
Gery melirik ke arah Evan yang terlihat melamun sambil sesekali tersenyum. Ga seperti biasanya Gery melihat sikap aneh yang ditunjukkan Evan. Selama ini ia mengenal Evan sebagai sosok laki-laki serius dan dingin. Terlebih dengan perempuan. Baru kali ini wajah Evan berseri-seri setelah bertemu dengan perempuan.
"Are you okay, Van" ucap Gery membuyarkan lamunannya.
"Maksud loe?" jawab Evan balik bertanya.
"Kok gue mencium aroma cinta ya di sini"
"Hahaha... Salah makan obat loe tadi?" ejek Evan tak mau kalah.
"Udah kejar sana... Gue restui loe" goda Gery sambil nyetir.
"Dasar anak setan..." cemooh Evan tak terima.
"Kalau gue anak setan, berarti emak gue setan juga dong. Gue bilangin emak gue loh...!!!"
"Bilangin sana. Sekalian bilang sama bapak loe, kakek loe, nenek loe sama semua sodara loe..." bukannya marah, Gery malah terkakak mendengar celotehan Evan yang mulai kesal terpancing godaannya.
"Yang namanya Nanda cantik juga ya" Evan menatap tajam ke arah Gery. Tatapan impulsif yang mungkin saat ini hanya Evan yang tau maksudnya.
"Biasa aja brooo... Kan gue cuma bilang cantik doang. Boleh dong... Itu artinya mata gue masih normal, hahahaha..."
"Sayangnya dia pacarnya Alvin" ucap Evan sambil mendengus kasar.
"Alvin? Maksud loe Alvin yang musuh bebuyutan loe itu bro?" tanya Gery ingin memastikan.
"He-em"
"Loe tau dari mana kalau Nanda ceweknya Alvin?"
"Beberapa hari yang lalu gue pernah ketemu sama mereka di Paris"
"Trus?"
"Seperti biasa, Alvin masih ga suka sama gue. Sepertinya kesalah pahaman jaman kuliah dulu masih melekat jelas di otaknya"
"Loe juga sih yang salah, dari dulu kenapa ga loe jelasin ke si Alvin tentang duduk perkara yang sebenarnya"
"Ga se simple itu Ger. Alvin bukan orang yang mudah menerima penjelasan. Dia lebih percaya dengan apa yang dia lihat sendiri ketimbang dengan kenyataan yang sebenarnya. Walaupun apa yang dia lihat ga sepenuhnya benar. Dia terlalu arogant"
"Hemm... Rumit juga ya temen loe"
"Udah loe nyetir yang bener. Sampai nabrak gue gantung loe!!!" ancam Evan
"Loe dah kayak emak gue, sukanya ngomel sama ngancem"
"Eh anak durhaka, loe mau nyetir yang baik atau gue turunin loe di sini!!"
"Diihhh... Sensi banget sih nih orang" Gery hanya bisa menggerutu. Ia tau sohib nya ini pikirannya sedang galau akan wanita. Jadi kali ini Gery memilih untuk diam dan melanjutkan fokus menyetir sampai kembali ke rumah sakit tempat mereka bekerja.
***
Nanda baru selesai mandi. Handuknya dikepala masih melilit rambutnya yang basah. Segar rasanya bisa keramas membersihkan kulit kepala. Aroma wangi dan segar juga membuat pikiran menjadi lebih fresh. Setelah mengenakan baju harian santainya, seperti biasa Nanda kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sebentar lagi Alvin pulang.
Nanda memasak makanan sederhana yang bisa ia masak. Sepiring sayur dan lauk lengkap beserta nasi sudah ia siapkan. Tinggal tunggu Alvin pulang, makan malam bersama lalu kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing di kamar masing-masing.
Klik...
Pintu utama terbuka. Alvin muncul dari balik pintu memasuki rumah. Dan seperti biasa tidak ada basa basi menyapa Nanda istri statusnya. Alvin langsung memilih ke atas menuju kamarnya. Nandapun juga tak menghiraukan perlakuan seenaknya Alvin itu. Sudah hal yang biasa Alvin seperti itu. Jadi tidak heran dan tidak terasa aneh.
__ADS_1
Nanda sudah selesai menyajikan makan malam mereka di atas meja. Nanda juga sudah duduk menempati kursinya bersiap untuk makan.
Mata Nanda tergoda untuk melihat ke arah ponselnya ketika suara nada dering panggilan masuknya berbunyi. Sebuah nomor baru yang tidak dikenal telah berbaris rapih di layar depan ponsel Nanda. Dengan ragu-ragu, Nanda menerima telpon masuk itu.
[Halo...] sapa Nanda
[Halo Nanda. Ini aku, Evan]
[Oh, halo kak Evan...]
[Maaf ya kalau telponku sudah mengganggu waktumu]
[Ah, enggak kok. Ada apa Kak?]
[Besok siang kamu ada waktu ga? Aku mau ajak kamu lunch bareng]
[Besok siang ya... Emm... Ada]
[Baiklah, aku anggap kamu menerima ajakanku. Besok aku kirim alamat restorannya ya. Sampai jumpa besok Nanda]
Belum sempat Nanda menjawab, Evan sudah mematikan sambungan telponnya. Sejenak Nanda termangu dalam duduk masih sambil menggenggam ponselnya.
"Bicara dengan siapa?" suara dingin Alvin membuyarkan lamunan sesaatnya Nanda.
"Teman baru"
"Heh, teman baru?" ucap Alvin membeo sambil melemparkan tawa celanya ke arah Nanda. Nanda tak menggubris sama sekali sikap menyebalkan Alvin. Nanda lebih memilih menyibukkan diri mengambil makanan dan mulai melahap hasil masakannya ke dalam mulutnya.
"Oma ngundang kita dinner besok malam" ucap Alvin tiba-tiba disela-sela makannya. Nanda menatap Alvin sebentar lalu hanya mengangguk pelan dan melanjutkan kegiatan makannya.
Suasana makan hening seketika. Masing-masing sibuk dengan makanan di piring. Selesai makan, seperti biasa Nanda merapihkan piring-piring kotor dan mencucinya di wastafel. Alvin juga langsung naik ke atas memasuki kamarnya.
Direbahkannya tubuh lelah Nanda di atas ranjangnya yang nyaman. Nanda mengingat-ingat kembali kegiatan siaran tadi siang dirinya bersama dokter Evan dan dokter Gery. Promosi bea siswa yang ditawarkan dua narasumbernya seketika menarik hasrat jiwanya untuk menjadi salah satu bagian siswa yang beruntung. Tiba-tiba Nanda ingin melanjutkan kuliahnya yang belum sempat ia sentuh setelah dirinya lulus SMU. Faktor ekonomi keluarga dan faktor ibunya yang sakit-sakitan yang butuh biaya besar, membuat Nanda lebih memilih untuk bekerja mencari uang ketimbang menghabiskan uang ayahnya untuk kuliah. Alasan yang klasik memang. Tapi memang seperti itulah kenyataan yang harus dipilih dan yang harus Nanda jalani.
Uang dua miliyar pemberian Alvin sepertinya cukup untuk membiayai semua kebutuhan kuliahnya. Apalagi kalau seandainya Nanda berhasil bisa mendapatkan bea siswa itu. Pastinya uang yang akan dikeluarkan untuk biaya kuliah sampai selesai tidak akan sebanyak siswa reguler non bea siswa.
Bayangan wajah sang ibu yang sakit-sakitan membuat semangat Nanda meninggi dan membulat. Kini dirinya yakin tentang tujuan hidupnya yang utama. Yah, kuliah kedokteran. Nanda ingin belajar ilmu kedokteran agar dirinya bisa menyembuhkan penyakit ibunya, wanita hebat dalam hidupnya yang paling berharga.
***
Evan sudah mengirimkan alamat restoran yang ia maksud. Tepat jam dua belas siang, mobil Evan sudah terparkir di pelataran parkiran VIP milik restoran yang cukup ternama. Dengan langkah elegant, Evan berjalan masuk menuju restoran mewah yang siang itu terlihat agak sepi. Seorang pramusaji cantik menyapanya dengan ramah lengkap dengan senyumnya yang extra manis mendampingi Evan berjalan menuju meja yang sebelumnya sudah ia pesan.
Sebelum Nanda datang, Evan hanya memesan secangkir kopi dan sepiring kudapan manis.
Lima menit berselang, Nanda yang terlihat tergopoh-gopoh berjalan menuju ke meja Evan.
"Maaf ya kak, aku terlambat datang" ucap Nanda sambil mengatur nafas. Evan membalasnya dengan senyuman ringan.
"Ga apa-apa. Aku juga belum lama kok, ayo duduk.." Nanda mengangguk dan duduk berhadapan dengan kursi Evan. Sambil tersenyum, Evan menyodorkan daftar menu kepada Nanda. Untuk beberapa saat Evan dan Nanda tampak sibuk memilih-milih menu makanan.
"Kamu naik apa ke sini?" tanya Evan tanpa mengarahkan matanya menatap Nanda.
"Emm... Aku naik ojek online kak" jawab Nanda jujur. Evan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"So... Kamu mau pesan apa?"
"Aku... Eemm... Samain aja deh sama pesanannya kakak"
"Yakiin?"
__ADS_1
"He-em"
Karena Nanda bingung mau makan apa, jadi ia memilih untuk menyerahkan menu makanannya seperti pilihan Evan. Lagipula nama-nama menu makanan di restoran ini lumayan susah dan lumayan asing untuk Nanda.
Setelah memilih-milih, akhirnya Evan memesan menu makanan yang familiar yang bisa diterima lidah semua orang. Steak tenderloin well done with smashed potatos dan dua gelas orange juice sudah Evan pesan sebagai menu makan siang mereka berdua.
"Aku senang kita bisa bertemu lagi Nanda. Dan Aku cukup surprise bisa ketemu kamu di radio xxx. Btw, kamu sudah lama kerja di sana?"
"Eemmm... Belum begitu lama. Aku di sana statusnya kerja part time. Tapi ga kerasa sudah dua tahun aku kerja di sana sebagai penyiar" jawabnya sambil tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya.
"Kamu kerja part time di sana sambil kuliah?" Nanda menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Evan.
"Kamu ga kuliah?"
"Ibuku punya penyakit jantung yang setiap minggunya harus kontrol ke rumah sakit. Karena ibu tidak punya asuransi kesehatan, jadi setiap kontrol ke rumah sakit harus membayar dengan uang pribadi. Kantor ayah hanya mengcover setengah dari biaya perawatan ibu. Itupun kalau ibu di rawat di Rumah sakit. Jadiii.. Aku ga tega untuk membebani ayah untuk membiayai kuliahku. Setelah lulus SMU, aku memutuskan untuk bekerja. Awalnya ayah tidak setuju dengan keputusanku. Tapi lama-lama Ayah mengerti. Aku tau apa yang ada dipikiran Ayahku, sebagai laki-laki dia pasti merasa malu karna tidak mampu menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi" Nanda tersenyum pilu ketika tanpa sadar ia telah menceritakan kisah hidupnya kepada Evan orang yang baru ia kenal.
"Oh, Kak Evan maaf ya aku jadi kebablasan curhat"
"Tidak apa-apa. Aku senang dengerin cerita kamu"
"Kak Evan sendiri kapan balik dari Paris? Kata kakak, Kak Evan di sana kuliah plus kerja. Kenapa sekarang ada di Jakarta?" lagi-lagi Evan tertawa kecil menertawakan kepolosan dari pertanyaan Nanda.
"Aku di sana memang kerja. Ada kantor cabang yang harus aku periksa. Dan soal kuliah, sebenarnya aku di sana mengajar. Bukan sebagai siswa. Tapi itu juga hanya sebagai dosen tamu saja. Lalu ketemu sama kamu, dan akhirnya sampai seperti ini. Seperti kita sekarang, di sini" Nanda tertawa malu mendengar kalimat terakhir Evan yang mengungkit kisah pertemuan mereka.
Percakapan keduanya seketika terhenti ketika dua orang pramusaji masing-masing membawa nampan makanan dan minuman dan kemudian menyajikannya di atas meja. Evan mempersilahkan Nanda untuk menikmati makan siang mereka. Nanda mengangguk kecil dan mulai menikmati makan siangnya.
"Kamu dan Alvin sudah lama pacarannya?" tanpa basa basi, Evan langsung melontarkan pertanyaan yang hampir saja membuat Nanda tersedak.
Nanda merengkuh orange juice dan meminumnya perlahan. Nanda hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Evan. Tidak baik untuknya menceritakan masalah dirinya dengan Alvin kepada Evan, laki-laki yang belum lama ia kenal.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Evan lagi penasaran.
"Belum begitu lama" Evan mengangguk-anggukkan kepala.
"Semoga kamu bisa sabar ya menghadapi sikap Alvin yang sedikit keras" Nanda menatap sekilas wajah Evan. Raut wajahnya terlihat datar dan tanpa ekspresi. Kalimat Evan yang barusan diucapkannya seolah-olah Evan paham benar akan kepribadian Alvin.
"Kakak sudah lama kenal sama Mas Alvin? Tapi keliatannya hubungan kak Evan dan Mas Alvin sepertinya kurang baik ya"
"Iya, kamu benar. Dulu aku dan Alvin sangat dekat. Kita bukan sekedar teman, tapi sahabat. Karna ada satu masalah, Alvin marah dan memutuskan komunikasi. Sampai sekarang" Nanda terdiam mendengar penjelasan Evan.
"Ka-kalau aku boleh tau, terjadi masalah apa yang sampai membuat hubungan kalian menjadi renggang?'
"Nanti kamu juga akan tau sendiri" Evan tersenyum simpul memberikan jawaban yang menganggantung.
"Oia Nanda, ini buat kamu" Evan menyodorkan sebuah amplop putih besar dan di letakkannya di sebelah piring Nanda.
"Ini apa?"
"Bukalah"
Dengan ragu-ragu, perlahan Nanda membuka isi amplop. Ternyata isinya sebuah kertas. Nanda membaca deretan tulisan rapih yang tertulis di selembar kertas itu. Seketika mata Nanda terbelalak tak percaya dengan apa yang ia baca.
"Be-bea siswa??" ucap Nanda terbata-bata. Evan tersenyum manis sambil mengangguk pelan.
.
.
.
__ADS_1