Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Adik Pak Han


__ADS_3

Salah satu mobil polisi memasuki kawasan perumahan pribadi milik Pak Rendra. Dari mulai halaman depan yang begitu luas di sana sudah terdapat para penjaga yang selalu siaga siang dan malam.


Beruntung kali ini yang datang adalah mobil polisi, tidak ada alasan lagi untuk siapapun yang berencana menghentikan niatnya untuk menemui tuan Rendra secara langsung.


Dokter masih diam membisu di dalam mobil, wajahnya itu tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang tampak berat untuknya. Sudah sejauh ini dia ingin berusaha sedikit lagi atau perjuangan Pak Han benar-benar sudah berakhir.


Seorang penjaga menghentikan mobil itu. Polisi tampak bicara dengannya.


"Kami membawa Anggi di dalam mobil, kau bisa melihatnya sendiri." Ucapnya berusaha menguatkan alasan polisi agar mereka bisa segera masuk menemui Pak Rendra.


"Tuan Rendra tidak ada di rumah, kau harus memberikan janji tertulis jika ingin menemuinya." Ucapnya lagi terdengar menghalangi.


"Apa yang kau pikirkan? Memangnya kau mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada anaknya? Cepat kami ingin masuk!" Teriaknya tak tahan karena emosi.


"Sudahlah kita tunggu saja di sini!" Polisi di dalam tampak melerai dan berusaha sabar.


Dokter melihat kondisi Anggi yang tidak begitu baik, tubuhnya benar-benar butuh istirahat yang nyaman dan aman. Apalagi Anggi harus mendapatkan cairan yang cukup untuk tubuhnya.


"Jangan halangi kami, Anggi tidak begitu baik dibiarkan seperti ini." Dokter itu masih bersikeras. Dia tidak paham mengapa dalam keluarga besar yang tampak kaya seperti itu terlalu banyak aturan yang tidak tepat. Padahal sekarang kondisinya berbeda kan.


Mau apalagi, tidak ada niat baik dari penjaga itu untuk membuat mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Kita harus mencari rumah sakit atau klinik, pusat kesehatan terdekat. Anggi butuh diperiksa lebih lanjut!" Ucap dokter itu.


"Beresiko sekali, hanya ada satu mobil polisi kita tak yakin di luar sana masih aman." Sebuah situasi yang tidak juga baik.


Dokter itu menghela napas panjang, untuk pertama kalinya dia menghadapi sesuatu yang sulit sendirian. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kakaknya itu harus mengalami banyak hal dan entah harus berapa kali menghadapai masalah sulit seperti ini.


Tit...


Suara klakson mobil.


Dokter dan semua orang di dalam mobil menoleh ke arah belakang melihat ada sebuah mobil menghampiri.


Setelah berhenti kaca mobil bagian depan nampak turun memperlihatkan ternyata ada pemilik rumah di dalam mobil.


"Selamat siang Pak Rendra!" Ucap polisi itu. Dokter baru bisa tahu jika itu adalah Pak Rendra ayah dari Anggi.

__ADS_1


"Siang, kenapa ada polisi ke rumah ini?" Tanya Rendra penasaran.


"Kami bersama dokter dan temannya ananda Anggi juga ada di dalam mobil." Jawab polisi itu menjelaskan.


"Astaga! Cepat semuanya masuk ke dalam!" Ucapnya terkejut setelah mendengarkan kabar itu.


Beruntung sekali kedatangan Pak Rendra tepat waktu.


"Kalian bersama Anggi? Sejak kapan?" Rendra tak sabar segera menanyai semua orang.


"Terjadi sebuah kecelakaan, Pak Han menghubungi kami jika ada seseorang yang akan mencelakai putera mu. Mobil yang ditumpangi putera mu juga bersama dokter yang merawatnya hampir mengalami kecelakaan. Beruntung Pak Han melakukan yang terbaik sampai akhir hidupnya." Ucap polisi itu.


Spontan mendengarkan kabar buruk seperti itu Rendra langsung mematung tak percaya, tapi jika yang menjelaskannya adalah seorang polisi tak mungkin dia tidak percaya lagi kan.


Pak Rendra limbung, dia syok mendengarkan kabar itu.


"Cepat bawa Anggi ke kamarnya, kau rawat dia di sana!" Ucapnya pada dokter yang sudah menangani Anggi sejak awal.


Fika ikut ke dalam kamar bersama dokter sedangkan di luar tinggal polisi dan dirinya.


"Pak Han benar-benar sudah meninggal?"Sambungnya lagi.


Polisi itu menjelaskan lagi secara detail.


"Pak Han tiba-tiba melapor ke kantor polisi, dia mengerahkan kami semua ke rumah sakit di alamat itu." Jelasnya. Sampai penjelasan itu Rendra mulai kembali mencerna situasinya saat itu.


"Dia sengaja membawa Anggi ke rumah sakit di alamat itu, sebelumnya Pak Han sudah tahu akan terjadi sesuatu di rumah sakit yang aku kunjungi. Kebakaran terjadi karena disengaja kan." Batin Pak Rendra.


"Sekarang jenazah Pak Han ada dimana?" Tanya Rendra.


"Untuk informasi sementara jenazahnya dibawa ke rumah sakit terdekat di sana." Polisi memberitahukan informasi yang hanya diketahui pihak polisi. Mengenai siapa yang melakukan semua hanya Pak Han yang tahu.


"Baiklah, terimakasih karena sudah membawa anak saya ke sini. Tapi apa boleh saya membutuhkan beberapa polisi untuk berjaga lagi di sekitar rumah. Saya sangat khawatir dan takut jika terjadi sesuatu." Ucap Rendra.


"Itu sudah kewajiban kami, tenanglah aku sudah menghubungi polisi lain untuk segera datang." Jawabnya menenangkan Pak Rendra.


Setelah percakapan itu berakhir Polisi pergi dari rumah Rendra.

__ADS_1


Rendra yang melamun sambil berdiri di ruangan itu tampak bingung sekali. Selain Pak Han mungkin tidak ada yang tahu siapa pelaku utama dari semuanya.


Tiba-tiba pikiran Rendra mulai sadar jika ada seorang dokter dan juga gadis yang tampak seumuran dengan Anggi.


Ketika Rendra beranjak ingin pergi ke dalam kamar namun Fika sudah mendahului pergi keluar.


"Maaf Pak, saya temannya Anggi." Ucap Fika sopan.


"Kalian bersamanya kan saat di mobil. Kau pasti bertemu dengan Pak Han." Rendra menebaknya.


Melihat dari tatapan Fika sekilas dia bisa tahu jika itu benar.


Fika menatap ke sekeliling ruangan tampak ada salah satu penjaga, dia tidak begitu bisa percaya sebagaimana dengan yang dikatakan Pak Han agar selalu berhati-hati berada di rumah Anggi.


"Ayo kita ke kamar Anggi!" Ucap Pak Rendra akhirnya bisa langsung mengerti.


Fika menyusul masuk ke dalam kamar, sebelum nya dia tidak berpikir jika Anggi adalah orang penting, ayahnya merupakan tokoh publik dan dia benar-benar kaya.


Fika segera masuk ketika melihat semua orang sudah menunggunya di dalam kamar.


Dokter tampak masih sedih, dia terus melamun dan murung dari tadi. Perkataan Pak Han masih terngiang jelas di pikirannya, tapi apa yang akan terjadi jika dia mengatakan pesan itu pada Pak Rendra.


"Kau tampak murung dari tadi. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih karena sudah merawat Anggi. Tapi kau pasti bertemu lama dengan Pak Han kan? Ada sesuatu yang penting?" Tanya Rendra tak menunda waktu.


Dokter tampak menghela napas, tapi dia menggelengkan kepala.


Rendra melihatnya kecewa, dia tahu jika dokter itu tertekan dan tak mungkin Pak Han mengantarkan Anggi ke rumah sakit tanpa menemui seorang dokter di sana secara langsung kan.


"Pak Han tiba-tiba menemui ku lalu aku dibawa ke kantor polisi. Kita bersama membuat laporan itu." Ucap Fika di tengah-tengah suasana yang membuat dokter tertekan.


"Katanya Anggi sudah memberikan ku rumah, tapi aku menolaknya. Pak Han lalu memintaku untuk menemui Anggi untuk menyampaikan pesannya." Fika terus bicara dengan mudah, tampak tidak ada sesuatu yang dia sembunyikan dibalik semua pernyataannya.


"Pesan? Kau bisa mengatakannya pada ku?" Rendra bertanya.


Fika menatapnya. "Maafkan aku, dia ingin aku bicara dengan Anggi nanti." Jawab Fika.


Rendra tampak kecewa lagi, tidak ada satupun petunjuk yang membantu dalam mengungkap semuanya.

__ADS_1


__ADS_2