
Sambil memandnagi langit-langit kelas. Semua siswa duduk di kursinya masing-masing dan perhatian mereka fokus pada pembelajaran yang berlangsung, kecuali Fika dari tadi dia terus menahan dirinya agar tetap di kelas. Fika sangat kesulitan namun dia tidak bisa seperti biasa bercerita pada Yunita, jangankan untuk bercerita dekat dengan Yunita saja sudah tidak mungkin untuknya.
Fika terus menundukkan wajah, pandangannya benar-benar kosong, dia sangat tertekan dari setiap perkataan Edo terus terngiang di pikirannya, apalagi dia baru kelas XI SMA butuh satu tahun hingga lulus sekolah, bukan hanya itu dia juga harus berjuang untuk kehidupannya dan ibunya juga.
Kali ini bukan lagi tentang Anggi, Fika benar-benar merasa frustasi karena kehidupannya sendiri, dia tidak mau jika Edo melakukan sesuatu di luar nalarnya.
Tiba-tiba bel berbunyi, akhirnya napas Fika sedikit lega, ketika melihat ke arah buku kosong di depannya Fika terlihat cuek saja meskipun sepanjang kelas berjalan dia tidak mengikutinya dengan baik.
Fika berjalan ke arah pintu, ketika mendongak matanya langsung menangkap Edo berdiri di sana, hatinya benar-benar ketakutan saat itu, tapi dia tidak bisa menghentikan langkah kakinya apalagi harus mundur kembali.
"Fik, antar aku ke guru ya sekarang!" Sebuah suara menyelamatkan, Fika melihat Yunita berdiri di hadapannya sambil menarik lengannya saat itu. Tidak peduli jika Edo langsung melotot ke arahnya dengan kesal, Yunita tahu meski hanya sekilas dia bisa membayangkan bagaimana sikap Edo ketika melihatnya seperti itu. Begitupun dengan Fika yang langsung panik dan matanya benar-benar tidak bisa lepas dari sosok Edo. Yunita tidak peduli, dia hanya peduli dengan temannya dan kali ini perasaannya sudah memberitahu dia sesuatu yang disembunyikan Fika.
"Udahlah Fik, jangan panik." Yunita membuyarkan pikiran Fika yang dikuasai oleh rasa takutnya saat itu.
Fika balas menatapnya, kali ini binar mata Fika sudah menjelaskan bagaimana keadaan dia yang sebenarnya.
Yunita yang selalu bisa menebak orang lain, apalagi Fika itu hanya hal enteng untuknya. Yunita segera membawa Fika menjauh setidaknya dia butuh keramaian agar Edo tidak berani datang padanya bagaimanapun caranya itu.
Karena jam istirahat tempat yang paling ramai adalah kantin sekolah, Yunita dan Fika memutuskan pergi ke sana.
Fika dan Yunita sudah duduk di salah satu meja kantin, keduanya memang masih saling diam dan Fika yang paling tidak biasanya.
Yunita tidak bicara karena situasi yang ramai membuat dia tidak akan mudah untuk mengobrol. Karena alasan itu Yunita mengeluarkan hp nya dan mengetik sesuatu.
"Fik, minta nomor hp mu." Tulisnya lalu dia berikan pada Fika agar dibaca.
Fika membulatkan mata memperlihatkan lagi ketakutan yang sama dari matanya itu. Yunita menghela napas dia tidak akan memaksa pastinya.
__ADS_1
Tapi tanpa diduga ternyata Fika menuliskan sesuatu di hp Yunita.
Yunita menerima kembali hp nya itu. "08231***** Tolong jangan beri tahu siapapun." Ejanya dalam hati.
Yunita melihat ke arah Fika, kini dia bisa membayangkan sesuatu dari sorot matanya itu. Yunita memiliki keyakinan yang kuat, meski hanya melihat dan mengamati saja tapi perasaannya selalu menyimpulkan kebenaran yang terjadi.
"Fik, pindah rumah ya. Aku mau minta tolong sama Anggi." Yunita mengetik tulisan itu di hp nya lagi. Namun ketika tangannya akan kembali memberikan hp itu ke Fika, tampak salah satu tangan lelaki lebih dulu memegang lengan Fika.
"Fika mau pergi dengan ku, kamu tidak keberatan kan?" Ucap Edo pada Yunita.
Yunita tak percaya jika Edo sangat memberanikan diri bahkan dari tatapan matanya dia tampak asing, Edo membuatnya takut sampai tidak bisa berkata-kata.
Fika terpaksa berdiri, tangannya gemetar takut saat itu. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Tidak ada, dia hanya bisa menurut dan bungkam.
Fika pergi bersama Edo, entah kemana mereka pergi namun saat itu Yunita benar-benar tidak bisa menghentikannya meskipun dia merasa ada sesuatu yang tidak baik dibalik niat Edo bersama Fika.
Sosok Anggi langsung muncul di dalam pikirannya. Yunita hanya bisa membayangkan Anggi dan memang hanya dia yang bisa membantu masalahnya. Yunita terburu-buru mengirimi Anggi sebuah pesan penting, dia sangat khawatir dan tidak bisa menghentikan pikirannya.
"Fika dibawa sama Edo, dia ketakutan setengah mati tapi aku belum tahu karena apa." Tulis Yunita yang tanpa dibacanya lagi. Tapi tak lama Yunita merasa tidak perlu melibatkan Anggi, dia segera membuka oesannya lagi dan menghapusnya.
"Kau masih di sekolah? Aku akan pergi kesana." Tapi Anggi sudah terlanjur membaca isi pesannya dan dia juga sudah mengirimkan balasan.
Yunita tampak bingung, dia sudah terlanjur melakukannya.
Tiiingg ....
Suara bel sekolah berbunyi menandakan jika sekarang sudah saatnya jam masuk sekolah.
__ADS_1
Yunita terpaksa harus kembali masuk ke kelas, tapi itu baik karena Fika pasti secepatnya sudah kembali ke kelas kan.
Tak lama Yunita sudah kembali ke kelas, satu persatu siswa lain masuk ke dalam kelas, hingga dia orang yang tidak ada di tempat duduknya. Yunita sangat khawatir karena Fika tidak kunjung datang begitupun Edo. Apa yang mereka lakukan? dan sedang dimanakah Fika?
Yunita sangat tidak tenang, entah kemana perginya mereka berdua.
Namun tak lama seorang guru sudah datang ke kelas dan menandakan tidak ada harapan bagi Yunita untuk mencari dulu di luar sekolah, dia yakin jika Fika masih berada di sekitar sekolah namun dia tidak tahu ada dimana.
Pembelajaran dimulai, Yunita terus menatap ke arah tempat duduk Fika yang tidak memperlihatkan dia. Tiba-tiba tak lama muncul guru piket ke kelas, entah apa artinya tapi Yunita bisa langsung menebak jika guru piket. memberitahukan alasan Fika dan Edo tidak ada di kelas.
"Karena Edo izin untuk pulang jadi hari ini yang menyiapkan praktiknya oleh wakil ketua kelas saja ya." Ucap Bu Farida.
Yunita mengacungkan tangan. "Bu, Edo kemana?" Tanyanya. Meski semua orang langsung melihatnya tapi dia tidak peduli.
"Oh, ia. Edo tidak bisa mengikuti pembelajaran karena dia mengantar Fika untuk membawa ibunya ke rumah sakit, tadi katanya Ibu Fika tiba-tiba sakit karena tidak ada keluarga lagi jadi Edo mengajukan diri untuk membantu." Jelasnya.
Yunita terdiam dia tidak bisa bertanya apapun lagi, hatinya benar-benar tidak yakin jika Edo pergi karena ibunya Fika pasti ada sesuatu hal yang lain.
Tak lama setelah mendapatkan penjelasan dari guru siswa lain sudah bersiap pergi ke ruangan lab. Tapi di waktu yang bersamaan muncul Anggi, dia duduk di kursi roda bersama walinya.
"Oh, Anggi kan?" Sapa Bu Farida.
Mendengarkan nama Anggi disebut Yunita langsung menoleh dan menatapnya. Kebetulan Anggi juga sedang melihat ke arahnya. Tidak menunda waktu Yunita segera memberitahu Anggi dengan sebuah isyarat jika Fika tidak ada di sekolah.
"Maafkan Anggi Bu, Anggi baru mengalami kecelakaan jadi tidak bisa masuk ke sekolah. Sebenarnya saya mengantar dia untuk sekalian izin tidak masuk sekolah." Ucap Fandi saat itu mewakili walinya sambil menyerahkan rekam medis yang didapat dari rumah sakit.
"Bu saya izin bicara sama Yunita sebentar." Ucap Anggi.
__ADS_1
Sebelum mengizinkan Anggi sudah menggerakkan kursi rodanya ke arah Yunita.