Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Hal yang paling berarti bagi Anggi


__ADS_3

Malam 20.00 WIB


Malam di hari yang sama, harusnya gadis yang sedang sekolah tidak lagi berpakaian seragam apalagi di malam hari seperti ini.


Fika masih duduk melamun, memegang air mineral yang mungkin dibelinya tadi siang.


"Kau di sini." Perkataan seseorang langsung membuat Fika bingung. Awalnya dia diam saja karena menyangka mungkin perkataan itu bukan untuknya.


"Yunita memberitahuku jika kau sering ke tempat ini, bahkan sahabatmu itu tahu kau tidak ada di rumah dan mengkhawatirkan Mu." Pernyataan seorang lelaki yang jika semakin ditegaskan lagi suara familiar itu langsung membuat Fika segera menoleh.


Anggi sedang duduk di belakangnya saat itu. "kenapa kau tidak pulang? Temanmu itu cerewet sekali terus menanyaiku." Gerutunya terdengar kesal.


Fika tampak menghela napas. "Apa peduli mu? Pulanglah!" Ucap Fika singkat.


Anggi semakin melihatnya tajam, matanya menerawang di balik cahaya remang yang hanya dipantulkan oleh cahaya dari lampu taman. Dia cukup berusaha sangat keras untuk memahami semua situasinya sekarang.


"Kau beruntung sekali ada orang yang mengkhawatirkan mu. Tapi mereka cukup bodoh karena sudah sulit memikirkan orang yang tidak begitu peduli." Anggi sudah berdiri dan mungkin dia akan pergi.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Anggi membuat Fika langsung menoleh, dia hanya tidak terima dengan perkataan Anggi baru saja.


"Sok tahu!" Hardik Fika yang marah.


Anggi diam sebentar mungkin dia memikirkan cara lain. "Aku harap perkataan orang-orang di kelas tidak membuatmu seperti sekarang. Mungkin Yunita masih khawatir tentang perkataannya dan merasa bersalah. Aku juga ingin minta maaf karena waktu itu diam saja." Terang Anggi.


Untuk pertama kalinya Fika bicara dengan orang yang membuat hari pertama sekolahnya sial, bahkan dia tak menyangka kini mendengarkan ceramah dari orang yang sama.


"Pulanglah dan kau harus sekolah besok, jangan sampai kesiangan." Anggi tak mengatakan apapun lagi bahkan dia tidak basa-basi ketika pergi begitu saja.


Fika berdiri dan benar juga jika direnungkan kembali perkataan Anggi tidak ada yang salah. Entah mengapa hal itu membuatnya tidak ingin menyerah, harusnya dia bisa lebih berusaha untuk keluarga dan sekolahnya. Mungkin bukan nasibnya yang sial, ada orang lain yang kurang beruntung darinya dan dia sendiri malah bersikap seolah dirinya yang paling terpuruk.


Tidak ada yang tahu bagaimana hati setiap orang, selain apa yang dia rasakan sendiri untuk dirinya sendiri.


Tiba-tiba saja Anggi kembali membayangkan masa-masa dimana ia bersekolah dulu ketika duduk di bangku SMP. Anggi tak pernah berpikir untuk memiliki teman, karena dia tidak terbiasa bersosialisasi layaknya kehidupan normal anak-anak di usianya. Namun pikirannya berubah, tanpa disengaja dan direncanakan pandangannya menangkap sosok seorang wanita yang tak lain adalah Fika, wanita yang selalu percaya diri, mandiri, dan juga berprestasi di sekolah. Entah mengapa Anggi bisa melihat sosok terbaik dari Fika dengan matanya padahal pertemuan pertama mereka sesingkat ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Anggi tidak bisa begitu baik menilai orang lain, namun hatinya berbeda saat itu. Entah mengapa saat pertama kali bertemu dan menatap Fika, saat itu juga Anggi tahu apa yang akan dilakukannya. Anggi selalu ingin berteman meskipun itu tidak mungkin karena dia bukanlah orang yang bisa akrab dan cukup mudah dekat dengan anak-anak lain, apalagi dengan Fika. Dia terlalu canggung bahkan untuk menjadi seorang teman.

__ADS_1


Masa-masa SMP cukup mengesankan terutama selama 3 tahun itu Anggi bersama Fika di kelas yang sama. Entahlah Fika tidak pernah mengenalnya dengan baik dan kehadiran Anggi selalu tidak pernah disadari oleh siapapun di kelas. Hanya mungkin seorang ketua kelas yang bernama Edo bisa memanggilnya dengan sebutan nama. Edo sedikit tahu tentang Anggi apalagi keluarganya karena wali kelas selalu memberitahu bahwa ada seseorang yang spesial anak dari pendiri yayasan dan memiliki sumbangan paling besar untuk sekolah. Bukan hanya karena jasa orang tuanya yang dapat membuat Anggi disegani, namun juga karena prestasinya. Tapi karena keinginannya yang berterus-terang pada wali kelas agar dia tidak diperlakukan berbeda dari anak-anak lain. Itulah alasannya wali kelas selalu menitipkan Anggi pada Edo tanpa sepengetahuan Anggo sendiri.


Tidak seperti yang diminta oleh orang tuanya agar Anggi bersekolah ke luar negeri, Anggi tetap saja memilih untuk tinggal di tanah kelahirannya saat itu. Dia hanya memilih salah satu sekolah favorit di kota dengan asal, karena sejujurnya dia tidak memiliki niat yang kuat untuk bisa normal menjalani semua harinya di sekolah. Anggi terbiasa dengan guru privat, sekolah di rumah, namun sekarang ada sesuatu hal yang baru.


Tahun pertama di sekolah, Anggi memang sudah sedikit berulah dengan membuat catatan absen paling banyak diantara semua siswa. Anggap saja itu bonus jika dirinya masih bisa senggang masuk ke sekolah. Karena sejujurnya di tidak butuh itu semua. Ketika dia di kelas 7 pertama Anggi sudah menguasai semua mata pelajaran sampai kelas 9. Sekolah membuatnya bosan sampai dia tidak bisa mengikuti pembelajaran.


Sebenarnya prestasi yang dia miliki soal akademik sungguh bisa membungkam semua guru bahkan seisi sekolah itu. Anggi mendapatkan nilai sempurna namun hanya kalah dalam tingkat kehadiran saja. Mau bagaimana lagi tidak ada yang bisa mengalahkannya karena dia tidak pernah memberikan rasa kecewa dalam belajarnya.


Tahun berlalu menjadi hari yang paling membosankan dan itu adalah pengalaman seumur hidup yang hanya terjadi satu kali saja.


Di tahun kedua semua siswa di sebar kembali tidak lagi dikelompokkan dengan kelas yang sama.


Pada tahun kedua inilah cerita mulai berbalik memihak. Anggi dan Fika bertemu di kelas yang sama, seolah menemukan jati dirinya yang lama Anggi untuk pertama kalinya merasa dia mempunyai lagi tujuan untuk pergi ke sekolah. Entah apa yang membuatnya masih mengingat fika, dia hanya yakin perasaan yang dimilikinya tidak akan mudah hilang seperti tinta yang dituliskan di atas air, tampak sangat mustahil.


Anggi adalah teman Fika, tapi mungkin Fika tidak bisa menyadarinya dari dulu. Namun itu tak berarti karena yang paling berarti bagi Anggi adalah tetap melihat Fika.


Menjadi sebuah semangat baru, setiap hari di pagi sampai sore dia bisa melihat Fika duduk di barisan depan mejanya. Anggi pernah berpikir untuk mengatakan perasaan spesialnya namun melihat Fika yang lebih bahagia bersama Edo hal itu malah membuat niatnya hancur. Anggi tak ingin memiliki, sekilas melihat Fika senang saja sudah cukup dari apapun.

__ADS_1


Anggi hanya ingin tahu apa yang dilakukan Fika, tempat yang sering dia kunjungi, seorang teman yang sering dia temui, bahkan apapun yang Fika sukai atau benci. Segalanya dia ingin tahu.


__ADS_2