Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
isi rekaman cctv


__ADS_3

Anak-anak lain memang langsung menatap heran ke arah Yunita dan Anggi, tapi mereka juga langsung keluar dari kelas. Sedangkan Fandi dan guru tadi masih berbincang di depan kelas.


Anggi sudah berada dekat dengan Yunita, dia masih menunggu Yunita mengatakan sesuatu. Beberapa saat Yunita tidak langsung sadar pada rencananya ketika Anggi sudah ada di hadapannya saat itu.


"Yun gimana?" Anggi segera menarik kesadaran Yunita saat itu.


"Aku punya nomor hp Fika. Kamu bisa coba menghubunginya nanti." Ucap Yunita sambil menyerahkan hp nya.


"Kirimin ke wa aku langsung ya!" Ucap Anggi.


Yunita segera mengirimkannya sesuai dengan permintaan.


"Aku pamit ya!" Anggi kemudian kembali.


Yunita masih melamun tiba-tiba dia langsung kepikiran jika dia pernah dijanjikan untuk bertemu di warung depan sekolah, tapi Anggi tidak masuk sekolah sesudah itu ternyata alasannya karena kecelakaan.


Tak lama memang, Anggi dan Fandi sudah kembali pergi untuk pulang. Dia ke sekolah hanya sekedar ingin meminta izin secara langsung. Namun sekolah mengharapkan Anggi untuk cepat sembuh dan mengikuti pembelajaran seperti biasanya.


****


Pukul 15.00 WIB


Sejak pulang dari sekolah dan kembali ke rumah, Anggi terus diam di dekat kaca sambil membagikan penglihatannya keluar. Dia sudah mendapatkan nomor hp Fika, namun sepertinya tidak harus langsung menghubungi Fika karena pasti Edo masih bersamanya.


Anggi semakin penasaran mengapa Edo lebih menunjukkan diri sekarang, dia melihat Edo yang lebih antusias dan tidak memberikan sedikitpun kesempatan bagi Fika untuk dekat dengan teman-teman yang lain atau bahkan Edo tidak membiarkan Fika mengatakan apapun kepada siapapun. Anggi merasa Edo seperti itu dan dia tidak tahu harus mencari tahu dengan cara bagaimana lagi.

__ADS_1


Ceklek...


Suara pintu dibuka.


Muncul Fandi dari ambang pintu. Fandi berjalan mendekat ke arah Anggi yang masih saja melamun di tempat itu. Fandi juga tahu jika Anggi pernah Samali tidak tidur dan semalam berdiam diri di sana, entah sebuah beban apa tapi yang pasti hidup Anggi tidak mudah, apalagi sekarang Anggi pasti belum tahu jika ayahnya akan menikah dalam waktu yang dekat.


"Kau sudah memiliki rencana untuk pergi ke luar negeri?" Fandi tiba-tiba mengatakan hal itu membuat Anggi segera menoleh dengan heran.


"Sejak kapan aku berniat pergi kesana?" Anggi balik bertanya, dia memang tidak pernah menerima keputusan itu.


"Kita harus secepatnya pergi, mungkin setelah ayahmu melangsungkan pernikahannya." Fandi mengatakan hal terberat bagi Anggi. Spontan Anggi membulatkan mata tapi mulutnya benar-benar tidak berkomentar apapun.


"Kau baik-baik saja?" Fandi bertanya lagi.


"Kapan jadwal check up ku ke rumah sakit?" Anggi menanyakannya dengan maksud lain.


"Oh, ia." Responnya. Lalu Anggi kembali menyibukkan diri seperti tadi.


"Sekarang kau harus memutuskannya. Kau tidak mungkin bisa satu rumah bersama anak itu. Kau tidak memiliki hubungan yang baik dengan Edo kan? Mana mungkin bisa menjadi saudara di rumah yang sama." Ucap Fandi, dia paling tidak sabar dan ingin terus berterus terang tentang apa yang dipikirkannya meskipun hal itu sangat sukit bagi Anggi.


"Tenang saja, aku baik-baik saja dan bisa menghadiri pernikahan ayah." Jawab Anggi memang terdengar menenangkan namun pasti hatinya berkata lain lagi.


Fandi masih menatap Anggi saat itu. "Jangan berpura-pura lagi. Aku memang bukan Kak Han tapi kau bisa menganggapnya jika aku adalah Kak Han." Fandi masih berusaha untuk bisa sedekat mungkin dengan Anggi. Dia butuh kepercayaan Anggi dan kali ini Fandi tidak berniat untuk meninggalkannya dengan masalah yang begitu banyak.


"Kau bisa hidup lebih menyenangkan dibanding menjadi Pak Han. Sebaiknya pikirkan lagi aku tidak akan membuat Pak Han yang ke-dua." Anggi mulai berbicara terbuka dengan pendapatnya itu.

__ADS_1


Fandi tak menyangka jika Anggi akan berbicara seperti itu. Kesannya dia memang tidak butuh menjadi Kak Han dan anggi tidak terlalu membutuhkannya. Kali ini pikiran Fandi juga sedikit terbuka, dia sempat berpikir jika lebih baik meneruskan perjuangan Kak Han, percuma melarikan diri dan akan menyesal kemudian karena dia mengabaikan permintaan terakhir dari kakaknya itu.


"Aku bukan Kak Han. Aku tidak akan pernah menjadi dirinya. Aku tahu itu." Ucapnya kemudian keluar dari kamar.


Bukan karena kesal ataupun tersinggung, tapi Fandi masih tak menyangka jika Anggi mengatakan sesuatu seperti tadi yang membuat hatinya akan merasa kesal.


Fandi sudah berada di luar kamar, dia kembali masuk ke kamarnya lagi. Setidaknya dia sudah melakukan beberapa hal di rumah ini yang berguna, Fandi sudah mengumpulkan rekaman cctv yang dibutuhkan mereka. Setidaknya ada begitu banyak dan dia butuh untuk menyelidikinya.


Di Dalma kamar sekarang Fandi akan melakukan hal yang berguna, dia memang harus berhati-hati sekali dan sampai sekarang tentang penjaga hilang itu masih menjadi misteri yang harus dipecahkannya. Dia bertekad untuk menemukan kebenaran itu meskipun dia lakukan sendirian dengan caranya juga.


Pertama dia butuh sebuah laptop, dan semua barangnya sudah dia dapatkan dari barang milik Kak Han yang ada di dalam kamar.


Dia langsung memutar rekaman cctv itu dengan tidak sabar. Benar saja dia sangat tidak sabar untuk melihat kenyataan yang sebenarnya. Beruntung sekali dia sempat menanyakan tentang cctv itu pada asisten di rumah, ibu tukang laundry, ibu tukang masak di rumah, dia hanya menanyai mereka dan informasi yang tak diduga bisa langsung didapatkan dengan mudah.


Beberapa rekaman muncul, dia hanya tinggal mencari rekaman pada tanggal itu, tanggal sebelum dan pada waktu pengawal itu tidak ada di rumah.


Tapi secara tak diduga dia tidak sengaja langsung memutar rekaman ketika pertama kali kedatangan Edo dan Ibunya ke rumah. Pemandangan itu tidak ada yang mencurigakan sampai Edo tiba-tiba terlihat berjalan ke arah ruangan lain. Fandi melihat jika Edo tidak berniat pergi ke kamar mandi melainkan dia pergi ke arah kamar Anggi dan dirinya.


Fandi sampai terperangah tidak percaya, mengapa Edo bisa tahu letak kamar Anggi, apalagi dari rekaman yang ditampilkan jika Edo pertama masuk ke kamar Fandi dengan sebuah kunci yang dia miliki di sukai celananya.


Sekarang Fandi yakin jika orang yang selalu keluar masuk kamarnya adalah Edo. Dia tidak percaya dengan sesuatu yang tampak itu.


Kemudian rekaman lain menunjukkan kedatangan kedua Edo ke rumah, tapi dia datang tidak dengan ibunya melainkan seorang diri masuk bersama salah satu penjaga rumah.


Entah mengapa Fandi berpikir jika penjaga itu adalah salah satu penjaga yang hilang. Fandi dengan cepat memperbesar wajah penjaga yang tampak samar itu. Meski kurang jelas tapi hatinya yakin sekali jika penjaga itu adalah orang yang sama. Dan kali ini Edo juga masuk ke kamarnya Fandi. Untuk apa dia bolak balik masuk ke kamar Fandi.

__ADS_1


Di tengah pikirannya yang terus sibuk membolak balik setiap fakta yang didapatkan, tiba-tiba Fandi terpikirkan sebuah cctv. Dia sangat syok ketika pikirannya menebak jika Edo memasang salah satu cctv di kamarnya.


Dia langsung menutup laptop dan matanya kini fokus melihat ke semua sudut kamar. Dia butuh sesuatu untuk memastikan apakah benar ada sebuah cctv yang sengaja dipasang di kamarnya?


__ADS_2