Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Jemput Paksa


__ADS_3

Vira dan Nanda menikmati makan malam hari ini dengan hikmat diselingi canda tawa di sela-sela makannya. Vira juga menceritakan kejadian aneh yang ia alami ketika pulang tadi dimana dirinya secara tiba-tiba ditawari tumpangan untuk pulang bersama oleh boss nya yang bernama Evan. Nanda sendiri hanya tersenyum mendengarkan dengan seksama curhatan sahabatnya yang sangat menggebu-gebu. Yaahhh, memang begitulah Vira. Cewek energik yang selalu semangat ketika bercerita.


Nanda dan Vira saling melempar tatapan terkejut ketika telinga mereka mendengar nada dering bel rumah berdering nyaring.


"Malam-malam begini siapa yang datang ya?" ucap Vira spontan.


"Cowok loe kali?"


"Cowok gue yang maneee? Emang ada yang mau sama gue?"


"Loe tuh cantik Vira. Mana mungkin ga ada cowok yang jatuh cinta sama elo"


"Tapi emang faktanya begitu"


"Apa mungkin itu pak Evan? Dia balik lagi ke sini?" tambah Vira lagi yang berhasil membuat raut wajah Nanda memucat.


Bel rumah berdering lagi membuat Vira dan Nanda semakin panik bercampur penasaran akan siapakah orang dibalik pintu.


"Ya udah biar gue aja deh yang buka" ucap Vira sambil beranjak berjalan ke arah pintu.


Mata Vira terbelalak kagum ketika matanya melihat sesosok laki-laki tampan dengan tubuh tegap dengan penampilan casual namun terlihat elegant. Jaket bomber berwarna navy dengan kaos oblong hitam membuat aura Alvin semakin terlihat kuat penuh kharisma memikat kau hawa. Ditambah lagi aroma wangi dari tubuh Alvin semakin membuat kaki Vira terasa lemas tak bertulang.


"Ma-maaf, anda siapa?" tegur Vira sopan


"Aku kesini mencari perempuan bernama Vernanda. Apakah kamu kenal?"


"Vernanda? Maksud anda Nanda?" Alvin mengangguk cepat. Kepala Vira pun spontan mengarah dimana Nanda berada. Nanda yang sedang duduk di meja makan juga ikut penasaran dengan tatapan Vira yang terlihat aneh.


Tanpa perlu mendapatkan persetujuan dari Vira untuk masuk ke dalam, Alvin dengan penuh percaya diri langsung menerobos masuk sedikit mendorong tubuh Vira untuk segera mendapati orang yang ia cari selama ini.


Betapa terkejutnya Nanda ketika matanya bersirobok dengan mata tajam Alvin yang sudah menatapnya tajam seperti mata elang yang melihat mangsa. Alvin melangkah perlahan mendekati Nanda yang masih duduk terdiam. Nanda masih tak percaya bahwa orang yang berdiri dihadapannya saat ini adalah laki-laki yang saat ini ia benci dan yang ingin ia hindari malah ternyata datang mencari dirinya.


Ngapain Mas Alvin nyariin gue? Bukankah seharusnya dia senang gue pergi? Setidaknya dia ga perlu pusing untuk bertanggung jawab atas diri gue? batin Nanda.


"Ma-Mas Alvin..." ucap Nanda lirih. Alvin tak menjawab sapaan yang Nanda lontarkan. Hanya tatapan tajam dan lekat yang ia tunjukkan kepada istri statusnya yang membuat detak jantung Nanda berdetak tidak beraturan karenanya.


"Aku kasih kamu waktu sepuluh menit untuk mengemasi barang-barangmu"

__ADS_1


"A-apaa"


"Cepat ambil atau... "


"Aku tidak mau!!! Aku masih ingin di sini"


"Heh, selain bodoh, ternyata kamu juga perempuan tidak tau malu ya" ucap Alvin penuh cela.


"Maksud kamu apa?"


Alvin mendekatkan kepalanya ke wajah Nanda dengan hanya berjarak satu ruas jari di depan hidung.


"Kamu tidak malu menumpang hidup sama temanmu, hah?" ucapan Alvin benar-benar sangat menohok Nanda. Tapi ucapan Alvin memang benar. Kalau dirinya terlalu lama tinggal bersama Vira, ia pasti akan menjadi beban tambahan bagi sahabat nya itu.


Nanda tak mampu menyanggah perkataan Alvin. Hanya geratan gigi-gigi geraham yang bisa ia lakukan sebagai ungkapan dari menahan emosi atas perkataan suami statusnya.


"Cepat ambil barangmu sekarang, Nandaaaa !!!" suara geram Alvin meninggi yang membuat Nanda hanya bisa menurut. Dengan memasang wajah asam Nanda beranjak dari duduk menuju kamar untuk membereskan barangnya.


"Tunggu..Tunggu... Ada apa ini? Anda sebenarnya siapa? Anda kenal dengan teman saya?" Vira mencoba menengahi sekaligus penasaran dengan para laki-laki yang dalam waktu berdekatan saling berhubungan dengan sahabatnya Nanda.


Alvin berdehem sambil memperbaiki jaketnya, menatap ke arah Vira yang sudah menatapnya tak kalah tajam darinya.


"Iya, saya Vira. Kenapa anda tiba-tiba datang dan langsung menyuruh teman saya untuk mengemasi barang-barangnya? Memangnya anda siapa? Suaminya?"gertak Vira kesal


"Iya, saya suaminya Nanda" jawab Alvin dengan sangat percaya diri. Mata Vira terbelalak tak percaya dengan mulut terbuka ternganga. Vira masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Tawanya pun pecah menggelegar.


"Hah, suami? Anda pikir saya percaya dengan bualan anda?"


"Baguslah kalau kamu tidak percaya"


Nanda keluar kamar sudah sambil menenteng tas jinjing ditangan. Dengan langkah perlahan, Nanda mendekati Vira dengan tatapan sedih dan rasa bersalah.


"Vira, maaf. Gue balik ya. Terima kasih loe dah mau gue repotin"


"Nandaaa... Sebenarnya loe ada apa sih? Dia bilang kalau dia ini suami loe? Semua ini ga bener kan, Ndaaa?" Nanda hanya terdiam. Nanda memelototi Alvin yang masih sok stay cool.


"Kapan-kapan gue akan cerita sama loe"

__ADS_1


"Bener ya, janji !!" ucap Vira merajuk.


"Iya. Gue pamit ya" Nanda memeluk tubuh Vira, berpamitan dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah Vira yang nyaman. Berat rasanya bagi Nanda harus kembali lagi ke rumah Alvin. Rumah yang banyak memberikan tekanan batin untuknya.


Vira masih termangu memandangi kepergian Nanda bersama laki-laki yang sama sekali tidak ia kenal. Vira merasa sangat kasihan dengan raut wajah Nanda yang terlihat sangat tertekan. Sepertinya sahabatnya sedang memiliki masalah yang cukup rumit.


Alvin mengambil inisiatif cepat menarik tas dari tangan Nanda dan membawanya. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan Nanda, menggandengnya berjalan cepat berdampingan menuju parkiran mobil. Nanda yang terperangah akan sikap Alvin hanya bisa diam menurut.


Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan pelataran apartemen Vira menuju rumahnya. Di dalam mobil benar-benar terasa hening. Tidak ada perbincangan apapun di sana. Alvin memfokuskan matanya ke jalanan, sedangkan Nanda lebih suka memalingkan wajahnya ke arah samping memandangi pemandangan kota di malam hari yang dipenuhi lampu-lampu warna warni disepanjang jalan.


Kurang lebih satu jam lamanya, mobil Alvin sudah terparkir di depan halaman rumahnya. Nanda menghela nafas panjang memenangkan diri. Awalnya Nanda pikir bisa lepas dari Alvin dalam waktu beberapa hari. Ternyata ia hanya bisa meninggalkan rumah ini hanya dalam waktu satu hari saja.


Nanda mengambil tas minggatnya dan berjalan cepat memasuki rumah untuk menuju kamar. Menghilang dan mendamaikan hati di dalam kamar itu lebih baik ketimbang mesti berdekatan dengan Alvin, suami statusnya yang dingin dan angkuh. Namun sepertinya Nanda tidak menyadari kalau langkah cepatnya juga sudah diimbangi oleh langkah kaki Alvin yang tak kalah cepatnya.


Alvin menutup pintu rumah dengan rapat dan lalu menarik tangan Nanda dengan kuat sehingga membuat tas yang berada ditangan Nanda terlempar sembarang begitu saja di atas lantai. Alvin menyenderkan tubuh Nanda di daun pintu dan menguncinya dengan sebelah tangannya. Menatapnya tajam tak berkedip. Emosi Alvin sungguh tak terbendung. Rasa kesal namun lega kini sedang memenuhi jiwanya.


"Sekali lagi kamu berani kabur dariku, aku tidak akan segan-segan memberimu hukuman yang sangat berat. Mengerti kamu !!"


"Kenapa kamu nyariin aku??"


"Kenapa? Kamu berharap Evan yang jemput kamu?"


"Kalau aku bilang 'iya' apakah kamu bisa terima?"


"Berani sekali kamu menantangku Nanda!! Sepertinya kamu memang harus merasakan hukuman dariku"


"Aku ga peduli apapun yang mau kamu lakukan. Hukuman apapun itu, aku ga peduli... Lepasin aku, aku mau tidur" Nanda mendorong tubuh Alvin dengan kuat yang membuat tubuh Alvin berhasil mundur ke belakang.


Baru selangkah Nanda berjalan, tangan kokoh Alvin sudah dengan cepat menarik kembali tangan Nanda, mendekapnya dan merapatkan bibirnya ke bibir Nanda. Nanda sungguh syok karena lagi-lagi Alvin merenggut paksa ciumannya dengan kasar. Berkali-kali Nanda mencoba melepaskan diri dari pagutan bibir Alvin yang kuat, namun usahanya selalu gagal. Tubuh Alvin seperti batu besar yang sulit untuk digeser. Alvin ******* rakus bibir Nanda, melampiaskan nafsu dan hasrat nya sampai puas. Semakin Nanda memberontak, semakin kuat Alvin menciumnya. Dan akhirnya, Nanda hanya bisa pasrah dengan perlakuan kasar suami statusnya. Airmata Nanda bercucuran dengan suara isakan yang mulai terdengar.


Alvin melepaskan ciumannya. Dipandanginya wajah istri statusnya yang terlihat menyedihkan. Wajah sendu yang kini basah terlihat tertekan oleh perbuatan kasarnya sekilas menimbulkan rasa menyesal karna sudah melukai dan membuatnya takut.


"Maaf" ucap Alvin tanpa sadar dan membenamkan kepala Nanda ke dalam dada. Memeluknya erat seraya menenangkan isak tangisannya. Nanda menangis di dalam pelukan Alvin. Tangisan rasa kesal dan amarah yang tak bisa tersampaikan.


"Aku benci sama kamu mas" ucap Nanda lirih. Namun ucapan itu tak digubris sama sekali oleh Alvin.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2