Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Kabar Ibunya fika


__ADS_3

Ketiganya keluar bersamaan dari mobil, Anggi yang lebih dulu berlari masuk ke dalam rumah sakit. Fandi langsung menanyakan ruangan kamar atas nama Ibunya Fika yaitu Bu Ratna dengan perwakilan keluarga atas nama Fika. Ada yang membingungkan, petugas tidak menemukan nama yang disebutkan itu dan Fandi mulai bertanya-tanya apakah Fika berbohong?


Anggi diam saja sambil memikirkan lagi apa yang menyebabkan data Ibunya Fika tidak terdaftar.


"Boleh aku minta semua datanya?" Terdengar Yunita bertanya seketika membuat Anggi cepat menoleh.


"Tidak bisa mohon maaf untuk data pasien kami sangat menjaganya, silahkan untuk menelpon kembali wali pasien!" Tapi memang jelas tidak semudah itu mendapatkan suatu informasi sekarang ini.


"Ibu Ratna dengan nama wali keluarganya Edo." Yunita berbalik melihat Anggi bicara. Dia mengira Anggi sudah salah.


"Silahkan di kamar Cendana 202." Jawab petugas itu.


Akhirnya Yunita yang melihat cara Anggi berhasil dia bisa bernapas lega.


"Kenapa atas nama Edo?" Tanya Yunita pada Anggi.


"Dia yang membawa Ibunya Fika ke rumah sakit, mungkin dia juga yang bertanggung jawab membiayai seluruh perawatannya." Anggi menjelaskan sambil berjalan.


"Kalian tahu dimana ruangan kamar Cendana?" Fandi bertanya di tengah-tengah kesibukan ketiganya.


Anggi berhenti, dia melihat ke arah petunjuk jalan dan papan informasi. "Cepat foto!" Pinta Anggi pada Yunita sambil menunjukkan gambar di salah satu papan pengumuman.


"Kau yakin bisa mudah membantu kita?" Tanya Yunita.


Fandi tampak mencari petugas yang sedang senggang, tapi di ruang sakit itu semuanya terlihat sibuk dan sebagai seorang dokter dulunya dia mengerti bagaimana kesibukan tim medis.


"Kita cari dengan peta lokasinya saja!" Fandi mendukung cara Anggi.


Setelah Tina di arah tangga pertama di sana di atasnya tertulis arah jalan dan kamar Cendana ada di lantai atas. Buru-buru ketiganya menaiki tangga. Namun ada petunjuk lagi jika ruangan Cendana ada di lantai 3. Anggi tampak syok setelah menaiki tangga tadi dia harus kembali menghitung tangga? Karena belum tahu dimana letaknya lift jadi terpaksa sekali ketiganya ahrus melewati anak tangga yang cukup panjang.

__ADS_1


Tidak sia-sia akhirnya kamar Ibunya Fika ditemukan juga, ditandai dengan senyuman ketiganya dan anggi sangat puas dengan kerja ketiga orang yang kompak hari ini.


Hati Anggi selalu berharap semoga ada awal yang baik, dan waktu yang baik itu adalah sekarang. Dimulai dengan Ibunya Fika dia akan memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukannya. Harusnya dulu dia tidak pernah mengabaikan Ibunya Fika.


"Kita harus mencari Fika!" Yunita kembali mengingatkan. Tentu saja bukan hanya Yunita yang khawatir Anggi juga sangat khawatir.


Ketika membuka lagi hp nya, Anggi merasa ragu entah mengapa dia ragu ketika akan menghubungi Fika.


"Cepat telpon Fika dulu." Yunita tidak sabar.


"Sebaiknya kita langsung mencarinya saja." Jawab Anggi tidak menyetujui rencana Yunita saat itu.


"Apakah akan memakan waktu yang lama?" Yunuta memastikan.


"Setidaknya 10 menit harus dilakukan dengan teliti dan sabar." Timpal Fandi membantu menjelaskannya.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Anggi segera menarik Yunita untuk bergantian.


"Mohon maaf kalian siapa ya? Saya akan melakukan pemeriksaan dan tolong tetap menunggu di luar." Seorang dokter tiba di sana. Anggi kemudian mundur dan membaurkan dokter masuk ke dalam ruangan.


Yunita masih terhipnotis dengan keadaan tadi, nalarnya tidak bisa percaya jika orang yang terbaring di kasur adalah Ibunya Fika. Memangnya kejadian apa yang membuat ibunya Fika sampai dirawat di rumah sakit? Ibunya Fika tidak sakit seperti itu, kemungkinan besar hanya jiwanya saja yang sedikit terguncang kan? Dan itu hanya butuh dengan perawatan biasa.


"Apa yang kau lihat tadi?" Anggi penasaran dia masih bertanya.


Yunita tidak bisa menjawabnya, dia malah menangis dan membuat Anggi bingung lalu berhenti bertanya lagi.


Fandi duduk di kursi dia sudah capek setelah naik beberapa anak tangga yang lumayan membuat kakinya pegal.


"Ayo duduk!" Ajak Anggi pada Yunita. Kemudian ketiganya duduk di kursi tunggu di luar kamar. Anggi memberikan sebotol air minum pada Yunita.

__ADS_1


"Jadi Fika tidak masuk beberapa hari ini ke sekolah karena alasannya itu?" Yunita mulai bicara dan langsung menjadi pusat perhatian.


"Entah kenapa seluruh tubuh Ibunya dibalut dengan perban, kecuali wajah yang tadi tidak begitu terlihat." Yunita menjelaskannya dengan detail.


"Aku melihatnya tadi seperti itu!" Ucap Yunita berharap Anggi langsung percaya.


"Apa karena luka bakar?" Timpal Fandi menambahkan dugaan.


"Entahlah." Jawab Yunita yang masih terlihat syok.


"Kita harus benar-benar membuat Fika bicara, pasti ada sesuatu yang tidak beres." Yunita mulai mengungkapkan pendapatnya. Namun Anggi sudah lebih dulu menyadari hal itu tapi rasanya dia selalu dihalangi oleh Edo.


Ketika memikirkan Edo tiba-tiba seseorang datang mendekat. Anggi menoleh dan melihat Edo sudah ada di hadapan.


"Kalian di sini. Untuk apa kemari? Tanya Edo cetus.


Yunita langsung tak terima dia kesal mendengarkan Edo berbicara seperti itu seolah dia sebagai temannya tidak memiliki hak untuk tahu. "Aku mau menjenguk Ibunya Fika. Sekaligus membawanya pulang bersama Fika." Tanpa basa-basi Yunita langsung bicara terus terang di hadapan Edo.


"Tanya saja sendiri sama Fika. Apa dia mau pulang dengan kalian?" Dengan nada menyebalkan Edo bicara seolah dia sudah tahu jika Fika tidak akan pernah setuju.


"Edo, saya akan ikut campur soal ini. Masalah Fika sebaiknya kamu tidak ikut campur DNA biarkan Fika benar-benar memilih keinginannya sendiri, jika terbukti ada unsur ancaman, pemaksaan, bahkan kekerasan saya tidak akan tinggal diam." Ucap Fandi. Sebagai orang dewasa tentu saja dia yang paling tahu.


"Oh, silahkan saja!" Ucap Edo singkat.


Tak lama keluar dokter tadi. "Oh ia, dengan wali pasien ya silahkan untuk ikut saya masuk!" Ucap dokter itu ada Edo.


Anggi tidak bisa memaksakan kehendaknya, meski tidak bisa melihat keadaan ibunya Fika secara langsung namun setidaknya dia akan menemukan Fika sekarang.


Anggi berlari dan kembali duduk di kursi, dia memeriksa hp nya karena sejak dari tadi Anggi melakukan rencana yang sudah dibicarakan bersama. Ketika melihat hp dari layar memperlihatkan posisi Fika saat itu, semua lengkap. Dan betapa terkejutnya ternyata Fika ada di tempat yang sama mungkin dari pergerakan itu Fika sedang menuju ke tempatnya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2