Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Pesan tersurat


__ADS_3

Makan malam dengan keluarga Edo. Pikiran itu terus mengganggu, Anggi tidak begitu nyaman dengan pertemuan keluarga ini apalagi kesiapan mentalnya sebagai seorang anak yang tidak pernah begitu dekat dengan ayah kandungnya sendiri. Sudah belasan tahun berlalu, tiba-tiba dia harus menerima arti pernikahan baru ayahnya dengan wanita lain, rasanya sangat berat dia juga tidak pernah tahu bagaimana rupa ibu kandungnya tapi sekarang dia harus memiliki ibu lain.


"Tuan menelpon. Makan malamnya ada di hotel **** Kau harus bersiap-siap." Seorang penjaga bicara pada Anggi ketika dia baru saja akan masuk ke dalam rumah.


"Oh, ia." Jawab Anggi. Dari nada bicaranya saja sudah bisa ditebak bagaimana perasaan dia saat itu ketika mendengarkan kabar yang tak mengenakan baginya.


"Ayahmu tidak pulang dulu ke rumah? Kau pergi makan malam sendirian ke sana?" Komentar Fandi berbicara langsung pada Anggi. Fandi saja hampir tak bisa mempercayainya mengapa Anggi terkesan adalah orang asing yang datang pada keluarga mereka.


"Sudah mau berhenti bekerja? Jadi dokter saja sana!" Anggi bicara dengan hati ya yang tidak baik-baik saja.


Mendengarkan emosi yang tercampur keluar dari mulutnya, Fandi segera diam untuk memahami.


Anggi masih diam saja, dia juga tidak mengoceh seperti biasa. Ketika masuk ke dalam kamarnya sendiri dia juga masih diam. Fandi hanya mematung melihatnya berlalu masuk ke dalam kamar. Dia juga segera masuk ke kamarnya dan harus segera bersiap-siap untuk mengantar Anggi ke tempat makan malamnya, jangan sampai Fandi mengukur waktu membuat Anggi terlambat.


Fandi sibuk bersiap-siap sambil berkaca di lemarinya. Tapi kemudian matanya terlihat menyipit dia menemukan suatu garis-garis di cermin seperti tulisan. Fandi cukup terkejut setelah memastikannya ternyata tulisan itu ada di cermin sana.


Kedua pasang matanya membulat, Fandi mematung menebak isi tulisan itu meski tidak begitu terbaca dia yakin jika tulisan yang diukir dari atas cermin pasti memiliki arti yang penting. Dia seger berpikir sejenak, bagaimana cara untuk membacanya. Kemudian ide lain muncul, dia butuh sesuatu sebuah spidol pewarna. Mendapatkan kesimpulan itu dia segera mencari di setiap sudut kamar benda yang sudah dipikirkannya. Namun sayang tidak ada satupun di sana.


Fandi masih tidak bisa tenang sebelum dia berhasil memecahkan teka-teki itu. Dia tidak perlu hanya sebuah spidol saja, apapun yang bisa meninggalkan jejak di cermin pasti bisa membuatnya terbaca.


Fandi berlari keluar untuk mencari sesuatu yang bisa membantunya.


Tok...tok... tok


"Anggi, buka pintunya!" Fandi tidak sabar ketika dia ingin masuk ke kamar Anggi.

__ADS_1


Anggi muncul ketika dia sudah membuka kunci pintu.


"Kau punya spidol, Bu UK putih, atau apapun itu." Fandi langsung mengincar benda-benda yang dia butuhkan.


Anggi tidak tahu untuk apa benda-benda yang ditanyakan itu.


"Aku butuh sesuatu. Kau pasti mempunyai ya kan?" Fandi cepat bertanya lagi tidak memberikan kesempatan Anggi untuk menjawabnya dulu atau bertanya dulu.


"Spidol ada di tas ku." Jawab Anggi.


"Aku ingin meminjamnya cepat!" Fandi tidak terlihat sabar sekali.


Anggi tidak mempermasalahkannya, dia berjalan me arah tas sekolah harusnya ada beberapa spidol warna di dalamnya. Ketika sibuk mencari di dalam tas Fandi tidak bisa diam, dia juga mengedarkan penglihatannya ke seluruh bagian kamar itu.


"Aku menemukannya!" Serunya langsung mengambil spidol beberapa di meja belajar Anggi.


Anggi penasaran, perilaku Fandi cukup aneh saat itu bahkan Anggi tidak tahu spidol itu untuk apa. Karena penasaran Anggi berjalan kemudian mengikuti Fandi setelah dia sudah masuk ke dalam kamarnya.


Anggi membuka pintu tampak langsung pemandangan Fandi yang sedang mencoret-coret cermin dengan spidolnya itu. Aneh sekali apalagi ekspresi Fandi yang serius ketika melakukannya.


"Kau sedang melukis di sana?" Cetus Anggi asal sambil berjalan dan melihat dengan jelas apa yang dilakukan Fandi.


Hanya sekilas saja, tanpa dijelaskan bisa membuat Anggi paham saat itu. Sebuah tulisan muncul di sana dan dia juga bisa jelas membacanya.


Fandi meraba seluruh bagian cermin yang tersisa dengan tangannya itu, tapi sepertinya tidak ada yang lain selain di sana.

__ADS_1


"Siapa yang menuliskan kata-kata ini?" Gumam Fandi sangat kebingungan. Dengan kedua matanya sendiri dia akhirnya bisa membaca tulisan yang ditorehkan di atas cermin itu. Sebuah nama, dia tidak tahu siapa.


Fandi menatap Anggi saat itu. Dia menebak jika Anggi akan tahu arti dibalik namanya.


"Dia adalah nama nenek ku." Ucap Anggi memberitahu Fandi yang seribu kali pertanyaan itu muncul.


Fandi semakin tak mengerti mengapa ada nama neneknya di sana, di kamar kakaknya ini.


"Siapa yang menuliskannya? Tujuannya untuk apa?" Fandi bicara pada Anggi dengan bertanya lagi.


"Mungkin tidak sengaja terukir di sana oleh Pak Han?" Anggi langsung menghentikan bicaranya. Betul saja hanya Pak Han yang bisa menuliskan nama itu di kamarnya sendiri, lantas siapa selain Pak Han yang melakukannya?


"Kak Han meninggalkan maksud yang terukir di sini. Mungkin kau ingin menanyakannya pada nenek mu saja?" Fandi langsung menebak dan menyimpulkan pada Anggi.


"Tidak mungkin. Ayah bilang Nenek sudah tiada." Anggi kemudian memberitahu fakta yang sangat membingungkan saat itu. Lantas untuk apa menuliskan nama orang yang sudah meninggal.


"Sudahlah lupakan saja. Mungkin itu tak sengaja." Anggi berusaha menolak isi hatinya sendiri yang berbeda ketika dia mengatakannya. Dia ingin menganggap jika itu bukan apa-apa dan hanya sesuatu yang tidak sengaja membekas di sana. Tidak ada maksud seseorang untuk mengingatkan nama seseorang yang sudah meninggal, tidak ada artinya.


Anggi sudah berjalan lagi ke arah pintu, dia benar-benar meninggalkan kamar Fandi yang kini hanya dia sendirian yang ada di dalam sana.


Buru-buru Fandi menghapus kembali spidol yang berbekas di atas cermin. Dia tidak ingin jika orang lain tahu tentang ini.


Fandi bergegas kembali mengganti bajunya. Dia harus bisa tampil rapih tanpa mengecewakan Anggi yang menyertakannya ke dalam perjamuan makan malam, meski hanya menjadi seorrnag supir tapi dia tetap harus menjaga penampilan.


Ketika sedang asyik merapihkan lagi pakaian di cermin, matanya tidak berhenti memandang ke arah itu, dia terganggu dengan teka-teki nya namun seperti yang dikatakan oleh Anggi bahwa nama yang terukir adalah nama neneknya yang sudah meninggal. Jadi anggap saja itu tidak berarti apapun. Namun jika orang yang dimaksud masih ada dan hidup di suatu tempat, apakah petunjuknya memberitahu bahwa harus menemui orang itu?

__ADS_1


Fandi berhenti lagi ketika merapihkan sedikit lagi penampilannya saat itu. Jika Kak Han yang membuatnya pasti sesuatu ingin disampaikannya tanpa bisa disadari oleh siapapun.


__ADS_2