Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Mungkinkah masalah yang sama?


__ADS_3

Mei 2014. 20.00 WIB.


"Kamu benar tidak tahu masalahnya?" Pertanyaan Anggi mengusik malam yang panjang bagi Yunita. Tentu saja dia tidak bisa tidur karena terpikirkan tentang Fika. Dia juga masih tidak berani menghubungi Fika setelah Anggi bicara seperti tadi.


Dari tadi Yunita hanya terus memandangi layar hp, dia masih menunggu Fika yang menghubunginya. Wajar sekali karena dia sangat khawatir setelah mendengarkan langsung seperti tadi. Jika saja dia menjadi Fika mungkin hatinya akan benar-benar hancur dan lebih baik dia tidak pulang lagi ke rumah.


Yunita membulatkan mata tampak sadar sesuatu. Buru-buru dia mencari sesuatu dari hpnya, masuk ke dalam obrolan grup dan mencari nama Anggi.


"Bagaimana kalau Fika gak pulang lagi ke rumah? Sampai sekarang Fika tidak ada kabar." Chat yang Yunita tulis lalu dia kirim pada Anggi.


"Kamu sudah mencoba menghubunginya?" Hanya beberapa detik Anggi membalas chat darinya.


"Biar aku saja!" Tak lama chat kedua masuk lagi.


Yunita masih bingung dan tidak tenang, apa sebaiknya dia menemui langsung Fika ke rumah? Matanya bergerak ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Sudah larut malam dia juga tidak yakin bisa keluar rumah dan diberi izin oleh bibinya.


Yunita berdiri mengamati jendela kamar yang memperlihatkan suasana di luar. Dia tidak bisa tenang meski seharusnya dia sudah cukup terbiasa akan tidur setengah jam lagi.


Yunita berpikir untuk menghubungi Fika langsung, menunggu Anggi untuk mengabarinya hanya membuat dia bosan.


Cepat sekali Yunita kembali mengambil hp yang tadinya tergeletak di atas kasur.


"Fik..." Ketiknya, namun jari Yunita benar-benar tertahan karena bingung dia akan menghubungi Fika dengan alasan apa.


Yunita duduk lagi di atas kasur, dia langsung fokus memikirkan apa yang akan ditanyakan nya pada Fika untuk sekarang ini.

__ADS_1


"Fik. Aku mau minta maaf lagi." Yunita langsung mengirimi Fika pesan itu.


Beberapa detik berlalu bahkan menit kemudian. Dipandangi lagi layar hp yang masih tidak memperlihatkan ada chat masuk dari Fika.


Tampak gelisah, bukan hanya Fika yang tidak membalas chat nya, Anggi juga belum memberinya kabar baik.


Tak sabar menunggu sekarang giliran Yunita mengirimi Anggi pesan.


"Udah ada kabar dari Fika?" Tulisnya pada isi chat yang dia kirim untuk Anggi.


Tidak seperti tadi, sayang sekali karena Anggi tidak cepat merespon. Alhasil Yunita gelisah, dia masih membayangkan bagaimana perasaan Fika saat itu.


Jika dipikirkan lagi sebetulnya tindakan Anggi tadi sudah benar, Anggi sengaja melakukannya karena ingin menjaga perasaan Fika. Kemudian terngiang jelas di pikiran bagaimana Anggi memintanya untuk merahasiakan kedatangannya bahkan mungkin maksud Anggi juga untuk merahasiakan apa yang mereka ketahui secara tak sengaja.


Yunita menghela napas, dia masih memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Tak bisa dipercaya dia bisa berimajinasi untuk menebak.


Yunita masih fokus menebak kemungkinan lain yang terjadi.


"Apa ayahnya Fika berselingkuh karena itu dia tidak tinggal di sana." Semakin frustasi saja. Yunita tampak serba salah karena semakin dia menebak maka jawaban yang dia temukan itu menurutnya terlalu berlebihan. Berulangkali Yunita tampak memukuli kepalanya sendiri, dia sangat bosan karena selalu memiliki asumsi dan entah mengapa kali ini hatinya bisa yakin tentang dugaannya itu.


"Fika pasti tidak ingin menceritakannya karena dia tahu apa yang aku alami, masalahnya sama dengan keluargaku." Tebaknya lagi dalam hati. Tak butuh waktu lama bagi Yunita untuk bisa menangis menjatuhkan lagi setiap air matanya itu. Dia benar-benar lemah, karena itu dia hanya bisa menangis tanpa berbicara dan membuat ayah ibu tidak sampai berpisah.


Untuk beberapa saat Yunita terus larut dalam kesedihan yang mendalam tentang hidupnya sendiri. Dia tidak tahu jika masalah serumit itu membuat ayahnya sendiri juga pergi hingga tidak ada kabar, ibu bahkan meninggalkan keluarganya di sini, dan juga dirinya sebagai anak satu-satunya. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan masalah apa yang membuat keluarganya harus berpisah seperti sekarang.


Lantas mengapa Fika harus mengalami hal yang sama juga? Andai saja tebakannya salah, dia berharap itu salah dan akan selalu berharap jika Fika tidak akan pernah mengalami masalah yang sama dengannya.

__ADS_1


Ting ...


Suara hp nya berbunyi menandakan ada chat yang masuk.


Yunita terperanjat berusaha untuk kembali sadar dan melihat layar HP nya.


"Sekarang kamu yang minta maaf. Ada masalah apa lagi?" Isi pesan dari Fika.


"Fika baik-baik saja, tenanglah!" Isi pesan dari Anggi.


Beberapa saat seperti tadi, Yunita mematung dia membiarkan sedikit waktu baginya untuk mencerna sesuatu hal yang janggal. Dia tidak mengerti apakah ini kebetulan? Tentu saja Fika dan Anggi mengiriminya pesan di waktu yang sama. Apakah ini bisa disebutkan sebagai kebetulan?


"Mereka benar-benar kompak. Pasangan yang kompak." Gumam Yunita pada dirinya sendiri.


Alih-alih menjawab pesan, Yunita menyimpan hp nya asal di atas kasur karena tampak sekali dia sudah bersiap untuk tidur, sekarang tidak ada lagi alasan yang membuatnya tidak bisa tidur kan? Fika menjawab pesannya dan itu berarti dia baik-baik saja seperti yang dikatakan Anggi.


Tepat pukul 21.00 WIB. Pada jam yang sama setiap harinya Yunita pasti sudah tidur. Secepat itu dan segampang itu dia tidur, padahal tadinya dia sendiri memikirkan jika tidak akan bisa tidur dengan mudah.


"***Aku mau cerai. Kita cerai saja!" Sebuah teriakkan yang tidak Yunita pahami ketika usianya masih tidak pantas untuk tahu.


"Silahkan saja! Kau yang berselingkuh kau yang mau pergi, aku tidak akan pernah peduli!" Tak kalah nyaring suara Ayahnya tampak lebih dominan dibanding ibu.


"Aku muak. Kamu tidak pernah mengerti." Ucapan terakhir yang didengar Yunita saat itu, hingga sekarang dia benar-benar tidak bisa bertemu dengan ibunya lagi***.


"IBU...!!!" Teriak Yunita bersamaan dengan kedua matanya yang langsung melotot tajam memandangi setiap sudut kamar yang dia lihat. Napas Yunita terdengar sedikit ngos-ngosan, dadanya naik turun mengimbangi.

__ADS_1


Yunita langsung bangun dan sedikit berusaha menyingkirkan keringat dingin dari dahinya. Yunita segera berjalan ke arah meja belajar di sana ada segelas air minum, lalu diminumnya air tersebut sampai benar-benar habis. Sekarang dia sadar jika semuanya hanya mimpi, sialnya mimpi buruk itu terus saja menghantuinya tanpa ampun. Padahal itu sudah berlalu sekitar 12 tahun yang lalu.


__ADS_2