
"Nanda?" senyum manis mengembang dengan indahnya di wajah tua nan sayu yang kini sedikit terlihat lebih segar dari biasa.
"Ibu..." Nanda membalas senyuman manis itu dengan pelukan hangat. Pelukan kerinduan yang lama tidak pernah ia rasakan.
"Nanda, kamu tidak bekerja?" tanya sang ibu menelisik sedikit curiga.
"Nanda cuti bu. Katanya ibu kangen sama Nanda? Makanya Nanda sengaja ambil cuti untuk bisa berkunjung ke rumah ibu. Ibu apa kabar? Sudah makan?"
"Ayo masuk, jangan di depan pintu." Nanda mengikuti dekapan tangan sang ibu untuk memasuki rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Mata Nanda melihat ke sekeliling rumah. Masih sama. Tidak ada yang berubah.
"Ibu sudah lebih baik Nak. Badan ibu juga lebih kuat sekarang. Bahkan sekarang Ibu sudah bisa memasak untuk ayahmu"
"Oia?"
"He-em." jawabnya semangat.
"Nyonya besar sungguh sangat baik. Setiap seminggu sekali selalu ada dokter yang datang kemari untuk memeriksa kesehatan ibu dan ayahmu. Nyonya besar juga sering mengirimkan kami makanan enak" tambahnya kembali dengan suara semangat dan bahagia.
"Oia, ini Nanda bawakan kue kesukaan ibu dan ayah. Nanti dimakan ya bu" Nanda meletakkan dua box kue di atas meja makan.
"Terima kasih ya Nak" Nanda hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Nanda, apa kamu masih bekerja di radio?"
"Masih bu. Tapi hanya freelance saja"
"Memangnya kamu tidak lelah bekerja di dua tempat? Jaga kesehatanmu Nak. Ibu tidak mau kamu sakit karna kelelahan"
"Nanda baik-baik saja bu. Nanda senang bisa bekerja di radio. Setiap hari bisa berkomunikasi dengan para pendengar dan mendengarkan musik secara gratis, hihihi..."
"Lalu, apakah Alvin tidak keberatan kamu bekerja di dua tempat?" Nanda menggelengkan kepala dengan tatapan penuh keyakinan.
"Nanda... Tolong jawab pertanyaan ibu dengan jujur"
"Pertanyaan apa lagi bu? Nanda sudan menjawab semua pertanyaan ibu dengan jujur"
"Apakah kamu benar-benar bahagia menikah dengan Alvin? Ibu sebenarnya sangat sedih kalau memikirkan pernikahanmu yang sangat singkat itu. Ibu takut kamu menderita menjadi istri dari orang kaya seperti nak Alvin. Karna ibu lihat, Alvin itu orangnya kaku dan dingin. Ketika di pesta pernikahanmu, dia sama sekali tidak tersenyum. Wajahnya asam dan angkuh. Nanda, tolong ceritakan semua kepada ibu, bagaimana kehidupanmu selama menjadi istri Alvin? Ibu benar-benar sangat cemas, Nak..." Nanda menatap dengan tajam wajah sang ibu yang mulai terlihat panik. Diraihnya jemari wanita hebatnya dan dihadiahkannya sebuah senyuman manis untuknya.
__ADS_1
"Ibu tidak perlu khawatir. Nanda dan Mas Alvin baik-baik saja. Memang awalnya kita masih canggung dan kaku. Masih belajar untuk saling mengenal. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan kami semakin baik. Mas Alvin walaupun sikapnya kaku dan dingin, sebenarnya dia adalah laki-laki yang cukup perhatian. Dia ga pernah mengekang Nanda dalam hal apapun. Dan ini... Ibu lihat? Mas Alvin juga memberikan Nanda ATM ini sebagai uang nafkah. Jadi ibu tenang saja ya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan" Nanda menunjukkan kartu ATM yang diberikan Alvin tadi pagi kepada sang Ibu. Dan itu berhasil membuat ibunya tersenyum tenang.
"Ibu tidak perlu tau penderitaan apa yang sudah aku alami. Bagiku, kesehatan ibu yang paling penting" batin Nanda berucap.
"Oia bu, bagaimana dengan ayah? Apakah ayah cukup nyaman bekerja di kantor yang baru?"
Ibu Sonya, ibu Nanda menghela nafas panjang mencoba tenang. Cukup sedih baginya ketika harus menceritakan tekanan batin ayahnya ketika menjabat sebagai manager di kantor cabang yang baru.
"Kenapa bu? Apakah ada sesuatu yang menimpa ayah?"
"Ayahmu sedikit tertekan bekerja di kantor cabang yang baru. Dengan jabatan sebagai manager pemberian langsung dari Nyonya besar, Ayahmu sedikit tidak dihargai oleh para bawahan dan rekan kerjanya di sana. Mereka menganggap, bahwa Ayahmu hanya beruntung bisa menjadi seorang manager di kantor itu. Tapi sekarang, ayahmu sudah lebih tenang. Sepertinya ayahmu sudah terbiasa dengan perlakuan-perlakuan dari para rekan kerjanya."
"Kasihan Ayah" ucap Nanda lirih.
"Tidak perlu mengkhawatirkan Ayah. Ayah dan Ibu disini juga baik-baik saja. Oia Nanda, kapan kamu mau ajak Alvin mengunjungi ibu dan ayah? Kalian sudah dua bulan menikah, tapi menantu ibu belum pernah sekalipun datang mengunjungi kami" Nanda terperangah dengan perkataan ibunya. Memang benar, selama dua bulan ini Alvin belum pernah sekalipun mendatangi rumah orangtuanya. Lagipula bagaimana mungkin mengajak Alvin untuk datang berkunjung, bisa berbicara dengan tenang di rumah saja masih sangat jarang. Apalagi harus pergi bersama ke rumah ibu?
"Mas Alvin itu tipe orang yang gila kerja. Waktunya dihabiskan untuk bekerja. Bahkan di rumahpun, Mas Alvin selalu sibuk dengan pekerjaannya. Nanda masih sungkan untuk mengajak Mas Alvin ke sini. Kapan-kapan saja ya bu. Lagipula, kami kan masih dalam tahap saling mengenal. Nanda janji, suatu hari nanti, Nanda pasti akan ajak mas Alvin untuk datang kesini mengunjungi ibu dan ayah."
"Baiklah, ibu mengerti. Dan ibu sedikit tenang melepasmu tinggal bersama dengan suamimu." Nanda memasang senyuman lebar diwajahnya sebagai bentuk kepastian untuk meyakinkan ibunya bahwa dirinya bahagia bersama suaminya, Alvin.
"Oia bu, Nanda tidak bisa lama-lama disini. Nanda ada jadwal siaran siang ini. Nanti kalau ada waktu lagi, Nanda akan lebih sering mengunjungi ibu dan ayah"
"Ibu, ini ada sedikit uang. Hasil tabungan Nanda. Bisa ibu gunakan untuk keperluan ibu" Nanda menyodorkan sebuah amplop putih dan disisipkannya ke jemari sang ibu.
"Jangan Nanda. Gaji ayahmu cukup besar sekarang. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup ayah dan ibu sehari-hari. Uangmu, kamu simpan saja. Kamu pasti lebih membutuhkan ketimbang ibu" Ibu Sonya menyodorkan kembali amplop itu kepada Nanda.
"Nanda tidak kekurangan uang ibu. Uang ini memang sengaja Nanda siapkan untuk Ibu. Tolong ibu terima ya. Nanda sedih kalau ibu tolak" ibu Sonya menatap haru. Airmatanya mengalir begitu saja.
"Ibu... Ibu kenapa menangis??" belum sempat Nanda mengusap airmatanya, ibu Sonya sudah lebih dulu menyekanya dengan kedua tangannya.
"Ibu ga nangis sayang. Ibu hanya terlalu bahagia. Ibu sangat bersyukur memiliki putri yang sangat baik seperti kamu Nanda" Nanda memeluk kembali tubuh sang ibu dengan lembut.
"Nanda juga bersyukur memiliki ibu cantik yang sangat baik dan sayang kepada Nanda. Nanda sayang ibu. Ibu jaga kesehatan ya. Jangan lupa makan. Ibu jangan terlalu mengkhawatirkan Nanda. Pokoknya ibu harus sehat dan sehat. Obat dan vitamin juga harus rutin diminum ya bu. Salam untuk ayah. Nanda pamit ya bu" Ibu Sonya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan airmatanya yang semakin berurai. Ia tak sanggup untuk berpisah kembali dengan putri semata wayangnya, putri kesayangannya. Namun, putrinya kini sudah milik suaminya. Jadi ia harus berbesar hati merelakan putrinya pergi kembali ke rumah suaminya.
***
Bel pintu apartemen Celine berdentang bertubi-tubi. Dari dalam Celine bergerutu kesal sambil mengumpat untuk seseorang yang sudah kurang ajar menekan bel apartemennya bertubi-tubi yang membuat bising seisi ruangan.
__ADS_1
"Alvin?" Celine menyambut kedatangan Alvin dengan wajah yang dingin. Sikap Alvin yang kemarin masih membuatnya merasa kesal dan bahkan marah. Karna semalaman Alvin sengaja tidak menelponnya sama sekali. Dan sekarang dengan tidak sopannya, dia datang dan langsung menekan bel secara bertubi-tubi yang memekakan telinga.
"Mau ngapain kamu kesini?"
"Kamu sudah siap? Pesawat kamu tiga jam lagi kan?" ucap Alvin santai tak memperdulikan sikap dingin Celine.
"Kamu ga perlu mengantarku. Dan aku juga ga mau kamu antar. Aku bisa pergi sendiri" ucap Celine dengan nada ketus seraya menutup kembali pintu apartementnya. Namun dengan cepat tangan Alvin sudah berhasil menghalaunya dan membuatnya terbuka kembali. Celine tak mampu melawan kekuatan tangan Alvin dan akhirnya memilih membiarkan Alvin mengikuti dirinya untuk masuk ke dalam apartement miliknya.
Celine sengaja menyibukkan diri mempersiapkan barang-barang miliknya yang akan ia bawa. Hari ini adalah jadwal penerbangan Celine kembali ke Amerika. Kepulangannya kali ini kembali ke Amerika dihiasi dengan peristiwa diluar dugaan yang sudah menggores luka di hati. Nanda sudah berhasil mengubah sikap Alvin dan membuat Alvin perhatian kepadanya. Sikap Alvin yang selalu perhatian kepada dirinya dan sangat memanjakannya, kini seakan memudar setelah Alvin mengenal sosok perempuan bernama Nanda. Sungguh menyebalkan.
Alvin mendekati Celine yang tengah menyibukkan diri mengemasi barang-barang. Diraihnya jemari lentik wanitanya, digenggamnya erat dan ditatapnya wajah cantiknya dengan tatapan tajam dan lekat.
"Maafin aku ya" ucap Alvin serius. Celine tidak menggubris sama sekali ucapan Alvin. Hatinya masih enggan untuk bersikap baik kepada laki-laki pujaannya.
"Aku akan mengantarmu sampai bandara"
"Tidak perlu !!" jawab Celine cepat sambil menepiskan genggaman tangan Alvin.
"Apakah kamu merasa puas dan senang bisa pergi dalam kondisi marah seperti ini?"
"Aku ga peduli. Bukankah kamu lebih peduli dengan istri statusmu itu? Jadi, saat aku ga ada, kalian bisa melanjutkan memperbaiki hubungan rumah tangga kalian. Aku benar kan?"
"Kamu serius dengan ucapanmu Celine? Kamu rela aku dimiliki oleh wanita lain?" Celine hanya terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Emosinya membuat dirinya tak mampu mengendalikan perkataannya.
"Kenapa diam? Kalau kamu memang ingin aku bersama Nanda, akan aku lakukan untuk membuatmu senang" sesaat Celine dan Alvin saling terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Bukan Alvin namanya kalau tidak membuat kesal. Laki-laki kaku dan dingin yang kadang tak memperdulikan perasaan orang lain. Alvin menegakkan tubuhnya dan hendak meninggalkan Celine sendiri.
"Ya sudah kalau kamu mau nya seperti ini. Aku akan pergi. Semoga kamu selamat sampai disana" Alvin membalikkan badan dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Alviiiinn...." dan lagi-lagi selalu Celine yang mengalah. Alvin menoleh.
"Kalau kamu memang mau mengantarku, tolong bawakan koper-koperku" ucap Celine merengek manja.
Alvin tersenyum simpul dengan sikap manja wanitanya. Dengan santai, Alvin menata koper-koper milik Celine dan bersiap untuk membawanya ke dalam mobil.
Lima tahun bersama, membuat Alvin telah mengenal dengan baik luar dalam sosok Celine. Bagaimana sifatnya, sikap manjanya, marahnya dan cara meredakan amarahnya.Celine mempunyai cinta yang sangat besar kepada Alvin. Saking besarnya, Celine selalu takut kehilangan Alvin. Apapun akan ia berikan hanya untuk menyenangkan lelaki pujaannya. Bahkan tubuhnya pun dengan suka rela ia berikan untuk Alvin. Sayangnya Celine memiliki satu kebodohan besar, yakni terlalu terobsesi pada karier. Dimana karna obsesinya itu membuat dirinya harus kehilangan kesempatan emas yang selama ini ia idam-idamkan, menjadi istri sahnya Alvin.
.
__ADS_1
.
.