Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Penolakan ke 2


__ADS_3

"Anggi, soal Fika sebaiknya jangan dulu tanya dia apapun ya. Fika sepertinya memikirkan soal berita yang menyebar itu." Yunita menghampiri Anggi dan mengatakan dugaannya.


Anggi menatapnya. "Jangan sampai, kita bersabar saja dan menunggu Fika bicara." Anggi setuju dengan permintaan Yunita, dari awal pun dia menjaga agar tidak menanyai Fika.


Yunita terus memandangi langit dan mengecek kembali hp nya. "Aku harus segera pulang, setelah nanti dia baikan apa kau akan membawanya ke rumah yang tadi kau bicarakan?" Yunita mengingatkan Anggi.


Anggi sebenarnya bingung apakah Fika akan setuju tinggal di sana? Lagipula rumahnya lumayan jauh dari rumah sakit ibunya. "Nanti akan ku tanyakan dulu, semoga saja dia setuju." Ucap Anggi membuat Yunita langsung mengerti.


"Jika Fika tidak setuju kau bisa memberitahu ku lagi." Yunita berusaha membantu apapun yang dia bisa. Meski tidak mungkin Fika tinggal di rumah nya.


"Baiklah terimakasih, aku mengerti. Kamu mau pulang sekarang? Bagaimana jika Kak Fandi mengantarkan mu dulu!" Anggi masih memperhatikan perasaan Yunita,dalam kondisinya sekarang tidak mungkin Yunita pulang sendiri meski itu artinya dia hanya akan berdua saja di rumah dengan Fika.


"Tidak apa-apa?" Yunita tidak menolaknya.


"Aku panggilkan Kak Fandi dulu, kamu tunggu sebentar di sini." Anggi kemudian pergi keluar dari kamar itu maksudnya untuk menemui Kak Fandi yang mungkin dia ada di kamarnya.


Sembari berjalan mata Anggi kemudian sedikit tertarik dengan seorang penjaga yang kini dia berdiri di depan pintu kamar Fika, sekilas melihat wajahnya Anggi merasa penjaga itu tadi ada di depan pintu.


Namun karena terburu-buru Anggi tidak lagi memikirkan penjaga di sana, dia langsung pergi ke kamar Fandi.


"Kak Fandi!" Panggil Anggi dan mengetuk pintu juga.


"Kak bisa antarkan Yunita pulang?" Tak menunggu Fandi keluar Anggi sudah bertanya langsung.


Ceklek...


Suara pintu dibuka.


"Masuklah dulu, kau harus lihat sesuatu!" Bukannya menjawab pertanyaan Anggi dia malah memaksa Anggi untuk melihat sesuatu yang ingin ditunjukkannya.


Di atas kasur sudah ada laptop yang tampak sedang memutar sesuatu.


Fandi memutar lagi rekaman video yang sudah dilihatnya lebih dulu.

__ADS_1


"Edo?" Anggi cukup syok melihat Edo yang mengendap masuk ke kamar Fandi, kemudian Edo juga pergi ke kamar nya, rekaman lain Edo tampak pergi ke kamar tamu di sana.


"Jadi kemungkinan dia yang memasang kamera itu?" Anggi tak berharap jika itu benar tapi dari rekaman yang dia lihat sudah membuktikannya.


"Aku harus mengatakannya pada ayah. dia harus tahu jika Edo selama ini bisa keluar masuk ke dalam rumah tanpa sepengetahuan siapapun." Anggi menyimpulkan kemungkinannya.


"Kau yakin?" Suara Fandi langsung menghentikan bicaranya.


"Tidak mungkin dia bisa masuk ke dalam rumah seperti pencuri. Penjaga di luar saja sudah cukup menjaga seseorang agar tidak masuk ke dalam rumah." Ucap Fandi menjelaskan pemikirannya saat itu.


"Mungkin saja bisa, tapi dari tanggal yang tercatat di layar kejadiannya sudah lama dan mungkinkah ayah juga belum berkenalan dengan ibunya Edo." Anggi memikirkannya lagi, tapi sedikit aneh dia merasa hal itu tidak wajar. Ada sesuatu yang janggal.


"Sebaiknya kau jangan beritahu siapapun dulu, kita tidak tahu sebenarnya Edo siapa dan mengapa dia bisa keluar masuk ke rumah dengan bebas, kemungkinan besarnya penjaga di rumah juga ada yang terlibat. Kita celaka karena tidak ada orang yang bisa kita percayai mulai dari sekarang." Fandi menjelaskan rasa khawatirnya. Tentu saja dia lebih paham dengan situasinya, tidak seperti Anggi yang mungkin pengalamannya belum seluas itu untuk mengerti.


"Kita harus cepat mencari tahu siapa dalang dari semuanya, aku rasa itu adalah orang yang sama." Anggi terlihat serius.


"Baiklah. Jadi dimana Yunita? Dia ingin pulang kan?" Tanya Fandi.


"Astaga, cepat Kak Yunita sudah menunggu di kamar dengan Fika." Anggi langsung mengajak Fandi keluar.


Kemudian keduanya masuk ke kamar Fika, namun mata Anggi langsung terheran kemana perginya Yunita dan Fika?


"Tidak ada orang." Ucap Fandi.


Anggi langsung berlari keluar menemui para penjaga di depan rumah. "Teman ku, Fika sama Yunita kemana?" Tanyanya pada salah satu dari mereka.


"Tadi pergi sama salah satu penjaga di sini, bukannya tuan sendiri yang meminta penjaga itu untuk mengantar temannya pulang?" Jawab penjaga itu.


Anggi sangat terkejut mendengarkannya, sejak kapan dia meminta orang lain untuk mengantar Yunita pulang. Saat itu perasannya langsung tidak begitu tenang.


"Kak, Fika sama Yunita dibawa persegi seseorang." Ucap Anggi panik.


"Hah? Bagaimana bisa?" Reaksi Fandi tidak begitu percaya apa yang dikatakan Anggi.

__ADS_1


"Kita harus pergi mencarinya." Anggi langsung bertindak dia tidak mau waktu yang terbuang percuma.


"Telpon! Coba kau telpon Yunita!" Dalam keadaan panik seperti itu beruntung Fandi masih bisa memikirkan sebuah solusi. Itu gunanya untuk tetap tenang.


Anggi langsung mengambil hp di saku celananya. Dia langsung mencari nama Yunita lalu cepat menghubungi Yunita. Dan betapa anehnya karena saat itu hp Yunita bisa tidak aktif, beberapa kali sudah Anggi coba untuk menelponnya lagi namun masih tetap saja sama.


"Nomor hp nya gak bisa dihubungi." Ucap Anggi nampak cemas sekali.


"Telpon Fika saja!" Fandi memberitahunya pilihan lain. Dia terdiam ketika nama Fika disebut perasannya langsung ragu, apa tidak apa-apa menelpon Fika? Tapi dia juga tidak bisa tenang sampai bisa memastikan semuanya baik-baik saja.


Lalu dengan perasaan yang masih panik, Anggi kembali mencari nama Fika dari daftar nomor di hp nya.


Beberapa saat menunggu dengan cemas akhirnya reaksi Anggi berubah ketika melihat hp Fika bisa dihubungi juga.


"Fika, kalian baik-baik saja?" Tanya Anggi ketika telpon terhubung.


"Aku pulang diantar dengan salah satu penjaga rumah mu, sekarang sudah hampir sampai di rumah Yunita." Terdengar suara Fika bicara padanya.


Sedikit merasa lega ternyata tidak terjadi suatu apapun, namun dari suara Fika rasanya terasa asing dan aneh.


"Kau bisa kembali ke rumah ku kan? Apa penjaga rumah yang mengantar mu?" Tanya Anggi.


"Aku harus menemui ibu, terimakasih untuk bantuannya." Jawab Fika terdengar tidak setuju ditinggal di rumah Anggi.


"Oh, jadi kau pergi ke rumah sakit. Aku bisa pergi ke sana juga?" Anggi masih bertanya.


"Em. sepertinya tidak perlu, aku sudah baik-bain saja tenanglah." Fika masih membuat batasan yang sama, apa kali ini Fika akan menolak pertolongannya juga?


"Kalau begitu apa kamu bisa jika nanti pulangnya ke rumah lagi bersama penjaga?"


"Sepertinya tidak bisa, aku sudah memikirkannya. Kau tidak perlu repot-repot lagi dan terimakasih." Jawaban Fika lanngsung. membuat Anggi lemas.


"Aku tutup telponnya!" Fika mengakhiri telpon.

__ADS_1


Meski itu artinya Fika menolak bantuannya lagi, namun Anggi masih tidak bisa tenang sejauh ini. Fika selalu menyembunyikan sesuatu yang tidak pernah bisa diduga ya. Kali ini apa yang akan dilakukan Fika?


__ADS_2