Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Gara-Gara Ga Teliti


__ADS_3

Alvin sudah selesai membayar billing makanannya. Dan dengan santainya Alvin beranjak dari duduk melangkah pergi keluar restoran menuju parkiran mobil. Dengan sabar Nanda mengikuti langkah boss nya itu ikut memasuki mobil. Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor. Selama perjalanan tidak ada percakapan dari kedua insan manusia ini. Alvin memilih fokus menyetir dan Nanda juga lebih memilih diam sambil sesekali membalas pesan yang masuk dari ponselnya.


Wajah Alvin terlihat masam dan dingin. Mirip seperti vampir yang habis makan leher orang. (Hahahaha... Author bercanda ya...)


Nanda kembali menghampiri Dino yang sudah selesai kembali dari makan siangnya. Nanda mendengus pelan menahan kesal atas perbuatan Alvin kepadanya.


"Nanda, kamu tadi dari mana?" tanya Dino penasaran.


"Nganterin boss makan siang" jawab Nanda dengan ketus.


"Wah, asik dong ikut makan enak" goda Dino lagi.


"Boro-boro"


"Lah kok begitu?" wajah Dino semakin penasaran.


"Udah ah ga usah ngebahas dia orang. Aku laper. Mas Dino jadi mesenin aku makanan kan?"


"Ga jadi"


"Haaahhh.... Seriuuusss?"


"Iya, soalnya tadi pak Alvin kirim pesan ke aku katanya kamu mau makan sama beliau. Jadi makanan kamu aku cancel" jawab Dino merasa tidak enak. Nanda mendengus lemas mendengar jawaban Dino. Nafas nya tiba-tiba terasa sesak.


"Ya sudahlah tidak apa-apa. Ngomong-ngomong kantin karyawan di sini jauh ga mas?"


"Ga terlalu jauh. Ada di lantai basement"


"Aku ijin ke sana sebentar ya Mas"


"Aku anter aja ya. Kan kamu juga ga tau tempatnya"


"Ga usah mas, nanti aku bisa tanya-tanya kalau sudah sampai basement. Lagi pula jam istirahat mu kan sudah selesai. Kalau pak Alvin nanya, bilang aja aku lagi di toilet ya mas, ok" Dino hanya mengangguk pasrah dan mengiyakan saja semua yang disuruh Nanda.


Dengan cepat Nanda pun berlalu pergi menuju lift dengan tujuan ingin ke basement mencari makanan. Namun sepertinya Dewi Fortuna belum bersahabat dengannya, baru saja dirinya sampai di depan lift, ponselnya berdering nyaring. Satu dengusan kesal tanpa sadar keluar dari mulutnya ketika satu nama menyebalkan terpampang jelas dilayar ponselnya.


Alvin Calling....


Dengan malas dan terpaksa Nanda menerima panggilan telpon itu.


[Haloo...]


[Mau kemana kamu?]


[Kantin] jawab Nanda ketus.

__ADS_1


[Jam istirahatmu sudah habis. Ini waktunya kerja. Kembali ke ruanganku, sekarang!!]


[Aku cuma mau beli cemilan saja sebentar. Masa gitu aja ga boleh?]


[ Ga boleh!! ]


[Lagipula kamu juga yang sudah mengambil waktu istirahatku] pekik Nanda kesal.


[10, 9, 8, 7....] Nanda memutuskan sambungan telponnya dan menghentakkan kakinya berbalik menuju ke ruangan Alvin.


Nanda sudah berada di dalam ruangan Alvin dengan tak lupa mengetuk pintu sebelum masuk.


"Apa yang harus aku kerjakan?" ucap Nanda cepat tanpa basa-basi.


"Duduk" titah Alvin dengan santai. Nanda menurut dan duduk di kursi depan meja Alvin. Nanda menunggu kembali kelanjutan perintah boss besarnya itu, namun Alvin nampaknya terlihat sibuk dengan pekerjaannya dan mengabaikan dirinya.


Tuk...Tuk...


Seorang office boy kantor mengetuk pintu ruangan Alvin sambil membawa sebuah plastik bening berisi kotak makanan.


"Permisi pak, ini pesanan yang bapak minta"


"Letakkan di meja. Terima kasih ya. Kembaliannya buat kamu saja"


"Terima kasih banyak pak direktur. Kalau begitu saya permisi" Alvin hanya mengangguk datar.


"Makan!"


Nanda masih terdiam kesal dengan cara Alvin menyuruhnya makan.


"Aku tau kamu pasti lapar, makanya aku sengaja memesankan makanan ini buat kamu"


Nanda sedikit terharu dengan perhatian Alvin kepadanya. Ternyata Alvin masih punya rasa kemanusiaan yang baik terhadap dirinya.


"Terima kasih" Nanda menganggukkan kepala, mengambil bungkusan makanan dan beranjak bangun dari duduknya. Belum sempat dirinya melangkahkan kaki untuk meninggalkan meja Alvin, dengan cepat Alvin sudah menyuruhnya untuk kembali duduk.


"Mau kemana kamu?! Duduk..!!"


"Aku mau makan di pantry"


"Makan di sini"


"Kalau aku makan disini, mejamu nanti bisa kotor. Dan ruangan ini pasti bau dengan aroma makanan ini. Lagipula, aku tidak apa-apa kalau harus makan di pantry"


"Hidupmu ga lengkap ya kalau tidak membantah perintahku, Hem?"

__ADS_1


Tak ada yang bisa Nanda lakukan saat ini kecuali menuruti perintah boss galaknya itu. Karna cacing perutnya sudah meronta-ronta, Nanda memilih tak ingin berdebat dengan Alvin. Dibukanya kotak makan siangnya. Nanda sangat terkesima dengan isi kotaknya. Mie goreng seafood special. Sejenak Nanda berpikir, bagaimana Alvin bisa tau kalau ini adalah makanan kesukaannya??


Dari aromanya saja sudah membuat air liur Nanda menetes. Ditambah lagi potongan udang yang besar, serta cumi yang bersih ditambah potongan ayam, telur dan bakso membuat mie goreng ini terlihat sangat menggiurkan untuk segera disantap.


Satu suapan kecil sudah masuk ke mulut Nanda. Sejenak ia terdiam. Tekstur mie yang kenyal dengan bumbu yang pas, pedasnya terasa nikmat dan isian topping yang melimpah membuat Nanda terbuai sejenak akan kenikmatan makanan ini.


Alvin tersenyum kecil mencela melihat gaya Nanda makan yang terlihat sangat senang penuh syukur dengan makanannya. Dan melihat Nanda makan membuat matanya menjadi senang. Hingga tanpa sadar Alvin memperhatikan Nanda makan sampai suapan terakhir. Nanda meneguk air mineral sebagai tanda berakhirnya kegiatan makannya. Tanpa membuang waktu lama, makanan lezat itu tandas dengan cepat.


Dengan menahan wajah malu Nanda merapikan kembali wadah makanannya dan tak lupa berterima kasih lagi kepada boss sekaligus suami statusnya itu.


"Terima kasih, mie nya enak sekali"


"Kamu suka?" Nanda melempar senyuman simpul sambil mengangguk malu.


"Baguslah. Kalau kamu nurut, lain kali aku akan belikan makanan yang enak lagi buat kamu"


"Maksud kamu apa dengan kata-kata nurut?"


"Kamu ini kan assisten pribadiku. Jadi sudah seharusnya kamu menuruti semua yang aku perintahkan. Lagipula, aku sudah sepakat memberimu gaji dengan nilai yang fantastis. So Nanda, sekarang giliranmu menunjukkan loyalitas kerjamu kepada atasanmu. Kau mengerti??"


"Aku mengerti. Semua tentangmu, kebiasaanmu, apa yang kamu suka dan tidak suka sudah aku catat semuanya. Akan aku hafalkan secepatnya. Aku cukup profesional dalam bekerja. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu"


"Professional? Benarkah? Aku sangat bersyukur sekali kalau kamu bisa menepati semua perkataanmu"


"Kamu tidak perlu khawatir. Selama jam kerja Aku akan bekerja dengan baik. Tapi kalau sudah di rumah, aku punya hak bebas"


Alvin tertawa mencela lagi ketika mendengar kalimat terakhir yang Nanda ucapkan.


Tingg...


Satu pesan langsung masuk ke ponsel Nanda.


"Lihat dan baca dengan teliti" titah Alvin dengan santai. Nanda segera membuka isi pesan yang Alvin kirim. Ternyata isinya ada softcopy surat perjanjian kerja yang tadi sudah ia tanda tangani. Nanda mulai membacanya dengan perlahan kata demi kata dan memastikan tidak ada satu katapun yang terlewat olehnya.


Mata Nanda terbelalak hampir keluar dari tempatnya ketika pada halaman berikutnya terdapat kalimat pinalty dan perjanjian yang mana isinya sangat merugikan dirinya.


"Bekerja selama dua puluh empat jam? Pinalty lima milyar? Perjanjian macam apa ini? Kamu sengaja jebak aku mas?" suara Nanda mulai meninggi.


"Lakukan tugasmu dengan baik assisten pribadiku yang bodoh. Ingat !! Kamu sudah tanda tangan di atas materai. Kalau kamu melanggar, kamu bisa masuk penjara" wajah Nanda seketika memucat. Ternyata Alvin sengaja menciptakan permainan yang menyenangkan untuk dirinya. Suami statusnya itu bahkan telah menjadi sosok kejam yang mati rasa.


Nanda menelan lativanya berusaha tenang untuk tenang. Bagaimana pun, dia sudah menceburkan diri ke dalam kubangan air susu yang beracun. Jadi, sekuat apapun dirinya melepaskan diri, tetap saja dirinya akan teracuni.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2