Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Penjaga yang hilang dari rumah


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? Keluarlah cepat!" Protes Anggi ketika melihat Fandi saat itu hanya mengintip di balik pintu.


"Pintu kamar ku terbuka di sana?" ucap Fandi.


"Memangnya ada yang aneh?" Timpal Anggi.


"Penjaga itu tidak ada di sana juga." Ucapnya pada Anggi seperti sedang mengatakan sesuatu yang sangat berarti.


"Sekarang kita harus benar-benar keluar dari rumah. Tapi.kita tidak bisa jalan ke sana!" Fandi bicara sambil memperlihatkan rasa paniknya.


"Berlebihan sekali!" Anggi masih tidak menghiraukannya.


"Jangan keluar sekarang!" Ucap Fandi segera menahan anggi yang baru saja mungkin akan keluar dari kamar.


Anggi tampak tercengang dia tidak mengerti dengan reaksi yang berlebihan itu.


"Ayo kita keluar bersama!" Tiba-tiba Fandi yang bersemangat untuk keluar dari kamarnya.


Anggi berjalan mengikutinya namun ketika Fandi amsuk ke dalam kamar dia langsung berhenti, aneh sekali kenapa harus ke kamar.


"Cepat kemari!" Kemudian Fandi muncul lagi dan menarik tangan Anggi untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar.


"Kau tahu jika kamar ini aku kunci sebelumnya. Dan sekarang sudah terbuka seperti ini." Keluhnya.


"Apa seseorang bisa membuka kamar mu?" Cetus Anggi.


"Dia pelakunya. Tentu saja hanya pelaku yang bisa keluar masuk kamar tanpa kunci yang aku pegang ini." Sambil menunjukkan sebuah kunci di tangannya.


Anggi terdiam sejenak, jika hanya kamar Fandi yang terbuka lantas alasan pelaku itu untuk masuk? "Apakah memang ada sesuatu di kamar ini, dan pelaku sudah membawanya?" Ucap Anggi cukup antusias ketika menebaknya.


Fandi menganggukkan kepala. Dia duduk di atas kasurnya, tidak bisa dibohongi seluruh badannya sakit dan pegal. Beruntung dia masih selamat meski harus menabrak gerbang rumah.


"Kau bisa menghubungi ayahmu?" Tanya Fandi. Pertanyaan itu membuat Anggi mematung, padahal Fandi orang yang paling bersemangat untuk tidak menghubungi ayahnya.


"Aku belum menghubunginya. Sepertinya hp ayah tidak aktif." Jawab Anggi. Dia berbohong tentang hal itu, sejujurnya Anggi tidak ingin meminta bantuan ayahnya, walaupun dia benar-benar cukup kesulitan.

__ADS_1


"Sekarang kita lihat, kemana perginya para penjaga di kamar ini." Fandi memberikannya sebuah ajakan. Tidak ada salahnya untuk memastikan lagipula wajar jika Fandi bersikap seperti itu apalagi setelah kejadian yang baru saja menimpanya.


Anggi dan Fandi berjalan ke arah luar. Harusnya ada beberapa orang setidaknya ada 6 orang penjaga dari kamar sampai pintu. Tapi mereka tidak ada kali ini.


Ketika berada di luar mata Anggi fokus pada mereka yang membantu beberapa pekerjaan, seperti membenarkan posisi gerbang atau akan membongkarnya.


Anggi langsung berjalan begitu saja mendekat ke arah orang-orang.


"Sudahlah, kalian lebih baik menghubungi tukang." Anggi berusaha menghentikan mereka semua dari kejauhan.


Semuanya menatap ke arah Anggi, kemudian. seseorang mengarahkan agar kembali masuk ke dalam rumah dan melakukan penjagaan seperti biasa.


Fandi diam saja, dia tidak akan berkomentar mengenai keputusan Anggi saat itu.


"Semuanya sudah kembali lagi!" Ucap Fandi.


Padahal tidak perlu dijelaskan karena Anggi melihat secara langsung bagaimana mereka berhamburan kembali dan masuk ke dalam rumah, sebagian nya berjaga di gerbang.


Fandi tidak melakukan sesuatu di luar rencananya. Ketika para penjaga berhamburan memburu rumah, secara teliti Fandi melihat satu persatu wajah mereka. Dia perlu wajah yang sama pernah dilihatnya di dekat kamar. Sangat meyakinkan pasti karena orang yang sama sudah berarti dia adalah pelaku utamanya.


Berpikir kemana perginya penjaga itu, belum lagi Fandi harus memikirkan sebuah rencana yang akan lebih membuat asumsinya benar. Tapi cara itu hanya bisa diakses dengan bantuan cctv. Dan Anggi tidak tahu jika cctv rumah ada di bagian mana.


"Aku ingin selamat makanya aku harus berusaha keras." Gumamnya yang saat itu Anggi menguping dan bisa mendengarkan apa yang sedang di gumam kan oleh anak-anak seperti mereka.


"Kita tanyakan saja pada asisten rumah? Setidaknya salah satu dari mereka akan tahu, atau penjaga saja?" Anggi memberikan solusinya.


"Betul sekali, kita butuh seseorang yang mengetahui seluruh isi rumah ini dan baru kita akan tahu cctv itu dimana." Fandi menyetujuinya.


Akhirnya kedua orang pergi ke salah satu penjaga, bertanya tentang hal yang sama saat itu.


"Kau yakin melihat seorang penjaga di kamar ini? Dia tidak ada sekarang?" Anggi bertanya lagi.


"Aku jelas melihatnya." Jawab Fandi.


Keduanya terburu-buru pergi. "Kau harus hati-hati sepertinya tidak semua penjaga akan kita tanyai mereka." Fandi memperingatkan.

__ADS_1


Anggi langsung berhenti saat itu juga. "Jika seperti itu tidak ada yang bisa kita percayai." Simpulnya.


Lagi-lagi keduanya menemukan jalan buntu. Satu-satunya jalan tetap harus menghubungi ayahnya.


*****


Satu hari berlalu setelah kejadian di rumah Anggi.


"Ayah mu benar akan pulang kan?" Tanya Fandi, dia masih khawatir dan tidak bisa menganggap sepele kejadian yang sudah terjadi kemarin.


"Dia mengatakannya akan pulang dan melakukan makan malam dengan keluarga Edo." Jawab Anggi.


Fandi memahaminya, tidak mudah bagi seorang anak yang sudah dewasa untuk menerima keluarga baru lagi. Apalagi kedua anaknya saling mengenal dan Edo dengan Anggi tidak begitu memiliki hubungan yang baik.


"Kau tidak akan keberatan dengan mereka?" Tanya Fandi cukup hati-hati saat itu.


"Lupakan saja, aku tidak ingin membahasnya." Anggi segera menghentikan obrolan itu.


Fandi diam dan melihat kesibukannya saat itu. Dari ekspresinya dia menebak jika terjadi sesuatu yang cukup mengganggu pikiran.


"Kau ingin sekolah besok?" Fandi bertanya lagi. "Tiba-tiba aku bosan. Apa kita ajak Fika ke tempat itu lagi?" Fandi masih mengajaknya bicara.


"Aku tidak ingin sekolah, sebaiknya menunggu saja sampai raport dibagikan." Jawab Anggi. "Edo selalu bersama Fika, tampaknya Fika cukup menjaga jarak di hadapan Edo."


Fandi terdiam paham. "Baiklah, setidaknya kita akan pergi dari rumah besok kan?" Fandi masih bertanya lagi.


"Kau ingin menggunakan mobil yang mana? Tadi kau bilang duka ada mobil yang bisa kita pakai." Anggi mengingatkannya.


"Setidaknya kita bisa mengeceknya terlebih dulu." Fandi masih bersikeras ingin pergi.


"Sesukamu saja, terserah ingin pergi kemana." Tanpa penolakan Anggi kemudian menyetujuinya.


Bersyukur sekali tidak ada kejadian yang lebih buruk hari ini.


Fandi tampak diam sambil memikirkan bagaimana caranya Kak Han hidup dengan keluarga Anggi, kabar kematiannya masih tidak bisa membuat dia percaya. Kejadian itu terlalu singkat bahkan waktu tidak membuatnya akan bisa menerima dengan mudah. Fandi tidak tahu jika Kak Han mengalami hal berat, bahkan untuk sekolahnya sendiri Kak Han bisa memberikan yang terbaik. Dia bertekad sekali jika kematian Kak Han memang karena seseorang, sampai kapanpun Fandi tidak akan pernah memaafkannya dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2