Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Kemana perginya anggi


__ADS_3

Tok ...tok...tok


Suara pintu diketuk.


Giliran Fandi mengetuk pintu dari luar, dia merasa heran karena tidak terdengar ada suara. Tangannya meraih kenop pintu lalu didorongnya hingga pintu langsung terbuka. Ternyata di sana sudah tidak ada orang artinya penjaga tadi sudah kembali.


Fandi berjalan lagi ke ruangan lain menuju tempat dimana para penjaga seharusnya ada. Sepanjang jalan dia cukup waspada, tidak berharap sebenarnya namun sudah pasti dia harus tetap hati-hati jika saja kemudian terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Setibanya di ruang tamu, pintu utama sudah terbuka lebar dan dia tidak melihat para penjaga yang seharusnya ada di sana. Fandi sudah mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres.


Sepasang matanya melebar melihat suasana di luar rumah. Bukan satu atau dua orang melainkan seluruh penjaga rumah tidak ada di sana. Fandi langsung panik tanpa pergi keluar dia kembali lagi ke arah dapur berharap ada asisten rumah yang bisa dia tanyai apapun. Setibanya di sana Fandi masih tidak melihat ada satupun orang yang seharusnya mereka tidak pergi kemanapun.


Lantas kemana perginya orang-orang? Pikirannya terus menerka-nerka, bukan lagi hal yang enteng pasti sudah terjadi sesuatu di rumah.


Sambil memegang hp dia kembali memikirkan siapa yang akan dihubunginya saat ini? Fandi tidak memikirkan yang lain pikirannya langsung mengarahkannya pada ayah Anggi.


Tak ingin menunda waktu dan membiarkannya berlaku dengan percuma, Fandi akhirnya memberanikan diri memanggil ayahnya Anggi.


Tidak mudah memang memanggil seseorang seperti ayahnya Anggi, pasti karena sibuk atau sengaja tidak menerima panggilan dari siapapun.


Fandi tak pernah mengkhawatirkan orang lain lebih dari kekhawatirannya pada Kak Han, tapi kali ini berbeda secara spontan dia kembali dan ingin memastikan Anggi di dalam kamar.


Fandi tidak memiliki kunci kamar Anggi dan dia juga tidak tahu dimanakah letak semua kunci di rumah ini.


Dia harus mencari di suatu tempat, pertama Fandi pergi ke tempat yang memungkinkan orang akan menyimpan kunci-kunci rumah di sana. Tempatnya bukanlah kamar mungkin ada di lemari yang terpajang.


Sayang sekali setelah beberapa saat cukup membuat Fandi tidak sabar dan capek juga. Dia ingin menyerah karena tidak bisa menemukan kunci itu, namun dia berpikir bagaimana jika dia sengaja mendobrak pintunya membukanya secara paksa? Fandi tak ingin memikirkannya akhirnya dia mendobrak.lintu sekuat yang dia mampu.


"Pak! apa yang ingin kau lakukan?" Terdengar sebuah suar ayang membuat Fandi langsung menoleh. Terlihat penjaga tadi. Semangat tepat sekali, kali ini baru dia memastikan Anggi dimana dengan bertanya padanya.


Tanpa diminta penjaga itu sudah berlari ke arahnya. "Semua orang tidak ada dimanapun." Ucapnya. Padahal Fandi sudah tahu.


"Tadi kau lihat Anggi keluar dari kamarnya?" Tanya Fandi dengan nada cemas.


Melihat Fandi yang panik, penjaga itu langsung tidak bisa berbicara apapun. "Apa-apa terjadi sesuatu?" Tanyanya.


"Cepat bantu aku dobrak pintunya!" Minta Fandi untuk memberikan bantuan kecil seperti yang dia sebutkan itu.


Penjaga itu masih bisa mendengarkan apanyang dikatakan Fandi, segera dia mengikuti apa yang dilakukan Fandi juga. Dengan hitungan bersama sampai tiga Fandi dan dirinya harus kompak mendobrak pintu bersama-sama.


1,2,3 dan dengan hitungan itu keduanya mengerahkan semua tenaga lalu didobrak nya pintu. Tidak mudah seperti yang dia bayangkan tadi. Selanjutnya butuh percobaan yang sama.

__ADS_1


1,2,3


Brakkk.


Suara pintu.


Beruntung Fandi bisa mengendalikan diri jadi dia tidak sampai terjatuh.


Fandi mengamati seisi kamar yang tidak memperlihatkan Anggi di sana.


"Cepat hubungi Tuan Rendra!" Fandi memberikannya perintah sedangkan dia terus berjalan ke sana kemari untuk melepaskan rasa cemasnya.


Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika situasi yang terjadi seperti sekarang. Meski memikirkan hal ini bisa saja terjadi tapi dalam kenyataannya dia tidak bisa menghadapi masalah itu sendirian.


"Tidak juga diangkat." Jawab penjaga itu membuat dia semakin panik.


"Apa kau yakin tidak tahu kemana perginya orang-orang?" Fandi bertanya lagi.


Sesuai dengan yang tidak dia harapkan penjaga itu menggelengkan kepala.


"Bagaimana kau bisa tidak tahu apa yang kau lakukan dari tadi?" Marahnya.


Ketika masuk ke dalam pos dia melihat sesuatu yang lebih mengecewakannya lagi, ternyata tidak ada cctv yang menyala. Fandi tampak menghela napas mendapati jalan buntu. Tidak ada yang bisa membantunya untuk masalah ini selain cctv apalagi?


"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya penjaga itu. Fandi hanya bisa menatapnya kecewa.


"Kau tahu siapa saja diantara mereka semua yang tidak ada sekarang?" Tanya Fandi berharap bisa mendapatkan sebuah informasi.


Penjaga itu menganggukkan kepala.


"Sekarang kau bisa memberitahu ku jika mempunyai foto mereka." Ucap Fandi.


"Untuk apa?" Tanyanya membuat kemarahan Fandi meluap.


"Kau tidak bisa berpikir untuk apa itu? Jangan tanyakan lagi yang penting kau mempunyai nya dan bisa memberikannya sekarang." Tegas Fandi.


Tidak mau menunggu penjaga itu Fandi berlari ke arah garasi mobil, dia akan pergi ke suatu tempat yang bisa menunggunya dan tentu saja dia butuh kepolisian untuk menangani masalah.


Setelah masuk ke dalam garasi dan juga mobil biasanya tiba-tiba


dia mendapatkan suatu panggilan yang masuk ke dalam hp nya.

__ADS_1


"Fika." Fandi berpikir sesaat mengapa Fika menelponnya?


Di tengah situasinya yang terburu-buru Fandi mengangkat telpon itu dan ditempelkan ke telinganya. Namun dia tidak menemukan sebuah suara di sana Fandi pikir Fika hanya main-main saja.


"Hotel **** Cepat kemari." Terdengar suara Fika menyebutkannya. Dari nada bicaranya Fandi bisa menebak situasinya saat itu, mungkin Fika kembali dalam kesusahan. Tapi bukan Fika tujuannya, Fandi lebih membutuhkan kabar Anggi. Kemana dia perginya saat ini? Apakah karena sesuatu dia pergi atau karena seseorang yang membawanya dari rumah?


Sebelum ingin pergi ke kantor polisi pikiran Fandi masih terganggu dengan ucapan Fika tadi. Dia tidak menampik dan mengabaikannya, meski situasinya berbeda tapi Fandi tidak bisa membiarkan seseorang yang meminta pertolongannya lalu dia abaikan dengan begitu saja.


Penjaga tadi sudah ikut ke dalam mobil. Fandi masih berpikir untuk melakukan apa.


Tiba-tiba dia ingat dengan sesuatu yang beberapa kali mungkin digunakan oleh anggi juga. Tentu saja aplikasi pelacak itu, dia akan menggunakannya untuk mencari Anggi. Terdengar lebih membantu.


Sekarang dia fokus beberapa saat dulu, dia membutuhkan setidaknya 10 menit saja.


Untuk menjalankan aplikasi itu memang tidak mudah, dia tidak pernah menggunakannya selain itu dia juga butuh belajar dulu.


Daripada tidak sama sekali akhirnya Fandi melihat video tutorial dan mengikuti seperti yang diarahkan. Penjelasannya detail dan sederhana jadi dia bisa melakukannya.


Setelah melakukannya dia mendapatkan hasil yang diharapkan, setidaknya harus menunggu 5 menit sampai dia benar-benar mendapatkan hasil yang akurat.


Dan sebuah peta map muncul, Fandi melihatnya dengan teliti. Selain itu dilengkapi dengan penjelasan lengkap semakin memudahkan Fandi untuk membaca peta yang tampak dari layar.


Ketika membacanya dari awal sesuatu membuat kedua matanya melebar lagi, entah mengapa dari penjelasan di sana hasilnya menyatakan jika Anggi berada di suatu tempat dan tempat itu tak lain adalah hotel**** Sama seperti yang dikatakan Fika tadi di telpon.


Hasil yang didapatkan membuat Fandi kembali harus berpikir lagi. Pertama kenapa Anggi ada di hotel itu, untuk apa dia pergi ke sana?


Fandi tidak berhasil mendapatkan jawabannya namun yang pasti dia sekarang mendapatkan tempat tujuannya pergi yaitu hotel ****


"Sudah mau berangkat?" Tanyanya pada Fandi.


Fandi diam saja tidak menjawab, dia pikir untuk apa membahasnya, kerjanya saja tidak bisa diandalkan lantas untuk apa membahasnya?


Butuh perjalanan yang cukup untuk sampai ke tempat tujuan. Tidak apa-apa dia hanya butuh informasi Anggi dimana dma apa yang dilakukannya di sana.


Setibanya di depan hotel nampak wajah penjaga yang duduk di belakang Fandi bereaksi sesuatu.


"Seperti tempat yang pernah dikunjungi tuan." Gumam penjaga itu. Kata-katanya membuat dia menoleh.


"Tuan? Siapa yang selalu pergi ke sana?" Tanya Fandi sambil memarkirkan mobil.


Mungkin penjaga itu tidak sadar mengatakannya tadi, sekarang tampak reaksinya berbeda lagi.

__ADS_1


__ADS_2