
"Pak Han, ada yang ingin aku tanyakan sejak lama. Apakah kau pernah merasa sangat menyesal sekali pernah hidup untuk seseorang." Pertanyaan pertama Anggi saat dia memasuki SMA. Pak Han menatapnya sebagai sosok yang dewasa, bayangkan saja jika semua orang sudah hidup terbiasa dengan kedua orang tua lalu bertahan. Tapi, Anggi tidak memiliki keduanya dan dia tetap bertahan. Meski tatapan Anggi selalu tertunduk ke bawah, hatinya pasti lebih lapang dari siapapun.
Pak Han tersenyum lembut. "Apa yang belum aku dapatkan, itulah yang aku sesali. Satu-satunya yang tidak ku dapatkan adalah keluarga."
****
Di dalam kamar yang luas, di sana ada Fika yang duduk dan tertunduk di hadapan Anggi. Seorang dokter yang tiba-tiba mengatakan jika dia adalah adik dari Pak Han. Dan ayahnya.
Anggi menoleh mantap ayahnya saat itu. Ada sesuatu yang ingin dia katakan namun lagi-lagi Anggi terdiam memilih tidak mengatakannya.
"Katakanlah, kau ingin mengatakan sesuatu kan?" Tiba-tiba ayahnya bertanya seperti tahu apa yang dipikirkan Anggi saat itu.
Anggi menoleh lagi. Tapi dia masih tidak mengatakan apapun saat itu. Anggi kemudian menatap ke sampingnya, padahal Pak Han akan bicara mewakili hatinya saat itu, tapi sekarang Pak Han sudah tiada.
Anggi benar-benar terpukul, seluruh kewarasannya tidak bisa menerima berita duka tentang Pak Han. Bagaimana bisa? Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikannya.
Fika mulai bingung, dia tidak begitu nyaman dengan situasi di dalam ruangan apalagi dia adalah orang asing yang tak sengaja ada diantara keluarga Anggi.
"Kau jangan pergi sekarang! Seseorang akan mengantarkan mu pulang." Namun Anggi tiba-tiba saja kembali bicara pada Fika, untuk hal sepele seperti itu Anggi tetap memikirkan orang lain.
Fika sedikit kikuk menerima perhatian singkat dari Anggi, seharusnya dia tidak menunjukkan sikap seperti tadi kan. Dan dia merasa malu karena Anggi mengetahuinya.
Dokter yang duduk di samping Anggi dia hanya diam saja, dari tadi tidak ada kata-kata yang ingin diucapkan. Selain melamun dan bersedih apalagi yang bisa dilakukan sebagai adik yang baru saja kehilangan kakaknya.
"Ayah pergi dulu!" Rendra lalu pamit keluar dari kamar Anggi.
"Maaf, aku ingin mengatakan sesuatu." Fika bicara membuat perhatian Anggi tertuju padanya.
__ADS_1
"Kau benar-benar akan pergi ke luar negeri? Apa boleh aku tahu kemana itu?" Fika langsung mempertanyakan sedikit perdebatan tadi.
"Aku pasti pergi. Itu bukan apa-apa kan." Ucap Anggi singkat. Namun setelah Anggi bicara Fika tampak tak bicara lagi.
"Apa kau tetap akan bersekolah di sana?" Anggi kembali bertanya pada Fika.
Fika terperanjat kaget, dia terlihat sedikit berpikir. "Aku tidak mempunyai uang, rumah ku juga baru saja disita. Aku tidak yakin bisa sekolah." Nada bicara Fika terdengar enteng, seperti tidak sedang membicarakan suatu masalah besar, Fika tidak menunjukkan kesusahannya dan sikap itu membuat Anggi benar-benar merasa malu.
"Sekolah saja di sana. Kau tinggal menjadi teman ku, aku akan membantumu tenang saja!" Ucap Anggi dengan gaya bicara yang sudah berubah. Terdengar sedikit melunak.
Fika langsung tersenyum, bahkan dia mulai tidak merasakan canggung lagi karena tahu sikap Anggi tidak seperti yang terlihat dari penampilannya.
"Aku malu sekali, bagaimana bisa berteman dengan orang kaya." Fika mengatakannya seperti ketika dia bicara dengan temannya.
Anggi langsung tertawa. "Kau benar-benar tidak bisa bersyukur, sedikit saja bersyukur dan bisa menerima ku menjadi teman mu." Ucap Anggi. Sekarang sudah berubah, Anggi mengatakannya dengan wajah tegak dan penuh percaya diri, dia sudah berterus terang dengan apa yang ingin dia katakan.
Anggi kembali tersenyum, kesedihan sekilas yang membuat dadanya sesak mulai sedikit keluar berhamburan seiring dengan tawa lepas ketika berbicara dengan Fika.
Tidak ada kedekatan yang disengaja, atau pertemuan yang terjadi karena sebuah rencana. Kadang cerita itu seperti air yang mengalir, kadang bisa terus teguh dalam jalannya atau berhenti dan menyebar ke semua tempat.
Obrolan yang terjadi di dalam rumah Anggi, antara Fika dan dia tidak lagi ada batas yang membuat keduanya semakin jauh atau semakin mendekat, lebih baik seperti ini mengalir seperti air.
"Omong-omong terimakasih, kau banyak membantu ku." Ucap Fika sesaat sebelum dia pamit pulang.
"Bukan apa-apa. Tetaplah beruntung!" Seru Anggi tampak bersemangat.
Akhirnya Fika sudah pulang diantar dengan sebuah mobil polisi, Anggi sedikit bisa merasa lega karena polisi yang akan mengantarkannya.
__ADS_1
Kini hanya ada dia dan dokter yang mengaku jika dia adalah adiknya Pak Han.
"Ayo masuk ke rumah!" Ucap Anggi pada dokter. Mendengar kata-kata Anggi membuat dia sedikit merasa lega dan langsung mengikuti Anggi masuk ke dalam rumah.
"Pak Han selalu tinggal di kamar ku, dia akan tertidur di sofa, atau menggelar kasur di bawah. Dia tidak pernah membuat aku merasa sendiri. Tapi aku kasihan dan membiarkannya memiliki kamar di samping kamar ku." Anggi bicara ketika keduanya berjalan kembali menuju kamar.
Dokter tidak hanya mendengarkan namun dia juga memperhatikan di sekelilingnya. Sekarang bukan Anggi yang akan merasakan takut, namun dia akan ketakutan setengah mati. Dia tidak bisa tinggal jauh dari Anggi karena bisa saja para pengawal itu tiba-tiba membunuhnya.
"Itu kamarnya, kau bisa beristirahat di sana juga." Anggi berhenti di depan sebuah pintu, memang letak kamarnya sangat dekat namun tetap saja terpisahkan dengan dinding dan itu terlalu menakutkan.
Dokter tidak bereaksi ketika Anggi menunjukkan kamarnya itu. "Kau bisa tidur di sana kan?" Tanya Anggi kembali untuk kedua kalinya lagi.
Dokter menggelengkan kepala. "Aku tidak mempercayai siapapun, dan tidak bisa tenang tidur di sana." Ucapnya tanda ketakutan.
"Baiklah, kau bisa tidur di kamar ku juga. Pak Han sudah menyimpan semua kebutuhannya di sana juga." Akhirnya Anggi dengan mudah memutuskan sebuah keputusan untuk orang yang masih belum bisa dia percayai.
Keduanya berjalan memasuki kamar. "Pak Han biasanya ada di sana." Ucap Anggi. Tak tahan dengan semua kenangan yang tidak mungkin bisa dia lupakan, Anggi kembali menangis karena kenyataan yang tidak bisa diterimanya itu.
Melihat itu seperti sudah membuat dirinya juga merasakan kesedihan tadi. Dokter tampak duduk tak berdaya di lantai, dia yang paling sedih karena dia adalah adik kandungnya Pak Han. Dalam waktu seperti ini dia tidak bisa dengan mudah menerima kenyataan pahit itu.
Anggi duduk bersama dengan dokter berdampingan sambil bersandar pada tembok kamar.
"Kakakku yang terbaik, dia selalu memikirkan adiknya setiap saat, memberikan ku banyak uang padahal aku ini seorang dokter." Ucapnya pada Anggi.
"Pak Han, dia selalu paling bisa bicara untukku. Kadang aku tidak mengatakan banyak hal, dan dia yang membicarakannya untuk orang-orang."
Tak terasa sesingkat itu keduanya akrab, mulai diawali dengan saling bercerita satu sama lain.
__ADS_1