
Fandi masih fokus menjalankan mobilnya, tapi pikirannya terus terganggu dengan pemandangan tadi. Ketika orang pertama kali melihat wanita memasuki hotel di jam seperti ini mungkin sebagian besar akan memikirkan hal yang sama. Tapi bagaimana mungkin seorang anak sekolah seperti itu.
Fandi membawa mobilnya kembali ke arah rumah sakit. Dia tidak mungkin pulang ke rumah tanpa Anggi, dia memilih tinggal di sana saja.
Tak lama perjalanan Hannya sekitar 40 menit, mobil sudah terparkir lagi di rumah sakit.
Ketika dia berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, matanya kembali terganggu dengan sebuah pemandangan di sana. Edo dan Ayahnya Anggi, keduanya memang akrab dan terlihat sangat akrab. Meskipun saat itu dia juga berjalan di arah yang berlawanan namun sepertinya tidak ada yang menyadarinya.
Akhirnya Fandi cukup merasa lega setidaknya di sana tidak akan ayahnya Anggi jadi dia tidak akan merasa canggung.
Ketika tepat di depan pintu ruangan Anggi pemandangan aneh mulai kembali mengundang tanya baginya. Fandi merasa aneh karena penjagaan tadi tidak ada, entah kemana pergi semua orang, para pengawal, dan juga ayahnya Anggi sudah pergi.
Tanpa berpikir lagi Fandi berjalan semakin dekat ke arah pintu yang kebetulan tirai dari dalamnya terbuka. Dia mengintip ke sana dan tampak tidak ada siapapun.
Entah mengapa Fandi merasa panik saat itu juga. Tidak ada Anggi di dalam artinya dia sudah dipindahkan.
Fandi segera mencari informasinya, dan ketika berlari ke salah satu arah dia melihat seorang dokter dan neneraoa perawat dengan kursi roda dan juga Anggi yang sudah bisa duduk dan membuka matanya.
Spontan dia memang merasa syok, selain karena cukup terkejut ketika melihat Anggi yang tiba-tiba pulih dari koma. Dan kondisinya saat itu tidak memperlihatkan jika dia pasien koma satu jam yang lalu.
Fandi segera berlari lagi memburu keduanya.
"Anggi!" Panggilnya.
Dokter dan Anggi yang duduk di kursi roda menoleh ketika dia berteriak. Fandi kini sudah yakin jika orang yang duduk di kursi roda memang Anggi.
"Kau dari mana saja?" Gerutu Anggi kesal.
"Kita masuk ke ruangan perawatan ya!" Ucap dokter itu dan beberapa perawat kemudian semuanya bersama lagi menuju ruangan yang disebutkan dokter.
"Dok, kita pergi ke ruangan lain saja. Itu masih bisa kan?" Fandi mengatakan sesuatu yang langsung membuat semua orang memandanginya aneh.
__ADS_1
"Kita akan pilih kamar lain." Ucapnya lagi tegas, tak peduli dengan tatapan orang-orang.
"Kita pergi saja ke ruangan lain." Ucap Anggi terdengar menyetujui permintaan Fandi.
"Baiklah, selagi berjalan perawat akan memastikan ruangan mana yang masih tersisa di ruang sakit ini." ucap dokter akhirnya menyetujui.
"Ruangannya ada di kelas 2." Ucap seorang perawat setelah mengecek secara online di tablet yang dia bawa.
"Bagaimana?" Dokter memastikan.
"Kita pergi ke sana saja!" Fandi langsung menyetujui mendahului Anggi bicara. Sebenarnya dia sengaja.
"Baiklah nanti kita butuh persetujuan dari keluarga terutama wali pasiennya." Ucap dokter.
"Aku walinya. Mari kita pergi ke ruangan itu saja." Fandi terlihat bersikeras menolak ruangan pertama yang sudah ditentukan.
Akhirnya semua orang pergi mengantar Anggi ke ruangan lain yang sudah dipilihkan Fandi meskipun itu hanya kelas 2.
"Kepalanya masih terasa sakit." Keluh Anggi. Fandi langsung menatap panik.
"Tidak usah, jangan panggil siapapun juga aku ingin beristirahat." Ucap Anggi.
Fandi duduk diam, dia masih tidak percaya jika Anggi di hadapannya sudah pulih seperti itu. "Kau benar-benar mempunyai 9 nyawa." Hardik Fandi sedikit bercanda saat itu.
Anggi melihatnya. "Terlalu sedikit sekali." Ucapnya yang masih terlihat beberapa kali meringis kesakitan.
"Kau benar baik-baik saja?" Tanya Fandi ketika melihat Anggi hanya tertidur saja.
"Aku butuh istirahat saja, kepala ku sakit." Ucap Anggi terdengar lirih.
Memang seperti yang terlihat jika Anggi masih belum sembuh total. Padahal Fandi ingin bercerita banyak apalagi soal Fika.
__ADS_1
"Aku pergi ke rumah sakit ini. Kau bisa melihatnya kan? Ruangan di atas adalah bekas kebakaran besar di rumah sakit." Ucap Anggi sambil tertidur dan kedua matanya tertutup.
Fandi melihat kondisinya yang tidak baik-baik saja, sebaiknya Anggi tidak boleh memikirkan dan terlalu lebih jauh bertindak sendirian.
"Kau selalu bertindak sendirian. Hei. Aku memang bukan Kak Han. Tapi sebaiknya kau ingat jika kakak ku mengorbankan hidupnya untuk nyawamu. Kau bisa kan mempercayai adiknya untuk satu kali saja atau beberapa keputusan bodoh seperti itu." Gerutu Fandi, memang benar jika tindakan Anggi salah dia harus merasa tidak terima juga.
Anggi tidak merespon, sepertinya memang tidak harus dibahas lagi.
"Aku ingin tahu kabar tentang Fika. Kau bisa mencari tahunya kan? Kau bisa menanyakan pada Yunita teman ku yang ada di perum itu." Dal kondisi terpuruk sekalipun Anggi masih memikirkan orang lain? Fandi hanya bisa menggelengkan kepala, dia juga tidak tahu mengapa masih ada orang seperti Anggi dan terlalu polos sepertinya.
Gara-gara mengantar Fika tadi dia harus berpikir buruk tentang Fika. Meskipun tahu kebenarannya dan meskipun Fika memang bersalah tapi tidak mungkin bagi Fandi untuk mengatakan semua itu pada Anggi.
"Bagaimana? Kau bisa melakukannya? Astaga jangan bilang kau tidak bisa lagi." Anggi tidak sabar menunggu jawaban Fandi yang saat itu mulai terlihat melamun memikirkan banyak hal.
"Sudahlah, kondisi mu yang paling buruk di sini sebaiknya kita pikirkan nanti." Fandi benar-benar menolaknya. Fia tidak bisa terus terlibat tentang Fika, semakin dia dekat mungkin dia akan lebih tahu banyak sesuatu yang mengecewakan untuk semua orang.
"Padahal kau hanya tinggal mencari tahu saja apa susahnya." Ucap Anggi.
Kemudian suasana menjadi hening, tidak ada lagi percakapan untuk beberapa saat sampai Anggi bicara lagi.
"Ayahku bersama Edo datang kesini. Kau pasti melihatnya tadi." Ucap Anggi setelah beberapa saat tadi dia hanya diam saja.
"Ia, aku melihatnya." Fandi menjawabnya singkat.
"Ngomong-ngomong kenapa harus di ruangan lain?" Anggi kemudian mempermasalahkan tentang tindakannya.
"Aku merasa kau lebih baik di tempat ini. Entah kenapa aku berpikir jika Kak Han juga melakukannya untukmu kan." Padahal Fandi hanya berbicara asal, dia menganggap jika tindakannya pasti akan dilakukan oleh Kakaknya itu.
Tapi reaksi Anggi benar-benar berbeda. Anggi seperti mendengarkan sesuatu yang membuatnya berpikiran lain.
"Kau melakukannya hanya karena berpikir seperti itu. Lantas Pak Han membawa ku ke rumah sakit karena alasan?" Tiba-tiba ucapan Anggi terhenti saat itu juga.
__ADS_1
"Karena dia tahu di rumah sakit ini akan terjadi kebakaran, itu alasannya dia membawa ku ke rumah sakit mu kan?" Lanjutnya lagi membuat sebuah pernyataan yang langsung mengubah ekspresi Fandi saat itu juga.