
Juni 2014. Rabu 08.00 WIB.
Riuh suasana kelas tidak membuat Anggi bisa seperti yang lain. Bukan berarti dia juga bisa menikmati keakraban orang-orang atau suasananya, dia duduk di kelas karena penasaran apakah Fika juga sudah masuk sekolah?
"Hari ini Pak Bagas berhalangan hadir, untuk tugasnya dikerjakan dan akan dikumpulkan hari ini juga." Seorang siswa tak lain adalah Edo, ketua kelas yang biasa datang memberikan kabar tentang pembelajaran.
Anggi sempat berpapasan dengannya, bisa ditebak apa yang terjadi? Tentu saja tidak baik-baik saja. Anggi maupun Edo keduanya tidak bisa langsung menerima hubungan spesial mereka menjadi dekat karena hubungan orangtuanya.
Anggi terus melihat Edo, ketika dia berjalan sama sekali tidak menatap ke arah Anggi, Edo juga tidak menyapanya seperti biasa yang dia lakukan.
Anggi menghela napas, matanya kembali menatap ke arah meja Fika karena penasaran apakah Fika akan datang ke sekolah? Selain Fika temannya juga yaitu Yunita belum datang, mereka duduk bersebelahan karena itu Anggi bisa langsung tahu jika mereka tidak datang ke sekolah.
Bukan mengerjakan tugas, anak-anak sibuk dengan gadget mereka. Kecuali Anggi yang fokus dengan buku bahan bacaannya.
Hampir setengah jam berlangsung di dalam kelas, keadaannya tidak ada yang berubah. Anak-anak sibuk dengan gadget mereka. Kemudian seseorang tampak menambah keributan, seseorang membacakan sebuah berita dan menunjukkan video yang berlangsung di hp nya. Entah apa, Anggi hanya sekilas melihatnya.
Ketika tanpa sengaja sudut matanya melihat ke arah Edo yang tiba-tiba berlari keluar kelas dengan panik. Karena pemandangan itu Anggi cukup penasaran, dia melepas earphone di telinga kemudian dengan teliti melihat semua orang yang masih sibuk dan saling berbisik.
"Wah, bener itu Fika." Ucap seseorang.
Anggi cepat bereaksi ketika mendengar nama Fika disebut oleh anak-anak lain. Dia segera mendekat dan melihat apa yang mereka tonton itu.
Ternyata sebuah video siaran langsung di salah satu akun yang membagikannya.
"Malangnya keluarga yang diduga tersangka penipuan, rumah disita paksa karena harus ganti rugi."
Tidak ada kabar yang paling buruk dari itu, tanpa sadar dia juga berlari keluar kelas menyusul Edo. Dia sangat khawatir apalagi melihat Fika yang menangis seperti itu, ibunya sudah tak berdaya lagi.
Anggi segera menelpon. "Cepat ke sekolah sekarang!" Pintanya pada seseorang di balik telpon.
Ketika di gerbang sekolah dia dihadang oleh dua orang satpam yang menanyainya langsung. Sialnya Anggi tidak memiliki bukti yang kuat untuk bisa segera izin keluar sekolah, padahal tidak ada waktu lagi.
Tampak frustasi Anggi duduk, dia enggan masuk ke kelas meskipun sudah berapa kali diperingatkan agar masuk ke kelas. Tak peduli dengan hukuman apa yang akan diterimanya nanti, asalkan bisa keluar sekolah dan cepat menemui Fika.
__ADS_1
10 menit berlalu, mobil hitam tiba di luar gerbang. Anggi cepat berlari ke arah gerbang dia tahu siapa yang datang.
"Kau telat sekali." Komentar Anggi.
Sebagai perwakilan walinya supir Anggi cepat meminta izin dengan cepat.
"Memangnya ada hal apa sampai terburu-buru seperti itu?" Tanyanya.
"Cepat kita pergi ke rumah Fika!" Pinta Anggi.
"Fika lagi? Ada hal apa lagi?" Terdengar sedikit cemas.
Anggi tidak menjawab untuk menjelaskannya, dia sangat panik sampai tidak bisa berpikir apa-apa lagi.
Tak butuh waktu lama akhirnya tiba juga di depan gapura perumahan Fika. Buru-buru Anggi turun dari mobil dia berlari masuk ke dalam gapura, pikirannya hanya tertuju pada Fika.
Tapi belum jauh berlari hanya beberapa langkah saja, Anggi nampak tertegun diam. Matanya melihat ada juga Edo di sana. Lagi-lagi dia selalu terlambat. Namun kali ini tanpa disengaja Fika juga berhenti dan melihat ke arah kedatangan Anggi yang masih memakai seragam sekolah, sama dengan Edo.
"Anggi!" Ucap Yunita di samping Fika.
"Kamu datang juga?" Tiba-tiba ucap Fika langsung mengalihkan perhatian Anggi yang kini tengah melihat ke arahnya.
"Tadi Anggi buru-buru datang kesini katanya ada sesuatu dengan temannya." Supirnya tiba-tiba muncul lalu menjelaskan sesuatu seolah sudah mewakilinya.
"Em. Terimakasih, ya!" Ucap Fika.
"Ibu Fik!" Teriak Yunita kaget.
Benar saja karena Ibunya Fika tiba-tiba saja pingsan saat itu.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang!" Tawar Anggi pada Fika, dia kali ini benar-benar bicara dengan tegas.
Fika yang sangat khawatir hanya bisa menganggukkan kepala saja, dia menangis lagi. Akhirnya supirnya Anggi cepat memboyong ibu Fika ke mobil, sedangkan di tempat itu Edo dan Yunita yang tidak ikut.
__ADS_1
"Jangan khawatir ya, kita akan cepat sampai!" Ucap supirnya mencoba menenangkan Fika.
Anggi bahkan tidak bisa bicara apapun saat itu, dia terus melihat ke arah Fika dengan penuh khawatir. Melihat Fika langsung dan juga menyaksikan sekaligus kesedihannya, apalagi soal video itu sangat membuat dada Anggi terasa sesak sekaligus. Dia ingin melakukan hal besar untuk bisa menjaga Fika dan ibunya, karena masalah itu mereka kehilangan aset satu-satunya yaitu rumah.
"Dimana mereka nanti tinggal?" Batin Anggi, sejauh itu dia sudah memikirkan kehidupan Fika.
"Sudah sampai, kau cepat panggilkan salah satu perawat kemari." Pinta supirnya pada Anggi.
Anggi segera berlari keluar dari mobil. Sedangkan Fika benar-benar menangis tanpa henti. Bayangkan saja dia baru saja kehilangan ayah kandungnya lalu sekarang dia juga harus menghadapi cobaan yang tidak biasa.
****
Anggi tampak serius sekali berjalan ke arah rumah besar yang tak lain adalah rumahnya sendiri.
"Tunggu! Apa yang akan kau bicarakan dengan tuan? Sebaiknya kau beritahu aku dulu!" Supirnya yang tampak cemas melihat tingkah Anggi saat itu.
"Ayah!" Panggilnya sambil membuka pintu.
Ayahnya sedang memegang sebuah buku di tangan, matanya mengabsen ke arah kedatangan Anggi yang tiba-tiba.
Tampak mengerutkan dahi. "Kau bolos sekolah hari ini?" Tanyanya pada Anggi.
Anggi diam beberapa saat. "Aku akan pergi ke luar negeri satu bulan ini." Ucap Anggi.
Perkataannya membuat supir yang menunggu di luar begitu tampak tercengang, sebuah keputusan yang harusnya menyulitkan bagi Anggi. Namun, kali ini dia mengatakannya dengan segampang itu.
"Kau sudah memikirkannya kembali?" Tanya ayahnya dan berjalan mendekat ke arah Anggi berdiri.
"Seharusnya kau membuat keputusan itu dari dulu." Ucapnya pada Anggi.
"Aku ingin rumah kita yang ada di kota**** Temanku membutuhkan bantuan." Anggi cepat sekali berterus terang.
Ayahnya tampak bingung dan mulai tertarik dengan sebuah permintaan Anggi, untuk pertama kalinya dia meminta sesuatu. "Kau menginginkannya sekarang juga?" Tanya ayahnya.
__ADS_1
Di luar supir sangat khawatir apalagi mendengar permintaan Anggi yang tidak masuk akal. Apa yang akan dilakukan oleh ayahnya Anggi?
"Kau bisa meminta supir mu untuk mengurusnya." Ucapnya menyetujui, kemudian pergi meninggalkan Anggi di ruangan itu.