Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Bukti dari kecurigaan Fandi


__ADS_3

Sudah hampir malam tapi Anggi belum juga melihat tanda-tanda Fika kembali. Perasaannya semakin gusar, tapi dia tidak tahu harus pergi kemana lagi mencari Fika.


Teringat dengan aplikasi pelacak yang pernah dia gunakan sebelumnya, dengan begitu Anggi tidak butuh untuk bertanya dulu dimana diam saat itu, dia hanya perlu mengecek langsung.


Ketika baru saja layar hp nya aktif dia langsung. mendapatkan salah satu pesan yang dikirimkan Fika.


Anggi tidak langsung membaca pesan itu, nalurinya langsung merasa tidak tenang memikirkan jika Fika tidak akan kembali ke rumahnya.


"Maaf aku tidak bisa pulang ke rumah mu lagi." Tidak kurang atau lebih, sesingkat itu Fika mengiriminya pesan. Anggi kembali membaca pesan singkat itu beberapa kali, rasanya aneh mengapa Fika langsung berubah pikiran? Apa yang membuat Fika berkata seperti itu?


Anggi mematung tak percaya, tapi itu jelas pesan yang dikirimkan oleh Fika. Selanjutnya dia akan menanyakan langsung pada penjaga rumahnya yang pergi bersama Fika, setelah kembali nanti dia akan langsung bertanya.


"Loh, Fika belum pulang?" Fandi kemudian masuk kembali ke kamar dan melihat hanya ada Anggi yang berdiri sendirian.


"Dia tidak pulang kesini lagi." Jawab Anggi terdengar kesal.


Fandi tampak syok, bahkan Fandi saja langsung heran dan merasa ada yang aneh. "Fika mengatakannya seperti itu? Lantas kemana dia akan pulang?" Tanyanya.


Anggi semakin terlihat marah, pertanyaan itu seharusnya tidak dia dengarkan saja tapi kenapa harus keluar dari mulut Fandi?


"Edo, pasti dia membawanya kembali kesana." Setelah mengatakannya Anggi langsung beranjak pergi ke tempat lain meninggalkan Fandi sendirian di dalam kamar.


Fandi bingung apa yang akan dilakukannya sekarang? Masalahnya sangat rumit. Dan kunci dari Maslah itu hanya ada pada tangan Fika sendiri, Anggi tidak bisa memaksanya menjauh dari Edo meskipun dia peduli. Berapa bodohnya Fika yang masih mau kembali kepada Edo, padahal jelas-jelas dia menerima kekerasan fisik yang tidak biasa, entahlah akan seperti apa nantinya.


Fandi berbalik memandangi dinding kamar di sana, dia merasa akan menemukan sesuatu lagi di rumah ini. Setelah menonton video tadi Anggi bisa tahu jika Edo datang ke ruang untuk memasang beberapa kamera.


Beruntung alat untuk mendeteksi kamera masih dia pegang dan mungkin selanjutnya dia akan membutuhkannya. Fandi menatap layar hp yang dia pegang dengan kedua tangannya, digerakkan nya mengikuti dinding di sana, matanya tetap fokus untuk memastikan dan dia sudah merasa was-was duluan. Tepat ketika mengarahkan hp ke dekat cermin muncul sesuatu tanda di layar menandakan jika ada salah satu di sana.


Fandi mendekat ke tempat yang sudah ditunjukkan oleh layar hp nya tadi, beberapa kali menatapnya memang tak kasat mata karena tidak akan ada yang curiga di lubang di tembok mungkin bekas paku atau apa saja yang tertancap di sana. Dia butuh semacam alat seperti paku yang cukup panjang namun kecil untuk mengeluarkan kamera di sana.

__ADS_1


Beberapa kali Fandi berdecak kesal, selain susah dia tidak pernah berpikir mengapa orang membuat kamera terpasang di beberapa tempat di rumah Anggi. Tapi dengan satu kamera ditemukan di kamar ini berhasil menjawab semuanya, Edo memiliki rencana dan entah apa rencananya.


Pertanyaan Fandi tentang Edo membuat dia sendiri tidak bisa berpikir dengan logikanya. Bayangkan saja tidak mungkin Edo bisa masuk ke dalam rumah dengan penjagaan yang sudah ada, kecuali jika seseorang membantunya atau Edo memang sudah mengenal semua penjaga di rumah? Tapi tidak cukup mengenalnya, hannya tuan rumah yang memberikan persetujuan apakah Edo bisa masuk ke dalam rumah atau tidak?


Jawabannya hanya ada dua pilihan. Pertama Edo masuk ke dalam rumah karena secara diam-diam dia sudah mengenal ayahnya Anggi dan sudah sering pergi ke rumahnya. Itu mungkin sekali. Kedua dan yang paling tidak mungkin adalah semua penjaga di rumah berkerja sama dengan Edo, mereka seperti memiliki hubungan yang membuat Edo bisa leluasa keluar masuk.


Setelah mendapatkan kesimpulan itu justru yang membuat Fandi kembali berpikir untuk selalu hati-hati adalah pilihan kedua. Jika semua orang bekerja sama dengan Edo, artinya tidak ada satupun di rumah ini yang memihak Anggi, sesuatu di luar kendali bisa saja terjadi tanpa diinginkan dan itu sangat bahagia sekali.


Fandi mematung diam, dia bahkan membisu di sana. Ketika melihat kembali ke cermin dia diingatkan oleh kamera yang belum diambilnya. Buru-buru Fandi menusukkan sebuah alat seperti obeng panjang ke sana, dia tidak akan mengeluarkannya melainkan menghancurkan kamera itu. Beberapa kali sampai dia merasa sudah cukup membuatnya hancur, langkah selanjutnya dia menutup lubang itu dengan sesuatu yang ditempelkan dan menutupi lubang itu. Sesederhana itu untuk menyingkirkannya. Namun bukan berarti masalahnya berakhir.


Setelah melakukan satu hal lagi, dia cepat pergi ke arah kamar Anggi tentu saja untuk menceritakan apapun yang dia ketahui. Ketika sudah memasuki ruangan dan melihat ada seorang penjaga di depan pintu kamarnya. Fandi berhenti sebentar, dia minat penjaga itu dengan penuh curiga dan tak bisa dipungkiri juga jika hatinya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Penjajah di sana pun Fandi merasa tidak pernah melihatnya lantas siapa dia.


Fandi berpura-pura menelpon seseorang ketika penjaga itu tiba-tiba saja menoleh ke arahnya, dengan begitu dia bisa kembali melangkah mundur masuk ke kamar tadi dan tujuannya untuk menghubungi Anggi. Fandi berjalan sambil memegang hp ke telinganya, dia butuh sesuatu untuk membuat penjaga di sana atau penjaga yang ada di depan kamar tamu?


Fandi semakin syok melihat salah satu penjaga yang ada di kamar tamu juga, mengapa mereka tiba-tiba ada di tempat-tempat itu? Pikirannya terus curiga bercampur dengan rasa khawatir. Fandi menghentikan langkahnya sambil tetap mengobrol basa-basi di telpon matanya tidak lepas memperhatikan penjaga di sana. Langkahnya kembali berbelok ke arah ruangan laundry, dia masuk ke sana karena hanya tempat itu saja yang tampak kosong tanpa penjagaan.


Buru-buru masuk dan dia cepat menutup pintu di toilet yang ada di ruangan laundry itu. Tidak bisa ditawar lagi perasaannya mulai gusar dia tidak bisa tenang meski itu hanya satu menit saja dia bisa melaluinya. Fandi mencari nama Anggi dan dia akan menghubunginya, namun sesuatu di luar dugaan lagi mengapa di waktu yang sama hp Anggi tidak bisa dihubungi?


Langkah pertama Fandi harus memikirkan siapa yang akan dihubungi sekarang?


Tok...tok...tok...


Suara pintu diketuk dari luar. Serasa mendapatkan serangan jantung yang tiba-tiba, ketika mendengarkan pintu toilet diketuk dari luar dia langsung berpikiran buruk dan tentu saja takut.


"Ada orang, lagi Bab maaf." Teriak Fandi memberitahu dan selanjutnya tidak terdengar lagi.


Sedikit bisa bernapas lega namun bagaimana dengan Anggi? Tapi yang pasti sebelumnya dia harus menghubungi seseorang terlebih dahulu.


Pikirannya melayang ada beberapa pilihan, pertama Yunita, Fika, dan Ayahnya Anggi. Hanya ketiga orang itu saja yang sampai saat ini dia kenal. Menyesal sekali mengapa dia tidak menurut pada Anggi dan melakukan beberapa relasi di luar sana dengan orang-orang, dengan begitu sudah pada saatnya seperti ini dia bisa meminta bantuan dari luar.

__ADS_1


Dari ketiga pilihan tadi tidak satupun yang dipilihnya, Fandi tidak mungkin menghubungi Yunita karena bagaimanapun Yunita tidak akan membantu, dia tidak bisa pergi ke tempat ini. Jika dia menghubungi Fika apakah ada sesuatu yang bisa berguna dengan menelponnya?


Beberapa saat Fandi berpikir lagi, dia butuh sesuatu yang lebih pasti dan yang bisa menolongnya. Fandi tidak bisa asal sembarangan saja dan bertindak justru bisa membuatnya rugi.


Tok ..tok... tok


Suara pintu diketuk.


Pikirnya Fandi mulai buyar, dia tidak ada cara lagi untuk menghindar. Sesuatu yang membuatnya curiga saat itu adalah orang yang ada di luar pintu, jika itu adalah asisten laundry di rumah mungkin akan beberapa kali memanggilnya tapi itu tidak terjadi. Jawaban yang pasti jika orang yang berasal di luar itu bukanlah asisten rumah melainkan orang lain.


Entah mengapa hatinya semakin yakin saja jika orang Yanga da di luar adalah salah satu penjaga rumah itu dan tentu pasti tujuannya tidak begitu benar.


Kali ini apa yang akan dilakukannya untuk bisa sekaligus memastikan Anggi dan keluar dari rumah?


Fandi cepat membuka pintu.


"Astaga kenapa pergi ke toilet ini?" Ucap Fandi sambil matanya tidak lepas terus mengamati ke arah tangan penjaga itu, khawatir jika tiba-tiba ada semacam senjata tajam atau senjata api yang diarahkan padanya.


"Lama amat!" Makinya sambil buru-buru masuk ke dalam Kamar mandi.


Fandi merasa lega jika sikap penjaga itu menunjukkannya tidak perlu dicurigai. Sekarang tinggal keberaniannya untuk pergi ke kamar Anggi, dia harus bisa memastikan ke arah kamar Anggi.


Ketika keluar dari ruangan laundry itu meskipun setengah mati merasa ketakutan tapi Fandi tidak bisa menunjukkannya dan harus bisa bersikap seperti biasa.


Langkah kakinya membawa dia kembali berjalan ke arah kamar Anggi, dia tetap harus pergi ke sana untuk kemudian mendapatkan jawabannya kan. Dan setelah masuk ke ruangan Fandi tidak melihat ada penjaga tadi di sana. Seperti mendapatkan kesempatan yang baik dia langsung berlari ke kamar Anggi, ketika menarik kenop pintu dia merasa pintu sudah dikunci.


"Anggi! Anggi!" Panggilnya beberapa kali. Fandi sangat cemas kemudian dia semakin menaikkan nada bicaranya bahkan berteriak memanggil Anggi.


"Anggi! Buka! Anggi!" Panggilnya beberapa kali. Dia tak mengerti mengapa Anggi sangat tumben mengunci pintu dan dia juga tidak biasanya harus dipanggil beberapa kali.

__ADS_1


Fandi masih tidak mendapatkan respon, kali ini dia perlu bertanya pada orang lain. Pikiran Nya memberitahu dia untuk bertanya pada penjaga yang tadi masuk ke kamar mandi di ruangan laundry, hanya itu jalannya. Alasannya Fandi merasa jika dia bukan orang yang harus dicurigainya.


__ADS_2