Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Kau benar-benar kebalikan Pak Han.


__ADS_3

Sepanjang jalan Anggi hanya diam saja duduk di kursi penumpang, sedangkan pikirannya terus berpaling pada Fika. Melihat Edo seperti tadi membuat dia tidak bisa menebaknya, rasanya Edo memiliki sebuah rencana.


" Apa kau perlu pergi lagi ke suatu tempat?" Tawar dokter itu yang kini menjadi supir pribadi Anggi.


"Sudah satu Minggu, ayo kita lihat Pak Han." Ajak Anggi.


Dokter tampak terdiam, itu artinya mereka akan pergi ke pemakaman. Padahal dia belum bisa melupakan kesedihannya tapi Anggi selalu mengingatkan dia dengan datang ke pemakaman.


"Kau keberatan pergi ke sana?" Tanya Anggi.


"Tidak. Ayo kita pergi sekarang!" Serunya memperlihatkan antusias yang sama pada Anggi.


"Aku sangat rindu Pak Han." Ucap Anggi, dilihat dari wajahnya dia benar-benar merindukan sosok Pak Han.


Dokter hanya diam saja.


"Apa kau benar-benar adiknya? Kenapa hanya diam saja?" Anggi penasaran.


"Lupakan saja." Terlihat sekilas dia menyeka air matanya.


"Sudah sampai!" Tak lama kurang lebih membutuhkan 10 menit perjalanan.


Anggi menoleh ke arah kaca mobil, dia melihat gapura dan gerbang pemakaman keluarganya.


"Ayo kita akan menemui Pak Han!" Serunya lagi sambil keluar dari mobil.


Tampak lemah, bagi adik yang tidak menghabiskan waktu banyak dengan kakaknya. Sudah tidak memiliki keluarga yang utuh, dan terpaksa harus terpisah karena sesuatu hal.


Satu persatu ingatan masalalu seolah diputar lagi dalam memori otaknya, bagaimana dalam waktu yang singkat dia sebagai adik bisa menghabiskan waktu.

__ADS_1


Langkah demi langkah kedua kaki itu melewati beberapa pemakaman di sana, semuanya adalah keluarga dari ayahnya Anggi yang dimakamkan di sana, kecuali Ibunya Anggi sengaja tidak dimakamkan di sana. Akhirnya dokter dan Anggi sudah sampai di pemakaman Pak Han. Anggi tampak tersenyum, andai saja Pak Han masih ada dia pasti sudah melihatnya berubah, Anggi tidak akan lagi menutup diri, tidak sebelum sesuatu itu pergi tanpa permisi.


Anggi duduk di samping makam, dia hanya diam dan tak mengatakan apapun.


"Adikmu bersama ku, seperti apa yang kau mau untuk terakhir kalinya. Dia akan pergi bersama ku kemanapun." Ucap Anggi membuat dokter yang mendengarkannya langsung menangis.


"Seharusnya kau tidak mengorbankan segalanya, aku pasti bahagia berkumpul dengan keluarga mu yang tidak pernah kau kenalkan. Semoga kau beristirahat dengan tenang Pak Han." Setelah mengatakannya Anggi kembali berdiri di samping dokter.


"Cepat katakan sesuatu!" Perintah Anggi saat itu.


Untuk pertama kalinya dia berbicara sedekat ini, semaunya dan kapanpun itu tidak akan lagi membuat Kakaknya merasa khawatir.


Dokter perlahan duduk, perlu beberapa menit menahan kembali tangisannya hingga dia bisa bicara juga.


"Dengarkan. Sekarang kau tak akan melarang ku lagi untuk menemui mu, aku beruntung karena bisa menemui mu kapan saja. Sekarang aku beruntung." Ucapnya kemudian tangisan itu kembali pecah.


Anggi diam saja, meski hatinya lebih sakit dari siapapun. Sudah seperti ayah dan Ibunya, Pak Han orang yang merawatnya sejak kecil dan dia tidak akan pernah bisa menggantikannya.


"Kau baik-baik saja?" Ucap Anggi pada dokter.


"Kau belum mengatakan nama mu, aku ingin tahu." Lanjutnya lagi.


Jika dipikirkan lagi memang benar, semenjak keduanya bertemu dokter belum pernah mengatakan namanya.


"Panggil saja aku Fandi, Kak Han selalu memanggil ku seperti itu." Ucapnya.


"Baiklah. Kau harus bisa seperti kak Han, setidaknya kau sebaik dia, dan dia selalu lebih banyak bicara biasanya, tapi kau lebih banyak diam." Sindir Anggi.


Fandi segera melihat ke arah Anggi, tak menyangka sekali jika semua waktu yang dihabiskan kakaknya itu bersama anak yang kini akan selalu dia jaga. Tidak ada alasan untuk melakukannya, karena semua terasa tidak ada tujuan lagi setelah kakaknya meninggal.

__ADS_1


"Kau tidak marah padaku?" Anggi masih terus bicara dan akhirnya dia memilih duduk di samping kursi yang ada di sekitar pemakaman itu.


Fandi duduk di sampingnya, terlihat menghela napas. "Aku tidak percaya, kakak ku menghabiskan waktu yang sangat banyak dengan mu, dia tidak selalu banyak waktu untuk menemui ku. Kak Han hanya tahu mengirimi ku uang dan menyekolahkan ku hingga kuliah kedokteran. Tapi dia benar-benar tidak bisa menghabiskan waktunya meski hanya satu hari saja." Tampak jujur, Fandi mengatakan semua itu dengan santai seolah dia tidak ingin lagi memperdebatkannya meski dulu itu adalah sesuatu yang dia benci.


"Pak Han sangat ingin melihatmu sukses, tanpa memiliki tanggung jawab untuk seseorang. Kau sangat beruntung memiliki kakak sepertinya." Anggi membicarakan sisi baik yang dia lihat dari tindakan Pak Han.


"Tapi akhirnya dia memintaku untuk menemani mu, bukan lagi menjadi seorang dokter." Sambil sedikit tertawa Fandi menjelaskannya. Tapi hatinya yang paling dalam tidak bisa menerima hak itu, andaikan dia tahu akhirnya akan seperti ini lebih baik dia tidak pernah menjadi seorang dokter.


"Mungkin karena Pak Han tahu jika kita adalah orang yang kesepian, sama-sama tidak memiliki siapapun lagi." Terdengar sedikit menyedihkan ketika Anggi menjelaskannya sampai sana.


Fandi hanya bisa menghela napas, namun dia masih tidak bisa tenang. Tentang kata-kata kakaknya itu membuat dia mungkin bisa frustasi. Bayangkan saja, dimana pun nanti seseorang akan berusaha saling berlomba untuk mencelakai Anggi. Dan sangat disayangkan mengapa dia harus melindunginya seperti yang dilakukan kakaknya itu.


"Kita pulang saja sekarang?" Tanya Anggi menghalau pikiran Fandi.


"Baiklah ayo kita pulang."


Mungkin butuh beberapa hal lagi, selain saling berbicara, apalagi yang bisa dilakukan agar Anggi merasa nyaman dengan adiknya Pak Han. Anggi kadang berpikir merasa dia yang kini harus menjaga adiknya Pak Han, kadang Anggi juga merasa terlalu banyak bicara dibanding dirinya, dia benar-benar menjadi bawel dan banyak bertanya, selain itu Adiknya Pak Han gak hanya ketakutan tapi dia tidak bisa beradaptasi di rumahnya sendiri, tidak ada yang bisa dipercayainya.


"Kau sedang melamun apa?" Fandi tiba-tiba bertanya.


"Tidak ada." Jawab Anggi singkat.


"Bagaimana jika besok tidak menjemput ku lagi. Biasanya Pak Han hanya selalu menjemput jika diminta." Ucap Anggi.


Fandi tidak langsung menjawab, seperti yang sudah ditebak saat itu sikap Fandi masih menunjukkan jika ia ketakutan.


"Kau bisa berguna di rumah, cobalah berbaur dengan yang lain." Saking kesalnya Anggi benar-benar meminta agar dia tidak selalu diikuti lagi dengan terus terang.


"Jika kau mengikuti ku terus, kau tidak akan mendapatkan kepercayaan ayah." Anggi masih terus bicara tentang apa yang harusnya dikerjakan Fandi.

__ADS_1


"Aku tidak bisa pergi kemanapun. Selain itu aku bukan seorang dokter lagi jadi tidak mungkin aku pergi ke tempat lain. Dan di rumah, aku akan bosan karena tidak ada pekerjaan jadi aku merasa lebih berguna jika terus menjadi pengawal mu kemanapun." Tampak basa-basi, tapi tidak memuaskan untuk Anggi. Bagaimana dia menjadi pengawalnya dan penjaganya jika dia yang paling ketakutan.


__ADS_2