Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Minggu pagi bagi Yunita


__ADS_3

Juni 2014


Minggu pagi yang menyenangkan bagi orang-orang yang sudah bekerja ataupun anak-anak yang bersekolah. Hari libur ini harusnya dimanfaatkan dengan cara yang baik, sebaik-baiknya bagi Yunita semua hari adalah sama.


"Yun cuci bajunya sekarang!" Teriak bibinya dari arah dapur.


"Yun tolong belikan garam di warung, sekaligus kerupuk dan beberapa mie." Belum sempat Yunita bergegas ke arah dapur untuk mencuci pakaian namun Bibinya kembali memberinya tugas lain.


"Baik bi." Jawabnya malas.


"Yun coba lihat nenek, sudah makan obatnya belum." Yunita menghela napas kembali setelah mendengarkan kali ke 3 yang harus dilakukannya.


Langkah gontai nya berjalan ke arah kamar nenek, pelan-pelan dia buka pintu hingga hanya menyisakan sedikit jeda yang tampak cukup baginya untuk memastikan keadaan nenek. Dengan penglihatannya sekarang Yunita memastikan jika nenek masih tertidur sedangkan obat yang disediakan sejak subuh belum juga diminum.


Yunita segera bergegas ke dapur untuk memberitahu Bibi keadaan Nenek.


"Mana garam nya Yun?" Tiba-tiba bibinya bertanya. Yunita terkejut karena dia belum sempat ke warung.


"Aku pergi ke warung dulu!" Serunya terburu-buru sambil berlari ke pintu.


Bibinya hanya sekilas melihat Yunita pergi, dia fokus mengerjakan pekerjaannya saat itu yaitu memasak.


"Astaga, Ibu." Gumamnya. Sesegera mungkin dia pergi ke kamar Ibunya yang tak lain adalah nenek dari Yunita.


"Yunita tidak membangunkan ibu juga, padahal tadi sudah ku minta untuk memastikan Ibu sudah meminum obat." Gumamnya merasa kesal karena Yunita.


Segera dia membangunkan Ibu, memberinya beberapa kapsul obat yang harus diminum sebelum makan.

__ADS_1


"Bibi!" Panggil Yunita. Mendengar suara Yunita dia segera bergegas keluar kamar.


"Kamu sengaja ya mau membuat nenek mu itu semakin sakit parah? Kenapa obatnya belum diminumkan juga? Kamu lihat sekarang sudah jam berapa?" Bentak bibinya dengan nada marah.


Tanpa mengatakan apapun Yunita yang sedang berdiri hanya bisa meremas keras bajunya. Dia tidak bersalah, dia sudah menjalankan apa yang diminta bibinya.


"Bisa apa sih kamu? Aku sudah membesarkan mu dengan susah payah, dia juga nenek kamu sendiri. Bisa tidak kamu tidak seperti kakak, sedikit peduli dan membantu hal kecil seperti ini?" Makian yang sama dan selalu didengarnya ketika dia berada di dalam rumah.


Yunita hanya menundukkan wajah, sebenarnya apa yang salah, dia terlalu banyak menerima perintah di rumah. Lebih dari seorang pembantu rumah.


"Cepat cuci bajunya! Diam aja dari tadi dasar pemalas." Hardik bibinya yang masih memakai Yunita saat itu. Bahkan mungkin itu tak cukup.


"Orang-orang di rumah bisanya malas-malasan terus. Aku yang capek, aku yang cari uang, semua aku kerjakan sendirian." Terdengar lagi bibinya yang masih mengoceh. Yunita selalu sabar bagaimanapun semarah apapun, dia mungkin tidak bisa merasakan beban yang ditanggung oleh bibinya selama ini. Harus membesarkannya, membiarkan dia sekolah, makan, membeli pakaian, dan uang jajan. Padahal bibi belum menikah mungkin karena hidupnya terlalu banyak dihabiskan untuk mengurus keluarga. Rasanya Yunita hanya perlu bersabar dan bersyukur, semarah apapun bibi dengan kata-katanya yang tidak bisa diterima, tapi itu bukan apa-apa.


Yunita melanjutkan mencuci baju, dia sudah membawa semua baju yang ada di kamarnya, kamar bibi, dan kamar nenek.


Ketika tiba di kamar mandi ternyata cucian piring dan lainnya sudah menumpuk menanti. Nampak sekali wajah murung Yunita saat itu. Dia terlalu lelah untuk mengerjakan semua sendirian, namun tidak ada kata menolak dia tidak bisa seperti itu.


"Tunggu!" Ucapnya lagi pada Yunita. "Sekalian simpankan di meja makan ya!" Yunita hanya menganggukkan kepala menunggu sampai bibi sudah menuangkan semua sayur ke dalam mangkuk.


Yunita bergegas ke arah meja makan menyimpan sayuran yang di masak bibi.


"Yun, lihat nasinya sudah matang belum? Kalau sudah angkat saja dan masukkan ke dalam wadah nasi lalu simpan di meja makan." Ucap lagi bibinya.


Yunita sedikit jengkel namun dia tidak bisa mengatakan apapun. Sedetikpun mungkin bibinya tak membiarkan dia diam untuk melakukan satu-satu pekerjaan sampai selesai. Pasti akhirnya dia akan dimarahi karena pekerjaan yang tidak beres.


Setelah nasi dan sayur sudah dihidangkan di atas meja makan Yunita kembali bergegas ke arah kamar mandi dia bermaksud untuk membereskan pekerjaan yang tertunda di sana.

__ADS_1


"Astaga. Apa yang kamu lakukan Yun dari tadi? Piring belum dicuci, baju masih di dalam ember. Kamu ngapain aja sampai gak ada yang beres gini." Lagi-lagi bibi nya mengomel. Yunita hanya bisa menghela napas dan menghirupnya dalam-dalam. Dia butuh sabar yang lebih banyak.


Yunita berdiri di pintu kamar mandi.


"Nyuci gini aja kamu lelet. Kalau pekerjaan tuh jangan ditinggal tapi bereskan satu-satu. Kamu paham gak Yun?" Bibinya masih mengomel hebat.


"Ngapain kamu masih berdiri saja?" Bentak Bibinya sampai Yunita terperanjat kaget mendengarnya suara yang mengancam batin saat itu.


Yunita buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


"Cepat bereskan! Kamu gak bisa makan dulu kalau semuanya belum beres." Ancam bibinya mungkin karena ingin melihat Yunita membereskan semua pekerjaan terlebih dulu.


Yunita segera membilas semua baju yang ada di dalam ember sebelum dimasukkan ke dalam mesin cuci. Dia juga menyortir kembali baju yang harus dimasukkan ke dalam mesin cuci dan juga baju yang harus dicuci dengan tangan.


Tak pernah sekalipun Yunita marah ketika mengerjakan sesuatu yang berat baginya, pekerjaan yang banyak di rumah, atau bosan karena Omelan bibi. Seperti yang selalu dia katakan dalam hati, hal seperti ini masih tidak ada apa-apanya, tidak sebanding dengan pekerjaan dan beban yang bibi tanggung, semua pengorbanan bibi untuk keluarga.


Yunita masih anteng membilas cucian dengan hati-hati.


"Yun, makan dulu yuk! Kamu nyuci itu semua butuh tenaga. Makan sama nenek ya!" Tiba-tiba suara nenek terdengar.


Yunita menoleh dan melihat neneknya yang sudah sepuh itu mungkin sengaja jalan ke kamar mandi, padahal nenek cukup kesusahan untuk berjalan.


"Nenek malah kesini, jangan banyak jalan nanti lututnya sakit lagi." Yunita dengan cemas segera menghampiri nenek, kembali memapah nenek sampai duduk di kursi.


Bibi duduk di samping dan hanya diam saja melihat pemandangan itu. "Yun makan." Ajaknya cuek.


"Nanti bi, Yunita gak biasa makan terlalu pagi jadi gak enak. Mending Yuni beresin dulu pekerjaan di kamar mandi." Jawab Yunita.

__ADS_1


"Kamu ini, udah nenek bilang makan dulu. Masa kamu kuat beresin itu semua?" Timpalnya tampak cemas.


"Nek, tadi Yuni udah makan beberapa kue dari dalam kulkas. Nenek makan dulu ya sama bibi sekarang." Jawab Yunita tak ingin membiarkan neneknya khawatir. Padahal itu hanya karangan sementara namun bibinya langsung melihat Yunita curiga. Buru-buru bibinya pergi dan melihat ke dalam kulkas, ternyata kue miliknya masih utuh.


__ADS_2