
"Anggi nelpon Fik?" Tanya Yunita setelah Fika menyimpan kembali hp nya.
"Ia Yun." Jawab Fika.
"Ngomong-ngomong terimakasih ya."Namun Fika kemudian tampak menangis saat itu, Fika juga memeluk Yunita.
Yunita merasa bingung, Fika tidak sampai menangis seperti ini kecuali dia benar-benar ada dalam kesulitan.
ketika mata Yunita melihat Fika yang masih menangis dia langsung teringat dengan gosip itu, tentu saja Yunita menunggunya dan seharusnya Fika berbicara dengan tegas tentang gosipnya itu, dia tidak mungkin melakukan hal seperti yang diberitakan.
Ketika Yunita ingin bicara, hampir saja mulutnya mengatakan sesuatu tapi bayangan Anggi langsung membuatnya diam lagi, apa yang dikatakan Anggi tentang Fika, dia memintanya untuk tidak bertanya apapun dulu kan.
"Fik. Kamu sekarang balik lagi kan ke rumah Anggi? Maaf sebelumnya, aku jadi gak enak gini gak bisa nemenin kamu. Untuk sementara saja kamu gak apa-apa kan?" Yunita menjelaskan langsung jika dia tidak bisa menemani Fika di rumah Anggi.
"Tenang saja, itu tidak apa-apa. Sebentar lagi sampai di gang salam untuk bibi ya!" Seru Fika berbicara seperti biasanya.
Sekilas tidak terlihat ada masalah di wajah Fika, ketika Yunita berbicara Fika juga sudah berangsur biasa lagi, tidak seperti tadi dia sangat tertekan. Beruntung sekali Fika bisa mengendalikan diri lagi.
"Yun!" Panggil Fika saat Yunita turun dari mobil.
Yunita segera menoleh menatap Fika, tapi beberpaa saat Fika belum bicara apapun.
"Kenapa Fik?" Tanya Yunita.
"Tidak ada. Aku pergi lagi ya!" Pamit Fika, sambil tersenyum beberapa saat kemudian pintu mobil tertutup lagi. Setelah mobil pergi Yunita masih terus melihatnya hingga mobil tidak lagi nampak.
__ADS_1
Kali ini bayangan Fika terasa nyata, terakhir. kali dari tatapannya Yunita melihat Fika seperti menahan kata-katanya, entah apa.
Yunita merogoh hp di dalam saku tas nya, tapi sayang karena lowbat dia tidak bisa menghubungi Anggi.
Buru-buru Yunita berjalan menuju rumah, harusnya bibi belum pulang dan jangan sampai bibi datang ke rumah sebelum dia tiba.
Sejak nenek meninggal bisa dikatakan Yunita tidak memiliki tempat lagi untuk mengadu, orang satu-satunya yang selalu membela sudah tiasa, sedangkan Bibi sejak hari itu dia masih tidak bicara apapun. Entah berarti apa tapi Yunita tidak berani bertanya apapun sampai sekarang, keduanya saling terdiam meski tinggal di tempat yang sama. Tapi meskipun hubungan itu belum pulih kembali bibi masih tetap menunaikan segala sesuatu kebutuhan di rumah, terutama kebutuhan Yunita. Hanya sebatas itu saja dia sudah bersyukur dan percaya jika ada saatnya nanti semuanya akan kembali baik-baik saja.
Setibanya di depan pintu Yunita tampak terdiam beberapa saat, dia seperti sedang memikirkan sesuatu dan menyiapkan mentalnya. Ketika pintu didorong beruntung sekali masih dalam keadaan terkunci, artinya bibi belum pulang ke rumah. Ada rona senang yang terlukis, artinya dia memiliki waktu untuk menyiapkan malam kali ini.
Sebelum pergi memasak Yunita mengganti pakaian terlebih dulu kemudian selanjutnya dia akan fokus memasak untuk bibi, berharap kali ini bibi akan memakan masakannya.
****
Kemudian tampak hp yang memperlihatkan video panggilan dengan seseorang masih berlangsung.
Fika menundukkan kepala dia tidak bicara apapun lagi bahkan dia tidak menoleh ke arah orang yang saat itu menelponnya.
"Fika, kau ingin kembali ke rumah Anggi lagi?" Terdengar suara yang tidak asing.
Fika masih tidak menjawab, kali ini raut wajahnya benar-benar berubah cuek. Karena Fika terus diam saja supir itu menoleh ke arahnya dan menghentikan mobil.
"Turun!" Ucapnya membuat Fika langsung takut.
Fika melihat ke sekeliling tempat dari balik kaca mobil. Dia hanya melihat tempat asing yang tidak sedikitpun membuat keberanian untuknya keluar dari mobil. Tapi, hatinya menolak untuk terus diam dan mendengarkan perkataan Edo.
__ADS_1
Edo terdiam saja tak peduli menatap Fika dalam kesulitan.
Tak disangka dengan sedikit ego yang sudah membuat Fika menarik pintu mobil hingga terbuka. Saat dia akan turun dari mobil tapi tiba-tiba mobil langsung melaju dan Fika kehilangan keseimbangannya hingga dia terjatuh keluar mobil sampai beberapa kali terguling.
Mobil berhenti lagi kemudian bergerak lamban mundur ke belakang.
Fika sangat kesakitan, dia harus terbentur dengan aspal jalan, bahkan luka lecet di telapak tangannya membuat dia cukup merasakan pedih yang tidak bisa ditahan hingga dia harus menangis.
Fika berusaha kembali duduk meski seluruh tubuhnya terasa remuk seketika. Saat menoleh dia melihat mobil yang sedang melaju mundur ke arahnya. Dia tampak syok apalagi tiba-tiba kecepatan mobil berubah sampai akhirnya Fika bersusah payah dan spontan menghindar agar tidak tertabrak.
Tepat sekali mobil berhenti sejengkal di tempatnya tadi. Fika sangat ketakutan dan tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia masih duduk di tempat itu, bisa saja kakinya tergilas ban mobil atau tubuhnya tertabrak.
Napasnya masih naik turun, dia sangat syok tapi tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa menangis saja. Kemudian supir tadi turun datang menghampiri, entah apa yang akan terjadi pada dirinya lagi Fika berharap tidak lebih dari ini.
Supir itu tidak mengatakan apapun dia langsung menarik lengan Fika dan membuatnya langsung berdiri. Seketika tubuhnya diseret untuk kembali masuk ke dalam mobil. Tidak ada perlawanan apapun, Fika tidak memiliki lagi tenaga untuk melawan meski sekedar dengan kata-katanya. Dia menurut saja sampai masuk ke dalam mobil.
Supir kembali menunjukkan hp yang masih terhubung dengan panggilan video. Terlihat Edo yang masih memastikan keberadaan Fika di mobil. Supir menyimpan hp itu lagi ke tempat semula.
Fika hanya bisa menangis, dia tidak bisa melawan bahkan untuk bertahan pun tidak mungkin untuknya, jika bisa dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Edo. Tapi bagaimana caranya?
Sejak Fika kembali bersama Anggi pulang ke ruang ya Edo ternyata terus menghubunginya dan mengiriminya pesan, mengancamnya dengan beberapa hal, itu membuatnya tidak bisa menolak.
Fika pikir dia akan baik-baik saja, kehidupannya akan kembali seperti yang diantarkan anggi dan Yunita, namun itu nyata ya tidak berakhir, bahkan sekarang dia tidak berani muncul di hadapan Anggi tapi Edo memaksanya untuk pergi ke sana. Bukan tanpa alasan, Fika sangat malu dengan gosip yang sudah menyebar luas di sekolah, dia tidak tahu apakah masih bisa melanjutkan sekolah atau tidak? Dia pikir rasanya tidak mungkin lagi, lalu dia benar-benar akan putus sekolah? Lantas selamanya akan menjadi budak di tangan Edo?
Mimpi buruk yang tidak pernah usai untuknya. Mengapa Fika tidak bisa sedikit saja melawan atau menolak Edo.
__ADS_1