
"Kau sedang apa?" Tiba-tiba Anggi masuk ke dalam kamar melihat Kak Fandi yang mulai menata beberapa baju Pak Han.
Fandi tidak bisa mengelak lagi. Dia berjalan ke arah Anggi segera menutup pintunya.
Tampak menghela napas, matanya masih menatap Anggi yang kini juga sibuk melihat isi lemari Pak Han.
"Aku menemukan ini!" Ucap Kak Fandi menyerahkan dia lembar kertas usang tadi.
Anggi cukup terkejut dia mendapatkan sobekan kertas yang tidak terdapat apapun di atasnya. "Kau?" Ucap Anggi ingin menanyakannya.
Tanpa mengatakan apapun Fandi mengarahkan kertas itu ke cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Sekarang Anggi juga bisa melihat tulisan yang muncul. Kedua matanya melebar membaca isi tulisan itu.
"Itu bukan tulisan Pak Han." Ucap Anggi terkejut. Dia tahu bagaimana tulisan asli yang dibuat Pak Han, selama ini bahkan sekarang saja Anggi masih bisa membedakannya.
Fandi tidak menjawab, dia memperlihatkan kertas yang satunya lagi. Anggi membaca isi surat kedua lagi.
"Apa surat itu sudah lama?" Komentar Anggi. Dia bahkan terdengar bingung dan bagaimana dengan Fandi yang tidak tahu apapun selama ini bahkan dia tidak begitu dekat dengan Pak Han.
"Kau menemukannya dimana?" Tanya Anggi mulai tertarik untuk tahu.
Fandi tidak menjelaskannya dulu, dia mengintip ke balik jendela, kemudian melihat ke sekeliling ruangan di sana, ke bawah tempat tidur, ke sudut tersembunyi, di balik celah barisan buku, terakhir mengunci pintunya.
Anggi tercengang dengan tingkah Fandi, apa yang dilakukannya itu?
"Tidak ada cctv di kamar ini, syukurlah." Seru Fandi.
"Aku menemukannya di lemari." Ucapnya sangat pelan.
Anggi mulai paham mungkin Pak Han menyimpan surat itu di sana, dma bisa jadi yang lainnya juga ada di dalam sana. "Kita harus menemukannya lagi!" Seru Anggi bersemangat.
__ADS_1
Kak Fandi tidak menolak maupun setuju, tapi dia langsung menunjuk semua bagian baju dan yang lainnya begitu banyak di sana. "Kau bisa menemukannya?" Tanya Fandi pada Anggi.
Anggi terdiam sebentar, setidaknya dia butuh seharian untuk membongkar lemari dan kembali membuatnya seperti semula. Itu berat untuk hal sedetail itu membuat dia harus teliti kan.
Tapi untuk Pak Han, mengingat apanyang dikatakan Fika tadi, ucapannya kali ini terasa benar membuat Anggi yakin dan harus mencari tahu segala sebab dari kematian Pak Han. Tidak ada yang wajar, bahkan kematian ayah Fika juga?
Fandi diam menunggu jawaban Anggi.
"Harusnya kau yang melakukannya untukku kan?" Tapi Anggi sengaja mempermainkan Kak Fandi dengan bicara seperti itu.
Tampak ekspresi Fandi berubah, dia akan mengeluh. "Kau tahu, aku tidak bisa melakukannya sendirian saja. Lihatlah lemari dan isinya sangat penuh sekali." Ucapnya pada Anggi.
"Lalu kita akan menyuruh siapa untuk melakukannya?" Tanya Anggi, dia duduk santai di kasur sambil melihat ke arah lemari.
"Jika bukan kita berdua siapa lagi? Memangnya para penjaga di sana?" Fandi menjelaskan.
"Tidak ada waktu lagi, aku yang mengeluarkan semua bajunya kau yang memeriksanya!" Seru Anggi sambil berdiri. Tanpa sebuah persetujuan Anggi sudah mengeluarkan semua baju di barisan pertama.
"Kerjakan dengan benar!" Ucapnya sambil tersenyum.
Jika pekerjaan Anggi semudah itu kenapa Fandi harus melakukan bagian tersulit. "Kau hanya seperti itu saja?" Protes Fandi tak terima. Apalagi dia harus memeriksa seluruh pakaian yang sudah ditumpuk di atas kasur.
"Jangan mengeluh memangnya siapa lagi yang akan melakukan semua itu?" Ucap Anggi mengulangi kata-kata Fandi tadi.
Tampak mengeluh dan kesal, tapi harus bagaimana lagi jika ingin mendapatkan sesuatu dia benar-benar harus melakukannya kan.
Anggi masih berdiri di depan lemari, matanya teliti melihat apapun yang ada di sana.
"Apa yang akan dilakukan Pak Han? Jika sepenting itu apakah Pak Han akan menyimpannya semua di lemari?" Batin Anggi. Menurutnya untuk hal sepenting itu tidak mungkin Pak Han akan menyimpan semuanya di tempat yang mudah ditemukan, entah di bagian mana tapi pasti ada tempat dimana surat itu langsung disimpan oleh pengirimnya.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan? Cepat bantu dan lakukan!" Seru Fandi tak terima karena dari tadi Anggi diam saja.
"Itu hanya 2 surat saja, rasanya tidak mungkin seluruhnya tersimpan utuh. Kau tahu? Ketika kau menerima surat penting kau pasti akan cepat membakarnya setelah membaca isi surat itu." Ucap Anggi terdengar logis.
Fandi cepat berhenti dan pikirannya setuju, apanyang dikatakan Anggi benar.
"Jadi dia surat itu hanya kebetulan saja ada di sana, mungkin yang lainnya sudah tidak ada." Tegas Anggi kembali.
Ketika Fandi ingin menyudahinya dia tampak memikirkan sesuatu.
"Untuk setiap baju pasti dicuci kan? Tidak mungkin suratnya ada di dalam baju itu." Komentar Fandi. Dia yakin jika memeriksa setiap baju hanya akan sia-sia saja.
"Jadi kita akan mencarinya dimana?" Cetus Anggi terdengar hampir menyerah.
Memang tidak mudah menemukan sesuatu yang tidak diketahui oleh kita, apalagi Pak Han orang yang begitu teliti.
"Apa Pak Han ingin membuat kita tahu, sesuatu yang dia alami. Kenapa dia tidak mengatakannya langsung jika pada akhirnya dia tahu bahwa hidupnya akan berakhir." Celoteh Anggi di tengah-tengah lamunannya.
Fandi menghela napas mendengarkan Anggi bicara. "Entahlah, tapi dia berusaha memberitahu kita untuk tetap hati-hati kan? Dia sudah memberitahu kita sebenarnya namun tidak secara langsung."
Anggi masih berpikir lagi, apanyang akan dilakukannya sekarang? Setidaknya dia sudah tahu jika seseorang selalu mengirimi surat pada Pak Han. Entah siapa namun surat itu terdengar seperti perintah yang harus dilakukannya.
Jika orang yang memberitahukan rencana adalah orang jauh dari Pak Han, tidak mungkin surat itu tiba-tiba ada di tangan Pak Han. Masalahnya dimana Pak Han menerima surat itu? Jika surat ada di rumah berarti orang yanga mengirim surat itu ada di rumah ini.
Anggi tampak diam, sebenarnya dengan kata-kata Fika saja sudah membuat dia goyah dan tidak sadar, apa mungkin hanya dia yang berpikir jika kematian Pak Han adalah sesuatu yang wajar? Mengapa orang lain bisa berpikir seperti itu, lalu apa yang dipikirkan orang lain untuk alasannya?
"Kau sudah menemukan sesuatu?" Tanya Fandi saat itu.
"Apa kau berpikir jika kematian Pak Han sangat wajar? Aku tidak merasa jika itu adalah kecelakaan biasa. Pak Han membawa ku ke rumah sakit mu lalu dia pergi dan kembali bersama Fika membawa ku pergi dengan mu, lalu ternyata kita sudah dikejar oleh seseorang yang entah siapa, dan kecelakaan itu terjadi untuk menyelamatkan kita kan?" Celoteh Anggi menceritakan kembali apa yang langsung terpikirkan olehnya.
__ADS_1