
Saat itu angin pagi yang tertiup sejuk seperti pikiran kemudian teralihkan damai, menenangkan. Pemandangan sekolah tepat pukul 06.40 WIB. Ketika memasuki gerbang utama sekolah maka pemandangan yang tampak di sana adalah halaman yang sudah tertata rapih. Sampah bekas jajanan semua sudah masuk ke dalam tong sampah yang sangat besar.
Seorang tukang sapu memberikan senyuman, kemudian satpam sekolah yang hangat menyambut siswa datang dengan senyumannya lagi, ketika memasuki halaman di depan kelas maka tampak Kepala Sekolah yang sudah sigap kesana kemari, memantau seluruh sekolah agar nyaman ditempati siswa yang belajar nanti.
Padahal masuk sekolah masih lama tinggal 1 jam lebih, tapi pagi itu Anggi benar-benar datang sangat pagi. Pikirnya dia tidak pernah pergi ke sekolah pada jam sepagi itu, andai saja dia bisa mencobanya.
Perlu beberapa lorong kelas yang dia lewati untuk menuju kelas XI IPA 5. Kelasnya di sana ada di paling ujung setelah Anggi masuk melalui halaman belakang kelas XII. Halaman luas di sana bisa mencapai berapa hektare ditambah dengan lantai 2 dimana di sana adalah ruangan guru.
Kemudian mata Anggi tak terlewatkan menatap setiap detailnya di sana, seolah tidak ingin ada yang terlewatkan satu pun.
Dia juga belum pernah pergi ke lantai dua, padahal katanya di sana ada sebuah perpustakaan juga dan tempat santai untuk membaca. Ketika matanya menatap ke arah tangga tanpa menunggu lama Anggi cepat pergi menuntaskan niat hatinya.
Benar, dia tidak tahu ada tempat senyaman itu di sekolah, fasilitasnya bisa membuat dia betah untuk membaca di sana, apalagi para pegawai sigap mengerjakan semua tugas termasuk dengan kepala sekolah yang sangat bijak dan selalu tanggung jawab. Anggi bisa menebaknya jika kepala sekolah selalu datang lebih awal, dia sadar selama ini sekolahnya tidak mungkin tertata rapih dan resik nyaman seperti itu jika tidak ada yang bekerja keras untuk mewujudkannya.
Setelah selesai di tempat sana Anggi berniat untuk turun lagi ke bawah dan melihat ruangan lainnya.
Ketika turun matanya langsung membulat tak percaya, sesuatu yang dilihatnya saat itu membuat dia bertanya-tanya. Fika datang lebih awal juga?
Fika sekilas menatap matanya, namun dia menunduk lagi. Fika bersikap dingin saat itu, tapi Anggi sigap menahannya di tempat.
Fika kembali menatap Anggi. "Tadi aku kira Edo makanya aku kesini." Ucap Fika sambil berbalik dan berniat kembali.
Anggi menahan tangannya. "Kau baik-baik saja? Bagaimana kabar Ibu mu?" Tanya Anggi terdengar ramah. Anggi tak lama menahan tangan Fika, dia sangat peka jika Fika tidak nyaman seperti itu.
Sambil turun menuruni anak tangga Fika dan Anggi akhirnya bisa sedikit bicara.
"Ibu, dia.baik-baik saja." Jawab Fika.
__ADS_1
Anggi sangat tertarik ketika Fika tampak gugup, apalagi Fika juga tampak takut saat itu, entah mengapa Anggi bisa merasakannya.
"Edo sudah mengantarmu pulang, kenapa kau tidak mengajakku untuk bertemu dengan Ibu, aku sangat mengkhawatirkannya." Anggi benar-benar berterus terang, sebenarnya dia bermaksud untuk mengetahui dimana Fika tinggal.
"Sepulang sekolah tunggu aku di warung depan sekolah." Jawab Fika, tanpa basa-basi lagi dia langsung terlihat segera menghindari Anggi dengan pergi ke arah lain.
Anggi masih mematung di sana, dia sangat mengerti ada sesuatu kesulitan yang membuat Fika tidak bisa dekat dengannya, bahkan Fika sangat menghindar sekali. Tapi sangat aneh jika Fika menjadi dekat dengan Edo. Apa mungkin alasannya seperti itu, Fika sengaja tidak boleh berteman dengan Anggi agar dia bisa tinggal di tempat Edo?
Pikiran Anggi terus menerka-nerka saat itu, dia tidak tahan. Bukan karena memikirkan tentang perasaan Fika padanya, dia tahu tidak akan pernah bisa sedekat itu dengan Fika. Tapi Anggi khawatir jika Fika mengalami suatu masalah namun dia benar-benar tidak bisa mengatakannya.
"Anggi!" Terdengar sebuah panggilan dari arah lain.
Anggi cepat menoleh untuk mencarinya. Seperti yang terdengar tadi suara itu adalah milik Yunita.
Anggi kemudian tersenyum menyambut Yunita yang juga datang sangat awal.
"Kau tahu aku pergi ke sekolah pagi-pagi seperti ini?" Anggi mulai menatap Yunita dengan mata menyelidik.
Yunita langsung mengalihkan pandangannya. "Setidaknya aku datang lagi untuk kerja piket, ini jadwal ku, dan juga jadwalnya Fika, termasuk kamu yang pasti tidak pernah tahu kan?" Celoteh Yunita saat itu.
Anggi mematung. "Oh, itu. Aku tahi sih tapi kan aku gak terbiasa datang pagi." Ucap Anggi terdengar santai terlihat sekali jika dia tidak mau menjadi orang yang salah.
"Apalagi kamu jarang masuk sekolah. Aku penasaran kau mendapatkan nilai baik atau tidak? Kau pasti menyedihkan sekali. Dan aku akan puas tertawa." Nada bicara Yunita benar-benar mengejeknya.
Anggi tampak santai, dia tidak terlalu membenarkan tentang nilai sekolah.
"Sudahlah itu urusan ku, lebih baik sekarang kamu belajar sebentar lagi jam 08.00 ujian sudah dimulai lagi kan?" Ucap Anggi.
__ADS_1
"Oh ia, benar sekali. Bahkan aku belum sempat membaca buku tentang bahasa Indonesia hari ini." Rengek Yunita. "Kita pergi ke tempat membaca saja ayo!" Bahkan Yunita tidak segan ketika mengajak Anggi.
Tidak menolak maupun menyetujuinya, Anggi hanya diam saja karena tasnya ditarik oleh Yunita. Padahal dia sudah pergi ke tempat baca tadi tapi tidak apa-apa jika untuk kedua kalinya.
"Kau juga harus belajar, setidaknya berikan nilai yang paling terbaik." Yunita kembali menceramahinya.
Anggi tidak terlalu menggubrisnya, Yunita yang membaca buku sedangkan dia hanya terus melihat ke kanan dan ke kiri, kebetulan sekali jika berada di lantai dua seperti itu dia bisa melihat hampir seluruh halaman kelas di depannya, termasuk kelas XI IPA 5 yang bisa dia lihat dari sudut pandang itu.
Ada yang menarik lagi samapi Anggi harus menyipitkan matanya, menerawang ke tempat yang tak lain itu adalah kelas XI IPA 5. Perempuan di sana adalah Fika, Anggi bisa mengenalinya dengan baik, kemudian tampak seorang lelaki yang masuk dan tebakannya pasti itu adalah Edo. Apa yang mereka lakukan?
Anggi tak bisa tenang dan sangat penasaran. Matanya sebentar melihat ke arah Yunita yang masih membaca buku, jika dia pergi sekarang mungkin Yunita tidak akan begitu menyadarinya kan?
Anggi berniat diam-diam pergi dari sana.
"Apa yang ingin kamu lakukan? Mau pergi kemana?" Tanya Yunita dengan nada galak.
Tak peduli Anggi hanya tinggal berlari kabur. Dia benar-benar berlari dari hadapan Yunita dan sungguh tak bisa dipercaya Yunita juga berlari mengejarnya.
Alhasil yang terjadi Anggi berlari ke arah IPA 5 kemudian Yunita yang tampak marah mengejarnya. Biarkan seperti itu karena dengan begitu bisa membantunya membuat sebuah rencana, katakan saja jika mereka tak sengaja datang ke kelas.
Brakkk.
Tiba-tiba Anggi merasa sudah menabrak seseorang. Ekspresinya khawatir, Anggi segera menoleh dan melihat jika itu adalah Fika.
"Fika maafkan aku!" Ucap Anggi cemas.
"Kau baik-baik saja?" Ucap Fika sambil memandangi Anggi.
__ADS_1
Saat itu untuk pertama kalinya lagi dia melihat Fika tampak seperti biasanya. Keadaan itu membuat Anggi cukup bingung dan bertanya-tanya.