Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Diantara Fika dan Edo


__ADS_3

Anggi dan Fandi sudah tiba di rumah. Saat itu Anggi masih tidak bisa berjalan normal seperti biasa, dia butuh duduk di kursi roda dan seseorang yang mendorong kursi itu dari belakang.


Sepasang mata Fandi masih mengamati ke seluruh sudut rumah, tentu saja dia mencari Pak Rendra atau ayahnya Anggi. Harusnya sudah lebih dulu datang kan? Tapi ketika masuk ke dalam rumah di sepanjang jalan sampai masuk ke dalam kamar Fandi tidak menemukan tanda-tanda orang lain, rumah juga sepi seperti biasa hanya ada para asisten rumah dan penjaga di sana.


Bukan kali pertama lagi, Fandi mencoba terbiasa dengan pemandangan itu. Matanya menatap lagi ke arah Anggi, dalam kondisi terpuruknya sekalipun tidak ada orang tua yang seharusnya menemaninya di sini, dia juga menebak mungkin Anggi sudah terbiasa dan karena alasan itu dia tidak mempermasalahkannya.


"Besok bisa anyar aku ke sekolah?" Anggi bicara sebelum Fandi keluar dari kamarnya.


Mendengarkan permintaan Anggi langsung membuat hatinya menolak.


Fandi menoleh malas menatap ke arah Anggi. "Lihatlah dirimu dan pikirkan lagi." Ucapnya singkat lalu dia keluar dari kamar.


Entah mengapa saat itu Anggi merasa tidak tenang, dia bukan berarti bosan akan berdiam diri dan sementara tidak bisa berjalan normal dengan kaki nya. Tapi pikirannya benar-benar gusar tanpa alasan.


Anggi meraih telpon di saku celananya. Sudah ada nama Yunita yang dia pilih, sekarang secara tidak sengaja dia akan mencari Yunita ketika mendapatkan perasaan gusar seperti sekarang, kali ini dia akan memakai alasan apa untuk menghubungi nya?


Tangannya tertahan, dia tidak bisa terus-terusan menyusahkan orang lain. Urusannya dengan Fika adalah urusannya sendiri bukan harus melibatkan Yunita juga.


Akhirnya dia memilih tidak menghubungi siapapun. Karena percuma Fika tidak bisa dihubungi sampai detik ini, nomornya yang tersimpan di grup kelas juga tidak aktif sudah lama dan itu artinya dia harus benar-benar sabar untuk situasi sekarang.


Anggi masih duduk di kursi roda memandangi dirinya yang terpantul dari arah kaca cermin, dia ingin sekali kali ini sesuatu berubah tidak harus membaurnya tetap seperti dulu. Dia akan menjadi kebanggan untuk dirinya sendiri dengan melakukan segala sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.


.

__ADS_1


*****


Pada pagi hari di sekolah. Seperti biasa sangat jarang sekali bagi anak-anak untuk masuk sekolah sepagi ini, kecuali beberapa kali Anggi melakukannya dan juga Fika.


Kali ini masih sama, Fika datang ke sekolah sangat pagi. Dia di sana sudah mendapatkan janji dengan seseorang untuk datang lebih awal, tentu saja janji itu bersama Edo.


Fika masih berdiri menunggu seseorang, sambil matanya cukup waspada melihat ke sisi lain, dia juga duduk di tempat yang tidak ada cctv nya di sana.


Seorang lelaki sudah muncul saat itu berjalan menuju ke arahnya.


Reaksi Fika benar-benar berbeda saat itu. Dia bahkan sedang berusaha keras untuk menahan kesal dengan menundukkan wajahnya.


"Kau butuh obat ibumu kan? Kalau begitu temui Anggi lagi untukku. Jalankan rencana mu." Edo memancing emosinya meluap keluar saat itu. Fika terperanjat dan langsung menatap Edo dengan tatapan tajam.


Kali ini keberanian tiba-tiba datang. Menjadi seseorang yang menyedihkan bukanlah pilihan yang ahrus dibayar, Fika merasa jika akan ada sesuatu yang bisa membuat Edo berhenti untuk menemuinya.


Tak lama setelah kepergian Edo di sana, Fika benar-benar tidak bisa menahan lagi emosinya yang memecah, meledak di dalam dadanya sendiri dan membuat dia terpaksa menangis.


Fika menangis di sudut gedung, dia memang sendirian, ada perasaan sesak yang memenuhi dadanya sudah lama. Dia tidak tahu harus melakukan apa setiap kali menghadapi pilihan Edo, bahkan dia tidak pernah menyangka jika kini hidupnya tidak bisa terlepas dari seorang yang ingin terus memanfaatkannya. Jauh dari Dalma hatinya sendiri sebenarnya Fika membayangkan Anggi, dia tidak mungkin bisa menyakiti Anggi dengan cara apapun, dia tidak bisa melakukannya. Namun Edo terus menjebaknya dengan pilihan yang tidak bisa dia hindari.


Fika sangat menyesal karena pernah berpikir jika Anggi lelaki yang harus dia jauhi karena alasan pribadinya, namun ternyata dia sudah melakukan kesalahan karena harusnya dia lebih waspada pada Edo.


Mau tak mau dia harus menjalankan rencana yang tidak bisa dia tolak itu, nasib ibunya semuanya bergantung pada dirinya untuk saat ini.

__ADS_1


Tanpa sadar seseorang tak sengaja minat Fika yang masih duduk menundukkan wajah sambil terus menangis.


Yunita sudah datang saat itu, dia sendiri tidak menyangka akan datang sangat pagi ternyata mungkin alasannya karena dia harus melihat Fika seorang sahabatnya dalam situasi yang sangat sulit.


Yunita langsung berjalan ke hadapannya, Fika yang tadinya menangis sesenggukan kini dia terdiam, bibirnya berusaha keras menahan Isak tangis yang keluar. Hal terpenting dia tidak ingin orang lain melihat kondisinya.


Ragu-ragu Fika mendongakkan kepala, dan saat itu juga dia melihat sosok sahabat nya yang sudah sangat lama sekali dia abaikan. Karena sisa air mata yang belum dia seka dari pipinya membuat Fika tidak bisa mengelak lagi.


Yunita terdiam, dia belum berbicara apapun. Ketika melihat Fika kembali menangis dengan cara itu dia langsung bisa menebaknya dan Yunita tidak menuntut untuk tahu, dia hanya ingin menghibur sahabat nya saja.


Fika langsung memalingkan tatapannya ke beberapa arah, tak peduli itu karena yang paling penting adalah Yunita agar dia tidak bicara kepada siapapun.


"Kau sudah bisa bicara kan?" Tebak Yunita sengaja mengawali pembicaraan diantara mereka.


Fika masih ragu untuk menjawabnya, dia masih ketakutan saat itu.


"Fik, aku masih sahabatmu kan?" Yunita mulai bicara sambil duduk di dekat Fika.


Tak tahan lagi Fika langsung memeluk Yunita, persis seperti dulu yang selalu dia lakukan, memang selain Yunita tidak ada yang lain dia tidak mempunyai banyak teman dan terbiasa.


Fika akan terbiasa berbicara padanya apapun itu sebesar apapun masalahnya. Tapi sekarang, Fika tidak bisa melakukan hal itu, bahkan menceritakan sendiri masalahnya sangat mustahil. Dia harus benar-benar menjauhi semua orang jika ingin mereka tidak mendapatkan masalah Darii Edo.


Fika masih diam saja, dia menangis sejadinya di pelukan Yunita. Dia Hannya ingin meluapkan semuanya seiring tangis yang akan mengurangi bebannya itu.

__ADS_1


Tak lama bayangan Edo menghantui, Fika langsung terperanjat dan melepaskan diri dari Yunita. Tanpa sadar dia sudah sangat dekat tadi tapi apakah Edo sadar sesuatu?


Buru-buru Fika berdiri dan menatap ke arah lain terutama ke arah kelasnya. Ternyata Edo tidak ada di sana. Beruntung sekali Edo tidak melihat langsung sikapnya tadi bersama Yunita.


__ADS_2