Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Galau


__ADS_3

Nanda menghela nafas lega ketika semua mata kuliah telah selesai. Lelah juga seharian mengikuti sederetan jadwal mata kuliah yang lumayan berat. Banyak istilah-istilah asing yang harus mulai dihafalkan. Jenis-jenis organ tubuh dari yang terdengar familiar sampai nama-nama organ tubuh kecil yang namanya lumayan sulit untuk diucapkan.


Nanda meneguk sebotol air mineral. Segar rasanya ketika air bergerak cepat membasahi tenggorokannya. Dilihatnya jam di tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Hari ini Nanda ada jadwal siaran jam enam sore. Tanpa membuang waktu lama, Nanda segera bergegas mengutak atik aplikasi ojek onlinenya.


Dddrrrtt... Ddrrrrttt....


Evan Calling...


[ Iya Kak Evan...] sapa Nanda


[ Kamu masih ada kelas atau sudah selesai?]


[Aku sudah selesai Kak. Ada apa?]


[ Aku jemput ya..]


[Ga usah Kak. Aku sudah pesen ojek online. Hari ini aku ada jadwal siaran ]


[Kamu siaran sampai jam berapa?]


[ Eemm... Jam delapan]


[ Ya sudah, aku jemput kamu di sana. Kita makan malam bareng. Ok ya... ]


Nanda hanya ternganga ketika Evan langsung mematikan sambungan telponnya. Sudah menjadi ciri khas Evan, senang memutuskan sambungan telponnya begitu saja. Selain itu Evan juga tidak pernah memberi Nanda kesempatan untuk menjawab ajakannya.


***


Nanda telah menyelesaikan jadwal siarannya malam ini. Perutnya mulai terasa lapar. Nanda baru menyadari kalau sedari sore tadi di kampus ia belum makan nasi. Siang ketika istirahat, Nanda hanya makan bakso saja. Setelah membereskan barangnya Nanda segera berpamitan kepada Yoga, hendak pulang.


"Nanda, aku antar kamu pulang ya..." ucap Yoga menawarkan diri.


"Eng-enggak usah Kak Yoga"


"Ga pa pa. Sudah malam. Ga baik juga anak cewek pulang sendirian. Yuk..." Yoga langsung mengambil kunci mobilnya menggiring Nanda keluar dari kantor. Nanda hanya menghela nafas pandek menatap Yoga yang sudah berjalan di depan.


Nanda mengikuti langkah Yoga keluar kantor menuju parkiran. Betapa terkejutnya Nanda ketika matanya bersirobok dengan mata Evan. Ternyata Evan menepati perkataannya. Malam itu Evan terlihat tampan dengan setelan celana panjang dan kemeja berwarna navy lengan panjang yang dilipat sampai siku. Sepertinya Evan sudah sedari tadi menunggui Nanda di parkiran.


Detak jantung Nanda seketika berdetak tidak beraturan. Rasanya sangat canggung sekali ketika ada dua laki-laki sedang berlomba-lomba untuk mengantarkan dirinya pulang. Hati Nanda menciut merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini oleh laki-laki.


"Kak Evan?" sapa Nanda ke Evan yang sudah berdiri di depan mobilnya.


"Maaf, Anda ini dokter Evan yang beberapa hari kemarin ikut siaran di sini kan ya?" ucap Yoga memastikan kembali.

__ADS_1


"Iya, benar pak Yoga" Evan menjawab sambil menyunggingkan senyum manis di bibirnya.


"Oh, halo dok.. Apa kabar?"


"Baik... Baik" jawab Evan dengan nada ramah dan yakin.


"Maaf, dokter Evan ada keperluan apa ya malam-malam datang ke sini?"


"Saya kesini sengaja mau jemput Nanda" jawab Evan sambil melempar pandangan ke wajah Nanda. Nanda membuang pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin wajah canggungnya dilihat oleh Evan. Nanda benar-benar merasa malu dan sangat tidak nyaman berada dalam posisi seperti ini.


"Tapi... Saya sudah bilang ke Nanda untuk mengantarkannya pulang"


"Biar saya saja yang mengantarkan Nanda pulang. Kebetulan rumah saya dan Nanda satu komplek. Jadi kami searah" sanggah Evan dengan cepat.


"Ayo Nandaaa..." perintah Evan. Nanda masih terdiam mematung. Rasanya benar-benar sangat canggung untuk memilih salah satu. Evan membuka pintu mobilnya memberi akses kepada Nanda untuk segera masuk ke dalam mobil nya.


Dengan ragu-ragu akhirnya Nanda mengangguk dan berjalan perlahan menuju mobil Evan. Sebelumnya Nanda sempat berpamitan kepada Yoga.


"Kak Yoga... Maaf ya... Saya ikut mobilnya kak Evan." Yoga hanya mengangguk pelan sambil menatap Nanda yang berjalan dan lalu masuk ke mobil Evan. Meski kecewa, namun Yoga tetap menampilkan wajah bersahabat nya kepada Nanda dan Evan.


Mobil Evan sudah melaju pergi meninggalkan pelataran parkiran. Namun Yoga masih saja berdiri menatap jejak mobil Evan. Ditariknya nafas panjang dan lalu di acak-acak rambutnya menjadi agak berantakan. Rasanya masih ga ikhlas melepaskan Nanda pergi bersama laki-laki lain. Ada tanda tanya besar terbersit di benak Yoga.


***


Evan mengajak Nanda mampir makan di sebuah restoran Jepang. Kebetulan sekali perut Nanda memang sudah keroncongan sedari tadi. Nanda menikmati makan malamnya dengan tenang dan tanpa suara. Cara makan seperti ini nampaknya sudah terbiasa untuk Nanda. Hal ini menjadi sebuah keanehan untuk Evan. Karena wanita-wanita yang sering makan bersamanya, lebih sering mengobrol dan tidak diam seperti Nanda saat ini. Mungkin karna rasa lapar yang sedang melanda Nanda, sehingga Nanda sejenak melupakan keberadaan Evan dan asik memuaskan diri dengan menikmati makanan lezat yang sudah ada di hadapannya kini.


"Aku seneng ngeliatin kamu makan. Sepertinya kamu sangat menikmati makanan ini ya" ucap Evan masih sambil memandangi wajah Nanda. Nanda hanya mengangguk dan tersenyum malu merespon ucapan Evan.


"Maaf ya kak, aku emang lagi laper banget. Tadi siang aku cuma makan bakso. Trus ga makan apa-apa lagi" jawab Nanda sambil memasukkan satu buah sushi ke dalam mulutnya.


"Tadi pagi kamu makan apa?" Nanda menggeleng. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.


"Ga sempet kak" jawabnya ya lagi polos.


"Mulai besok, setiap pagi usahakan untuk sarapan. Perut tidak boleh kosong. Kalau perutmu sering kosong ditambah lagi siangnya kamu terlambat makan atau asal mengkonsumsi makanan, asam lambungmu bisa naik. Dan itu bisa membuat kamu mudah sakit"


"Baik pak dokter" Nanda menyengirkan deretan giginya.


***


Mobil Evan sudah terparkir di depan halaman rumah Alvin. Nanda mendongakkan kepalanya keluar melihat kondisi sekitar rumah Alvin. Mobil Alvin juga terlihat sudah terparkir di garasi rumah.


"Kayaknya mas Alvin sudah pulang" ucap Nanda lirih.

__ADS_1


"Nandaaa..."


"Yaa..."


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"He-em, boleh"


"Kamu mau sampai kapan tinggal satu rumah dengan Alvin?" mulut Nanda ternganga mendengar pertanyaan dari Evan.


"A-kuu...." Nanda menghela nafas sejenak, menggigit bibir bawahnya kemudian menggelengkan kepala.


"Kalau kamu mau, aku bisa membantumu mencarikan tempat tinggal yang layak"


"Ti-tidak usah Kak. Aku masih punya orangtua yang masih bisa aku tinggali bersama"


"Kalau kamu masih punya orang tua, kenapa kamu malah tinggal bersama orang lain?" Nanda terdiam. Pertanyaan Evan cukup sulit untuk dijawab secara rinci. Lagipula, Nanda juga agak malas untuk mengungkit kembali peristiwa pernikahan menyebalkan antara dirinya dengan Alvin.


"Ceritanya panjang Kak. Sudahlah... Mungkin ini sudah jadi jalan hidup yang harus aku jalani. Aku turun ya" Nanda turun dari mobil diikuti oleh Evan.


Evan memperhatikan sekeliling rumah Alvin yang terlihat sepi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Perhatian Evan kembali tertuju ke Nanda yang masih berdiri di depan mobilnya. Nanda seakan masih menunggu dirinya pergi.


"Kak Evan terima kasih ya" ucap Nanda sambil tersenyum.


"Sama-sama" Evan mengangguk sambil tersenyum.


Evan berjalan mendekat ke arah Nanda dan langsung memeluk tubuh Nanda dengan erat. Nanda yang syok dengan perlakuan Evan hanya bisa terdiam mematung dan pasrah di dalam pelukan Evan.


"Kalau kamu merasa tertekan tinggal bersama Alvin, kamu bisa menjadikanku sebagai sandaranmu" bisik Evan lirih di telinga Nanda.


Sejatinya, Nanda kurang memahami arti dari perkataan Evan. Namun entah kenapa kalimat yang diucapkan Evan terdengar sangat teduh dan mendamaikan hati. Tidak seperti perkataan Alvin yang selalu menyakitkan.


Evan melepaskan pelukannya dan menatap lekat mata Nanda. Tatapan tajam Evan berhasil menghipnotis Nanda. Hingga tanpa Nanda sadari bibir hangat Evan sudah berlabuh dibibir nya. Evan mencium bibir Nanda dengan sangat mesra. Mata Nanda sempat terbelalak tak percaya dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Sebuah benda mungil asing nan manis telah menyatu dengan bibirnya. Bergerak lembut menyusuri bibirnya.


Nanda secara refleks mendorong tubuh Evan. Hal ini membuat Evan merasa bersalah dan sedikit kecewa. Raut wajah Evan membeku. Sebenarnya Nanda bukannya tidak suka Evan menciumnya. Hanya saja, perlakuan Evan yang spontan ini membuat Nanda merasa canggung dan malu.


"Maaf kak Evan" Nanda menatap wajah Evan sebentar lalu berjalan setengah berlari ke dalam rumah. Tubuh Evan masih berdiri mematung memperhatikan Nanda yang pergi berlari meninggalkan dirinya seorang diri.


Klik...


Nanda membuka pintu dan menutupnya kembali. Tubuh lelahnya tersandar di daun pintu begitu saja. Detak jantung Nanda semakin berdegup kencang mana kala matanya bersirobok dengan mata Alvin yang sudah menatapnya tajam dengan wajah yang menggelap. Raut wajah Alvin malam ini terlihat menakutkan. Nanda menelan lativanya berusaha tenang meski sangat sulit saat ini untuk tenang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2