
Saat pagi hari seketika kabar buruk membuat langit terasa runtuh di depan mata, Yunita mematung ketika melihat orang yang setiap hari dia rawat dan yang sudah membesarkannya tertidur namun artinya tidak akan pernah bangun lagi.
Padahal Yunita sudah bersiap pergi ke sekolah pagi itu, tapi ketika keluar kamar Bibi tersungkur menangis di hadapan kasur Nenek.
Malam tadi Nenek tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, Nenek lebih tenang dan tidak banyak meminta apapun. Sepanjang malam Nenek juga tertidur pulas di atas kasur, Yunita tidak banyak terjaga dia merasa Nenek sudah sehat lagi. Tapi siapa sangka jika itu adalah cara nenek meninggalkannya juga bibi.
Waktunya sangat singkat, kepergian Nenek malah membuat dia dan Bibi tidak bisa menerimanya.
Saat menjelang siang, Nenek sudah beristirahat di tempat terakhirnya. Para pelayat juga sudah berhamburan keluar rumah, hanya tinggal dia dan Bibi yang keduanya masih diam membisu. Bibi terlihat melamun begitupun Yunita duduk termenung.
Ketika seseorang tiba-tiba hilang dari edaran, rasanya semua tempat kini menegaskan jejaknya dan tampak lebih nyata. Dimanapun, Nenek masih nampak di sudut mata tapi raganya memang sudah tidak ada di sana. Dan itulah kenyataan yang paling menyedihkan untuk Yunita. Padahal Yunita berharap sekali jika nenek bisa menemaninya lebih lama, juga melihat bibi menikah.
"Apa yang kau lihat?" Nada suara bibi memang selalu tidak bisa lembut padanya.
Yunita terperanjat mendengarkan Bibi membentak, ketika berbalik Yunita merasa sedih lagi harusnya di sana ada Nenek yang akan membela.
Yunita segera pergi dari sana, dia akan menangis di tempat yang tidak membuat Bibi tahu dan melihatnya dengan muak.
Setelah kehilangan Ibu dan Ayah, Yunita tidak pernah berharap dan membayangkan bagaimana dia sedih karena kehilangan ditinggalkan oleh orang yang paling dekat dengannya. Sekarang dia benar-benar merasakannya, dulu mungkin dia masih kecil dan tidak tahu jika Ayah dan Ibunya tiada, tapi sekarang dia sudah bisa mengerti dan merasakan betapa pedihnya ditinggalkan oleh seseorang yang paling berharga. Dalam memori otaknya dia hanya tahu dibesarkan oleh seorang Nenek dan bibi yang setiap saat selalu ada untuknya.
Matanya menerawang ke langit-langit kamar, sambil menangis bibirnya terus membungkam tangisan itu. Dada yang setiap menitnya terasa sesak sekali, rasanya dia tidak bisa hidup. Entah bagaimana nanti cara untuknya hidup tanpa Nenek, dia masih tidak bisa membayangkan bagaimana dia menghadapi hari esok yang tidak seperti biasanya.
Brak...
Suara pintu terdengar dibanting.
__ADS_1
Seketika Yunita terperanjat mendengarnya, dia langsung berlari keluar kamar untuk memastikan. Tapi di sana nampak Bibi yang terus menendang pintu dengan kakinya, sambil menangis bibi melampiaskan kesedihannya itu. Yunita hanya bisa tertunduk, di rumah ini tidak ada satupun yang baik-baik saja termasuk Bibi orang yang tampak dingin tapi dia tidak bisa mengendalikan diri dalam situasi seperti ini.
Yunita hanya menghela napas, dia tidak mengatakan apapun dan membiarkan Bibinya melakukan apa saja yang bisa membuat sedikit sesak dan kesedihannya berkurang. Dia kembali masuk ke dalam kamar dan mengurung diri.
Pintu terkunci dari dalam dia tidak peduli apapun bahkan ketika terdengar Bibinya yang marah memanggil beberapa kali, suara pintu yang terus diketuk dari luar lama kelamaan suaranya berubah seperti Bibi kini sedang menendang pintu kamarnya juga. Yunita tidak peduli, dia hanya menangis sendirian di dalam sampai waktu terus berlalu dan suara Bibi hilang tidak terdengar lagi.
****
2 Hari setelah kematian Nenek Yunita.
Anggi menjalani beberpaa pemeriksaan untuk kesehatannya, dia menjalani terapi untuk bisa berjalan dengan normal lagi dan selama 2 hari ini dia tidak tahu bagaimana kabar di sekolah terutama kabar Fika dan Yunita.
Di grup kelas juga tidak banyak membahas hanya ada informasi jika acara sekolah dan pembagian raport dilakukan pada tanggal terdekat. Artinya sekolah tidak efektif.
"Malam ini jadwal makan malam lagi." Ucap Fandi memberitahunya. Tanpa diketahui oleh Anggi sekarang Fandi sudah beberapa kali berkomunikasi dengan ayahnya, termasuk dia juga menerima tugas agar secepatnya pergi ke luar negeri bersama Anggi.
"Aku tahu itu." Jawab Anggi singkat.
"Apa kau akan membeli sesuatu hadiah?" Fandi mengatakannya sambil sesekali melihat Anggi.
"Tidak perlu." Jawabnya singkat lagi.
"Kalau begitu, apakah kau ingin membeli sesuatu untuk dipakai di acara makan malam nanti?" Fandi bertanya lagi seolah dia sangat ingin jika Anggi benar-benar harus menyiapkan diri untuk acara makan malam nanti.
"Sekarang bukan hanya Edo dan Ibunya, keluarga besar Edo juga akan datang." Fandi masih berusaha membuat pikiran Anggi berubah.
__ADS_1
"Kau persiapkan saja semuanya datang ke acara itu. Aku tidak membutuhkannya." Anggi masih menolak dan tetap dengan pendiriannya.
"Ayah mu butuh sosok puteranya, kau tidak akan mengecewakannya kan?" Fandi berbicara lagi dan langsung mengubah ekspresi Anggi saat itu. Bukan hanya mengabaikannya Anggi sekarang malah tertidur di mobil, dia jelas sekali tidak ingin mendengarkan apapun tentang acara itu.
Fandi akhirnya diam setelah melihat reaksi Anggi. Ketika menyetir dengan fokus dia mendapatkan kembali sebuah pesan yang dikirimkan oleh ayahnya Anggi.
"Baju untuk Anggi sudah aku siapkan di rumah, antar dia tepat waktu." Bacanya Dalma hati mengenai pesan singkat itu. Fandi tidak membalasnya karena dia tidak yakin akan datang dengan mudah bersama Anggi.
"Apa kau ingin sekarang kita pergi saja ke tempat lain yang lebih jauh? Kau tidak ingin datang kan kalau begitu kita pergi saja." Fandi tak ada pilihan, jika dia tidak datang tanpa alasan mungkin akan mengecewakan.
"Kau sudah menerima pesan dari ayah ku kan? Jadi bagaimana apakah kau akan menurutinya?" Bukannya menjawab tapi Anggi malah membahas hal yang lain.
"Aku tidak melakukan apapun karena ayahmu, semua aku lakukan karena Kak Han. Lupakan saja jika kau tidak ingin datang untuk apa datang?" Ucapnya nampak sudah sangat bingung. Fandi bukanlah Kak Han yang bisa membuat Anggi mendengarkannya.
"Pulang sekarang!" Ucap Anggi saat itu. Dia tidak mengatakan permintaan lain.
Setibanya di rumah suasananya masih sama, Anggi penasaran sebesar apa makan malam nanti Samapi dia harus datang.
"Ayah mu sudah menyiapkan baju dan kelengkapan lain." Ucap Fandi memberitahunya.
"Astaga." Gumam Anggi ketika melihat sepasang baju sudah ada di dalam kamarnya.
"Kau siap-siap sekarang, aku akan pergi untuk siap-siap juga." Fandi keluar dari kamar Anggi, tentu saja dia kembali ke kamarnya.
Fandi tampak menghela napas, dia tidak tahu jika caranya tadi bisa mempengaruhi Anggi. Setidaknya dia juga harus bersiap-siap untuk menghadiri makan malam nanti.
__ADS_1