Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Rencana secarik kertas


__ADS_3

"Bantu dia sekarang, urus rumah lama yang ada di kota ****" Ucapnya pada supir yang ada di luar.


Anggi tampak bingung, berjalan keluar menyusul ayahnya. "Pak Hen, aku sudah melakukannya dengan benar kan?" Tanya Anggi.


Supirnya tampak menghela napas, memikirkan keberanian Anggi membuat dia merasa lega. "Wajar saja kau adalah puteranya, meminta hal kecil seperti itu tentu saja bukan apa-apa." Ucapnya pada Anggi.


"Kau katakan pada Fika, soal sewa rumah itu bisa dibayarkan jika nanti dia sudah memiliki pekerjaan." Anggi menjelaskan rencananya.


"Bukannya kau ingin memberikan rumah itu secara suka rela?" Sebuah pertanyaan untuk Anggi.


"Dia tidak akan menerimanya, dia akan sangat sungkan. Aku tidak ingin menyinggung perasaannya jadi katakan saja jika rumah itu adalah jaminan dari perusahaan ayahnya." Ucap Anggi. Kemudian dia langsung pergi setelah mengatakan seluruh rencana yang dia buat.


"Apa kau sangat serius akan pergi ke luar negeri?" Tanyanya penasaran setelah mendengar pernyataan Anggi tadi.


"Aku harus membayar setimpal kebaikan ayah." Jawab Anggi terdengar masuk akal.


"Aku akan mengatakannya pada Fika, pergilah ke luar negeri aku masih ingat kesepakatannya." Ucap Pak Hen. Tanpa tahu dia sangat kehilangan, kepergian Anggi sebenarnya bukan kabar baik untuk keluarganya. Pak Hen yang sudah tahu semua rencana ayahnya Anggi, dia sangat tahu semua rencana dari tuannya.


****


Pak Hen tampak sedih, untuk pertama kalinya dia membiarkan Anggi pergi sendirian karena sepertinya Anggi juga tidak meminta dia untuk mengantarkannya entah itu ke sekolah atau rumah sakit.


Di dalam ruangan pribadinya itu, Pak Hen berjalan ke arah lemari pakaian. Dia mengambil sesuatu, sebuah kertas yang disimpan di bawah baju.


"Bunuh anak Rendra."


Kata-kata yang tertulis dalam secarik kertas. Pak Hen menghela napas panjang, dia sudah melakukan segalanya termasuk membuat kepercayaan keluarga Rendra ada di tangannya. Namun, mengapa harus berakhir dengan seperti ini? Apa yang akan dia lakukan sekarang adalah janjinya, tapi dia juga tidak mungkin menghabisi nyawa anak yang sudah dia besarkan dengan kedua tangannya.


Tampak frustasi Pak Hen menyobek kertas itu. Dia berjalan ke sana kemari memikirkan sebuah cara untuk menyelamatkan Anggi. Bagaimanapun Anggi tidak pernah bersalah, yang bersalah itu adalah ayahnya, lantas mengapa dia harus dilibatkan.


Lamanya Pak Hen berpikir, dia juga tidak bisa mengkhianati misinya ini.

__ADS_1


Ting...


Bunyi Hp menghalau lamunannya.


Pak Hen bergegas merogoh ke dalam saku celananya memeriksa seseorang yang mengirimkan pesan.


"Bus 13025, Target sudah masuk ke dalam Bus pastikan dia tidak selamat. Target akan mengalami kecelakaan pada lintasan di km 2 dari rumah menuju sekolah. Kode rumah sakit dan segalanya sudah disiapkan." Matanya melotot melihat isi pesan yang baru saja masuk ke dalam hp nya.


Siapa lagi jika itu adalah tentang Anggi. Pak Hen cepat berlari terburu-buru ke luar dari ruangan. Entah sebuah kecelakaan apa yang akan terjadi, namun pastinya itu akan cukup fatal membuat Anggi meninggal atau koma.


Beberapa pasang mata melihat ke arah Pak Hen yang tampak terburu-buru pergi ke arah garasi mobil. Tak lama Pak Hen pergi dengan mobil biasanya.


"Siapa yang pergi keluar barusan?" Tanya Pak Rendra ayahnya Anggi. Ketika mendengar deru mesin mobil Pak Rendra segera mencari ke arah teras rumah. Dia melihat mobil supir anaknya dan pikirnya mungkin Anggi kembali ke sekolah.


"Pak Hen yang pergi." Jawab salah satu pengawal yang berjaga di luar rumah. "Tu-" Kata-katanya terhenti karena Pal Rendra sudah masuk kembali ke dalam rumah.


Selang 5 menit tiba-tiba Pak Rendra tampak keluar dari ruangannya dengan wajah yang panik.


"Silahkan tuan!" Ucap salah seorang pengawal itu. Kemudian Pak Rendra masuk ke dalam mobil. Dia sangat syok bahkan tampak tangannya gemetar.


"Hubungi Pak Hen sekarang! Katakan untuk pergi ke rumah sakit****" Ucapnya memberitahu.


Seorang pengawal langsung menelpon.


"Pak Hen sudah di rumah sakit, katanya dia juga mengalami kecelakaan." Jelasnya memberikan laporan.


"Apa yang terjadi?" Ucapnya dan kembali duduk bersandar ke kursi. Beberapa kali dia berusaha mengatur napas, di usianya yang sekarang dengan kabar yang mengejutkan seperti itu bisa cukup fatal.


Tak lama dalam perjalanan mobil Pak Rendra sudah terparkir di rumah sakit. Namun kondisinya kini Pak Rendra tidak bisa berjalan normal, kakinya lemas. Hingga seorang perawat juga membawakan kursi roda untuk membantu Pak Rendra bisa masuk ke rumah sakit sekalian harus menjalani pemeriksaan medis.


****

__ADS_1


"Tidak! Jangan bawa anak saya ke ruangan itu. Kau bawa saja dia ke ruangan biasa, saya mohon karena saya adalah walinya." Ucap Pak Hen pada salah seorang dokter di sana.


"Tolong, saya juga harus berjaga untuknya bawa saya ke ruangannya juga!" Pintanya memohon.


Dokter dan perawat tampak saling pandang satu sama lain, mereka cukup bingung.


Pak Hen segera menyerahkan dompet yang dia bawa, memperlihatkan tanda identitasnya itu.


"Baik, kau boleh masuk." Ucap dokter itu.


"Suster!" Panggil Pak Hen.


Seorang suster datang menghampirinya. "Tolong jangan beritahu siapapun bahwa ada pasien kecelakaan bus di rumah sakit ini. Ku mohon!" Ucap Pak Hen. Suster itu sangat bingung mengapa seperti itu. Namun ketika dokter menatapnya dia langsung menyetujui permintaan Pak Hen.


Segera Anggi yang pingsan dibawa ke salah satu ruangan kelas 3, meski di sana bukan VIP namun Pak Hen harus melakukannya untuk keselamatan Anggi.


"Kau sengaja membawa anak itu ke rumah sakit ini, kenapa tidak lebih baik dibawa ke rumah sakit besar saja bukannya anak ini dari keluarga yang cukup terpandang." Komentar dokternya pada Pak Hen. Dari caranya bicara tampak keduanya sudah akrab.


"Selamatkan saja anak itu. Aku tidak bisa menceritakan semuanya, mulai sekarang aku akan membawa anak itu bersama ku, dan biarkan keluarganya tidak tahu." Ucap Pak Hen yang duduk di samping Anggi.


"Lukanya tidak terlalu parah, anak ini pingsan karena syok, mungkin ada sedikit benturan biar aku pastikan ada pemeriksaan lanjutannya." Dokter menjelaskan kondisi Anggi.


"Ngomong-ngomong kau seperti sedang menghindari seseorang. Ada masalah apa? Ceritakan!" Pasangan pada Pah Hen.


"Tidak semudah itu, kau lebih baik tidak tahu apapun." Pak Hen masih menyangkalnya.


"Apa yang kau katakan? Aku ini adikmu, kau masih egois dan tidak mau percaya pada ku?" Ucapnya cukup kesal.


"Jangan katakan seperti itu. Kau bukan adikku karena adikku sudah meninggal di saat usianya 5 tahun." Ucap Pak Hen. "Berhati-hatilah, dan urus salah satu perawat tadi sepertinya dia akan bicara tentang Anggi. Aku tak ingin semuanya ada dalam bahaya." Ucap Pak Hen memohon sesuatu lagi.


"Asalkan kau baik-baik saja dan selamat itu sudah cukup! Terserah saja jika itu memang penting. Tapi tolong, kau harus memperhatikan keselamatan mu juga!"

__ADS_1


Reuni keluarga yang sudah lama tidak bertemu, Pak Hen melihat adiknya dengan mata berkaca-kaca. Setidaknya mereka harus hidup terpisah agar bisa selamat.


__ADS_2