
Di dalam kamar Fandi tidak hanya melakukan persiapan semata, dia ingat sudah membeli alat untuk mendeteksi kamera tersembunyi dimana pun itu. Dia masih butuh untuk membuktikan semuanya terutama untuk mengetahui hal yang belum dia temukan tentang Kak Han. Pergi ke luar negeri bukanlah urusan gampang, bukan berarti setelah dia pergi dia bisa terbebas dari masalah. Selama sumber. Maslaah nya tidak ditemukan apa artinya melarikan diri?
Fandi memasang alat itu di belakang kamera hp nya dan mengarahkan ke berbagai sudut tempat di sana, jika ada sebuah kamera tersembunyi maka akan tampak terang di layar hp. Seperti itu.
Ketika dia fokus melakukannya, lagi-lagi suara pintu lsngsung membuyarkan.
"Apa kau mempunyai." Ucap Anggi yang langsung menghentikan kata-katanya itu. Dia sempat melihat Fandi melakukannya.
"Apa yang kau lakukan tadi?" Anggi bertanya penasaran.
Fandi diam beberapa saat, dia benar-benar sudah tertangkap basah dan bahkan tidak berani menoleh ke arah Anggi.
"Apa yang kau lakukan?" Anggi berjalan mendekat, matanya juga melihat ke arah tangan Fandi yang masih memegang alat tadi dan juga hp. Ketika Anggi berusaha mendapatkannya namun Fandi berusaha tidak membiarkan Anggi untuk mendapatkannya.
"Berikan padaku!" Ucap Anggi. Dia mulai merebutnya dengan paksa.
"Astaga kau mempunyai hal semacam ini, memangnya kau pikir siapa yang berani memasang kamera di dalam kamar ini." Sambil mencoba alat itu Anggi mengarahkan hp Fandi di tangannya ke salah satu sudut kamar. Perlu beberapa kali mencoba sampai akhirnya kedua matanya melebar melihat sesuatu yang tidak bisa dipercayainya.
"Kau lihat ini!" Anggi terdengar syok sambil menunjukkan jarinya ke layar hp.
Fandi terkejut melihatnya dia juga melihat apa yang ditampilkan di layar hp itu. Tanda di sana sudah menjelaskan jika sesuatu di luar dugaan mereka benar-benar ada.
Anggi berjalan sesuai dengan arah kamera itu, dia mendapatkan sesuatu yang tersembunyi di balik lemari. Ada yang terpasang, kemudian dia mengambil pensil dan menggunakannya untuk mencungkil kamera itu.
"Apa itu?" Fandi masih tak bisa percaya jika sebuah kamera berhasil mereka dapatkan.
Buru-buru Anggi menghancurkannya. Bentuk yang sangat kecil sampai dia tidak tahu jika itu sebuah kamera karena warna yang serupa dengan lemari bisa menyamarkannya.
Fandi terdiam begitupun Anggi. Keduanya saling pandang dan Anggi tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia, dia mengulanginya seperti tadi agar bisa mendapatkan kamera lain, namun Fandi maupun anggi sangat berharap jika tidak ada yang lainnya.
"Apakah seluruh rumah ini bisa terpasang benda seperti tadi?" Ucap Anggi mulai khawatir. Anggi sudah mencari di setiap sudut kamar Fandi namun dia tidak menemukannya.
Fandi tidak menjawab, dia mengambil hp dan alat itu lalu mengecek untuk kesekian kalinya lagi. Dia harus detail dan melakukannya dengan teliti, jangan sampai ada kamera lain masih terpasang di dalam kamar.
Bukan hanya seluruh sudut ruangan, namun mulai dari alat-alat kecil yang ada bahkan jam yang menempel di kamar tidak terlewatkan dari pengecekan yang Fandi lakukan. Memang harusnya seperti itu.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu.
"Kau menemukannya lagi?" Tanya Anggi yang masih duduk menunggu.
"Sekarang giliran kamar mu, kita akan mencoba nya di sana!" Fandi memberikan sebuah pilihan.
"Astaga harus sekali?" Anggi balik bertanya dan bicaranya terdengar keberatan.
Fandi mengangguk untuk menyetujuinya.
Mau tidak mau Anggi harus melakukannya, dia bukannya menolak, bukan berarti tidak menerima jika Fandi menggeledah semua barang di sana. Tapi Anggi khawatir jika dia menemukannya juga di sana.
Anggi tak berani melakukannya, dia hanya berdiri gusar tidak tenang melihat Fandi yang akan melakukannya. Fandi sudah bersiap, dia mulai melakukannya dan pertama dimulai dari pintu kamar dulu.
Entah berapa lama yang dibutuhkan untuk mencarinya yang pasti akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
"Kita akan pergi ke acara makan malam kan?" Anggi menghentikan apa yang dilakukan Fandi saat itu.
"Benar sekali. Kau tidak boleh sampai telat datang kesana." Fandi menghentikannya.
Setelah Fandi keluar dari kamarnya tidak sedikitpun mengubah perasaannya yang tetap gusar. Anggi tidak bisa tenang, sekarang gara-gara satu kamera ditemukan di kamar Fandi dia menjadi sedikit tidak nyaman berada di dalam kamar. Jika saja ditemukan hal yang serupa lantas artinya apa? Dan siapa yang melakukannya? Itu hal yang terpenting harus diketahui oleh Anggi.
Karena masih tidak nyaman Anggi tidak bisa bahkan hanya sebentar berdiam diri di dalam kamar. Akhirnya dia keluar kamar membawa baju tadi dan pergi ke ruangan lain. Anggi pergi ke kamar tamu di sana dia akan berganti baju dan melakukan persiapan di sana.
"Loh, tuan kenapa keluar dari kamar sana?" Tanya seorang asisten rumah yang kebetulan saat itu berjalan ke arahnya.
Anggi terdiam sebentar melihat Bi Asih yang kebetulan berjalan di sana. "Kau bisa panggilkan Fandi sekarang!" Ucap Anggi, sebenarnya dia hanya ingin mengalihkan perhatian Bi Asih.
"Oh, Tuan Fandi. Baik!" Jawab Bi Asih kemudian berjalan ke arah sebelumnya.
Anggi kemudian berjalan ke ruangan lainnya menuju ruang tamu, di sana ada banyak sekali penjaga yang ditempatkan ayah. Anggi tidak begitu mengenal mereka dan hapal wajah semuanya, selama ini dia tidak fokus untuk melakukannya.
Karena pikirannya sekarang Anggi kembali mundur dan mendekat ke salah satu penjaga di sana. "Siapa nama mu?" Tanya Anggi.
Penjaga itu sedikit terkejut ketika ditanyai seperti itu. "Aku Gilang, Tuan." Ucapnya gugup.
__ADS_1
"Berdiri yang tegak!" Ucap Anggi sambil mengarahkan kamera ke wajah Gilang. Akhirnya Anggi bisa mengambil gambar salah satu penjaga.
"A-Apa yang tuan lakukan?" Tanya Gilang setelah melihat tingkah Anggi.
Anggi tak menjawabnya melainkan berjalan lagi ke salah satu penjaga yang jaraknya tidak begitu jauh. Anggi sudah melihat beberapa kali sudut mata penjaga itu mengintip ke arahnya tadi.
"Sebutkan nama mu!" Pinta Anggi ketika dia berada dekat di penjaga yang kedua.
"Hilman. Saya Hilman Tuan." Jawabnya.
Tanpa mengatakan apapun Anggi mengulanginya lagi seperti yang tadi dia katakan.
"Kau sudah mengambil foto ku Tuan?" Tanya Hilman. Anggi hanya mengangguk saja kemudian dia berjalan lagi menuju ke penjaga selanjutnya.
Mungkin itulah cara yang paling singkat untuk menghapal para penjaga di sana. Anggi harus melakukannya karena seperti yang dikatakan oleh Fandi ada salah satu penjaga yang diduga dia orang lain dan keluar masuk di rumah ini. Dia harus menemukannya.
Tiba di salah satu penjaga ke tiga, Anggi berjalan mendekat ke arahnya dan akan bertanya hal yang sama.
Penjaga itu sudah menatapnya, Anggi tidak merasakan apapun karena dia tidak akan bersikap sungkan untuk bertanya hal seperti tadi.
"Nama ku Anggi." Ucap penjaga itu.
Seketika mata Anggi membulat mendengarkannya, karena namanya sama.
"Kenapa Tuan? Kau tidak mengenaliku selama ini?" Tanya penjaga itu.
Anggi sedikit berjalan mundur dan menatap ke arah penjaga itu. "Aku sekarang butuh data-data kalian, kau jangan asal bercanda!" Ucap Anggi.
Penjaga itu tersenyum melihat sikap Anggi.
"Anggi!"
"Anggi!" Terdengar suara panggilan untuknya.
Anggi berhenti bicara dia mendengar suara Fandi yang memanggilnya beberapa kali. Ketika akan berjalan mencari Fandi sudah datang ke hadapannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Cepat kita pergi sekarang!" Fandi terlihat cukup kesal dia juga terburu-buru sekali.