
Hari Minggu libur sekolah. Harusnya bisa membuat sedikit waktu saja bagi Fika untuk berdiam diri, tidur lebih lama di atas kasur, atau seperti dulu menghabiskan akhir pekan pergi ke suatu tempat bersama ayah dan Ibu.
"Fik, Ibu berangkat kerja. Kamu masak sendiri ya untuk makan!" Teriak Ibunya. Kemudian terdengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali.
Tapi satu-satunya cara untuk membalas Budi adalah belajar, dia harus bisa berprestasi dan mendapatkan nilai yang bagus.
Fika tampak melamun kembali, sebenarnya dia sangat penasaran apa yang dipikirkan ayah sampai tidak pulang lagi ke rumah. "Padahal Ibu sangat kesusahan mencari setiap rupiah untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah. Kemana perginya ayah?" Batin Fika ketika mengamati pemandangan dari balik jendela kamar.
Sekarang dia sendirian, Ibunya Fika mungkin pulang sampai larut malam. Tiba-tiba Fika memikirkan sesuatu yang tidak biasa. Bagaimana jika dia mencari ayah dimanapun itu dia harus mencarinya.
Fika pergi bergegas ke arah kamar mandi. Dia harus bersiap-siap untuk pergi ke luar.
*****
"Anggi. Ngapain kamu kesini lagi?" Yunita langsung keluar rumah tampak syok karena di depan rumahnya sudah ada Anggi.
Tak lama keduanya mengobrol tiba-tiba Fika secara kebetulan berjalan ke arah mereka.
"Yun, kok ada dia di sini?" Tanya Fika penasaran.
"Gak tahu aku Fik." Jawab Yunita.
"Aku mau belajar kelompok dengan Yunita, kita sudah merencanakannya." Jawab Anggi, niatnya ingin menghentikan Yunita mengatakan hal lain.
"Hah, belajar kelompok?" Timpal Yunita tampak tidak tahu apa-apa.
"Oh, aku mau pergi dulu ya." Pamit Fika.
"Mau kemana Fik?"
"Mau kemana?"
Tampak membingungkan ketika Yunita dan Anggi sama-sama menanyakan pertanyaan yang serupa bahkan mereka kompak mengucapkannya.
"Maksudku, kamu belajar kelompok saja bertiga sekarang." Yunita bicara cetus.
__ADS_1
"Kau mau pergi ke suatu tempat kan? Aku tahu beberapa tempat di wilayah ini." Anggi berbicara lain.
Bola mata Yunita langsung menatap Anggi dengan bertanya-tanya. Harusnya dia sudah sadar dari awal alasan Anggi pergi ke rumahnya karena Fika kan?
"Em. Sebaiknya tidak perlu terimakasih." Fika menolaknya. Dia tidak mungkin mengatakan pada orang lain untuk mencari ayahnya. Apa yang akan mereka pikirkan. Begitulah pikiran Fika.
"Kalau hari Minggu seperti ini di mana pun pasti tampak ramai sekali. Bahkan jalanan akan macet juga. Sebenarnya kau mau pergi kemana?" Anggi masih bersikeras ingin tahu.
Fika menatap Yunita saat itu, harusnya dia bicara soal masalahnya pada Yunita, dia tidak akan sungkan untuk membantu. Tapi mereka akan belajar kelompok bersama.
"Aku bisa pergi sendirian kok. Sekarang masih siang bukan malam, jadi tidak apa-apa." Ketika mengatakannya Fika menatap Yunita sahabatnya itu.
Sekarang Anggi benar-benar diam, tidak bisa mengatakan apapun lagi di hadapan Fika. Itu adalah keputusannya.
"Yun aku pamit pergi lagi!" Pamit Anggi.
"Apa?" Yunita tampak syok.
"Yun, cepat bantu bibi merapihkan rumah." Suara teriakkan dari dalam rumah. Tampak kecewa Yunita tidak bisa berbuat apapun saat itu, dia mematung menatap Anggi.
"Yasudah pergilah!" Setelah mengucapkannya Yunita pergi kembali ke dalam rumah.
Anggi masih berjalan dan dalam jarak yang terjangkau namun juga terjaga dia bisa melihat ke arah mana Fika pergi.
"Ibunya pergi bekerja, Fika keluar rumah di hari ini dan menuju tempat yang tidak biasa dia kunjungi." Batin Anggi.
Saat ingin berbelok Anggi cukup terkejut karena Fika tiba-tiba saja muncul keluar dari gang itu, dan rencananya gagal dia sudah tertangkap basah.
Fika awalnya melihat Anggi aneh secara kebetulan Anggi tiba-tiba muncul di hadapannya. Namun tanpa bertanya Fika mengabaikan Anggi dengan begitu saja.
Anggi hanya menghela napas, harusnya Fika sedikit bertanya apapun karena itu yang dia harapkan. Tapi Fika tidak melakukannya, jarak dia dan Fika masih begitu jauh.
Anggi kembali melihat ke arah Fika yang sedang berdiri menunggu angkot. Tidak mungkin sekarang Anggi mengikutinya. Anggi cepat masuk ke dalam jalanan gang, dia berusaha menghindari perhatian Fika saat itu.
"Ada sesuatu yang membuat Fika keluar rumah. Setelah selama satu bulan Fika tidak melakukan hal itu." Batin Anggi. Di gang itu Anggi diam saja berpikir keras apa yang akan dilakukan Fika.
__ADS_1
Namun pemandangan sebelumnya tiba-tiba muncul, tentang kemarahan ibu Fika saat itu.
"Fika mencari ayahnya." Simpul Anggi.
Sekarang Anggi sudah mendapatkan keyakinan baru jika saja Fika sengaja mencari ayahnya. "Dia harus tahu kemana pergi ayahnya Karena mungkin sudah beberapa hari tidak pulang. Tidak mungkin Ibu Fika sampai marah seperti itu jika hanya terhitung 1/2 hari saja, itu artinya bisa sebulan penuh ayahnya tidak kembali ke rumah." Pikir Anggi. Saat itu dia sudah bisa menyimpulkan apa yang akan dilakukan Fika, itu tidak berarti benar dan Anggi harus mencari kebenaran nya.
Anggi menatap jam tangan di pergelangan tangannya, sudah sekitar 10 menit berlalu. Dia kembali keluar dari gang tersebut. Namun ada suatu pemandangan yang membuat dia langsung panik. Seseorang yang berpakaian rapih memakai jas, mereka khasnya para pesuruh ayahnya.
Anggi segera berjalan ke arah selanjutnya dia tidak bisa terus-terusan diikuti seperti ini. Entah mengapa dan apa yang dilakukan Ayahnya, mengapa ayahnya selalu ikut campur dengan semua urusan dan apapun yang ingin dilakukannya.
Beruntung sebuah angkot melewatinya, Anggi sesegera mungkin menghentikan angkot tersebut. Namun dia tahu sepertinya orang suruhan tadi mengetahui jika dirinya sudah pergi dengan angkot ini.
Anggi terus fokus memikirkan sebuah cara, dia tidak ingin rencananya gagal lagipula untuk apa mereka mengikutinya kemanapun.
"Bang, kiri!" Pinta Anggi turun di alun-alun kota. Setelah turun Anggi sengaja berjalan ke arah mobil yang sudah menepi di jalanan. Mengetuk kaca mobil itu.
Seseorang muncul dari dalam. "Masuklah sekarang!" Perintahnya pada Anggi.
Terpaksa Anggi secara sukarela masuk ke dalam mobil itu. Dia tidak bisa melakukan apapun, dan cara terbaiknya adalah menghadapi mereka semua secara langsung.
"Apa yang ayah perintahkan sekarang?" Tanyanya terdengar marah.
"Kau harus pergi ke luar negeri, kau harus bersekolah di sana." Sebuah jawaban yang bukan kali pertama ini dia dengar.
"Baiklah." Jawab Anggi pasrah.
"Apa tuan benar-benar akan mengikuti saranku kali ini?" Tanya orang itu pada Anggi.
"Kau memata-matai keluarga Fika juga? Aku harap jangan sampai sejauh itu." Anggi tampak menebak.
"Mau bagaimana lagi, tuan ingin yang terbaik untuk anaknya, jadi kau menurut sajalah dan tinggalkan perempuan itu."
"Kau juga akan mengadu tentang Fika?" Anggi masih bersikeras bertanya.
Tampak bimbang, kemudian mobil berhenti di tempat parkir sebuah tempat makan-makan.
__ADS_1
"Tolonglah, kau sudah kelas XI SMA dan tolong untuk tidak meminta apapun dariku." Nada bicaranya melunak.
"Kita akan melakukan suatu perjanjian. Kau akan setuju kan?" Pinta Anggi menawarkan sesuatu yang terdengar menarik.