Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
"Orang yang diam-diam pintar." Pujian Bu Farida.


__ADS_3

Satu Minggu setelah kematian Pak Han.


Suasana sekolah masih terasa sama, anak-anaknya yang sibuk satu sama lain, pelajaran sekolah, pembelajaran di kelas, guru. Tidak ada yang membicarakan Anggi meskipun dia sudah tidak sekolah selama satu Minggu ini.


Beruntung sekali Fika masih bisa bersekolah setidaknya dia akan menyelesaikan sampai kelas XII dan itu Hannya butuh 1 tahun lebih lagi.


"Fik. Bagaimana kabarmu?" Edo tiba-tiba muncul, bukan hanya Edo namun Yunita juga.


Yunita langsung tersenyum ketika dia menatapnya.


"Kau bisa terus tinggal di sana tenanglah, jangan terlalu khawatir." Edo mengatakannya lagi.


"Terimakasih untuk rumahnya, aku akan membayarnya nanti jika sudah memiliki uang." Jawab Fika.


Yunita yang mendengarkan hal itu tampak seperti orang yang paling tidak tahu apapun. Apalagi ketika melihat Edo yang tiba-tiba perhatian pada temannya, dia bisa tahu juga ada sesuatu yang aneh terjadi.


Edo sudah kembali duduk ke mejanya. Kemudian disusul dengan kedatangan Anggi yang baru saja masuk, Anggi tampak memerhatikan Edo yang baru saja berjalan dari arah Fika.


"Fik. Jadi kamu tinggal dimana sekarang?" Yunita bertingkah seperti dia tidak tahu apapun, padahal jelas tadi dia mendengarkan obrolan Edo.


"Udahlah gak penting, cepat duduk." Ucap Fika pada temannya itu.


Yunita diam saja tidak bertanya lagi, mungkin dia pikir nanti akan memastikan dan bertanya lagi jika Fika sudah ingin memberitahunya.


Yunita tampak kembali tersenyum. "Kau hebat!" Ucapnya pada Fika.


"Apa sih." Fika tidak begitu meladeni Yunita, dia sibuk mengambil buku di dalam tas nya.


Jawaban Fika membuatnya sedikit merasa heran, ada sesuatu yang tampak berubah namun dia tidak tahu itu karena hal apa.


Saat berbalik tak sengaja Yunita melihat Anggi sudah ada di mejanya. Kabar baik, Anggi sudah datang ke sekolah.


"Fik, Anggi udah masuk sekolah loh!" Dengan semangat Yunita berbisik memberitahu kabar yang dalam pikirannya akan membuat Fika senang. Namun Fika hanya sekilas melihatnya saja dan kembali diam.


"Oh ia, dia udah masuk sekolah." Jawab Fika terdengar nada bicara yang membuat Yunita sedikit kecewa. Dia pikir Fika akan sedikit baik dan akrab apalagi Anggi yang sudah menolong ibunya pergi ke rumah sakit.


"Aku sangat berterimakasih sekali, karena Anggi akhirnya ibu mu waktu itu bisa dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Kau juga harus merasa bersyukur kan." Yunita masih bersikeras membuat Fika berubah saat itu.


Fika tampak diam menahan mulutnya untuk bicara. Saat itu ada sesuatu yang pasti sudah membuat dia berubah.

__ADS_1


Yunita tampak menantikan Fika bicara, tapi kenyataan itu membuat dia sedikit berpikir apa yang salah.


"Selamat pagi semuanya!" Seru seorang guru ketika masuk ke dalam kelas.


"Pagi ,Bu!" Jawab semuanya serempak.


Pembelajaran saat itu membuat semua anak sibuk, pelajaran matematika selalu saja menyulitkan dengan latihan soalnya.


"Kalian kerjakan ya, Ibu akan kembali lagi sekitar 15 menit." Ucap Bu Farida guru matematika.


Tampak gusar, tidak ada yang bersemangat dengan hal sulit seperti menghitung dan mengamati rumus, membaca soal, mengerjakannya, itu terlalu menyita banyak memori otak.


"Fik, aku gak paham!" Rengek Yunita saat dia kembali menemukan soal sulit.


Yunita berbalik dia sedikit terkejut karena Fika tampak ketiduran di mejanya. Aneh sekali padahal Fika tidak pernah tertidur di kelas kan.


Yunita memastikan ke sekeliling, bukan anak-anak lain yang dia khawatirkan melainkan Bu Farida. Andai saja Bu Farida melihatnya dia pasti akan membuat Fika untuk menyelesaikan soal matematika nanti. Yunita semakin panik lagi ketika dia tahu jika buku Fika masih kosong saat itu.


"Bagaimana anak-anak apakah sudah mengerjakannya?" Bu Farida terdengar sudah masuk lagi ke dalam kelas.


"Fik."


Namun ketika beberapa panggilan akhirnya Fika bangun juga.


"Coba kamu Fika maju ke depan!" Panggil Bu Farida, semua anak langsung memperhatikan ke arah Fika.


Fika yang baru saja terbangun dia terlihat sangat terkejut mendengarkan suara Bu Farida memanggil namanya.


"Cepat kau ke depan!" Ucap Yunita memberitahu. Yunita sangat khawatir sekali tapi apa boleh buat dia juga tidak bisa mengerjakan soal matematika itu.


Fika yang tidak tahu apa artinya sebuah panggilan itu hanya langsung berjalan pelan ke depan tanpa membawa apapun di tangannya.


"Oh, bagus sekali kau akan menuliskan jawaban mu tanpa buku." Ucap Bu Farida saat itu.


Fika langsung menghentikan langkahnya, dia benar-benar tidak tahu soal apa yang dibicarakan Bu Farida.


"Coba kau ambil buku di meja Ibu salin kembali nomor 3 dan langsung tulis jawabannya." Bu Farida memberikan petunjuknya, namun hal itu tidak membantu karena Fika benar-benar tidak tahu apa yang akan dia tulis untuk jawaban di papan tulis sana.


Fika tak bisa menolak, tentu saja siapapun tidak ada yang bisa menolak Bu Farida. Jika menghindari satu soal yang diberikan selanjutnya Bu Farida akan memberikannya 10 tugas untuk dikerjakan.

__ADS_1


Tangan Fika gemetar, sambil membawa buku dan spidol papan tulis. Beruntung juga buku nya sudah terbuka ketika di atas meja, Fika melihat soal-soal di dalamnya termasuk soal 3 yang disebutkan Bu Farida.


Perlahan Fika menulis soal itu hingga selesai. Tapi ketika akan menulis jawabannya dia langsung mematung di depan kelas. Fika tak berani berbalik, apalagi ketika melihat wajah Bu Farida saat itu. Dia merasa bersalah karena tadi tertidur dan tidak mengikuti pembelajaran Bu Farida dengan baik, jadi dia yang salah.


"Kau bisa menjawab nya?" Tanya Bu Farida.


Fika hanya menggelengkan kepala.


"Coba yang lain, siapa yang mau menggantikan Fika untuk menjawabnya. Fika tidak akan duduk kembali sebelum ada orang yang akan menjawab soal itu." Ucap Bu Farida.


Pembelajarannya memang sangat sederhana, karena Bu Farida genius matematika jadi dia selalu menganggap soal-soal matematika itu sederhana dan mudah. Terkadang semua anak sangat kesulitan untuk menjawab soal yang dipilihkan Bu Farida.


"Tidak ada yang bisa?" Ucap Bu Farida. Ternyata memang tidak ada orang yang mengacungkan tangan saat itu. Mau bagaimana lagi soalnya adalah tife soal HOTS, tidak mudah dengan pemikiran yang sederhana dan pas-pasan bisa menyelesaikannya.


Beberapa menit, Bu Farida juga diam saja. Sedangkan Fika hanya bisa gemetar takut dan tetap berdiri di depan papan tulis.


"Oh, kau. Cepat ke depan. Siapa dia namanya?" Bu farida tampak terdengar sumringah saat itu menyambut seseorang yang mengangkat tangannya.


Semua perhatian tertuju pada meja Anggi, tentu saja dia orangnya yang mengangkat tangan tadi. Perhatian tak biasa dari anak-anak lain. Ada yang berpikir bagaimana bisa Anggi mengacungkan tangan.


"Lihatlah anak itu, dia tidak masuk selama seminggu."


"Apa dia pikir bisa mengerjakannya?"


"Dia sangat percaya diri sekali."


Terdengar orang-orang mulai bergumam.


"Coba diam yang lainnya, atau kalian mau yang mengerjakan di depan?" Suasana kelas langsung terdiam.


"Siapa namamu?" Tanya Bu Farida.


"Anggi." Jawabnya singkat.


Fika tampak membulatkan mata setelah mendengarkan nama itu disebutkan.


"Coba Fika berikan spidolnya pada Anggi, kau boleh duduk sekarang. Yang lainnya perhatikan dengan serius!" Bu Farida bicara lagi.


Menakjubkan sekali, tanpa bisa disangka Anggi benar-benar menulis angka demi angka, rangkaian jawaban di atas papan putih itu dengan spidol warna hitam. Dia lancar menuliskannya sampai semua orang tercengang dan tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Bu Farida tampak menyimpan rasa bangga, dia sedikit heran ternyata masih ada siswa yang diam-diam pintar.


__ADS_2