Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Kebetulan dan kebenaran yang nampak


__ADS_3

"Kau ternyata berprestasi sekali, aku jadi bersemangat dan sangat senang di dalam sana." Puji Fandi kepada Anggi ketika keduanya sudah ada di luar ruangan tadi.


"Ehem."


Ternyata ayahnya Anggi benar-benar datang. Fandi yang masih merasa bersalah karena kejadian tadi di sekolah, dia langsung mundur dan menunduk. "Maafkan saya Pak, tadi saya tidak terlalu memperhatikan karena mengantuk jadi saya membuat kesalahan." Ucap Fandi sebagai alasan. Sebenarnya itu bukan alasan namun kenyataan.


"Kau ternyata datang ke sekolah, ayah kira tidak akan datang dan ditemani oleh Pak dokter juga." Ucapnya pada Anggi.


"Oh ia, tadi ayah sebenarnya sekalian mengantar Edo kesini katanya ada rapat jadi sekalian ayah mewakili walinya dan juga orang tua kamu." Terdengar sebagai alasan atas kedatangannya ke sekolah.


"Tidak apa-apa. Terimakasih. Aku mau pulang dengan Kak Fandi, kami harus pergi ke suatu tempat." Ucap Anggi pamit.


"Oh, kalian mau pulang sekarang? Tapi sepertinya ayah akan menunggu Edo dulu, dia harus ayah antarkan pulang lagi." Ucapnya memberikan alasan secara tidak langsung.


"Aku pergi dulu." Anggi tidak memperdulikannya dan seperti biasa tidak mempermasalahkan hal sekecil itu.


Ketika Anggi berbalik dan melihat ke depan, suatu pemandangan di sana langsung membuat hatinya seketika muak. Edo datang ke hadapannya bersama Fika, tampak keduanya tadi bercanda bahkan Edo memegang tangan Fika dengan santai.


"Eh Anggi. Selamat ya kali ini kau ternyata serius belajar. Sampai berjumpa lagi nanti!" Ucap Edo yang masih tidak melepaskan tangan Fika.


Bahkan Anggi belum sempat menjawabnya, tapi Edo sudah pergi dengan cara seperti itu.


"Ayo pergi!" Kesadaran Anggi kemudian kembali setelah Fandi segera menariknya di sana untuk kembali ke mobil.


Anggi hanya terdiam di sepanjang jalan, di dalam mobil yang hanya ada dia dan Fandi. Benar sekali, harusnya dia tidak datang dengan Fandi ke sekolah mungkin tidak akan banyak kejadian yang membuat hatinya sesak.


"Apa kita tidak pergi dulu ke suatu tempat?" Fandi mulai bicara padanya.


"Kita pergi ke rumah teman ku." Anggi menjawabnya.


"Yang ada di komplek perumahan itu?" Fandi bertanya lagi untuk membenarkan.

__ADS_1


"Ia, kita pergi ke sana."


Akhirnya mobil melaju ke arah perumahan Yunita.


"Pergi saja! Jemput aku sekitar sore hari." Pinta Anggi.


Mendengarnya Fandi langsung bereaksi tak terima. "Bagaimana bisa? Kita pergi bersama saja ke suatu tempat." Usulnya.


"Cepatlah pergi jangan terus ikut dengan ku." Anggi bersikeras.


"Kau bisa menemui teman lama mu kan? Pergilah cepat!" Anggi tak menghiraukan sebuah persetujuan, dia langsung berlari memasuki gapura di sana dan meninggalkan Fandi agar dia pulang.


Anggi berjalan perlahan ketika dia sudah melihat rumah Yunita, pertama dia harus memastikan apakah Yunita ada di rumahnya tidak?


Anggi berdiri bingung di depan pintu, matanya terus mencari sesuatu yang mungkin akan tampak dari luar, atau dia akan mendengar sesuatu dari sana. Tapi benar-benar sepi, Yunita tampak tidak di rumah? Anggi masih ragu ketika akan mengetuk pintunya dan membunyikan bel.


"Apa yang kau lakukan?" Suara familiar yang sudah tidak asing.


Anggi langsung berbalik dan salah tingkah, Yunita sudah berdiri di hadapannya melihatnya dengan cara seperti itu.


"Untuk apa? Tidak akan ada yang pergi kesana jadi untuk apa pergi."Jawab Yunita.


"Kau tumben sekali masih memakai seragam, jangan-jangan kau pergi ke sekolah?" Cara bicara Yunita nampak terkejut saat itu.


"Astaga, luar biasa sekali." Pujinya.


"Sudahlah. Cepat buka pintunya aku mau masuk!" Anggi langsung berbicara ingin ke rumah Yunita.


Yunita tidak percaya ketika Anggi mengatakannya cetus seperti itu. "Tidak ada orang di rumah, jangan masuk ke rumah ku!" Yunita langsung menolaknya. Memang benar di rumah tidak ada orang jadi dia tidak begitu nyaman jika mengizinkan Anggi masuk ke dalam rumah.


"Temani aku pergi!" Ucap Anggi dengan nada datar.

__ADS_1


"Apa?" Yunita merasa terkejut lagi.


"Cepat kita pergi bersama!" Ajak Anggi mempertegas lagi ucapannya tadi.


Mendengarkan perkataan Anggi kedua kalinya Yunita langsung sadar jika Anggi benar-benar mengajaknya pergi. "Tunggu 5 menit di sini." Buru-buru Yunita membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Aku harus ganti baju dulu!" Ucapnya lagi sebelum masuk ke dalam rumah.


Anggi diam saja, dia menghela napas dan melihat ke arah jam tangannya. Menunggu Yunita di luar, semoga saja tidak terlalu lama.


Anggi kembali berbalik dan menatap ke arah jalan di sana, dulu Fika juga pernah berjalan di sana dan setiap hari Fika melewatinya untuk pulang. Pikir Anggi. Kemudian Anggi segera mengingat hal lainnya tidak harus terus tentang Fika dan Fika.


"Aku sudah siap." Ucap Yunita ketika dia keluar rumah. Tapi nampaknya aneh sekali karena Anggi tidak ada di sana. Yunita bingung kemana perginya Anggi? Padahal dia yakin tidak menghabiskan waktu yang banyak untuk sekedar mengganti baju saja.


Yunita berbalik dan dia juga melihat arah jalan yang sama, jalan menuju rumah Fika. Padahal dulu setiap hari Fika selalu melewati rumahnya untuk pulang, sesuatu terjadi sangat singkat hingga Fika kini tidak tinggal lagi di sana.


Entah mengapa perasaan Yunita saat itu membawa langkah kakinya sampai di depan rumah Fika. Dan tentu saja di sana juga ada Anggi yang sedang berdiri sambil menatap ke arah rumah.


Yunita berjalan menghampiri. "Kau baik-baik saja?" Tanya Yunita. Anggi menoleh ke arahnya dia tak menyangka jika Yunita bisa berpikiran sama dengan pergi ke tempat ini.


"Aku juga sama, aku memikirkannya. Kami sudah sangat lama bersahabat bahkan tidak bisa dibayangkan jika itu sudah lama, aku baru sadar terasa singkat sekali." Ucap Yunita di hadapan Anggi.


"Aku tahu, kau teman yang baik untuk Fika." Ucap Anggi.


"Aku juga ingin menjadi temannya." Ungkapnya terdengar sedikit sedih.


"Kita harus mencari tahu sesuatu, hubungan Fika dengan Edo seperti apa? Aku rasa ada sesuatu yang membuat mereka berdua menjadi dekat seperti itu." Tiba-tiba Yunita mengatakannya seperti itu.


Anggi langsung berbalik menatap Yunita, perkataannya itu benar sekali bahkan Anggi sudah melihatnya bagaimana hubungan keduanya tadi.


Anggi memalingkan wajahnya lagi, dia seperti berusaha keras untuk menutup semua bayangan tadi agar benar-benar hilang dari pikirannya.

__ADS_1


"Aku akan mencari tahunya, harusnya Fika memberitahu ku sesuatu. Aku sahabatnya tapi dia tidak memberitahu ku apa-apa. Kau tahu aku sangat tersiksa dengan sikapnya itu." Keluh Yunita.


Bukan hanya Yunita namun Anggi dibuatnya bingung juga, terkadang Fika bersikap baik-baik saja, kadang dia juga seolah ingin memberitahunya sesuatu, namun dalam satu kesempatan Fika baik-baik saja bersama Edo. Jadi Anggi tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya Fika.


__ADS_2