
"Dia akan istirahat dan sementara butuh waktu satu jam lebih untuk sadar." Jelasnya lagi.
"Keluarlah dan bekerja dengan baik! Cepat!" Pak Hen lagi-lagi tidak membiarkan waktu yang cukup untuk reuni itu.
Adiknya seorang dokter hanya bisa melihat kesal dan membuang wajahnya ke arah lain, membiarkan Pak Hen dan anak yang diasuhnya di ruangan itu.
Pak Hen tak hentinya menatap ke arah Anggi seolah itu adalah waktu terakhir baginya untuk kesempatan itu. Dia tidak bisa membiarkan satu nyawa harus membayar dosa ayahnya, dia tidak tahu apapun.
Tiba-tiba wajah Pak Hen berubah menjadi marah.
"Apa yang dipikirkan orang-orang itu? Mereka lebih kejam dari Rendra." Batin Pak Hen pada dirinya sendiri.
Sebenarnya tidak ada masalah yang selesai. Karena tindakannya hari ini malah membuat masalah baru bagi Pak Hen. Bukan hanya nyawa keluarganya dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nyawa sendiri setelah melakukan hal seperti ini.
****
"Kau bisa tenang dan duduk saja Pak, saya akan mengeceknya langsung dimana kamar Tuan Anggi." Salah satu pengawal Pak Rendra berusaha berbicara baik-baik. Tapi Pak Rendra masih dengan keteguhannya tidak membiarkan siapapun melakukan tugas itu, tidak ada yang dipercayainya selain Pak Hen.
"Maaf pak nama pasien yang disebutkan tidak terdaftar, tidak ada pasien di rumah sakit ini dengan nama Anggi dan wali yang membawanya." Ucap salah seorang petugas rumah sakit.
"Carikan lagi! Kau bisa mengeceknya dari awal dengan mudah kan? Cepat cari lagi!" Pak Hen tampak tidak puas. "Bagaimana bisa Anggi tidak ada di rumah sakit yang sudah disebutkan Pak Hen tadi. Atau mungkin ada suatu masalah terjadi?" Batin Pak Rendra yang tidak bisa tenang.
"Ayo bawa aku kembali ke mobil." Ucap Pak Rendra memberikan perintah pada kedua pengawalnya.
"Apa kita tidak menemui tuan kecil?" Tanyanya tak percaya karena Pak Rendra meminta untuk pulang.
__ADS_1
"Cepatlah kau jangan terlalu banyak bertanya." Pak Rendra tak biasa dengan kedua pengawal itu, harusnya Pak Hen ada di sana.
Namun tiba-tiba alarm rumah sakit berbunyi.
"Kebakaran...Kebakaran ..." Teriakan yang terdengar dari orang-orang. kemudian tampak orang-orang berlari dari salah satu lorong rumah sakit berhamburan keluar.
Pak Rendra yang masih di sana cukup tercengang dengan pemandangan itu. Kali ini terjadi suatu kebakaran yang menghebohkan semua orang-orang.
"Cepat pergi!" Ajak Pak Rendra pada kedua pengawalnya.
Cukup bersusah payah Pak Rendra harus keluar dari kehebohan orang-orang. Ketika sudah di luar rumah sakit matanya tampak terbelalak melihat pemandangan yang terjadi, kejadian kebakaran itu terlihat cukup jelas jika di luar. Apinya menyala membakar habis ruangan yang ada di lantai teratas rumah sakit, di sanalah seharusnya lantai VIP itu.
Pak Rendra sangat terkejut bahkan tak bisa berkata-kata, padahal beberapa menit yang lalu tidak terjadi apapun dan bagaimana bisa api sebesar itu tiba-tiba melahap habis ruangan di sana. Bagaimana dengan orang-orang yang dirawat di ruangan VIP.
"Jika menurut laporannya tadi seperti itu kan tuan?"
"Apa yang kau katakan? Cepat telpon semuanya dan cari Anggi di sana!" Teriaknya kesal.
Rendra melihat ke atas rumah sakit itu, dia tidak bisa membayangkan apa yang menyebabkan ruangan di sana langsung kebakaran dengan api sebesar itu. Tak lama banyak yang mengevakuasi para pasien dari rumah sakit, kondisinya sangat tidak baik. Dia juga sangat khawatir apakah Anggi benar-benar tidak ada di rumah sakit itu.
Rendra segera mengecek hp nya lagi, melakukan panggilan pada Pak Hen. Tapi mengapa tidak ada nomor hp yang aktif membuatnya semakin gelisah.
"Pak, apa lebih baik kita masuk ke dalam mobil saja? Semuanya sudah pergi dan mengecek ke dalam sana." Seseorang kembali bicara pada Rendra, namun itu tidak cukup membuatnya bisa tenang ya g ada Rendra malah semakin kesal.
"Aku tidak bisa memastikan anakku. Kau pikir dengan berdiam diri di mobil dan menunggu bisa membuat masalahnya berakhir?" Rendra kembali bicara dengan nada tinggi di hadapan orang-orang. Dia tidak peduli lagi, sebelum melihat keadaan Anggi dengan matanya Rendra tidak akan pernah bisa tenang.
__ADS_1
"Coba kalian hubungi Pak Hen, apakah dia sudah bisa dihubungi?" Pak Rendra masih gelisah, dia tidak percaya mengapa kejadian ini terjadi secara bersamaan. Bahkan Pak Hen tidak dapat dihubungi karena alasan itu membuat dirinya semakin cemas.
"Semua nomornya tidak aktif pak!" Ucapnya pada Pak Rendra.
Rendra kembali diam, dia duduk di kursi roda sambil melihat dengan teliti pada setiap orang yang keluar dari arah pintu rumah sakit. Hatinya berharap jika Anggi tidak ada di rumah sakit itu, dia sangat berharap jika Anggi baik-baik saja.
Apa yang bisa dilakukannya? Dan apa yang sudah dilakukannya selama menjadi ayah dari putera satu-satunya itu. Bahkan selama dia tumbuh, dirinya selalu sibuk dengan urusan bisnis, membangun pundi demi pundi untuk masa depan anaknya. Dia sudah melupakan jika Anggi sangat membutuhkannya.
Penyesalan itu perlahan membuat hatinya semakin melemah, Rendra tidak tahu apakah dia bisa hidup lagi jika terjadi sesuatu pada Anggi?
Ketika memikirkan itu semua para petugas tampak sibuk mengevakuasi semua nya termasuk para korban yang tewas karena kebakaran itu. Hati Rendra semakin tertekan ketika melihat dengan langsung bagaimana korban yang sudah dikantongi dengan kantong jenazah keluar dari rumah sakit.
"Tunggu! Aku ingin melihatnya!" Teriak Rendra ketika dua orang petugas menandu salah satu korban meninggal. Dia segera dihentikan oleh polisi, tidak boleh ada yang masuk dalam jalur evakuasi, semua akan langsung diberitahukan setelah evakuasi selesai, dan akan dilakukan otopsi.
Rendra langsung kebingungan, dia melihat ke arah lain biasanya ada Pak Hen, seseorang yang bisa diandalkan. Ketika matanya melihat ke arah para pengawal tersisa Rendra cukup kecewa karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa dia andalkan, selain Pak Han siapa lagi yang bisa dia percayai?
Kemudian Rendra teringat sesuatu, dia harus mengecek lokasi terakhir Pak Hen dengan begitu dia bisa tahu dimanakah Pak Hen dan juga Anggi. Begitupun Anggi, dia juga akan mengecek dimana lokasi terakhirnya melalui ponsel.
Ketika akan memberikan tugas itu namun dirinya segera terdiam, hatinya benar-benar tidak bisa percaya pada mereka. Terpaksa tugas seperti itu harus dilakukannya sendiri.
"Bawa aku masuk ke dalam mobil!" Ucapnya.
Dia segera dipapah masuk ke dalam mobil. Rendra tidak membiarkan siapapun yang masuk sebelum dia memintanya sendiri.
Di dalam mobil Rendra menghubungi seseorang, seorang kenalan yang bisa melakukan tugasnya tadi. Hanya perlu membayarnya saja itu sangat mudah.
__ADS_1