Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Pertemuan di tepi danau


__ADS_3

Cerah matahari cukup membuat keduanya bisa merasakan hangat di luar sana, ada juga angin yang terus melambai membuat sebuah perpaduan alami yang menenangkan.


"Nah, sekarang kita bisa berteduh di bawah pohon itu. Danau di sana sebenarnya tempat rekreasi karena sekarang bukan hari libur jadi hanya beberaoa orang yang bisa kita lihat di sini." Fandi tampak menjelaskan.


Dari arah Anggi duduk dia bisa melihat luas danau di hadapan mereka sekarang, Fika juga cukup menikmatinya dan tanpa komentar apapun darinya sudah membuat Anggi setuju.


"Turun yuk!" Ajak Anggi. Fika kemudian mengangguk.


"Duh jadi obat nyamuk dong!" Sindir kak Fandi.


Anggi hanya tersenyum simpul saat itu. Dia mendekat ke arah kan Fandi.


"Tolong ya, kamu tahu Edo kan? Tolong beritahu aku kalau dia juga ada di sini." Ucap Anggi membuat Fandi bereaksi berbeda saat itu. Fandi tidak cukup paham namun dia juga tidak bertanya tentang keinginan Anggi.


Seperti yang dikatakan Anggi, Fandi cukup berdiam diri di samping mobil dia juga bisa duduk di sana dengan teduh sambil menikmati suasana Danu dari kejauhan. Sedangkan Fika dan Anggi berjalan ke dekat danau itu, seperti yang dibicarakan Fandi keduanya berjalan ke tempat itu.


"Kau pasti ingin mengatakan banyak hal. Pertama aku ingin tahu bagaimana kabar ibu mu?" Anggi mengawalinya bicara karena dia tahu Fika akan sedikit canggung dan tidak akan mengatakan apapun.


Fika terperanjat kemudian dia kembali memalingkan matanya. "Ibu baik-baik saja, dia cukup hebat melewati masa-masa tersulit sampai dia berusaha untuk bangkit sendiri dan menguatkan aku juga." Jawab Fika.


Sebenarnya Anggi sangat merindukan nada bicara seperti itu, entah mengapa sekarang firasatnya baik Anggi bisa merasakan bagaimana Fika cara bicaranya dan juga kejujuran hatinya.


"Ada yang ingin kau tanyakan padaku?" Ucap Anggi sambil duduk ketika sudah sampai di tepi danau itu.


Fika kemudian duduk di samping Anggi meskipun itu sedikit berjarak.


Tampak beberapa saat diam, Fika seperti berpikir tentang apa yang ingin dikatakannya saat itu. Anggi tidak tahu itu apa tapi terlihat cukup berat untuk dikatakan oleh mulutnya.

__ADS_1


"Ayah ku bekerja di perusahaan milik mu kan?" Tanya Fika.


Anggi langsung tahu ke arah mana pembicaraannya kini. "Aku juga baru tahu jika ayahmu bekerja di sana. Aku tidak terlalu ikut campur dengan urusan perusahaan ayah, kecuali Kak Han yang paling tahu segalanya." Jawab Anggi, dia mengatakan semuanya dengan jujur.


"Kak Han juga meninggal tepat beberapa hari setelah ayah pergi." Ucap Fika saat itu.


"Kau tidak penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Alih-alih membahas hal lain Fika tampak lebih penasaran dengan sebab itu.


Anggi hanya diam saja tanda tak paham apapun.


"Edo memberitahu ku, untuk berhati-hati dekat denganmu. Dia khawatir dan selalu mengajakku pulang. Bahkan Edo memberikan ku rumah sewaan yang dia bayar sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Maafkan aku." Ucap Fika terdengar cukup bersalah.


Anggi terdiam mungkin sekarang lidahnya benar-benar kelu, ada saatnya mungkin nanti sebelum terlambat. Mengapa Anggi tidak pernah berpikir ke sana, mengapa dia tidak merasa jika kematian orang-orang itu pasti ada sebab dengan dirinya.


"Tapi aku tidak bermaksud untuk menjauhi mu. Aku dan Edo sudah merencanakan sesuatu, bahkan Edo berinisiatif sendiri untuk lebih tahu dengan caranya. Siapa dalang di Bali kematian Ayah dan Pak Han." Fika tampak lancar mengatakan semua hal.


Semua fakta itu masuk ke dalam pikirannya kini, Anggi masih tidak bisa mencurigai siapapun. Meski awalnya dia mencurigai jika semua karena ulah ayahnya, tapi untuk apa ayah melakukan semuanya hanya karena dia dekat dengan Fika orang yang bukan siapa-siapa dan tidak berpengaruh untuk bisnisnya, juga Pak Han justru dia adalah kepercayaan ayah.


"Kau baik-baik saja?" Fika balik bertanya dan mengkhawatirkan.


Anggi menoleh melihat Fika saat itu yang mengkhawatirkannya.


"Aku akan pergi ke luar negeri." Ucap Anggi. Fika kemudian mengubah lagi tatapan matanya hingga berpaling ke arah lain.


"Oh, jadi kau tetap akan pergi ke sana." Fika tampak tidak terlihat senang.


"Setidaknya kau akan baik-baik saja, lebih cepat itu lebih baik kan?" Ucap Fika terdengar seperti berusaha menerimanya.

__ADS_1


Anggi menghela napas. "Aku tidak tahu apapun, aku tidak bisa mengerti apapun, bahkan kematian Pak Han membuatku benar-benar tidak punya siapapun. Kau tahu? Aku dan ayah hidup bagaikan bukan sebuah keluarga, aku tidak punya siapapun. Rasanya benar-benar melelahkan." Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulut Anggi, dengan ekspresinya Fika bisa tahu jika itulah beban yang dihadapi Anggi. Beban berat yang tidak akan pernah siapapun mengerti dengan keadaannya.


"Kau akan baik-baik saja. Tetaplah bersama dokter itu!" Ucap Fika sambil menguatkan dan untuk pertama kalinya Anggi merasakan tangan lembut Fika menggenggamnya erat membuatnya merasakan kepercayaan dan semangat berbeda di sana.


"Dia adalah adiknya Pak Han kan? Dia akan setia pada mu seperti Pak Han. Dan memang ada baiknya kau tidak mempercayai siapapun mulai dari sekarang. Karena aku juga berpikir jika Edo tidak benar-benar membuat kita keluar dari masalahnya." Pernyataan Fika yang terakhir membuat Anggi sedikit merasakan jika Fika sangat terpaksa dan tidak bisa menolak pertolongan Edo dengan banyak alasan.


"Kau baik-baik saja kan bersama Edo?" Tanya Anggi cemas.


"Dia baik sekali, tapi entah bagaimana hatinya." Jawab Fika.


"Edo akan menjadi saudaramu kan? Ibunya berkencan dengan ayah mu." Celoteh Fika.


Anggi langsung menatapnya tanda bertanya dari mana Fika tahu tentang hal itu. "Edo menceritakannya padaku." Ucap Fika akhirnya mengatakan satu persatu kebenaran.


Anggi menghela napas. "Aku tidak akan menolaknya menjadi saudara, biarkan saja." Ucap Anggi terdengar enteng.


"Itu artinya kalian akan benar-benar bersaing." Tapi Fika menunjukkan pemikirannya yang berbeda.


Anggi mengernyitkan dahi tanda banyak tanya di dalam pikirannya. Bahkan Anggi tidak pernah berpikir untuk bersaing, dia hanya ingin hidup yang damai dimana semua bisa dilakukannya tanpa sebab dan akibat.


"Aku bercanda." Ucap Fika lagi diakhiri dengan tertawaan nya.


"Aku bisa menemui mu lagi kan? Tapi aku tidak bisa menghubungi mu." Fika menjelaskan jika dia tidak memegang sebuah hp.


"Aku bisa meminta kak Fandi untuk memberimu sebuah Hp, bilang saja jika itu hasil kredit dari konter." Ucap Anggi.


"Tidak perlu, aku tidak membutuhkannya saat ini. Jika nanti aku butuh aku pasti akan memintanya langsung dari mu kan? Kau kan kaya." Ucap Fika sambil kembali tersenyum.

__ADS_1


Sangat melegakan, tampak rona pipi dan juga mata Fika yang menyipit ketika ia tersenyum. Pemandangan yang dia rindukan dalam tidur dma ketenangan. Anggi terus melihat Fika dan melihat caranya tersenyum lepas, berbicara seperti biasa.


__ADS_2