Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Pelakunya adalah orang yang ada di rumah.


__ADS_3

"Kak! Kak Fandi!" Seru Anggi cemas. Dia langsung berlari ke arah mobil.


"Kak Fandi kau baik-baik saja?" Tanyanya sangat panik, Anggi terus berusaha mengetuk kaca mobil.


Tak lama beberapa orang penjaga menghampiri ke arahnya. Kemudian Kak Fandi sudah bisa dibawa keluar dari mobil. Beruntung sekali karena badan mobil bagian depan saja yang ringsek sedikit menabrak gerbang rumah. Untuk selebihnya keadaan Fandi masih syok.


Fandi masih diam saja ketika dibawa masuk kembali ke dalam rumah.


"Bawa ke kamar ku saja!" Seru Anggi.


Anggi sekilas melihat pintu kamar kak Fandi sudah terbuka, namun tidak ada yang aneh menurutnya dia hanya melihat sekilas dan tidak memperdulikannya.


"Kalian keluar saja! Panggilkan aku dokter sekarang!" Ucap Anggi masih panik.


"Tidak perlu, jangan! Aku baik-baik saja." Ucap Fandi saat itu.


Anggi tidak menyetujuinya dia bersikeras untuk memanggil dokter. "Kau terlihat kurang baik, apa yang kau katakan?" Ucap Anggi kesal.


"Tenanglah, aku seorang dokter juga kan. Aku baik-baik saja." Jawab Fandi meski dia cukup membutuhkan waktu untuk bisa kembali tenang, mengatur napasnya lagi.


Tidak ada yang terluka memang semua masih aman terkendali saat itu.


"Tutup saja pintunya!" Pinta Fandi pada Anggi. Kemudian Anggi berjalan ke arah pintu dan menutupnya. Di dalam kamar hanya ada dia dan Fandi.


"Kemari!" Ucap Fandi memberikan sebuah isyarat.


Anggi menatapnya aneh, namun dia segera menghampiri dan mendengarkan apa yang akan dikatakan Fandi padanya.


"Seseorang ingin membuat kita celaka. Kau lihat sendiri mobilnya. Padahal semua baik-baik saja." Ucap Fandi.


mendengarkan hal itu Anggi langsung terdiam membeku. Dia setuju dengan ucapan Fandi karena tadi dia langsung berpikir seperti itu juga.


Baginya Anggi yang tidak tahu apa-apa dia sangat ketakutan apalagi jika harus menghadapi orang-orang yang ingin mencelakakannya. Sekarang apalagi? Selanjutnya bagaimana?


"Kau harus lebih hati-hati. Kita sudah melewatkan banyak hal dan mulai tidak terjaga dengan fakta yang sudah ada. Semua pasti masih berlanjut!" Fandi mengatakannya dengan yakin.

__ADS_1


Anggi hanya terus melotot tidak percaya. "Seseorang sengaja melakukannya?" Ucap Anggi mengulangi maksud sederhana yang ingin disampaikan Fandi dari tadi.


"Orang itu sangat dekat." Simpulnya.


Fandi sudah tahu dan perasaan tidak nyamannya tadi langsung terbukti dengan kejadian hari ini. Sekarang dia tidak bisa menganggap lagi sepele, mungkin orang yang dihadapinya bisa lebih jauh melakukan apapun, bukan hanya untuknya tapi untuk Anggi, dan mungkin tujuannya adalah Anggi.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Anggi bertanya di tengah perasaannya yang gusar dan ketir.


"Kita harus tahu siapa saja orang-orang yang berpihak dan tidak." Ucap Fandi terdengar logis.


Tapi untuk menemukan hal itu hampir tidak mungkin dilakukan. Caranya akan sulit dan bahkan entah dengan cara apa.


"Aoa aku harus menanyakan pada ayah dan berbicara padanya?" Anggi tiba-tiba langsung terpikirkan hal itu.


Fandi nampak mendengarkan sebuah solusi yang bagus. "Benar sekali, kau hanya perlu berbicara pada ayahmu, dia akan menyelesaikan semuanya dengan mudah kan?" Fandi semakin mendukung keputusan itu. Tanpa tahu bagaimana perasaan Anggi sekarang. Sebenarnya cara itu yang paling sulit. Anggi tidak bisa sekedar menelpon ayahnya kapanpun. Tidak ada kehidupan dan kabar tentangnya yang terdengar baik, bahkan mungkin ayah tak membutuhkan kabar itu.


"Tunggu apalagi? Cepat kau hubungi ayahmu sekarang!" Fandi mengingatkan.


Anggi masih mematung, menimbang banyak hal dalam pikirannya termasuk memikirkan cara menghubungi ayahnya.


"Ayahku sibuk, pikirkanlah cara lain." Ucap Anggi kemudian dia berjalan dan duduk ke kursi yang dekat dengan jendela kamarnya.


Fandi terlihat berpikir lagi. Dia tahu mungkin hubungan rumit antara ayah dan anak itu memang ada. Dia hampir melupakan jika Anggi bisa tumbuh hingga dewasa karena bantuan Kak Han, bukan ayahnya. Anggi menjalani hidupnya tanpa keluarga. Bahkan ayahnya Anggi enggan datang ke rumah ini.


"Kita akan baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan lagi." Fandi berusaha membuat keadaan menjadi tenang.


"Cctv!" Seru Anggi terdengar seperti menemukan sesuatu untuk dilakukan.


Kedua pasang matanya saling membalaskan pandangan saat itu, setelah mendengarkan Anggi berbicara tentang cctv, Fandi langsung menoleh dan menatap Anggi dengan senang.


"Kau tahu kan dimana komputer untuk cctv nya?" Tanya Fandi.


Anggi menggelengkan kepala. "Astaga aku melupakannya." Keluh Anggi saat itu.


"Kau benar-benar celaka, bahkan kau tinggal di sini sudah berapa tahun tapi kau tidak mengetahui tentang rumahmu sendiri?" Tampak syok Fandi benar-benar tidak bisa percaya.

__ADS_1


"Semua dilakukan oleh mendiang Pak Han, aku tidak pernah ingin tahu. Bodoh sekali!" Gerutu Anggi pada dirinya sendiri.


Fandi tampak bingung, setelah kejadian ini kini dia benar-benar merasakan takut. Apalagi ketika dia meyakini jika orang yang melakukannya adalah orang terdekat dari rumah, hal itu sudah seperti MPI buruk untuknya.


Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu.


"Tuan, Tuan besar menelpon!" Teriak suara perempuan dari arah luar.


Anggi terperanjat dan segera memburu pintu.lalu membukanya. Dia menerima sebuah telpon yang disebutkan jika itu dari ayah.


"Anggi! Kau harus menjaga rumahnya agar tetap aman. Aku sudah meninggalkan catatan di buku, kau bisa mencarinya di ruangan kerja ku!" Ucap ayahnya.


Anggi tidak sempat bercerita, dia mencari kesempatan itu.


"Ayah tutup telponnya, ayah benar-benar sibuk." Tak lama terdengar suara telpon yang ditutup.


Padahal tadi dia akan mengatakan masalahnya pada ayah, karena ayah pasti tidak tahu apapun. Jika ayahnya Anggi sudah tahu dia pasti akan membahas tentang apa.yang harus dia lakukan sekarang.


Anggi menyerahkan telpon itu lagi pada bibi yang memasak di rumah.


"Kau menerima telpon dari tuan? Apanyang ditanyakannya?" Fandi langsung memburu Anggi dengan pertanyaan yang sudah jelas sekali jawabannya.


"Kita harus pergi saja sekarang, kau baik-baik saja kan? Kau masih bisa menyetir mobil?" Anggi tiba-tiba bicara sesuatu di luar nalar.


Fandi melotot tak percaya dengan sebuah permintaan tak masuk akal itu, padahal dia baru saja mengalami sebuah kecelakaan dma bagaimana bisa dia dalam keadaan syok seperti itu harus kembali memasang kemudi dan pergi keluar.


"Apa.kauntidka takut sesuatu? Bagaimana jika semua mobil di sini mengalami hal serupa seperti tadi. Jika itu terjadi di jalanan kita akan benar-benar mati." Ucap Fandi dengan serius.


Anggi apak gusar dan semakin gelisah. Tapi dia belum mengatakan nya karena apa.


"Orang itu ada di rumah ini, kita harus pergi ke tempat lain dan meninggalkan rumah!" Segampang itu Anggi memutuskan sebuah pilihan.


"Memangnya jika di luar rumah kita akan lebih selamat?" Fandi menyerangnya dengan pertanyaan lagi. Nampak harus lebih berusaha untuk membuat Anggi paham dan mengerti situasinya.

__ADS_1


__ADS_2