
"Kalian pulang saja bersama ke rumah. Ayah harus mengantarkan mereka pulang." Pamit ayahnya pada Anggi.
Acara makan malam berlangsung lancar, katakanlah seperti itu karena selama makan malam hanya Anggi merasa dirinya yang tidak begitu dianggap di sana.
Anggi tidak bicara apapun sampai ayahnya pergi meninggalkan dia dan Kak Fandi.
Bagi orang normal biasa sebagai seorang anak dengan perlakuan seperti itu tentu saja akan merasa kecewa, baginya masih bukan apa-apa. Anggi tidak terlalu terpengaruh dengan sikap ayahnya, dia sudah menerima sikap yang dingin, tanpa perhatian, dan kejadian tadi membuat dia menyesal saja. Harusnya dia tidak ikut campur dengan acara-acara seperti itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Fandi sedikit mengkhawatirkan Anggi.
Anggi hanya tersenyum simpul. "Kita tidak boleh mengulanginya, pergi dengan cara seperti itu tidak baik untuk keluarga mereka." Ucap Anggi yang hanya dibalas dengan pandangan dari Fandi.
Fandi sangat tahu bagaimana perasaan Anggi saat itu, sayang sekali dia mempunyai ayah yang tidak bisa memihaknya dengan tulus, dia tidak terlihat sebagai keluarga penting dalam kehidupan ayahnya.
Sikap tegar Anggi seolah menunjukkan jika dia memang sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti tadi.
"Kau mau kita pergi ke suatu tempat?" Tanya Fandi saat itu.
"Kita pulang saja." Anggi tidak menyibukkan dirinya berada di luar rumah. Padahal dia cukup baik untuk seorang anak.
Keduanya memasuki mobil kembali keluar dari hotel itu, di waktu yang sama tampak berpapasan dengan mobil ayahnya yang juga baru saja keluar.
Anggi sudah tahu jika ayahnya tidak akan pernah pulang ke rumah, dia tidak berharap lebih setidaknya hal itu sudah lebih dari cukup.
"Apa tuan akan pulang nanti? Itu kesempatan yang baik sekali, kau harus mulai menceritakan semua yang terjadi di rumah padanya." Fandi tampak bersemangat membicarakannya.
"Lupakan saja. Tidak ada apapun di rumah." Anggi langsung mengambil keputusannya.
__ADS_1
"Hei, kau ini mengerti tidak? Seseorang akan membuat kita celaka lagi jika dibiarkan seperti itu. Lagipula kita tidak bisa tahu siapa sebenarnya pelaku utama." Fandi sedikit protes.
"Tidak ada gunanya. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun." Anggi masih kekeh dengan pendiriannya.
Fandi langsung diam saat itu juga, matanya menatap Anggi yang sedang melihat ke arah luar. Anggi benar-benar menghindari segala sesuatu apapun dengan ayahnya. Tidak mudah membuat Anggi bicara seperti yang sudah direncanakan, alih-alih bicara dia akan memilih diam saja.
Fandi tiba-tiba terpikirkan sebuah rencana, jika bukan Anggi yang bicara mungkin dia akan mengatakannya pada tuan secara langsung. Anggap saja itu semacam aduan kecil, seharusnya untuk urusan rumah dan keselamatan orang di dalamnya tuan akan menghargai itu dan memberikan saran terbaik.
Butuh sekitar 30 menit untuk sampai kembali di rumah.
Suasana rumah yang masih sama. Rumah besar dengan fasilitas lengkap, penjagaan yang harusnya sudah memaksimalkan kemananan. Tapi pikiran Fandi terganggu dengan penjaga yang hilang itu. Baginya masih tetap saja sama, lebih baik tinggal di luar dari pada di dalam rumah. Dia merasa diawasi, dia merasa tiba-tiba akan diserang oleh orang lain, atau sesuatu akan membuatnya celaka lagi.
Anggi sudah kembali masuk ke dalam kamarnya, Fandi tidak lagi tidur di kamar Anggi. Fandi berusaha menyesuaikan diri dan bersikap lebih dewasa dari Anggi. Jangan sampai Anggi berpikir jika kehadirannya malah menjadi beban di sana.
*****
Ceklek...
Suar pintu dibuka.
"Ayah mu tidak ada dimana pun?" Tiba-tiba Fandi membuka pintu dan berkata seperti itu.
"Memangnya mau apa dia pulang ke rumah ini?" Anggi bersikap tidak peduli di hadapan Fandi.
Mendengar jawaban itu Fandi mengerti sekarang, ternyata hubungan keduanya tidak selalu kental seperti darah. Aneh tapi memang nyata.
"Apa kita ke sekolah hari ini?" Fandi mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
"Kau saja yang ke sekolah, orang tua dan wali rapat di sana. Tapi tidak penting lupakan saja." Anggi tidak begitu antusias dengan masalah sekolahnya sendiri. Tapi meski terlahir dengan lingkungan keluarga yang tidak begitu mendukung Anggi masih bisa tumbuh, setidaknya dia unggul dalam hal akademik dan itu nilai pentingnya.
"Aku akan ke sekolah, jadi bersiap-siaplah kita berangkat bersama." Fandi tiba-tiba meminta Anggi untuk pergi ke sekolah bersama, tidak mungkin dia mengabaikan hal sepenting itu lagipula sekolah adalah salah satu hal yang harus diperhatikan olehnya.
"Kau bisa pergi tanpa ku kan?" Anggi bicara lagi terdengar menolaknya.
"Berhentilah seperti itu. Jangan selalu mengabaikan apapun yang masih bisa kau hadapi sendiri, prestasimu membaik di sekolah kan? Itu kabar baik." Fandi berusaha memberikan motivasi yang mungkin tidak Anggi dapatkan setelah kematian Kak Han.
Mendengarkan hal itu Anggi langsung diam, sebenarnya dia masih mengingat bagaimana dulu sekolah adalah ambisi Pak Han. Duku Pak Han bersusah payah untuk membuat prestasinya baik, tapi Anggi tidak pernah melakukannya. Sekarang ketika Pak Han sudah tiada, dia akhirnya bisa menyelesaikan dengan tuntas apa yang harusnya dia lakukan dari dulu. Dia tidak mungkin mengabaikannya lagi, harus ada sesuatu yang membuatnya bisa berdiri dengan namanya sendiri bukan karena dia terlahir dari keluarga siapa.
"Aku tidak akan bergantung pada siapapun. Aku bisa mengatasinya." Jawab Anggi. Seketika dia keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa.
Fandi mematung ketika mendengarkan jawabannya tadi, itu yang dia harapkan dari anggi, harusnya seperti itu dan Anggi pasti berubah juga bisa menemukan jalannya sendiri.
Fandi keluar dari kamar Anggi, dia juga butuh bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
****
"Sepertinya kita tidak kesiangan kan." Ucap Fandi ketika sampai di sekolah.
Mobilnya sudah terparkir di tempat yang sudah disediakan. Ternyata acara sekolah cukup ramai dihadiri oleh semua orang tua murid, tampak tempat parkir sudah penuh.
Ketika berjalan bersama matanya tak sengaja menangkap pemandangan tak biasa di depan mata. Orang-orang berkumpul di sana, sebagian orang tua murid dan juga kepala sekolah. Namun yang paling mencolok perhatian adalah seorang lelaki yang tidak asing bagi Anggi maupun Fandi.
Anggi penasaran melihat Fandi yang serius menatap sesuatu di sana. Ketika matanya menoleh dia melihat wajah seseorang yang tidak asing, tentu saja itu adalah ayahnya. Namum anggi tidak pernah memintanya untuk mewakili rapat dan ayahnya tidak pernah sekalipun mau mengikuti kegiatan sekolah sejak dari dulu.
Anggi penasaran saat itu, dia berjalan menuju kerumunan itu mungkin tidak Masalah jika datang menghampiri ayahnya sendiri.
__ADS_1
Belum sampai dekat dengan kerumunan matanya nampak terbelalak, langkah kakinya tertahan saat itu juga. Entah mengapa bisa Edo berada di samping ayahnya, bersama dengan Edo ke sekolah?