
"Kak Fan, ayo pulang!" Ajak Anggi saat itu, Fandi tadinya sudah ketiduran.
"Kak Fan!" Ucap Anggi seraya menggerakkan tubuh Fandi.
Fandi tampak merespon, perlahan matanya terbuka beberapa kali hingga bisa beradaptasi dengan cahaya yang cerah dari pantulan langit. "Mau pulang sekarang?" Tanyanya.
"Malah tidur, ditinggalin sebentar udah ketiduran!" Gerutu Anggi. Matanya menoleh ke arah Fika, Anggi sebenarnya khawatir bagaimana selanjutnya tapi dia tidak menunjukkan perasaan takutnya itu di depan Fika.
"Kak Fan, kita bisa pulang sekarang kan?" Fika mulai bertanya.
"Ia ayo kita pulang." Jawab Fandi sambil membetulkan tubuhnya hingga benar-benar berdiri sempurna. Fandi menggerakkan tubuhnya ke samping kiri dan kanan, lalu kepala juga.
"Ayo masuk Fika." Ajak Anggi pada Fika.
"Kita kemana lagi sekarang?" Tanya Fandi pada keduanya.
"Pulang aja Kak dokter!" Ucap Fika. Raut wajahnya juga terlihat cemas.
"Oh ia, kamu tinggal dimana sekarang Fik?" Sangat kebetulan sekali jadi Anggi langsung menanyakannya.
Fika sebentar terdiam saat itu. "Di rumah Edo, aku tinggal di sana bersama ibu." Jawab Fika.
Anggi kembali membulatkan mata, dia tidak percaya dengan jawaban itu karena beberapa kali Fika mengatakan jika ia tinggal di rumah yang disewakan oleh Edo.
"Rumahnya tidak begitu jauh dari sana, rumah itu disewa Edo." Lanjut Fika menjelaskan pembicaraannya.
Terdengar rancu memang ketika Fika mengatakan dia tinggal di rumah Edo.
"Anggi, aku turun di terminal aja ya!" Pinta Fika.
"Loh, biar saya antarkan langsung ke rumahnya loh kenapa malah minta turun di terminal." Kak Fan nampaknya menguping dari tadi, dia juga berkomentar tentang kemauan Fika.
"Kita ke terminal aja Kak Fan." Ucap Anggi menguatkan permintaan Fika.
"Kau benar baik-baik saja kan? Jika tidak keberatan tinggalan di rumah lain, katakan pada Edo jika kamu butuh tempat yang nyaman." Anggi mencoba memberikan pilihan pada Fika.
"Gak apa-apa, Ibu juga cukup senang di sana kok." Ucap Fika menolak lagi tawaran Anggi.
__ADS_1
Mau bagaimana lagi jika itu sudah menjadi pilihan Fika dia tidak bisa memaksakannya.
"Apa bisa lebih cepat sedikit?" Fika semakin memperlihatkan kecemasannya.
"Oke, gampang!" Seru Kak Fan, karena dia yang menyetir jadi dia juga yang menjawab nya.
"Fik, tolong jangan sungkan. Anggap saja aku teman mu dan kau bisa mengatakan apapun seperti ketika bersama Yunita." Tiba-tiba Anggi bicara seperti itu.
Fika hanya bisa membalasnya dengan tatapan, tapi memang pandangan matanya itu penuh arti, ketika menatapnya Anggi bisa tahu apa yang dipikirkan Fika.
"Aku pasti akan mengatakannya, tenang saja." Ucap Fika, wajahnya tertunduk saat itu.
"Kita sudah sampai!" Seru kak Fan ketika sudah memarkirkan mobilnya.
"Hati-hati ya!" Seru Anggi ketika Fika turun dari mobil dan berjalan memburu Angkutan umum di sana.
Padahal hanya satu jam saja, tidak lebih. Tapi tidak membuat Anggi tenang saat itu. Entah apa yang disembunyikan Fika untuknya, kenapa dia tidak benar-benar bisa berterus terang.
"Kita tidak bisa terlalu dekat dengannya kan?" Tiba-tiba Kak Fan berbicara di tengah lamunan Anggi.
"Aku sangat khawatir dia sedang kesusahan. Bahkan kau tidak diizinkan tahu rumahnya sekarang. Kau tidak berpikir sampai sana?" Kak Fandi masih mengutarakan pendapatnya saat itu.
"Semoga Fika baik-baik saja. Terlepas dari apa yang dilakukannya hari ini pasti dia akan kesusahan, Fika sedang berusaha untuk mengatakannya namun mungkin nanti setelah waktunya sudah datang." Anggi berusaha memahami Fika dari sudut pandangnya.
"Kau akan benar-benar terlambat. Tapi semoga saja dia memang baik-baik saja." Kak Fandi tidak membuat Anggi tenang dengan ucapannya.
"Apa kau bisa mencari tahu tentang Fika?" Tanya Anggi.
Fandi tampak menghela napas. "Kau pikir aku adalah Kak Han. Maafkan aku!" Terdengar logis. Fandi tidak begitu mengenal banyak orang, tidak cukup baginya untuk melakukan hal seperti itu.
"Sekarang kita langsung pulang saja?" Tanya lagi Fandi ketika melihat Anggi yang masih murung.
"Pulang saja, aku sudah ingin beristirahat." Jawab Anggi, diantidak memiliki pilihan untuk pergi ke tempat lain. Kata-kata Fika membuat Anggi harus berpikir banyak. Apalagi setelah kematian Kak Han dia merasa ada sesuatu yang akan terus mengawasinya.
"Kau mengkhawatirkan sesuatu?" Tanya Fandi kembali.
"Kau harus hati-hati, dimanapun itu." Ucap Anggi seperti memberikan peringatan.
__ADS_1
Fandi terdiam untuk mencerna kata-kata Anggi saat itu. Dari awal memang dia tidak yakin untuk melanjutkan keinginan kakaknya itu, artinya akan ada suatu masalah yang selalu datang padanya begitu dia dekat dengan Anggi. Entah apa.
"Kau yang harus lebih hati-hati, usiamu masih kelas XI SMA." Fandi mengejeknya.
Masa bodoh, Anggi hanya mendelik menatapnya. Dia tidak merasa sekecil itu, usia bukan berarti apa-apa yang terpenting jalan pikirannya, dan cara hidupnya.
"Aku sebentar lagi kelas XII dan lulus SMA." Ucap Anggi tak ingin kalah.
"Dan kita harus cepat pergi ke luar negeri kan?" Fandi mengingatkannya lagi.
Entah itu Fandi maupun anggi keduanya tampak murung dan cukup berpikir keras mengenai tujuannya. Anggi merasa keberatan karena dia tidak ingin jauh dari Fika dan kehidupannya di sini. Sedangkan Fandi dia tidak terbiasa jauh dari kita kelahirannya apalagi sekarang dia sudah tidak memiliki keluarga.
"Kita bisa mengulur waktunya."
"Kita bisa mengulur waktunya."
Tak disangka keduanya mengatakan hal yang sama. Akhirnya Anggi terdiam dan sedikit tersenyum. "Ternyata kita kompak." Ucap Anggi.
"Baiklah, kita akan menjadwalkannya lagi. Tapi apa karena ada sesuatu yang ingin kau rencanakan dan lakukan sebelumnya?" Tanya Fandi penasaran.
"Sudahlah aku capek nanti kita bicarakan lagi. Dan cepat sampai ke rumah mobilnya aku sangat lelah." Keluh Anggi yang sudah tampak kelelahan. Anggi terasa tidak begitu nyaman ketika di dalam mobil.
Sepertinya Fandi juga berpikiran sama. Hari sudah semakin sore dan dia benar-benar butuh istirahat setelah seharian yang membosankan.
Tak terasa keduanya sudah sampai di rumah. Pemandangan dari luar yang sudah memperlihatkan penanganan cukup ketat di rumahnya. Beberapa penjaga sengaja ayah siapkan, karena ayah tidak selalu ada di rumah.
Ketika sampai di depan rumah suasananya sangat sepi, Anggi tampak menoleh ke kiri dan kanan mencari sesuatu.
"Tidak ada siapapun di dalam?" Tanya Anggi pada salah satu dari penjaga.
"Tuan sudah pulang dan dalam perjalanan bisnis. Di rumah hanya ada kalian berdua." Jawab penjaga itu.
Anggi tidak merasa aneh lagi ketika dia harus sendirian pun di rumah, sepertinya sudah terbiasa. Hanya sekarang yang sedikit berbeda, terlalu banyak penjaga di rumah, di mana pun.
Fandi tampak menoleh ke beberapa tempat, melihat canggung seorang penjaga yang berdiri di setiap sudut.
"Ayo masuk!" Ajak Anggi ketika Fandi tiba di hadapannya.
__ADS_1