Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Kabar duka Nenek Yunita.


__ADS_3

"Apa yang sedang kau lakukan?" Ucap Anggi ketika masuk ke dalam kamar Fandi dan melihatnya sedang mengamati beberapa barang juga setiap sudut di ruangan itu dengan teliti.


Fandi segera menoleh. "Tidak ada apapun, aku pikir sudah kehilangan sesuatu." Jawab Fandi saat itu. Dia tidak berniat memberitahu Anggi, terlebih ingin memastikan kebenarannya dulu.


Anggi diam tidak menjawab tapi matanya teralihkan menatap ke arah laptop yang tergeletak di atas kasur. "Itu laptop milik mu?" Tanya Anggi ketika melihatnya.


Fandi cukup terkejut tapi beruntung karena Anggi tidak mengenali laptop milik Kak Han. "Itu milikku, aku membelinya second akhir-akhir ini." Jawabnya pada Anggi.


"Kau kehilangan apa tadi? Aku bantu mencarinya!" Ucap Anggi. Tapi ketika dia ingin masuk Fandi langsung menahannya di sana.


"Sebaiknya kau istirahat dulu, kau tidak bisa banyak bergerak seperti itu apalagi sudah berdiri seperti ini nanti kau akan kesakitan." Ucapan Fandi memang benar, Anggi memaksakan diri untuk bisa berjalan tanpa kursi rodanya.


Anggi sebentar melamun saat itu, sebenarnya dia ingin bicara tentang Fika tapi dia mulai ragu lagi.


"Baiklah, aku kembali. Jika aku tidak bisa menemukannya kau bisa memanggil ku." Anggi keluar dari kamar.


Akhirnya Fandi bisa menghela napas lega. Sejauh ini dia tidak bisa mengatakan yang sejujurnya dia butuh kebenarannya dulu. Tapi masalahnya dia kesulitan untuk menemukan cctv yang mungkin tersembunyi di suatu tempat di ruangan ini.


Fandi tak ingin menyerah, dia mencari sesuatu dahulu di internet setidaknya dia membutuhkan sebuah alat detektor untuk memudahkannya.


*****


Anggi masih menatap bimbang, dari tadi dia hanya memandangi layar hp yang tidak memperlihatkan apapun selain nomor hp Fika.


Sudah hampir jam 3 sore, apakah mungkin sudah waktunya dia menghubungi Fika? Anggi sangat penasaran tapi perasaan itu tertahan dengan banyak kemungkinan yang dibayangkannya. Fika pernah memberitahunya tidak memiliki hp, bahkan Fika juga menyuruhnya menghubunginya melalui Yunita. Dari caranya seperti itu Fika memang bermaksud tidak ingin membuat siapapun bisa menghubunginya dengan bebas, entah karena Edo atau apa.


Karena tidak sabar lagi Anggi akhirnya mengaktifkan hp lagi dan mencari nama Yunita. Meski berulangkali menghubunginya mungkin tidak apa-apa.

__ADS_1


Akhirnya Anggi menelpon Yunita, ketika panggilan tersambung dia segera menutup telponnya. Anggi memilih mengirimkan pesan singkat saja dibandingkan menelpon mungkin Yunita masih di sekolah atau di jalan.


"Yun, udah pulang?" Ketiknya lalu dia kirim ke Yunita.


Beberapa menit berlalu jawaban masih tidak didapatkannya. Anggi menunggu dengan gusar karena dia tidak sabar ingin membahas tentang Fika. Atau sebaiknya dia datang saja ke rumahnya lagi dan mengobrol langsung.


Anggi memilih untuk mengobrol langsung, dia akan pergi dengan bantuan Kak Fandi.


Ketika dia berniat untuk menemui Fandi namun kebetulan sekali Fandi tiba-tiba muncul dari arah pintu.


Fandi nampak gugup ketika melihat Anggi yang menatapnya seperti itu.


"Kebetulan sekali kau datang. Aku ingin pergi ke suatu tempat." Ucap Anggi tanpa basa-basi.


Fandi Melotot tak percaya, sebelumnya dia mengira jika Anggi akan membahas hal tadi dia sudah berpikir itu dan bersikap gugup. Tapi nyatanya lain.


"Mau pergi kemana lagi?" Tanya Fandi, hatinya masih berat membiarkan Anggi pergi keluar tanpa beristirahat seharusnya.


Mau bagaimana lagi bukan waktunya berdebat, selain itu Fandi merasa jika pergi dari rumah dia akan aman-aman saja kan.


Akhirnya mereka pergi, Fandi memilih menuruti keinginan Anggi yang tidak bisa ditawar lagi. Sepertinya juga sangat penting.


"Kita pergi ke perumahan teman ku lagi." Anggi memberitahukan tujuannya.


Fandi bisa langsung tahu kemana itu, tidak ada tempat lain yang Anggi kunjungi jadi dia bisa dengan mudah menebaknya.


"Baru jam 2 siang, apa mereka sudah pulang sekolah?" Tanya Fandi.

__ADS_1


"Kita bisa menunggunya di sana kan? Lagipula Yunita tidak pernah pergi kemana dulu, dia selalu pulang setelah jam sekolah berakhir." Dengan percaya diri Anggi mengatakannya, dia tahu kebiasaan Yunita dan Fika ketika mereka selalu bersama-sama.


Fandi diam saja dia percaya dengan ucapan Anggi. Tugasnya hanya mengantarnya ke tempat kan.


Setibanya di tempat mobil terparkir di pinggir jalan di sana. Anggi yang menunggu di dalam mobil tampak tak sabar karena dari tadi dia terus menatap ke arah kaca mobil memastikan jika Yunita sudah pulang.


Waktu tak terasa berlalu dengan cepat, bagi orang yang sedang menunggu tentu saja waktu itu sangat membosankan. Sudah setengah jam lebih namun masih tidak tampak tanda-tanda Yunita. Anggi semakin gusar, dia melihat lagi hp nya dan Yunita belum membalas pesannya itu. Padahal tidak biasanya Yunita seperti ini.


"Apa sebaiknya kita ke sekolah saja menyusul?" Tanya Fandi.


Anggi berpikir sebentar. "Baiklah ayo kita pergi ke sana." Anggi memutuskan menyusul ke sekolah.


Sepanjang jalan Anggi tidak terlihat baik-baik saja, dia juga selalu melihat ke arah luar mungkin harapannya bisa melihat Yunita.


Tak la mobil sudah berhenti di depan gerbang sekolah, pertama dia menunggu di sana dan Fandi bertanya pada satpam apakah semua murid sudah pulang?


Dan sesuatu yang didapatkan saat itu sungguh mengejutkan. Satpam mengatakan jika murid kelas XI IPA 5 yang disebutkan semuanya pergi menjenguk orang tua salah satu murid di kelas itu yang meninggal dunia.


Ketika mendengarkan kabar yang tak terduga Anggi menebaknya jika orang yang dibicarakan, siswa yang disebutkan adalah Fika, pasti ada kabar buruk tentang ibunya itu.


Segera Anggi mengecek kembali daftar nomor hp di grup kelas. Ketika dia mengeceknya grup nampak kosong tidak membahas apapun tapi mereka sedang melayat orang yang meninggal, kenapa tidak ada yang dibahas?


Anggi bingung dengan situasinya. Dia menelpon Yunita namun tidak dijawabnya juga. Kemudian dia asal menelpon siapapun di nomor yang ada, ternyata seseorang tidak menjawabnya mungkin karena nomornya asing. Langkah terakhir Anggi mengirimkan pesan singkat pada salah satu orang yang ada di daftar kontak grup kelasnya. Dengan begitu orang akan menjawabnya kan.


"Maaf mau tanya, kelas XI IPA 5 pergi ke rumah siapa sekarang? Memangnya orang tua siapa yang baru meninggal di kelas? Aku Anggi." Tulisnya terburu-buru. Lalu Anggi mengirimkan pesan itu.


Lama tidak menjawab setelah beberapa menit berlalu, Anggi tidak sabar dan mengulangi pesan yang sama tadi pada yang lainnya. Sampai ke lima kalinya dia mengirimkan pesan barulah ada orang yang menjawab.

__ADS_1


"Neneknya Yunita meninggal. Kamu gak sekolah jadi gak tahu ya." Jawab seseorang.


Anggi mematung tak percaya. Pantas saja Yunita tidak menjawab pesan dan telponnya dari tadi, ternyata itu alasannya. Dia tak menyangka sekali pasti Yunita benar-benar sangat sedih.


__ADS_2