
Langkah kakinya gontai berjalan kembali ke arah gapura. Anggi merasa seperti sedang mimpi, apalagi Fika yang mengalaminya sendiri. Dia tidak bisa percaya ketika mendengar kabar kematian yang jadi perbincangan oleh teman-teman satu kelas, ternyata setelah tahu kebenarannya membuat dia tidak bisa berpikir apapun lagi saat itu.
Seorang lelaki tampak memburu ke arahnya namun ketika melihat ekspresi sedih dari wajah Anggi dia langsung mengurungkan niat untuk bertanya.
"Kau mau duduk di sana saja?" Tanyanya pada Anggi, padahal mungkin lebih baik duduk menunggu di dalam mobil.
"Masuk ke mobil saja, kita menunggunya di sana." Ucapnya lagi yang tidak berhasil membuat Anggi beranjak pergi.
Tak berhasil membuat Anggi bicara dia hanya bisa menerka-nerka dengan pikirannya, sebab Anggi menjadi berubah seperti itu.
Satu fakta yang menjadi teka-teki saat itu, Anggi menyebut tentang ayahnya lalu soal pembunuhan. "Apakah seseorang sudah meninggal?" Gumamnya pada diri sendiri. Matanya melihat kembali ke arah dalam gapura komplek perumahan itu, sesuatu di dalam sana mengingatkannya pada seorang gadis yang biasa selalu membuat Anggi diam-diam mengawasinya, gadis itu tak lain adalah gadis yang sama pada hari itu bahkan karena penasaran Anggi juga mencari tentang keluarganya, juga pernah mengatakan agar tidak pernah mengatakan apapun tentang gadis itu.
Tebakannya berakhir juga. "Apa sudah terjadi sesuatu?" Ucapnya lagi pada Anggi.
Namun Anggi malah berdiri dan kembali berjalan ke arah gang, tapi dia langsung melangkah mundur lagi tampak sedang mengintip ke arah itu.
Tak lama Anggi kembali dan masuk ke dalam mobil tanpa diminta.
Heran, sepasang matanya tidak bisa mengerti dengan alasan Anggi saat itu. Karena penasaran dia berlari sebentar ke arah gapura di sana namun tidak menemukan apapun.
Buru-buru masuk ke dalam mobil mungkin saja Anggi sudah menunggunya untuk menyetir lagi.
"Kita kembali ke rumah." Ucap Anggi terdengar dingin.
"Kau yakin pergi sekarang? Tidak ada yang mau kau temui dulu?" Tanyanya pada Anggi.
Anggi kembali tidak menjawab, ekspresinya langsung berubah saat itu.
__ADS_1
Tanpa diketahuinya ternyata Anggi melihat jika Edo ada di jalanan sana, dia melihat Edo menghampiri Fika bersama Yunita, keakraban mereka bertiga sungguh membuat Anggi tidak bisa berpikir dengan tenang.
"Baiklah kita pergi lagi." Ucapnya lalu mobil kembali melaju ke arah rumah.
"Tentang pertanyaannya tadi di mobil. Tentang ayahmu, dan kecurigaan pada kami. Memangnya kematian siapa yang sudah terjadi?" Dengan berani dan tanpa basa-basi pertanyaan itu terlontar dari mulutnya, sudah bukan hal yang tak biasa jika berbicara dengan cara sedekat itu pada Anggi, tidak ada salahnya jika mengutarakan langsung tanpa harus menebak dan salah.
"Ayah Fika meninggal." Jawab Anggi singkat.
"Fika." Gumamnya tampak mengingat lagi sesuatu.
"Hah? Gadis itu, apakah ayah gadis itu?" Sama halnya dengan yang dirasakan oleh Anggi, kabar buruk seperti itu membuat dia harus berapa kali berpikir, sampai merasa tidak percaya jika kabar itu benar.
Anggi menghela napas. "Teman-teman di grup sekolah ramai membicarakannya. Kau tahu sesuatu dengan kematian itu?" Tanya Anggi sama seperti tadi, dia merasa seseorang sengaja sudah membuat ayah Fika meninggal.
"Apa yang kau katakan? Apakah mungkin orang sepertiku membunuh seseorang? Aku bahkan sudah membesarkan mu dan menganggap mu sebagai anakku sendiri. Lantas apakah aku bisa membuat hidupmu hancur dengan sesuatu yang nekat seperti itu?" Tanpa henti dia langsung mengutarakan semua kebenaran nya. Tidak mungkin juga dia setega itu membuat hidup Anggi sengsara.
Tidak ada yang bicara lagi atau menjawab pertanyaan Anggi, apalagi tidak ada yang tahu tentang sebab kematiannya.
"Mau aku selidiki saja?" Tanyanya pada Anggi.
Anggi diam saja tampak mempertimbangkan sesuatu. "Jangan. Biarkan saja!" Ucapnya memberikan keputusan.
Tidak terdengar biasa lagi, mengapa Anggi tidak menyetujuinya padahal dia akan diuntungkan juga jika kematian ayah Fika lebih baik diungkap saja dan diselidiki.
Sebenarnya kematian ayah Fika membuat Anggi harus berpikir lebih hati-hati, dia merasa ada yang tidak wajar namun sejauh ini dia tidak tahu apa itu. Tidak mungkin melibatkan banyak orang karena dugaannya saja, apalagi harus melibatkan orang-orang yang dipercayai ayahnya, Anggi tidak bisa melakukan hal seperti itu. Cukup dirinya saja yang memiliki keyakinannya, jika ada sesuatu di balik kematian ayahnya Fika.
"Kau tidak menelpon gadis itu?" Tanya pada Anggi.
__ADS_1
"Memangnya aku bisa apa." Jawab Anggi mengatakan kenyataannya. Dia tidak mungkin tiba-tiba menghubungi Fika dan menanyakan tentangnya, karena sudah jelas ada kabar duka yang sedang dihadapi Fika. Anggi tidak ingin dengan pertanyaannya malah semakin membuat Fika terus mengingat hal menyakitkan seperti itu.
Secara tidak sadar, nalurinya langsung bisa menebak apa yang sedang dialami oleh Fika. Tentang perasaan Fika saat ini, tentu saja tidak ada yang baik karena Fika pasti sangat terpuruk dan tidak bisa menerima kenyataan itu. Wajar karena dia adalah anak kandungnya.
Namun, hal yang menjadi pertanyaan besarnya adalah sebab kematian ayah Fika. Seseorang mungkin sudah melakukannya dengan sengaja seperti itu yang dirasakan Anggi.
"Jika ada sesuatu tolong beritahu aku saja, jangan sampai berita ini terdengar oleh orang-orang di dalam rumah nanti." Peringatannya pada Anggi.
Anggi tampak melihat ke arahnya, dia menebak jika pikirannya mungkin benar dan orang lain juga berpikiran sama dengannya.
Tidak ada orang yang paling bisa membuat semua tragedi itu tanpa memiliki hubungan dengan keluarga Fika. Seseorang mungkin seperti musuhnya, atau orang yang cukup dekat dan menginginkan kematian itu karena suatu alasan.
Anggi kemudian masuk ke dalam rumah, dia tidak merasakan cukup puas karena rasa penasarannya sendiri tidak terbayarkan sudah.
"Loh. Kalian dari mana?" Tanpa disangka ayahnya muncul dan memergoki Anggi yang baru saja masuk ke dalam rumah, selanjutnya supir Anggi juga menyusul.
Anggi mematung bingung, dia tidak terbiasa menjawab pertanyaan itu karena selama ini tidak pernah ada orang yang bertanya seperti itu.
"Aku mengantarnya ke tempat biasa kami nongkrong." Jawab supir Anggi.
Anggi tampak bereaksi ketika mendengarkan jawaban itu. "Aku pergi ngopi di luar ayah." Timpalnya menguatkan. Kemudian dia berjalan ke arah kamarnya.
"Mandi dulu sebelum tidur!" Ucap ayahnya pada Anggi.
Mendengar hal baru seperti itu membuat Anggi merasa ada sesuatu yang sudah berubah, sesuatu hal yang tidak bisa diterimanya semudah itu.
Di dalam kamar Anggi masih saja seperti tadi, melakukan sesuatu tentang dugaan yang dia pikirkan sepanjang perjalanan. Dia terlalu memikirkan jika ayahnya adalah orang jahat sampai berani membuat Fika sengsara, padahal untuk apa ayahnya melakukan hal semua itu? Apa pengaruhnya untuk dirinya sekarang?
__ADS_1