah puas memberikan ultimatum, Alvin kembali melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Nanda sendiri di dalam kamar yang masih mematung tak berdaya.
Seperginya Alvin, Nanda hanya bisa menghela nafas panjang dan terduduk lemas di atas ranjang.
"Huft, benar benar menyebalkan. Kenapa di dunia ini ada manusia yang sangat kejam seperti dia. Ya Tuhaaann.... Apa salahku sampai sampai aku harus bertemu dengan manusia seperti dia? Bahkan aku harus menjalani pernikahan palsu seperti ini??? Kalau bukan demi melunasi hutang ayah dan pengobatan ibu, aku ga akan pernah sudi untuk berurusan dengan manusia kejam seperti dia" Nanda menggerutu kesal dan menertawai nasib dirinya yang begitu menyedihkan.
__ADS_1
Dengan hati-hati, Nanda membuka bed cover dan sprei ranjang Alvin. Dengan tergopoh gopoh, Nanda membawa sprei dan bed cover itu ke lantai satu ke bagian pencucian. Oma Ana yang melihat Nanda kepayahan membawa sprei dan bed cover menghentikan langkahnya untuk tidak melanjutkan tujuannya.
"Nanda, apa yang kamu lakukan. Mau di bawa kemana kain itu?"
"Oh, selamat pagi Oma... Maaf saya semalam ketiduran. Saya mau membawa sprei dan bed cover ini ke tempat cucian"
"Kenapa kamu mesti repot repot membawa sendiri ke tempat cuci? Kamu bisa memanggil ART rumah ini untuk membawanya ke sana"
"Tidak usah Oma. Tidak apa apa. Biar saya saja yang membawanya ke tempat cuci"
"Tidak! Letakkan kain kotor itu di lantai. Aku akan memanggil ART untuk ke sini."
"Ja-jangan Oma... Kata mas Alvin, sprei dan bed cover ini harus saya yang membersihkannya. Ini sebagai hukuman saya karna sudah berani tidur di ranjangnya. Jadi, biarkan saya menebus kesalahan saya"
"Menebus kesalahan? Lelucon macam apa ini?" Oma Ana terlihat sangat geram. Tangannya meremas kuat gagang tongkatnya dengan raut wajah asam yang menakutkan.
"Markus..." hanya dengan sekali panggil, orang yang dimaksud segera datang menemui majikan besarnya.
"Saya nyonya..." Markus setengah berlari menghampiri Oma Ana dan menjawab panggilanya dengan sangat sopan.
"Baik nyonya" Markus langsung mengambil sprei dan bed cover Nanda dan langsung membawanya pergi menghilang dari pandangan Nanda.
Nanda dilanda rasa gelisah yang hebat karna takut akan ancaman Alvin yang akan memecat ART yang berani membantu dirinya membersihkan sprei miliknya.
"Oma, saya mohon biarkan saya ikut membantu membersihkan sprei kotor itu. Saya tidak mau mas Alvin marah. Saya permisi Oma..."
"Berhenti !!!" Nanda menghentikan kembali langkahnya. Dengan sedikit canggung Nanda membalikkan tubuhnya menghadap wanita tua yang penuh akan berkuasa.
"Tidak ada yang boleh menentang perintahku. Termasuk kamu!! DUDUK...!!"
"Ba-baik Oma..." Nanda mengikuti perintah Oma Ana untuk duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Makanlah... Kamu harus ingat bahwa statusmu sekarang adalah istri sah dari cucuku. Jadi kamu tidak perlu sungkan sungkan untuk memberikan perintah kepada para ART di rumah ini. Kamu mengerti?"
"Iya Oma, saya mengerti"
"Hmm... Bagus. Ayo makan. Alvin sudah pergi ke kantor. Begitu pula dengan anakku dan istrinya. Mereka selalu begitu. Lebih senang menikmati sarapan di luar ketimbang di rumah sendiri" Nanda tak banyak bicara. Hanya anggukan kecil yang bisa ia lakukan sebagai respon mendengarkan perkataan dari sang Oma.
Pagi itu Nanda menikmati sarapan lezat hanya berdua dengan Oma Ana. Setelah selesai sarapan, Nanda berpamitan untuk mandi dan keluar sebentar karna ada keperluan. Nanda tidak berani mengatakan bahwa dirinya akan berangkat bekerja. Karna ia takut Oma Ana tidak memberikan ijin untuknya. Karna waktu pagi yang sudah dengan cepat merangkak naik menjadi siang, Nanda menggunakan jurus mandi super cepat, mengenakan pakaian yang sederhana dan bergegas keluar kamar untuk segera menuju ke tempat dirinya bekerja.
***
Nanda keluar rumah megah dan mewah Oma Ana dengan berjalan kaki. Butuh perjuangan besar untuk sampai ke jalan besar. Karena letak rumah Oma Ana yang berada di dalam komplek perumahan elit, maka Nanda harus menempuh jarak yang cukup lumayan untuk mendapatkan kendaraan umum.
"Huft, belum nyampe di tempat kerja rasanya dah mau putus nafas gue. Gila jauh banget sih... Ya Tuhan...." Keluh Nanda dengan nafas yang tersengal. Seandainya saja Nanda tau alamat rumah Oma Ana, mungkin dirinya bisa memesan ojek online dan tidak perlu bersusah payah untuk berjalan keluar perumahan elit ini.
Turun dari angkot, Nanda berlari memasuki area parkiran menuju restoran ayam goreng cepat saji. Dengan tergopoh gopoh dan nafas yang hampir putus, Nanda masuk melalui pintu karyawan dan bergegas mengganti pakaiannya dengan seragam yang disediakan. Dengan wajah memelas, Nanda memberanikan diri untuk menghadap ibu Silvi sang manager yang terkenal killer dan super duper bawel.
"Selamat pagi bu Silvi. Maaf saya terlambat" ibu Silvi yang sedang sibuk menghitung jumlah ayam yang baru saja matang langsung menolehkan kepalanya ke arah Nanda yang sudah terlihat pucat pasi. Ibu Silvi mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan letak jam tangannya ke wajah Nanda.
"Pagi kamu bilang? Jam berapa ini? Kamu pikir ini restoran punya mak moyangmu, hah? Kemarin ijinnya cuti dua hari ngaret jadi tiga hari. Giliran masuk telat dua jam. Enak bamget kamu ya..." ucap bu Silvi sambil mensedekapkan kedua tangannya. Nanda tak berani menatap wajah ibu Silvi yang terlihat garang dan seram. Nanda lebih memilih untuk menunduk dan diam.
"Kalau kamu memang sudah ga niat untuk bekerja disini, saya persilahkan kamu untuk keluar sekarang juga." gertakan ibu Silvi langsung membuat Nanda memberanikan diri untuk menatap wajahnya dan membujuknnya agar tidak serius untuk memecat dirinya.
"Ja-jangan bu... Tolong jangan pecat saya. Saya masih membutuhkan pekerjaan ini. Saya janji, ini kali terakhirnya saya datang terlambat. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi"
"Hhmm... Okay. Kali ini saya maafkan. Dan sebagai hukumannya, waktu kerja kamu saya tambah dua jam sebagai ganti jam terlambat kamu. Paham?"
"Paham bu. Terima kasih Bu Silvi.."
Tanpa membuang waktu lagi, Nanda memulai aktivitas bekerjanya hari itu sampai waktu yang sudah ditentukan untuknya. Dengan penuh semangat Nanda menjalani pekerjaannya dengan ikhlas dan senyuman yang selalu tersungging dibibirnya.
.
__ADS_1
.
.