Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Kepergian Pak Han


__ADS_3

Seluruh orang yang ada di rumah sakit ternama dan terbesar di kota tampak sibuk berhamburan keluar dari dalam rumah sakit. Bayangkan saja berapa ratus pasien yang harus dievakuasi secepatnya. Terutama pasien VIP yang terdampak kebakaran.


Keributan tidak hanya terjadi dari dalam rumah sakit saja, namun orang-orang di sekitar juga tampak sibuk melihat dan hampir memenuhi semua area halaman rumah sakit.


Rendra masih sibuk menunggu di dalam mobil, tapi dia mulai sedikit terganggu karena para pengawalnya dari tadi terus mengetuk pintu. Beberapa kali setelah itu giliran seorang polisi yang melakukannya.


Rendra merasa aneh, dia kemudian membuka kaca jendela.


"Maaf tuan silahkan untuk mengosongkan area rumah sakit secepatnya. Kami kesusahan untuk mengevakuasi para korban dari dalam rumah sakit." Ucapnya pada Rendra.


Rendra terdiam sesaat, dia tidak memiliki pilihan selain harus pergi dari tempat itu. Rendra melihat ke dua orang pengawalnya di sana yang sudah menunggu, dia cepat menunjukkan isyarat agar segera masuk ke dalam mobil dan pergi seperti yang diinstruksikan.


"Sekarang kita akan pergi kemana pak?" Tanya salah seorang pengawal yang membawa mobil.


Rendra terdiam lagi bingung, dia belum menerima laporan apapun tentang Anggi itu artinya dia tidak bisa pergi kemanapun juga.


"Pak?" Seseorang membuyarkan pikiran.


"Jalan saja, kita cari sebuah resto di sekit


Ar rumah sakit atau hotel terdekat. Aku ingin beristirahat." Rendra memutuskan untuk pergi ke tempat dimana dia bisa secepatnya datang kapanpun ke rumah sakit.


Mobil segera melaju ke salah satu tempat pilihan, yaitu hotel yang jaraknya hanya 5 menit dari rumah sakit.


Ting...


Suara hp nya berbunyi.


Rendra langsung serius melihat laporan dari salah seorang yang dia percayai tadi.


"Pak sudah sampai. Kita turun sekarang?" Tanyanya lagi pada Rendra.

__ADS_1


"Tunggu sebentar dulu. Atau kau minta seseorang untuk mengatur kamar dan memesankan makan malam nanti." Rendra mengulur waktu. Dia tidak bisa lepas dari laporan yang sedang dibacanya.


Kemudian tampak matanya terbelalak ketika melihat seluruh isi laporan itu. Pak Hen diduga ada di sebuah rumah sakit lain yang jaraknya setengah jam dari rumah sakit ini. Sedangkan Anggi mungkin hp nya hilang karena kecelakaan itu, hingga titik posisinya tidak berubah.


"Pak semuanya sudah siap." Ucap salah seorang pengawalnya yang datang.


Tanpa mengatakan apapun pada keduanya Rendra segera turun dari mobil, berjalan ke salah satu kamar yang sudah dipesankan. Dia harusnya cepat pergi ke rumah sakit untuk memastikan, namun dengan kedua orang pengawal itu rasanya tidak mungkin. Rendra tidak mempercayai mereka seperti dirinya mempercayai Pak Hen.


"Aku ingin di kamar sendirian, kalian bisa pergi dan berjaga di luar!" Rendra kemudian masuk ke dalam kamar.


Kali ini waktu yang tepat untuknya melakukan rencana untuk mencari tahu. Namun sebelum melimpahkan tugas itu pada orang lain sekejap dia akan berpikir terlebih dulu, tentang alasan Pak Hen yang membawa Anggi ke rumah sakit itu.


Rendra terperanjat teringat oleh sesuatu hal. Dia segera kembali sibuk menelpon seseorang.


"Halo, dokter. Saya ingin menanyakan seorang pasien di sana, namun sepertinya ini rahasia karena dia anakku. Pasien bernama Anggi dengan walinya Pak Hen." Ucap Rendra hati-hati ketika dia bicara di dalam telpon.


"Baik pak, mohon untuk menunggu ya akan saya bantu cek di pendaftaran." Terdengar jawaban di balik telpon itu.


*****


Rumah sakit 2.


Seorang dokter tampak cemas ketika menerima telpon dari seseorang, dia bergegas pergi kembali ke kamar pasien yang bernama Anggi. Ada sesuatu yang harus dibicarakan bersama kakaknya itu.


Dia terus melihat ke arah jam tangan yang dipakainya, tidak ada waktu lagi harusnya Anggi dan kakaknya cepat pergi dari rumah sakit ini atau mereka berdua akan menerima masalah. Firasatnya mengatakan hal buruk seperti itu.


Ceklek...


Pintu dibuka.


Matanya langsung mencari ke setiap sudut ruangan di dalam. Hanya tinggal seorang pasien yang masih tak sadarkan diri, sedangkan Pak Hen benar-benar tidak ada di sana.

__ADS_1


Ketika ingin kembali pergi matanya tertarik dengan sebuah kertas yang ada dal genggaman tangan anak itu. Buru-buru dokter tersebut mendekat mengambil kertas itu yang terlipat rapih.


"Aku harus pergi dan mengurus semuanya. Hidup ku tidak lama lagi mereka memiliki masalah dengan ku karena aku menyelamatkan anak ini. Kembalilah dengan anak itu ke alamat yang aku tulis, pergilah dan temui langsung ayahnya di sana kau akan mendapatkan kepercayaannya. Berhenti untuk menjadi dokter dan pergilah bersama anak ini ke luar negeri. Kau juga harus mengganti seluruh identitas mu sekarang. Lakukan dengan hati-hati." Tulisan yang dia baca dal kertas itu.


Setelahnya dokter yang merupakan adik dari Pak Hen langsung meremas kertas itu, menyobeknya hingga tak meninggalkan pesan apapun lagi. Dia sedikit emosi namun sebagian besar hatinya sangat sedih. Dia sangat tahu apa artinya dari tulisan itu adalah ucapan terakhir dari kakaknya, dia tidak akan menemukan lagi kakaknya dimanapun.


Tampak bimbang, matanya menatap anak yang sedang tertidur itu. Seketika emosi meluap, mengapa kakaknya mempertaruhkan segalanya hanya untuk anak itu? Dia selalu bekerja setia dan rela mengorbankan dirinya sendiri.


Tak lama tangisan pecah, rasa tertekan membuatnya frustasi. Apa yang akan dilakukannya? Dia tidak mungkin bisa seperti kakaknya itu. Dia tidak bisa melakukan apa yang diminta oleh kakaknya. Menyedihkan sekali.


"Pak Han." Panggilnya.


Dia yang mendengarkan suara itu langsung terperanjat dan spontan mengeceknya. Ternyata Anggi sudah siuman dengan cepat.


"Kau dokter yang merawat ku? Apa aku bisa bertemu dengan Pak Han?" Tanyanya.


Mendengarkan kata-kata itu membuat dia tak berdaya, bagaimana bisa keduanya sangat begitu dekat bahkan anak itu sangat bergantung seluruhnya pada kakaknya itu.


"Pak Han tidak ada di sini?" Tanyanya lagi mulai terlihat cemas.


"Tenanglah dan kau harus pergi dengan ku." Tak disangka dia mengatakan hal itu.


"Kenapa? Aku harus tanya pak Han dulu, bisa kau beri aku sebuah hp? Aku ingin bicara dengan Pak Han!" Ucap Anggi, dia kesulitan ketika duduk karena sakit di kepalanya masih terasa.


"Ku mohon! Dengarkan aku, kau harus pergi dan ikut dengan ku!" Tak tahan lagi, pikirannya masih terus membayangkan isi pesan dari kakaknya tadi, bahkan dia juga menangis di hadapan Anggi.


Melihat keanehan itu membuat Anggi langsung terdiam. Apalagi tangisan dokternya membuat dia bertanya-tanya kenapa dan apa yang terjadi?


"Kakak ku, dia meminta ku untuk membawa mu pergi secepatnya. Dan tolong jangan membuatnya sia-sia." Ucapnya lagi.


Seketika perasaan Anggi luluh, dia tahu apa itu artinya. Artinya Pak Han ada dalam masalah bahkan mungkin dirinya juga ada dalam masalah. Anggi melihat kembali seorang dokter yang saat itu sedang siap-siap untuk pergi. Dia tak menyangka jika dokter itu adalah adik dari Pak Han, setahunya Pak Han tidak memiliki keluarga karena keluarganya meninggal dan hanya dia yang masih hidup.

__ADS_1


"Kau sudah siap? Kau harus bisa berjalan dan cepat ganti baju mu dulu!" Anggi mendengarkan peri Tah itu untuknya, dia segera bergegas dan tak membuang waktu.


__ADS_2