Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Pengorbanan terakhir Pak Han


__ADS_3

Anggi tampak gesit, dia harus pergi seperti yang dikatakan oleh seorang dokter itu. Namun tiba-tiba sebuah alarm terdengar memecah kepanikan diantara keduanya.


"Kita keluar sekarang!" Ucapnya tampak sangat gelisah. Anggi berjalan mengikutinya dari belakang.


Sementara itu keributan langsung terjadi dan orang-orang tampak berhamburan keluar dari rumah sakit, dia harus sedikit kesulitan ketika mengejar dokter itu yang sudah berjalan di depannya.


Matanya tampak panik, apalagi dengan tubuh yang baru saja pulih membuat Anggi sedikit meringis dan sekuat tenaga menahan sakit di kepalanya.


Karena tubuhnya benar-benar lemah Anggi tersungkur jatuh. Semua orang di sekelilingnya tampak berlari, dia berusaha untuk memulihkan rasa sesak yang tiba-tiba terasa di dadanya, apalagi ketika melihat orang yang begitu banyak membuat dia merasa limbung.


Sensasi yang dia rasakan sangat membuatnya kesusahan, dia merasa mungkin akan pingsan kembali.


Namun tiba-tiba seseorang menangkap badannya saat itu. Anggi menoleh melihat jika itu adalah Fika.


"Beruntung sekali Pak Han memberitahuku. Cepat kau harus bisa berdiri!" Fika sangat bersemangat ketika membantu Anggi untuk berdiri. Fika memapahnya meskipun itu sulit karena semua orang juga panik dan mulai berhamburan berlari keluar.


"Kita harus mencari dokter mu, kau tahu kemana perginya?" Tanya Fika.


Anggi tak mengatakan apapun, dia mengarahkan tangannya ketika samar tampak dokter tadi berdiri tak jauh darinya.


Fika melihat petunjuk yang Anggi berikan. Dia bergegas pergi ke arah dokter itu dengan panik.


"Syukurlah, rupanya kau di sini." Ucap dokter itu tampak bersalah karena panik dan pikiran yang kalut membuat dia lupa jika Anggi adalah seorang pasien yang baru pulih.


"Kau temannya?" Tanyanya ketika melihat Fika.


Fika mengangguk. "Pak Han menyuruhku untuk pergi bersama mu." Jawab Fika.


Mendengarkan ucapan Fika dia langsung mengerti apa yang ahrus dilakukan.


"Kita harus mencari jalan lain, semua lift penuh dan orang-orang mengantri banyak.


Tidak ada pilihan Fika hanya memikirkan tentang sebuah tangga, jalan lain. "Tangga, kita akan pergi ke sana kan?" Fika segera bertindak. "Setidaknya kau gendong dia, Anggi seperti akan pingsan." Fika memperingatkan dengan sangat khawatir.


Tak ada pilihan selain keluar dari ruangan itu melalui tangga, beruntung karena hanya ada di lantai dua menuju basemen, lalu ke parkiran.

__ADS_1


Dengan bersusah payah ketiga orang berusaha keluar dari keributan itu. Alarm kebakaran membuat semua orang sangat ketakutan. Tapi entah mengapa dia berpikir jika alarm itu sengaja, mungkin kakaknya yang sudah melakukan hal seperti itu hanya untuk bisa membuat dia pergi membawa Anggi dan temannya.


Ketika berjalan langkah dokter langsung terhenti seketika, matanya menangkap pemandangan mencurigakan. Sekelompok orang berpakaian hitam rapih berjalan mondar-mandir di parkiran itu.


Soalnya seseorang melihat ke arah dokter, tak peduli apa yang terjadi dokter segera berjalan ke salah satu mobil lalu segera membuka kunci, membuka pintu dan menempatkan Anggi duduk di dalamnya.


Hanya mobilnya yang keluar dari tempat parkir, dia melihat orang-orang itu kembali menatap ke arahnya, namun sekali lagi dokter nekat menginjak gas hingga orang-orang itu menyingkir dari jalan.


Fika yang melihat adegan itu langsung terperanjat kaget, dia melihat ke arah dokter yang membawa mobil, sekilas saja kepanikan dokter bisa tertangkap oleh matanya. Fika mulai bingung dan bertanya-tanya sebenarnya dia sedang menghadapi apa, apakah terjadi suatu masalah? Mobil yang ditumpanginya juga melaju dengan kecepatan yang tidak biasa.


Beruntung orang-orang mungkin masih terjebak mengantri di depan lift, jadi tidak ada banyak orang yang keluar dari rumah sakit.


Bersusah payah dokter itu membanting setirnya ke kiri dan ke kanan, tampak fokus sekali seperti mereka benar-benar sedang dikejar oleh sesuatu.


Fika penasaran, dia menoleh ke arah belakang dan melihat ada satu mobil yang melaju saat itu ke arahnya. Entah mengapa dia merasa panik sekarang, belum lagi Anggi lemas tak berdaya seperti itu.


Ketika Fika siap untuk bertanya namun dia kembali diam, pikirnya dia harus tenang dan jangan membuat dokter yang berusaha mengendalikan mobil dalam kecepatan seperti itu bisa terganggu.


Tubuh Fika beberapa kali limbung, dia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Suara tembakan


Kaca mobil langsung pecah, beruntung Fika sigap mencondongkan kepala ke bawah.


Bukan lagi sebuah lelucon, Fika sekarang tahu seberapa bahayanya mereka yang mengejar. mobil ini di belakang.


Dorrr ...


Sebuah tembakan lagi.


Kali ini tanpa bisa mengendalikan diri tubuh Fika ambruk ke arah depan, dia tidak tahu mengapa ada suara tembakan lagi.


Beruntung mobilnya tidak terpental ketika di rem sekaligus. Ban mobil kirinya pecah membuat mobil itu tidak mungkin bisa jalan dengan selamat.


Fika langsung memastikan ke arah Anggi, tidak terjadi benturan lagi namun Anggi benar-benar sudah pingsan. Dia mulai panik dalam situasi genting seperti itu mengapa kondisi Anggi juga memburuk.

__ADS_1


Braakkk....


Suara tabrakan yang terdengar sangat keras.


Dengan mata terbelalak spontan Fika melihat ke arah belakang, ada sebuah mobil yang menabrak mobil tadi. Tabrakan itu memang berhasil membuat mobil yang memburu mereka berhenti, namun bagaimana kondisi keduanya.


Asap mengepul saat itu, Fika mengintip dan melihat mobil yang mengikutinya itu ringsek begitupun mobil yang menabraknya tadi.


Namun kedatangan mobil lain langsung membuat Fika jantungan. Apakah mereka kawanan dari orang-orang yang memburunya? Hati fika terus bertanya-tanya. Bukan hanya satu atau dua melainkan beberapa mobil berhenti. Seseorang keluar dari mobil dan langsung membawa orang yang tampak terluka parah. Membayangkan jika orang-orang itu mengejarnya mungkin nasibnya sudah berakhir.


Nging....


Suara sirine mobil polisi membuat orang-orang itu tampak cepat bergegas untuk pergi, bersyukur sekali setidaknya dia harus selamat.


Fika melihat ke arah dokter yang membawanya. Tapi pemandangan yang dilihatnya sekarang membuat dia tak mengerti. Dokter itu menangis sejadinya di dalam mobil entah apa yang membuat dia sedih seperti itu, sampai dia tidak sadar jika ada orang lain juga di sana.


Fika hanya diam saja, hingga seorang petugas polisi menghampiri ke arahnya.


Beberapa kali polisi mengetuk pintu, namun dokter itu tampak masih menangis di sana tak peduli siapa yang datang saat itu.


Ragu-ragu Fika menepuk bahu dokter itu, meski tanpa mengatakannya dokter itu tampak sudah sadar. Segera dia mengelap seluruh air matanya membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Ada korban di sini, apakah ada tim medis yang datang juga?" Teriak salah seorang polisi.


Dokter itu langsung berlari ke sana. Fika melihat lagi ke arah dokter, korban kecelakaan itu berusaha dia selamatkan dengan pertolongan pertama. Namun beberapa saat dokter tadi berlari lagi ke arahnya.


"Mereka harus ikut dengan ku!" Ucapnya pada seorang polisi.


"Biarkan kami yang mengantarkannya!" Jawab polisi itu.


"Ku mohon, bawa aku tetap bersama mereka. Kita akan pergi ke alamat ini."Ucapnya memohon.


Fika penasaran bagaimana korban yang ada di sana?


"Dan tolong bawa jenazah yang sudah tewas di sana, pergi ke rumah sakit." Ucapnya lagi sudah tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Fika semakin tak mengerti mengapa dokter itu sangat bersikeras untuk pergi, dia tidak tahu kali ini akan pergi kemana namun setidaknya jika dalam pengawasan polisi dia sedikit merasa lega.


__ADS_2