
"Sebaiknya kalian harus lebih hati-hati lagi mulai dari sekarang. Aku tak bisa menjamin jika mereka akan berhenti." Rendra tampak gusar mengatakannya.
Dokter menatap seorang lelaki, seorang ayah di hadapannya. Dia tahu bagaimana kehidupan Anggi dan hubungan apa yang terjadi dengan Anggi dalam keluarganya.
Tak tahan lagi dokter menangis di hadapan semua orang, harusnya dia lebih kuat lagi dan tidak mengungkap dirinya.
Rendra melihat ke arah dokter dengan bertanya-tanya. Dia menebaknya ada sesuatu yang janggal.
"Pak Han, dia adalah kakak terbaik bagi ku. Kami tidak bisa bersama karena dia ingin melindungi seseorang. Pak Han mengatakan jika jangan pernah mempercayai seseorang, siapapun meskipun dia adalah orang yang paling dekat." Di tengah Isak tangisnya dokter masih berusaha mengatakan itu semua.
"Kau adiknya Pak Han? Tapi mengapa aku tidak pernah tahu sampai sekarang." Ucap Rendra tanda dia tidak mempercayainya.
Dokter menatap orang tua itu, seperti yang pernah dibicarakan bagaimana watak dari orang tua Anggi. Han kakaknya harus berusaha keras untuk mendapat kepercayaan dengan susah payah sekali.
Dokter menundukkan kepala. "Seharusnya tidak boleh ada yang tahu, tolong untuk tidak mengatakannya pada siapapun."
Rendra tampak mulai tertarik dengan perkataan dokter, dia berpikir kembali mencerna semua pernyataan kedua orang yang dari tadi sudah bersama Anggi dan menyelematkan anaknya.
Tidak mungkin wajah seperti mereka ingin mencelakai anaknya.
"Tuan izinkan saya menunggu Anggi sampai siuman. Saya ingin mengatakan pesan Pak Han padanya secara langsung." Fika masih bersikeras untuk tetap tinggal di rumah Anggi.
Rendra melihatnya lagi, ada perasaan cemas yang dia rasakan pada kedua orang itu.
"Dengarlah, kalian pergi dari ruang ku bersama polisi nanti, pergi ke kantor polisi lalu pulang ke rumah dengan mobil yang berbeda." Pak Rendra memperingatkan kedua orang yang tidak bisa dia abaikan.
"Tolonglah, izinkan saya untuk ikut bersama Anggi ke luar negeri. Itu permintaan Pak Han untuk yang terakhir." Ucapnya memohon bahkan dia selalu menangis ketika mengatakannya lagi. Bagaimana lagi, seorang adik yang tidak bisa menghabiskan waktu bersama, namun dia harus menerima kematian kakaknya. Bukan hal yang mudah.
"Saya mohon tuan. Izinkan saya bersama Anggi. Kak Han sangat memohon dan tolong, itu permintaan terakhirnya." Akhirnya dokter mengatakan semua hal di hadapan Fika dan pak Rendra. Tidak ada satupun yang tidak menangis mendengarkannya.
"Saya mohon, Pak! Dia benar-benar mengatakan hal itu dan terus memohon pada saya. Sebenarnya saya tidak ingin seperti Kak Han tapi perkataannya itu tidak bisa membuat saya tenang." Dokter terus memohon di hadapan Rendra.
"Kalian tidak boleh berakhir seperti Pak Han, setidaknya kali ini aku melakukan sesuatu demi kebaikan semuanya." Pak Rendra sudah mengambil sebuah keputusan.
__ADS_1
"Pergilah dari rumah ku, untuk jasa Pak Han aku akan menjamin keselamatan kalian sampai aman."
Mendengarkan hal itu dokter tampak tercengang, dia tidak bisa percaya jika permohonannya tadi tidak diterima.
"Saya mohon tuan!" Ucapnya lagi.
Tapi pak Rendra tampak menggerakkan tangannya dan mengisyaratkan agar mereka diam dan tenang.
Tidak ada keputusan yang bisa ditawar lagi, membuat dokter tampak bingung terutama dia tidak yakin bisa pergi ke mana lagi, satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah pergi bersama Anggi.
"Saya akan pergi tuan. Tapi Saya harus berbicara dengan Anggi. Saya tidak akan pergi sebelum mengatakannya." Fika sudah memberikan keputusannya saat itu.
"Ayah!" Terdengar suara lirih yang memecah perdebatan mereka.
Semua orang langsung menoleh memastikan ke arah Anggi.
"Ayah, tolong biarkan aku yang memilih sendiri." Ucapnya.
"Tenanglah, tidak ada yang salah kan." Ucap Anggi di hadapan keduanya, dia tampak tenang benar-benar tampak baik seperti yang dikatakan Pak Han.
"Kau beruntung sekali bisa selamat." Puji dokter menyenangkan hati Anggi.
"Aku pingsan beberapa kali, aku memang payah." Ucapnya terlihat sedikit ceria.
Fika tampak canggung, entah karena akhirnya dia mengenal keluarga Anggi kali ini untuk berbicara padanya terasa beda.
"Fik, kau sudah mendapatkan rumah dari perusahaan ayah mu kan?" Anggi langsung menanyakannya pada Fika.
Fika terlihat sedikit tersenyum. "Kau tidak boleh memberikan sesuatu yang tidak bisa aku balas dengan sesuatu yang pantas. Aku tidak memiliki apapun. Jadi, terimakasih aku tidak bisa menerima rumah yang kau titipkan kepada Pak Han." Jawab Fika.
Mendengar penjelasan itu Anggi langsung terdiam, padahal tidak seperti itu kan rencananya tapi mengapa Pak Han tidak membiarkan Fika untuk tinggal di rumah itu.
"Jangan meminta maaf. Pak Han mengatakan kau sangat peduli sebagai teman, memang tidak ada salahnya tapi kau tahu aku bisa mengatasi masalahku sendiri!" Fika menghentikan Anggi yang baru saja tampak ingin bicara.
__ADS_1
Anggi menjadi bingung, dia sebenarnya sangat khawatir. "Kau memangnya mau tinggal dimana?" Anggi langsung bertanya hal penting yang tidak ingin dia lewatkan.
"Aku dma Ibu akan tinggal di sebuah rumah yang benar-benar akan membuat kami aman. Pak Han lebih menginginkan keamanan kami, kau tahu Pak Han mengatakan jika kau harus pergi ke luar negeri." Ucap Fika.
Anggi langsung terpikir kembali sebuah kesepakatan yang dia janjikan bersama Pak Han.
"Dia tidak membiarkan ku di sini, aku akan memarahinya nanti." Gumam Anggi.
Namun Fika dan dokter langsung diam. Keduanya tahu jika Anggi tidak mengetahui kepergian Pak Han.
"Dia sudah meninggal, kau tidak bisa menemuinya lagi." Ucap dokter pada Anggi.
Anggi langsung syok mendengarnya. "Siapa yang meninggal?" Tanya Anggi benar-benar tidak tahu apapun.
"Kecelakaan, Pak Han harus menyelamatkan semua orang dengan mengorbankan dirinya." Terang dokter itu pada Anggi.
Tampaknya saat itu waktu terasa langsung berhenti berputar. Anggi tidak akan pernah bisa menerima kenyataan itu, bagaimana bisa Pak Han meninggalkannya.
"Ayah... Ayah. !" Teriak Anggi membuat dokter dan Fika tampak panik.
Tak lama ayahnya muncul dengan cemas, melihat Anggi yang terus berteriak seperti itu.
"Kau tak bisa menjaga Pak Han? Sekarang kau harus bisa menyelamatkan nya dan bawa dia kesini." Anggi histeris, dia menangis mendengarkan kabar seperti itu.
"Dia ayahku, dia keluarga ku, Kau tidak pernah ada di rumah ini, dia yang selalu bersama ku. Kenapa harus Pak Han?" Di luar kendali Anggi benar-benar sangat terpukul. Dia tidak bisa menerima kepergian Pak Han seperti itu.
"Kenapa kau diam saja dari tadi. Kenapa harus Pak Han, kenapa dia Ayah? Apa kau yang membuat dia meninggal?" Ucap Anggi.
Dokter menghampiri dan menenangkannya. "Kakakku sangat baik-baik saja, dia sudah membuat mu tetap selamat jadi bersikaplah bangga dan jangan membuat kakakku kecewa. Ku mohon, aku tidak ingin ada seseorang yang menangisi karenanya." Dokter itu terus bicara.
Anggi langsung berhenti menangis dan kembali tenang, menatap dokter baik-baik. Dari sorot matanya Anggi sangat mempercayai dokter itu adalah adik Pak Han.
Anggi tidak histeris seperti tadi, dia menundukkan kepala dan merangkul kakinya. Terus menangis dalam diam.
__ADS_1