
Siapa yang tidak pernah memikirkan kakaknya yang meninggal dengan cara tidak wajar?
Kali ini berbeda, Fandi langsung masuk ke dalam kamar. Sebelumnya kamar yang dia tinggali adalah milik Kak Han. Mungkin ada sesuatu yang tidak dia cari dan dia temukan sekarang. Kapan lagi?
Matanya mengabsen setiap sudut ruangan di sana, hampir tidak pernah memperhatikannya Fandi tidak sempat melihat ruangan itu dan mencari sesuatu.
Tidak ada yang tampak aneh di sana, hanya beberapa lemari yang tak pernah disentuhnya sama sekali, juga ada sepasang meja dan kursi, toilet, tv, dan tidak ada yang lain lagi.
Fandi berdiri di depan lemari, harusnya lemari itu masih menyimpan baju dan yang lainnya milik Kak Han. Jika segalanya masih utuh berarti tidak pernah ada yang menyentuhnya sama sekali, Fandi bisa menganggap jika tidak ada orang di rumah ini yang terlibat dengan kematian Kak Han.
Ragu-ragu ketika matanya sesekali melihat pada lemari kayu, tangan Fandi sudah menyentuh gagang lemari tapi dia sekarang cukup berusaha keras untuk mengumpulkan niatnya. Tidak mudah bagi Fandi memulai sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama hidupnya. Dia hanya seorang dokter dan tidak pernah menjadi detektif yang bisa memecahkan masalah seperti Kak Han.
Setengah menyerah namun akhirnya Fandi menarik gagang lemari itu, keadaannya masih terkunci. Penasaran, Fandi mencari kunci dan biasanya orang akan menyimpan kunci di atas lemarinya atau di tempat khusus lain yang berbeda?
Fandi mencoba mencari sesuatu di atas lemari itu dengan tangannya, dan berhasil dia menemukan sebuah kunci di sana.
Beberapa kunci tepatnya. Dia melihat salah satu dan memilih lalu dimasukkan ke dalam lobang kunci lemari itu. Perlahan diputarnya ke kiri dan mengejutkan semua berhasil dalam waktu singkat.
Ketika ingin membuka pintu lemari lebih lebar lagi, hatinya kembali terasa berat. Bayangkan saja dia harus tinggal di tempat kakaknya yang sudah meninggal, harus melakukan banyak hal, termasuk kembali mencari barang yang masih tersimpan.
Tidak ada yang bisa menjadikannya kuat, Fandi tidak ingin seseorang untuk melindunginya karena dia harus bisa menjaga dirinya sendiri. Mungkin salah satunya dia harus mencari tahu apa saja yang sudah diketahui Kak Han.
__ADS_1
Di dalam lemari yang pada umumnya tersimpan deretan baju yang dilipat rapih, ada juga yang tergantung. Tak terasa kedua matanya berkaca-kaca saat itu, untuk pertama kalinya dia tahu baju apa saja yang dimiliki Kak Han, dan untuk pertama kalinya dia menyentuh semua itu. Mengapa setelah Kak Han tiada dia baru bisa melakukannya?
Kerinduannya sebagai sosok adik, kehidupan yang lebih pahit sudah dia alami, kehidupan yang tidak lengkap pun sudah membuat dia menjadi tegar, Fandi tidak akan mengeluh namun rasanya sekarang percuma karena Kak Han sudah tiada. Hal apa yang bisa dia perjuangkan setelah kematian Kak Han?
Tampak menangis, tangannya gemetar menyentuh setiap helai kain baju, sambi membayangkan jika Kak Han pernah memakai baju-baju itu.
Fandi terdiam dan mulai terisak, tapi dia masih bisa melanjutkannya. Dia mencari sesuatu, yang dia pikir mungkin tersimpan rapih di balik baju yang sudah ditata rapih, entah apa tapi dia ingin meyakininya jika itu ada dan pasti bisa ditemukan.
Setidaknya Fandi harus memeriksa kurang lebih tiga baris baju yang dilipat dan dua gantungan baju di kiri kanan.
Tidak lembut seperti tadi, dia sekarang mulai antusias mencari di sana apapun yang bisa ditemukannya.
Dan sesuatu terasa menyentuh permukaan telapak tangannya saat itu. Sebuah kertas yang dia tarik dari bawah baju yang dilipat.
"Pertama menjadi pengawal pribadi di keluarga Rendra." Eja Fandi mengulangi kata-kata yang tertulis di secarik kertas kusam itu. Jika sekilas memang tidak tampak apapun, tapi jika mengarahkannya pada cahaya mengintip bayangan yang muncul pada tulisan maka seseorang bisa langsung membacanya.
Fandi tidak tahu siapa yang menulis itu, namun sekarang keyakinannya bertambah lagi, pasti ada sesuatu yang lain dan akan terus muncul.
Matanya menatap kembali barisan baju yang ditata di sana. Fandi mendekat dan mencari sesuatu dengan teliti. Kadang jika itu adalah penting maka akan disimpan cukup hati-hati termasuk menyembunyikannya.
Lembaran kedua dia berhasil mendapatkan kertas yang warnanya sama, keadaannya juga sama.
__ADS_1
Kedua matanya melebar ketika dia menemukan satu persatu yang disimpan lama mungkin oleh kakaknya itu. Dia berharap akan membacanya sampai akhir.
"Supir pribadi Anggi anaknya Rendra." Eka Fandi pada tulisan kedua.
Dia terdiam sebentar dan kembali memikirkan kata-kata dan mungkin makna yang terhubung dengan tulisan pertama. Jika dipikirkan hal itu seperti sebuah rencana, namun seseorang tepatnya orang lain mengirimkan rencana itu pada Kak Han. Tidak mungkin Kak Han melakukannya sendiri tanpa sebuah rencana. Jika itu hasil tangan Kak Han mungkin tidak akan disimpan terpisah dan disembunyikan, Kak Han akan menulisnya pada satu buku yang utuh saja itu sudah cukup.
Fandi memeriksa kembali kedua kertas tadi, andai saja ada sebuah tanggal yang menunjukkan kapan kertas itu dikirim mungkin dia akan tahu sejak kapan kak Han menerima perintah-perintah nya.
Entah mengapa jawaban itu datang dengan sendirinya. Fandi ingat sekarang Kak Han bekerja di keluarga Rendra sudah sangat lama bahkan ketika Anggi berusia sekitar sekolah dasar.
Jika benar berarti kertas itu membuat Kak Han dan mengaturnya sudah lama sekali.
Fandi mundur beberapa langkah ke belakang, dia mengingat dimana saja kertas itu berasal. Pertama adalah barisan pertama, kertas kedua ada pada barisan kedua baju, mungkin saja kertas yang lain juga berurutan sesuai barisan.
Tak sabar ingin menemukannya Fandi segera mencari kembali. Awalnya dia Turan menemukan jika kertas itu ada diantara tumpukan baju atau di bawahnya. Kemudian Fandi berpikir apakah mungkin dalam saku baju?
Untuk membuktikan dugaannya Fandi kembali mengatur beberapa pakaian yang dia turunkan dan memeriksanya satu persatu, tapi cara itu melelahkan karena dia harus membongkar baju pada lemari dan memasukkan nya kembali.
Setengah mengeluh karena dia tidak menemukan apapun lagi. Apa memang Hannya ada dua saja?
Fandi berpikir lagi, memikirkan apa yang akan dilakukannya jika menjadi Kak Han. Seseorang mengirimkannya pesan yang tersurat dan dia akan menyimpannya dimana saja?
__ADS_1
Astaga itu bukan hal yang mudah, setengah semangatnya sudah terkuras habis. Dia tidak akan melakukan hal seperti tadi dan menyita waktu. Lebih baik diam saja.