
Juni 2014.
Siapa yang bisa menjalani kehidupan dengan dua sisi yang berbeda, di kehidupan yang membuat dia menjadi seorang anak dan orang asing di hadapan keluarganya sendiri.
Tidak ada yang mudah, hidup bertahun-tahun tanpa seorang ibu begitupun Ayah. Anggap saja seperti itu karena meskipun Ayahnya masih ada namun Anggi tidak merasa mempunyai ayah yang pernah bertanya tentang perasaannya.
Anggi sudah bersiap dengan kesibukan di hari besok di sekolah, dia harus melupakan kejadian hari ini yang membuatnya terus menebak dari tadi.
Sorot matanya benar-benar sayu, ketika melihat seseorang maka akan berubah dalam seolah dia bisa langsung masuk ke dalam pikiran orang lain karena itu membuat Anggi paham apa yang dipikirkan orang lain tanpa bertanya.
Entah mengapa kali ini dia tidak bisa tenang, ingin melakukan sesuatu selain menghabiskan waktu dengan membaca buku, apapun itu asalkan bisa mengalihkan seluruh pikirannya.
Dilihatnya layar hp lalu beberapa aplikasi obrolan dia buka, terakhir dia membaca grup wa sekolah.
"Wah katanya ayahnya Fika meninggal dunia."
"Fika mana sih Ajiz?"
"Fika, perempuan yang memalukan itu. Hahaha."
Tak tahan, napasnya berubah, dadanya terasa sesak bahkan Anggi tidak bisa melihat
kembali layar hp nya. "Apa yang membuat mereka asyik ketika mengobrol seperti itu di grup kelas?" Batin Anggi.
"Astaga, beritanya." Anggi langsung tampak pucat, dia kembali memastikan apa yang tadi dibacanya tentang berita kematian ayah Fika.
Sekarang dia merasa sudah kehilangan setiap kesabaran di hatinya. Membaca berita itu membuat Anggi tidak bisa berpikir waras, jika saja benar bagaimana dengan Fika?
Diambilnya sebuah jaket yang tergantung, lalu Anggi beranjak pergi keluar kamar, tak peduli siapa yang melihatnya saat itu karena Anggi hanya fokus berjalan cepat ke luar rumah.
Sepasang mata melihatnya cemas, orang yang paling dekat dengan Anggi tentu saja bisa langsung menebak apa yang dipikirkan Anggi ketika melihat sikap tak biasa darinya.
Tak ingin ketinggalan, lelaki dewasa itu adalah pesuruh ayahnya sekaligus supir untuk Anggi, dia berlari mengikuti kemana Anggi pergi.
Langsung membuatnya tercengang sejak kapan Anggi berniat untuk mengendarai mobil di usia yang bahkan belum memiliki izin itu.
"Kemana? Kemana?" Tanyanya cemas sambil mengetuk pintu mobil. Tapi mesin mobil masih tetap menyala.
"Tuan, saya ikut!" Ucapnya berteriak ke arah kaca mobil.
__ADS_1
Karena sikapnya itu Anggi segera membuka kaca mobil. Segera dia membuka pintu mobil dan mengambil alih kemudi.
"Kau belum cukup umur, memangnya mau bunuh diri?" Ucapnya memaki Anggi. Sudah seperti pada anaknya sendiri, bahkan Anggi sudah sangat terbiasa diomeli oleh lelaki itu. Bukan karena tidak tahu sopan santun, namun baginya yang sudah membesarkan Anggi dari bayi dia merasa Anggi adalah anaknya juga.
Anggi tampak frustasi, dia benar-benar ingin melepaskan kendali yang selama ini cukup membuatnya diam saja.
"Kalau mau kemana-mana tinggal panggil dan minta diantar, gitu aja kok susah." Ucapnya lagi.
"Hampir saja jantungan, memangnya kamu pikir menyetir mobil itu bebas-bebas saja." Ucapnya masih tak terima dengan sikap Anggi tadi.
"Sebutkan sekarang mau kemana?" Tanyanya.
Namun Anggi masih diam saja, bahkan dia sudah tampak sangat frustasi.
Melihat sekilas ke arah Anggi, kemudian matanya merekam sesuatu lagi yang pasti tidak akan mudah membuat Anggi bicara. Meskipun tidak tahu kemana mungkin anggi juga tidak akan menolak jika pergi ke tempat biasanya.
Berulangkali Anggi menatap layar hp nampak sedang menunggu seseorang untuk menghubunginya, serius sekali.
Ting ...
Bunyi hp.
Anggi tidak membalasnya lagi, hp itu sudah disimpannya ke dalam saku Hoodie yang dia pakai.
"Tentang wanita tadi, kau pasti terkejut ketika melihatnya. Aku juga sama tidak tahu soal itu." Ucapnya pada Anggi.
"Ayahmu sudah sangat lama sendiri, tidak mudah hidup sendirian selama itu. Mungkin itu yang terbaik juga." Perkataannya berusaha ingin memberitahu Anggi sekaligus menghibur Anggi, memberikannya pengertian apa yang terjadi dengan kehidupan orang dewasa.
"Apa pesuruh bayaran ayah sudah merenggut nyawa seseorang kemarin malam?" Tiba-tiba Anggi langsung bicara seperti itu, tanpa sebuah basa-basi apapun.
"APA?" Saking tak percayanya dengan apa yang ditanyakan Anggi membuat dia langsung menginjak rem hingga mobil berhenti.
"Membunuh? Memangnya ayahmu bisa membunuh seseorang dengan pesuruh seperti kami?" Ucapnya lagi terdengar sudah cukup menjelaskan jika mereka tidak melakukan apapun.
Anggi tampak berdecak kesal, tebakannya salah soal itu. Lantas mengapa ayahnya Fika meninggal kemarin malam? Apa yang membuatnya bisa meninggal.
Anggi hampir menyerah memikirkan semua itu membuat dia tidak juga bisa yakin apapun, lebih baik dia bertanya langsung pada Yunita.
"Antarkan aku ke rumah temanku lagi!" Pinta Anggi saat itu.
__ADS_1
"Apa kau tadi menebak jika kami sudah melakukan pembunuhan?" Orang itu malah bertanya.
"Sudahlah lupakan! Sekarang aku mau ke rumah teman sekolah ku." Anggi tak ingin membuang waktu rupanya.
"Teman sekolah mu? Sekarang?" Seolah tak bisa percaya dengan permintaan Anggi, memang tidak terbiasa Anggi meminta sesuatu di luar kebiasaannya.
"Cepatlah! Aku memiliki urusan yang sangat penting. Atau lebih baik aku cari taksi saja." Anggi hampir keluar dari dalam mobil.
"Baik, aku antarkan saja sekarang. Maksudku teman sekolahmu yang dimana?" Karena Anggi tidak pernah bercerita tentang temannya itu tentu wajar saja jika kini dia bertanya yang tidak diketahuinya.
"Di jalan***** yang ayahnya tinggal di komplek **** Kita pernah melihat ayahnya di komplek perumahan itu." Jelas Anggi.
Tampak sudah mengerti akhirnya mobil sudah bisa pergi dengan tujuan yang jelas.
"Cepatlah kau harus menyetir dengan cepat!" Pinta Anggi tampak tidak puas karena mobil melaju dalam kecepatan yang normal seperti biasanya.
Sudut mata lelaki dewasa di samping Anggi terus mengamati ke arahnya, tampak seperti ada sesuatu yang dipikirkan Anggi, entah urusan apa yang sudah membuat dia bisa berpikir untuk menemui orang lain secara langsung, Anggi sangat tidak terbiasa seperti itu.
"Sudah sampai!" Ucapnya memperingatkan Anggi yang dari tadi hanya melamun terus.
Ketika mendengar sudah sampai Anggi langsung buru-buru melepas sabuk pengaman kemudian membuka pintu mobil, segera dia berlari ke luar.
Di sepanjang jalan Anggi berlari memburu salah satu rumah di dalam komplek itu. Tepat di depan rumah Yunita anggi sudah berdiri dan menunggu di sana, perlahan dia mengumpulkan kembali napasnya dengan tenang, tidak mungkin dia bicara dengan orang lain sedangkan napasnya yang ngos-ngosan.
Dia terlihat ragu-ragu awalnya, namun tidak ada alasan untuk mencari jawaban tentang kebenaran berita keluarga Fika.
Tok...tok...tok...
Pintu diketuk dari arah luar.
"Siapa?" Suara seorang wanita lain terdengar membalas kunjungan Anggi.
"Saya temannya Yunita." Jawab Anggi sedikit menaikan nada bicaranya agar sampai terdengar ke dalam rumah.
Pintu kemudian terbuka lebar, di hadapan Anggi muncul seorang wanita usianya mungkin sekitar 25 tahunan. Melihat ke arah Anggi dengan penasaran. "Kau mencari Yunita?" Tanyanya pada Anggi.
"Kami sudah berjanji untuk pergi ke rumah Fika malam ini." Ucap Anggi mengatakan alasan yang dia karang.
"Oh itu, Yunita sudah pergi ke rumah Fika baru saja keluar rumah. Kau bisa menyusulnya jika mau, rumah Fika tidak begitu jauh dari sini." Beruntung Anggi sedikit tahu kemana Yunita.
__ADS_1
"Baiklah terimakasih, saya akan pergi dulu." Cepat-cepat Anggi pamit untuk pergi.