Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Penuh rencana


__ADS_3

Tak lama setelah telpon ditutup Anggi menerima pesan singkat berupa alamat rumah sakit seperti yang disebutkan Fika tadi.


Hp Anggi berdering lagi dan panggilan itu berasal dari Fandi.


"Kak Fandi sudah di depan, Yuk!" Ajak Anggi pada Yunita.


"Kemana kita sekarang?" Yunita bertanya.


"Masuk ke mobil dulu nanti akan aku ceritakan." Ucap Anggi kemudian membuat Yunita diam dan segera berlari ke arah mobil.


"Kak Fandi kau tahu alamat rumah sakit ini?" Anggi memperlihatkan layar hp nya yang berisi pesan dari Fika.


"Lumayan jauh sekali. Siapa yang sakit?" Spontan Fandi langsung bertanya.


"Akita pergi ke sana. Fika bercerita jika ibunya dirawat di rumah sakit itu." Anggi sedikit menjelaskan.


Fandi sudah siap-siap dan langsung berangkat ke alamat yang sudah dibacanya tadi.


"Setidaknya butuh satu jam perjalanan menuju rumah sakit itu. Kenapa Ibunya Fika dirawat di sana?" Fandi tertarik dengan alasan Fika membawa ibunya ke rumah sakit itu.


"Tidak tahu, Fika hanya memberitahuku untuk pergi ke sana karena dia tidak bisa pergi kemanapun." Anggi menjelaskan.


"Apa yang kau katakan? Jadi kau masih tidak bisa memastikan dimana Fika?" Yunita yang duduk di belakang langsung bereaksi.


"Fika tidak memberitahu alasannya, dan yang pasti dia benar-benar sedang ada dalam tekanan seseorang. Dia tidak bisa lepas dari orang itu dan mungkin Fika berada di tempat yang membuat dia tidak bisa pergi kemanapun." Anggi menjelaskannya lancar.


"Itu hanya dugaan kan? Kenapa kau tidak memaksanya tadi?" Yunita semakin kesal karena sia-sia saja.


"Dia tidak mau kita pergi ke sana. Fika sudah cukup kesulitan dia tidak bisa menerima telpon dari ku bahkan aku baru tahu jika dia memiliki nomor hp yang bisa dihubungi." Anggi menceritakan tentang Fika.

__ADS_1


"Kau baru tahu nomor hp nya? Padahal beberpaa hari yang lalu aku bisa menghubungi Fika." Fandi tiba-tiba bicara.


"Jangan bohong!" Anggi tidak percaya.


"Lihatlah di hp ku, aku mempunyai nomor hp Fika." Fandi kemudian bersikeras. Anggi segera menerima hp Fandi saat itu dan melihat nomornya.


Tapi matanya membulat seperti ada sesuatu yang salah. Anggi kemudian membuka hp nya lagi dan seperti sedang membandingkan sesuatu dari hp Fandi dengan apa yang dia lihat dari hp nya.


"Nomor hp nya berbeda." Ucap Anggi. Bukan hanya dia yang merasa aneh, Yunita yang mendengarkannya sangat terkejut begitupun Fandi.


"Bagaimana bisa?" Fandi merebut kedua hp yang dipegang Anggi, dia memastikannya sendiri dan ternyata benar apa yang dikatakan Anggi memang benar.


"Astaga, dia mempunyai beberapa nomor hp yang lain. Apa artinya?" Fandi nampak bingung, tapi bukan dia satu-satunya orang yang tidak mengerti dalam situasi ini.


"Apa kita bisa melacak kedua nomor Fika?" Tiba-tiba Anggi mendapatkan sebuah ide.


"Benar sekali, kita bisa mengetahui lokasi Fika kan dengan begitu?" Timpal Yunita setuju.


"Sekarang kita pastikan pergi ke rumah sakit dulu, aku khawatir setelah mendengarkan Fika tadi. Apalagi kondisi Ibunya Fika terkahir kali aku melihatnya tidak cukup stabil." Anggi memberikan keputusan bulat untuk semuanya.


Harus satu jam perjalanan dengan mobil, tidak bisa lebih cepat? Pikiran Anggi terus menerus memikirkan hal itu. "Apakah ada rute lain?" Batin Anggi. Dia kemudian segera mencari rute perjalanan mereka dan sialnya tidak ada rute lain yang bisa membawa mereka lebih cepat, jalan yang sudah Fandi pilih merupakan jalan satu-satunya yang bisa dilalui oleh mobil, terlalu padat pemukiman di sana.


Sedangkan Yunita tampak murung dari tadi. Karena Yunita yang terus diam membuat Anggi langsung memperhatikannya. Yunita melihat ke arah luar kaca mobil, sorot matanya tampak memperlihatkan kesedihan lain di hatinya. Dalam satu kondisi Yunita bisa menghadapi semuanya bersamaan, pertama kematian Neneknya yang belum lama ini dan kabar Fika. Meski dalam keadaan berduka Yunita tidak membiarkan Fika kesulitan sendirian, dia bertekad untuk mencari Fika meskipun hatinya sendiri tidak baik-baik saja.


"Aku mau minta maaf." Ucap Anggi membuat Yunita sedikit bereaksi.


"Soal kabar duka Nenek mu, aku terlambat mengetahuinya. Aku sengaja tidak bertanya karena aku pikir kau mungkin butuh waktu untuk sendirian." Ucap Anggi. Dia sangat menyesal karena selalu terlambat.


Yunita melihat ke arahnya. "Doakan saja, Nenek sudah pergi dia tidak mungkin kembali lagi. Sekarang kita harus fokus untuk Fika. Dia seorang diri dan hanya ada Ibunya." Yunita lalu mengusap air matanya, cara bicaranya pun berubah Yunita cukup sulit menahan diri untuk perasaan sedih yang mungkin kini bertambah lagi.

__ADS_1


"Kita akan pergi ke pemakaman Nenek bersama-sama. Aku, kau, dan juga Fika." Ucap Anggi kembali membuat Yunita melihat ke arahnya.


"Kau bisa kembali bersamanya lagi, kau senang?" Anggi kemudian tersenyum.


Meski hanya sekedar kata-kata saja tapi Yunita sangat terharu mendengarkannya, semangatnya seperti kembali lagi dan ucapan Anggi membuatnya yakin jika dia bisa kembali lagi hidup bersama sahabat terbaiknya itu. Yunita sangat berharap jika Fika dan kehidupan mereka bisa kembali seperti dulu, meskipun entah bagaimana caranya agar semua bisa kembali.


"Beberapa menit lagi kita akan sampai, bersiaplah!" Akhirnya sebuah kabar yang ditunggu pun terdengar dari mulut Fandi.


Anggi terlihat senang, kali ini dia akan menemui Ibunya Fika dan sebaiknya dia berencana untuk memindahkan ibunya fisika ke rumah sakit lain, tidak harus begitu sangat jauh agar memudahkan dia maupun Yunita atau Fika bisa setiap saat pergi ke ruang sakit.


"Kak Fandi, kau bisa pergi ke rumah sakit yang dulu?" Tanya Anggi.


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Fandi masih tidak mengerti.


"Kita pindahkan Ibunya Fika ke rumah sakit tempat bekerja mu duku di sana." Anggi terlihat enteng ketika mengatakannya.


"Astaga, bagaimana bisa?" Sebaliknya Fandi bereaksi lain.


"Kau tidak bisa?" Tebak Anggi.


"Coba kau pikirkan lagi, aku resign dari rumah sakit itu dengan cara yang bisa dikatakan kurang pantas, aku tiba-tiba pergi kemudian aku kembali seperti itu?" Fandi terdengar keberatan dengan sarannya.


"Memangnya rumah sakit tempat bekerja Kakak dimana?" Yunita ikut bertanya.


"Tapi aku hanya percaya rumah sakit itu. Insiden yang terjadi di rumah sakit lain membuat aku takut sampai sekarang. Bahkan aku yakin jika di rumah sakit lain ada orang yang sedang kita cari." Anggi mengatakan alasannya, tentu saja itu terdengar realistis.


"Akan ku pikirkan." Meski berat hati dan mungkin menjadi pernah batinnya sendiri, Fandi tidak tahu dengan cara apa dia akan melakukan permintaan Anggi. Entahlah biar nanti dia pikirkan kembali sendiri.


"Anggi, memangnya kau berencana memindahkan Ibunya Fika kemana?" Yunita cukup menyadari situasinya, dia sedikit berbisik ke Anggi untuk bertanya.

__ADS_1


"Aku pernah dirawat di sana juga, rumah sakitnya bukan rumah sakit terdekat dengan sekolah dan halte bus, rumah sakit yang ada di jalan setelah melewati sekolah dan halte bus." Anggi menjelaskannya dengan detail.


__ADS_2