
Entah mengapa pikirannya langsung mengatakan jika ayahnya datang sebagai perwakilan orang tua/wali Edo.
Anggi masih melihat ekspresi ayahnya yang tidak pernah bisa dia lihat dengan jelas, baru kali ini ayahnya berbicara dan tampak tersenyum pada semua orang.
Alih-alih menghampiri ayahnya Anggi berbalik lagi berjalan bahkan melewati Fandi di sana.
Fandi melihat tingkah Anggi yang salah, sudah jelas itu ayahnya tapi Anggi masih bersikap seperti itu, selalu menghindari ayahnya sendiri dan harusnya dia bersyukur karena ayahnya datang dengan kesibukan yang dia tinggalkan.
Berpikir untuk mewakili Anggi, setidaknya dia harus mengatakan sesuatu pada ayahnya Anggi. Fandi berjalan ke arah ayahnya Anggi berdiri di sana, namun ketika jaraknya cukup dekat dia langsung spontan berhenti. Fandi minat seorang anak SMA yang tidak asing, dia adalah anak dari wanita yang mengikuti makan malam itu. Jadi ayahnya Anggi datang sebagai wali darinya? Bukan untuk Anggi?
Fandi segera berbalik, dia tidak ingin jika ayahnya Anggi melihat ke arahnya.
Pantas saja Anggi bersikap seperti tadi, hati anak mana yang tidak akan sakit melihat pemandangan seperti tadi, apalagi jika kedatangan ayah kandungnya sendiri untuk orang lain.
Fandi keluar dari gerbang sekolah, dia harus mencari Anggi. Matanya menemukan Anggi yang mulai masuk ke salah satu warung di sana. Fandi bergegas mengejarnya.
"Kau di sini. Ngapain?" Bicaranya tiba-tiba ketika masuk ke dalam warung dan melihat Anggi sedang memainkan hp dan meminum jus.
"Loh, bukannya aku rapat? Ngapain malah kesini?" Anggi tidak menjawab pertanyaannya tadi, dia malah meminta Fandi untuk sendirian rapat masuk ke dalam sekolah.
"Edo datang dengan ayah mu, kau datang dengan ku kan? Kau keberatan?" Fandi sengaja mengatakannya, dia tidak ingin melihat Anggi yang menyerah dengan situasi itu.
__ADS_1
"Biarkan saja, kau juga jika keberatan untuk menjadi wali ku sebaiknya pulang saja dan jangan protes." Jawaban Anggi mengecewakan.
"Baiklah aku pulang saja, kau disini menunggu, semua teman mu di sana. Lagipula kau tidak butuh apapun kan?" Saking kesalnya Fandi benar-benar membuat Anggi terdiam di sana.
Anggi sekilas menatapnya dan dia kembali sibuk dengan hp, seolah dia memang tidak peduli. "Kau tidak bisa menerima mereka kan, lantas kenapa sekarang kau mempedulikan mereka?" Fandi masih bersikeras ingi mengubah jalan pikiran Anggi.
"Setidaknya anggap saja mereka tidak ada, kau harus menunjukkannya seperti itu. Kau tidak peduli dan tidak mempermasalahkannya, seperti itu." Dengan detail Fandi mengutarakan pendapatnya.
Seketika mendengar itu Anggi langsung berdiri, dia menyimpan kembali hp tadi ke saku celananya dan berjalan keluar warung itu. Fandi juga mengikutinya.
"Ayo kita ke sekolah!" Ajak Anggi membuat ekspresi Fandi langsung berubah. Hal yang dinantikan dari diri Anggi adalah rasa bangganya sendiri, rasa percaya diri, dan tidak peduli pada orang yang tidak memperdulikannya. Harusnya seperti itu.
Fandi dengan senang pergi kembali ke dalam sekolah, dia akan mengikuti rapat seperti yang sudah dijadwalkan. Tidak peduli jika ayahnya Anggi ada di sana sebagai wali dari orang lain dan dia sebagai wali dari Anggi. Itu tak masalah.
Fandi ingin protes tapi ketika melihat kegigihan Anggi dia berpikir lagi. Rasanya dia benar-benar termakan oleh omongannya sendiri dia jadi harus bisa memotivasi dirinya sendiri ketika menghadapi wajah tuannya nanti.
"Kau baik-baik saja?" Fandi melamun beberapa saat sampai dia tak sadar Anggi sudah ada di hadapannya dan menanyainya.
"Lupakan saja. Cepat tunjukkan dimana tempat rapatnya?" Ucap Fandi nampak gugup.
"Itu!" Ucap Anggi sambil menunjukkan salah satu ruang kelasnya.
__ADS_1
Fandi menghela napas, meski kakinya mungkin nanti akan gemetar di dalam sana. Dia juga baru pertama kali ini mengikuti rapat sebagai wali seseorang, mungkin sebelumnya dia hanya pernah menjadi siswa seperti Anggi.
Fandi masuk sendirian ke dalam ruangan rapat yang ternyata di sana sudah sangat penuh, ketika matanya mencari sebuah kursi kosong diantara yang terlihat dia tidak menemukan satupun. Matanya taj sengaja menatap tuannya itu dan tanpa disangka Ayahnya Anggi juga menatap ke arahnya. Fandi segera pergi ke barisan paling belakang, setidaknya dia tidak bisa terus diperhatikan oleh ayahnya Anggi jika duduk di depan.
Beruntung ada satu kursi tersisa, dia pun duduk di sana menunggu seperti orang lainnya. Tak lama muncul seorang guru, dengan pidato panjang lebar, banyak pembahasan mengenai biaya sekolah, mengenai kendala di sekolah, dan terakhir prestasi siswa. Fandi tak tahan, untuk pertama kalinya datang ke rapat orang tua rasanya dia ingin tidur saja. Betul sekali, sangat menjenuhkan.
"Saya bangga dengan salah seorang siswa yang mulai memotivasi diri saya sendiri sebagai gurunya. Jika siswa melakukan 1,2 soal dengan jawaban salah, itu hak wajar. Tapi bagi seorang guru itu adalah kesalahan. Dan bagaimana dengan siswa yang menjawab sempurna semua jawaban. Sebagai gurunya saya bangga karena peningkatkan prestasi yang dimiliki saat ini bisa memotivasi semua siswa. Saya tidak membedakan siswa yang kurang maupun yang lebih terampil, namun disini masalahnya bukan itu. Siswa yang saya sebutkan tidak begitu baik dengan beberapa kesalahan dan kealpaan selama setahun sekolah di sini, lanjut kelas XI sekarang pun sama, namun diakhir kelas XI prestasinya langsung pesat dan memang menjadi tanda tanya besar bagi kami guru-guru yang mengajar. Namun berdasarkan laporan, siswa itu memang terampil ketika mengerjakan soal di depan kelas, dan itu sudah cukup menjawabnya."
"Silahkan kepada orang tua Anggi saya ingin apresiasinya, semoga hadir di hari penting ini." Ucap guru yang berpidato di depan semua orang.
Beberapa detik semua orang tua siswa yang hadir hanya saling pandang satu sama lain. Sedangkan Fandi sibuk dengan rasa kantuknya.
"Sekali lagi, apakah ada orang tua/wali dari saudara Anggi?" Ucapnya.
Setengah mengantuk namun Fandi kali ini bisa mendengar nama Anggi disebut, dia spontan berdiri dan mengacungkan tangan tanpa tahu apa yang dikatakan oleh guru itu.
Tapi tak disangka secara bersamaan ayahnya Anggi juga berdiri di tempat duduknya.
"Apakah anda walinya? Atau orang tuanya?" Tampak bingung ketika melihat ke arah Fandi yang sedang mengacungkan tangan dan ke arah ayahnya Anggi.
Fandi baru sadar jika dia sudah melakukan kesalahan dan malah mengacungkan tangan, dia segera menarik tangannya tampak gugup ingin kembali duduk.
__ADS_1
Ayahnya Anggi terlihat duduk lebih cepat.
"Oh, di sana orang tua Ananda Anggi?" Guru yang berpidato berjalan lebih dekat ke arah Fandi. Melihatnya saja sekilas Fandi langsung merasa gugup, tentu saja dia sedang menjadi pusat perhatian di dalam ruangan itu. Dan sesuatu yang tak disangka mengapa ayahnya Anggi masih diam saja saat itu?