
Tak terasa hari sudah malam, Anggi dan Fandi sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Setelah acara yang cukup meriah untuk penyambutan kelurga mungkin akan ada kejutan lain, Anggi menebaknya seperti itu dia membayangkan hal apa yang akan terjadi nanti sepanjang berjalan menuju kamarnya.
Setelah melewati semua acara tadi perasaan Anggi sedikit lega, dia dengan baik bertahan untuk setiap acara sampai diakhiri dengan makan malam lagi bersama keluarga Edo. Harusnya dia keberatan dan pulang, tapi jika dia terus merasa tidak menerimanya mungkin hanya batinnya sendiri yang tersiksa.
Ketika sampai di depan pintu kamar langkahnya tiba-tiba berhenti, ada sebuah ingatan yang membuatnya langsung waspada. Tentang kamera yang disimpan tersembunyi di kamar Fandi dia yakin ada setidaknya satu buah juga di kamarnya. Anggi belum memastikan hal itu dan membuatnya ragu untuk masuk sendirian ke kamar.
Langkah kakinya mundur lagi kemudian berjalan ke arah kamar Fandi dan tanpa mengetuk pintu dia membuka pintunya.
Tampak Fandi sedang tertidur dan memandanginya heran ketika Anggi membuka pintu dan masih berdiri di sana.
"Sudah malam sekali pergi tidur saja." Fandi langsung bicara seperti sudah menolak sebuah perintah yang akan dikatakan Anggi. Kedatangannya di mata Fandi nampak seperti itu.
"Aku tidak akan kemana-mana. Kau harus memastikan sesuatu sekarang." Tak peduli dengan kata-kata Fandi, dia langsung tanpa basa-basi mengatakan tujuannya datang.
Fandi menghela napas. "Silahkan masuk dulu dan sebutkan apa yang kamu butuhkan!"
"Kau harus memeriksa sesuatu. Maksud ku kita akan kembali mengeceknya apakah ada kamera di kamar ku." Ucapnya masih menunggu berdiri di pintu.
"Ayo kita lihat sekarang." Fandi menoleh ke arah jam dengan malas, sudah hampir tengah malam tapi dia harus melakukan sesuatu lagi.
"Kau bisa mengeceknya dengan teliti kan?" Anggi mengkhawatirkan Fandi tidak fokus.
__ADS_1
"Tenang saja, aku masih bisa melakukannya." Ucapnya pada Anggi, padahal rasa kantuk itu seperti sudah diujung matanya saja.
"Biar aku yang melakukannya!" Anggi berinisiatif untuk menggantikan.
"Itu lebih bagus kau harus melakukannya sendiri." Sambil menyerahkan hp dan alat di tangannya. Tapi Fandi malah terus berjalan keluar pintu.
Anggi hanya melihat saja, dia tidak mungkin mencegah Fandi dan menyuruhnya masuk lagi, tidak wajar karena sudah hampir tengah malam.
Akhirnya dengan sedikit tekad Anggi melakukan hal semudah itu sendirian. Tidak seperti Fandi, dia terbiasa dengan jam tidur yang tidak menentu apalagi jika insomnia nya kambuh lagi kadang semalaman dia tidak bisa tidur dan matanya masih tetap segar saja.
Anggi terus mengarahkan kamera itu dengan detail, dia tidak ingin ada yang terlewatkan karena itu mustahil sekali dia tidak mau jika ada kamera yang benar-benar terpasang di kamarnya.
Tak disangka kedua matanya membulat saat itu, tanda pada kamera menandakan jika ada salah satu kamera yang terpasang. Anggi semakin dekat berjalan menuju tempat terpasangnya. Dia tak menyangka sekali, seppeprti sedang bermimpi minat di tangannya sudah ada satu buah kamera yang mungkin entah sejak kapan terpasang di sana.
Malam yang panjang lagi, tidak mungkin mudah bagi Anggi untuk bisa tidur. Seperti sudah menjadi kebiasaan, Anggi menghentikan konsumsi obat insomnia nya, akhir-akhir ini dia mencoba terbiasa tanpa harus meminum obat dan merasa ketergantungan yang terpenting di hari yang lain dia masih bisa tidur dengan jam normal.
Seperti biasanya, karena dia sudah untuk tidur maka Anggo akan menikmati malamnya di dekat jendela, duduk di tepi sana sambil melihat suasana malam.
Anggi duduk di kursi yang sudah tersedia di tempatnya. Dia menatap ke arah luar kemudian tangannya tak sengaja bersentuhan dengan Hp yang ada di Bali saku celana. Anggi segera mengambil Hp nya meski tidak ada notifikasi apapun. Tapi pikirannya terasa diingatkan oleh kematian nenek nya Yunita, dia belum juga datang melayat atau bahkan menghubungi Yunita. Anggi hanya merasa jangan dulu menelponnya butuh setidaknya waktu bagi Yunita untuk sendiri dan menghilangkan kesedihannya.
Anggi melamun lagi, selain Yunita tentu saja yang selalu terpikirkan olehnya adalah Fika. Dia tidak tahu kemana perginya Fika. Meski dia memiliki nomor Fika untuk dihubungi tapi Anggi tidak ingin melakukan hal itu, dia pikir Fika benar-benar tidak bisa diganggu. Tapi apakah mungkin setelah mendengar kabar duka itu Fika akan datang menemui Yunita? Padahal dia sahabat baiknya. Lantas kenapa hubungan mereka menjadi renggang apa yang dipikirkan Fika hingga dia mulai terbiasa meninggalkan Yunita.
__ADS_1
Tok...tok...tok..
"Anggi! Anggi!" Terdengar ketukan dan beberapa kali panggilan dari luar padanya.
Anggi terperanjat bangun dari duduknya itu kemudian cepat berlari ke arah pintu.
"Kak Fandi, kenapa?" Anggi cukup heran tiba-tiba Fandi kembali apalagi dia nampak panik. Melihat ekspresi itu membuat Anggi merasakan perasaan khawatir yang sama.
"Kau sudah tahu kabarnya?" Fandi bertanya masih dengan ekspresi yang sama.
Anggi tampak mengerutkan dahi, dia jelas-jelas tidak tahu maksud dari pertanyaan itu.
"Lihatlah!" Sambil menunjukkan hp nya yang di dalam memuat sebuah berita di media sosial.
Pertama yang dilihat oleh Anggi adalah wajah Fika, dia mulai bertanya mengapa wajah Fika? Kemudian judul artikel berita itu. "Anak SMA diduga korban prostitusi online, ditipu oleh rekannya di salah satu hotel ternama." Bagaimana disambar petir di siang hari, Anggi kembali mengeja judul itu berkali-kali sampai dia merasa tidak percaya.
Enggan melihat beritanya lagi, dia langsung duduk di sudut tempat tidur sedangkan pikirannya terus saja memperlihatkan wajah Fika dan juga isi berita yang sudah bisa dia bayangkan akan seperti apa.
Dia merasa hancur saat itu juga, mengapa harus ada berita seheboh itu tentang Fika. Apakah dia benar-benar melakukannya atau dia ditipu seperti Yanng disebutkan? Diantara kedua dugaannya itu Anggi tidak pernah menginginkan salah satunya benar. Dia tidak berharap seperti itu, apakah alasan Fika tidak masuk sekolah karena hal itu?
Pikiran Anggi tidak berhenti berpikir sama sekali, semakin lama maka semakin banyak hal yang dia ingat dan secara sadar dengan nalurinya Anggo benar-benar menolak itu semua. Dia tidak berharap jika berita itu nyata.
__ADS_1
"Fika terlibat, tapi sepertinya dia korban kita lihat saja Fika benar-benar tidak sadarkan diri di sana." Fandi berusaha menjelaskan situasinya namun itu tidak cukup membuat hati Anggi tenang.
*****