Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Kehidupan Anggi.


__ADS_3

Saat kelopak bunga berguguran, ketika matahari hangat sudah menandakan waktunya, angin berhembus tenang dari satu arah, daun di atas ranting yang kering kembali berjatuhan.


Musim sudah berganti, pemandangan matahari menjadi yang paling dinantikan saat fajar sudah datang. Terkadang membayangkan bagaimana jika tidak pernah kembali bangun sesaat setelah tidur?


Ketakutan manusiawi yang tidak ingin berpisah karena waktu atau takdir, kadang menolak untuk kembali menerima, atau marah untuk kembali tenang. Siapa yang tahu, bagaimana takdir itu bisa merenggut waktu dan nama dalam sekali kedipan mata.


Suara sirine ambulan saat itu memecah ketegangan di sepanjang jalanan komplek perumahan sederhana. Wanita muda ditandu ke dalam mobil dengan darah yang sudah membuat warna bajunya berubah. Ada satu lelaki di sana dan seorang anak lelaki yang dia dekap erat-erat.


Mobil melaju mengejar waktu, antara kehidupan dan kepergian itu sudah seperti setipis tisu saja. Hari kelahiran malaikat kecil masih menjadi tragedi, karena wanita muda yang melahirkannya langsung meninggal di perjalanan sebelum sempat tersentuh oleh media rumah sakit.


Benar, itu adalah kelahiran Anggi sekaligus hari kematian ibunda tercinta yang sudah melahirkannya memberi kehidupan baru untuknya, memberikannya kesempatan untuk hidup hingga waktu memisahkan mereka.


Tangis di dalam ambulan tiba-tiba langsung pecah, lelaki yang tampak berpenampilan sederhana itu terus menangis sejadinya. Andai saja.... andai saja. Andaikan dia datang lebih awal, bukan karena pekerjaan atau uang, namun karena tanggung jawabnya sebagai suami untuk mencari sepersen keberuntungan. Siapa yang tahu hari itu karena keterlambatannya membuat kehidupan akan sepi untuk seterusnya.


Bayi mungil itu menangis di dalam ruangan, sedangkan tubuh ibunya yang sudah kaku sudah bersemayam di tempat peristirahatan, sang ayah yang paling tak kuasa tetap diam di luar ruangan bayi sambil mendengarkan bagaimana bayinya menangis di dalam Wajahnya sudah berubah jauh, jauh sekali berbeda ketika beberapa jam yang lalu, tidak seperti sehari yang lalu, semuanya jauh direnggut sekaligus.


Sampai hari itu tiba, ketika semuanya sudah pergi rasanya tidak ada yang pantas untuk hidup. Entah itu dirinya atau bayinya sekalipun. Namun tangisan kembali pecah, bayi yang tidak tahu apa-apa lebih kasihan dibandingkan dirinya, bayi yang tidak tahu salahnya lebih menyedihkan dibandingkan dirinya, bahkan usianya lahir dia tidak pernah tahu bagaimana sentuhan lembut dari orang yang paling mencintainya, dia tidak tahu perasaan itu.


*****

__ADS_1


Di dalam mobil yang melaju menyusuri jalan Anggi tertunduk lemas, entah sudah berapa lama dia menangis karena tidak akan pernah ada yang tahu bahwa dia menangis di sepanjang jalan.


"Tu_" Ucapan supir itu tertahan. Dia langsung berbalik lagi bersikap seolah tidak melihat apapun tadi atau berpikir tidak pernah tahu apapun.


"Sebentar lagi sudah sampai." Supirnya memperingatkan.


Gerbang besar sudah menyambut kedatangan keduanya, mobil mewah terbaru itu masuk dan berhenti di depan pintu rumah.


Anggi turun sendiri dari dalam mobil, wajahnya tanpa ekspresi, dingin seperti es.


Melihat pemandangan itu tak ada satupun yang berani menegurnya, biarkan saja Anggi pergi sendirian dan orang-orang juga bersikap tak acuh menganggapnya tidak ada apapun.


"Hari ulangtahunnya, apa kita membuat suatu kejutan untuknya?" Seorang pelayan menghampiri merencanakan sesuatu.


"Apa tuan sudah pergi?" Tanyanya.


Tampak yang lain saling pandang dan menganggukkan kepala.


"Kalian bekerja kembali seperti biasanya." Kemudian supir itu masuk ke dalam rumah dan pergi ke arah kamar Anggi.

__ADS_1


Dari luar sudah bisa memperlihatkan bagaimana Anggi saat itu tampak sudah tertidur di atas kasur, wajahnya begitu tenang dan damai. Pak supir tidak melanjutkan niatnya untuk mengajak Anggi pergi ke pemakaman. Dia menghela napas lalu kembali pergi.


Dalam hitungan detik Anggi tampak terjaga lagi, kedua matanya terbuka lebar saat itu. Seperti tidak terjadi apapun, dia bergegas ke arah meja belajar mengambil satu buku untuk dibacanya terus, entah akan menghabiskan berapa jam waktu bagi Anggi untuk membaca buku. Itu hanya caranya, cara dia melupakan setiap bayangan yang muncul di benaknya.


Dalam pikirannya selalu terbayangkan bagaimana dia hidup menjadi putera tunggal di rumah besar ini, tanpa seorang ibu dan tanpa pengasuhan dari seorang wanita. Ayah tidak begitu suka, sejak kematian mendiang Ibunya sampai sekarangpun ayah tidak akan pernah mau memperkerjakan wanita apalagi di rumah. Jadi orang-orang yang tinggal di rumahnya semua adalah lelaki.


Dalam pengasuhan dan ketelatenan semua pengasuh, Anggi akhirnya bisa menjalani semua hari-hari yang menyenangkan tanpa kekurangan apapun. Dia dibesarkan dan dicintai oleh semua asisten rumahnya. Sampai sekarang supir setianya adalah orang yang paling dekat dengannya, sekaligus menjadi pengasuhnya yang pasti sudah menjadi orang yang paling mengerti Anggi lebih dari siapapun.


Anggi tidak pernah menanyakan tentang Ibunya, bahkan sejak dia kecil sampai sekarang. Anggi juga tidak akan pernah menyalahkan ayahnya yang selalu tidak datang, entahlah kedatangan ayahnya ke rumah sangat bisa dihitung, paling banyak 3 kali dalam setahun.


Kehidupan adalah rasa syukurnya, Anggi melampiaskan semua perasaan itu dengan belajar dan membaca buku saja itu sudah cukup. Tidak ada masalah atau apapun, bahkan Anggi juga tumbuh menjadi seseorang yang paling bijak, tidak pernah menganggap semuanya berbeda, Anggi akan memperlakukan setiap orang itu sama, tidak ada yang jauh lebih baik darinya, tidak pernah ada.


Namun kata-kata supir tadi sangat mengganggu. Anggi menangkap perkataannya dengan baik jika saja ayahnya sudah mencintainya sejak saat ini. Tapi rasanya itu tidak mungkin, tidak akan pernah semudah itu bagi orang umumnya bisa menerima sebab kematian seseorang yang sangat istimewa dalam hidupnya. Meskipun orang itu adalah anaknya sendiri.


Entahlah Anggi terlalu perasa dan pengertian, meski dia tahu apa yang membuat ayahnya tidak bisa menerimanya dia tetap bersikap tenang dan bertahan di rumah itu meski tanpa perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Tidak ada yang membuatnya ingin mempermasalahkan semua itu, jika dengan cara seperti itu akan membuatnya baik-baik saja, kenapa tidak. Dia selalu berpikiran seperti itu tanpa memikirkan perasaan dan nasibnya sendiri.


Tak terasa waktu terus berlalu, Anggi masih bertahan dengan buku yang dia pegang. Matanya tetap fokus membaca lembaran demi lembaran buku, padahal buku itu mungkin sudah dia baca hampir 5 kali, tapi dia akan membacanya hanya untuk mengalihkan pikirannya saja.


"Pak? Aku mau buku ku lagi." Teriak Anggi.

__ADS_1


Seseorang masuk dan menyerahkan buku yang diminta Anggi.


Setiap pagi Anggi selalu terbiasa menyerahkan daftar buku yang sudah dia siapkan. Dia hanya tinggal meminta seseorang untuk membawanya di perpustakaan, dan ketika dia perlu buku sudah ada.


__ADS_2