
Mei 2014, 08.00 WIB
Seperti biasa suasana kelas masih terdengar riuh karena belum ada guru yang masuk ke kelas.
"Kabar baik guys..." Seru Edo ketika masuk ke dalam kelas, tampak senyumnya menandakan kabar baik yang menggembirakan.
Semua langsung memperhatikan Edo yang kala itu teriakannya berhasil mengalihkan perhatian seisi kelas.
"Hari ini kita semua belajar di rumaaah..." Teriaknya penuh semangat.
"Horeeee"
Semuanya langsung berteriak menyambut kabar baik yang sangat diharapkan oleh semuanya.
Ada yang sambil berjoged ria, ada juga yang loncat-loncat kegirangan, termasuk Edo dan semuanya. Namun dari keriuhan itu, keributan anak-anak berhasil menyembunyikan ekspresi satu-satunya orang yang hanya diam saja dari tadi.
Yunita tak peduli jika hari ini adalah hari libur, dari tadi dia melihat ke arah meja Anggi yang tak memperlihatkan sosoknya dari tadi. Dan juga Fika yang masih tak nampak juga. Dia tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan Fika dalam isi chat nya semalam, pasti ada sesuatu.
Yunita sudah siap untuk pulang, semua orang juga sudah bersiap-siap dari tadi.
"Halo anak-anak!" Suara guru menghalau kesibukan semuanya. Tampak semua pasang mata hanya tertuju pada kedatangan guru cantik ke kelas, guru itu adalah Bu Anjas.
"Jangan lupa untuk bersih-bersih, jangan sampai ada sampah yang tertinggal ya!" Terdengar suara ramah yang membuat semua anak-anak bisa menurut. Bu Anjas kemudian pergi setelah mengatakannya, mungkin sedang menuju ke kelas lain.
Fika menghela napas, dia masih tidak bisa tenang tapi apa yang bisa dilakukannya kata-kata Andre selalu terngiang dipikirannya itu.
Ketika semuanya sibuk beres-beres, sebagian memungut sampah di bawah meja, ada yang juga membersihkan lantai bergantian, dan juga jendela kelas. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kelas dengan menundukkan wajah.
Beruntung karena Yunita langsung melihat dan menyadarinya jika itu adalah Fika. Sesegera mungkin Yunita menghampiri meskipun orang-orang menghakimi kedatangannya saat itu namun dia tidak segan untuk mendekat ke arah Fika.
"Fik. Kamu baik-baik saja?" Tanya Yunita antusias.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Menurutmu kenapa?" Fika balik bertanya.
Ketika mata mereka bertemu Yunita tampak langsung memalingkan wajahnya. Hatinya masih ragu untuk menyembunyikan apapun yang dia ketahui tentang Fika, apalagi matanya.
Fika tak bertanya lagi, dia melihat ke sekeliling dan tampak sedikit menyesal. "Astaga, andai saja aku lebih tahu kalau hari ini tidak belajar lebih baik aku tidak pergi ke sekolah." Gumam Fika pada dirinya sendiri.
Fika langsung melihat ke arah meja Anggi, dia sedikit kecewa karena Anggi tidak ada di sana seperti yang diharapkan. Matanya kembali melihat Yunita berniat untuk menanyakan tentang Anggi. Namun, pikirannya itu kembali dia kubur dalam-dalam.
"Yun kita keluar kelas saja yuk!" Pinta Fika saat itu.
"Tapi belum ada yang beres." Jawab Yunita merasa bersalah jika meninggalkan semua orang yang sibuk beres-beres di dalam kelas. Yunita memandangi lagi sahabatnya itu, dia malah mendapatkan sebuah isyarat dari Fika.
Dengan bola matanya yang bergerak ke samping kanan Fika berusaha menunjukkan agar Yunita keluar kelas lebih dulu. Tapi saat itu Yunita benar-benar ragu, alih-alih menyerah Fika kembali memaksa sahabatnya itu.
Perlahan namun sebisa mungkin Yunita untuk keluar dari kelas. Dia berjalan sambil mengamati semua orang.
"Hey... Tolong ambilkan air sekarang!" Pinta seseorang berhasil menghentikan langkah Yunita.
"Ini, kau harus mengambil air." Seorang murid yang entah siapa namanya, ketika melihat tulisan nama di bajunya Yunita baru tahu jika namanya adalah Laras.
Yunita segera mengangguk tanda setuju, lalu diambil sebuah ember berukuran sedang olehnya.
"Kamu Fika kan? Cepat ambilkan aku alat pel di ruangan OSIS." Yunita terdiam beberapa saat, baru pertama kali ini seseorang berbicara pada Fika apalagi setelah kejadian itu.
Yunita menoleh dan melihat keduanya sedikit bicara, beruntung sekali karena masih ada orang yang mau bicara dengan Fika setelah kejadian yang tidak seharusnya Fika alami, dan semua itu karena dirinya.
Seperti yang diminta oleh Laras Fika pun keluar dari kelas menuju ruangan OSIS, dia keluar menyusul Yunita.
Saat sudah di luar Fika terpikirkan sesuatu yang akan membuatnya bisa pergi bersama Yunita, tentu saja dia hanya tinggal pergi. Ketika akan berlari namun tanpa sengaja seseorang baru saja keluar dari lorong kelas membuat Fika segera menghentikan langkahnya.
Fika sedikit mundur, beruntung dia tidak menabrak orang lain sembarangan. Namun orang yang ada di hadapannya itu tidak lain adalah Anggi, sangat tidak disangka dia bertemu Anggi lagi setelah malam itu. Tentu saja Fika ingat ketika malam sekitar pukul 20.00 WIB, Anggi tiba-tiba saja datang ke taman yang tidak jauh dari komplek perumahannya.
__ADS_1
"Maaf." Anggi mulai bicara dan langsung menghalau lamunan Fika.
"Oh, ia. Aku yang harusnya minta maaf." Fika sedikit salah tingkah karena gugup.
"Fika!" Terdengar suara seseorang memanggil namanya. Saat berbalik Fika melihat Edo.
"Edo!" Seru Fika ketika dia melihatnya. Bahkan sekarang Fika melupakan pertemuannya dengan Anggi baru saja. Fika tidak lagi berbalik dan melihat
ke arah Anggi, melainkan asyik bicara dengan ekspresinya yang selalu antusias dan gembira ketika bersama Edo.
Hal yang wajar, satu-satunya orang yang dipercayai Fika adalah Edo karena dia teman sejak SMP nya dulu. Orang kedua adalah Yunita karena keduanya tinggal di sekitar komplek yang sama, jadi wajar saja jika Fika akrab sekali dengan kedua orang itu.
Mata Anggi masih melihat arah kepergian Fika saat itu, padahal Fika sudah hilang dari hadapannya.
Anggi kemudian berbalik dan kembali berjalan.
"Oh astaga!" Keluh seseorang. Anggi melihat ada Yunita yang sedang memegangi ember berisikan air, dia berusaha sekali agar air yang ada di dalamnya tidak sampai terjatuh karena tanpa sengaja dia hampir menabrak Anggi.
"Anggi!" Ucap Yunita saat itu.
Anggi tampak dingin seperti biasanya.
"Kalian memiliki kebiasaan yang sama." Gumam Anggi, dengan begitu saja dia juga melewati Yunita dan mengabaikannya.
"Tunggu...!" Tak menyerah Yunita segera mengejar Anggi sampai dia menghalangi jalan Anggi karena berdiri di hadapannya.
"Kau melihat Fika?" Tanyanya pada Anggi.
"Memangnya aku siapa yang bisa tahu dia dimana." Entah mengapa nada bicara Anggi menjadi menyebalkan. Mendengarnya saja membuat Yunita langsung menyerah tak akan lagi dia sampai bertanya pada Anggi.
"Dia bersama Edo." Tiba-tiba jawab Anggi ketika Yunita sudah membelakanginya untuk pergi.
__ADS_1
Ketika Yunita berbalik bermaksud untuk bertanya lagi namun Anggi sudah terlihat cukup jauh, lagi-lagi Anggi berlari cepat sampai membuat Yunita tetap di belakangnya.